
Untuk sepersekian detik, Mira mengerjap dan mencerna seperti biasanya. Apa yang barusan ia dengar adalah sesuatu yang cukup mengerikan namun tetap ada setitik kelegaan, mengingat seberapa menakutkannya Dennis.
"Kok ... bisa ...." hanya itu yang mampu ia ucapkan.
Sebuah usapan lembut kini Athar layangkan di kepala Mira. Ditatapnya istrinya itu dengan sayang. "Aku dapat infonya dari Rhino."
Entah yang mana orangnya si Rhino itu, Mira lupa. Yang pasti ia yakin kalau seseorang itu adalah orang kepercayaan Athar.
"Valid?"
Athar mengangguk.
"Beneran?" rasa tidak percaya itu terlalu besar dibenaknya. Kok bisa? Bukankah dua hari yang lalu dia masih mendapatkan telepon dari Dennis? Dia masih mendengar dengan jelas suara seperti yang ia kenal selama ini.
"Karena apa? Penyebabnya?" tanyanya perlahan seraya mengelus perutnya sendiri. Hal itu dilihat oleh Athar, dan sebelah tangan suaminya itu turut mengelus perut Mira.
"Dia sedang dalam menjalankan misinya yang lain."
"Misi? Tugas?"
Athar tahu kalau Mira pastilah tidak mengerti dengan ucapannya. "Ingat kalau Dennis itu kaki tangan keluarga Garin? Orang kepercayaan mereka. Bahkan selalu menjadi andalan di sana." Mira mengangguk pelan. "Ada sebuah proyek yang pastinya ingin diambil alih paksa oleh mereka, seperti biasa. Tentunya Dennis menjadi bagian dari misi penting mereka itu. Dan ternyata proyek itu rupanya bukan milik pengusaha biasa. Ada orang yang berpengaruh dibaliknya. Aku pikir, kali ini dinasti Garin salah menargetkan makanan. Dan Dennis adalah satu kerugian yang mereka dapatkan karena telah mengganggu orang yang sepertinya masih menjadi bagian dari pemerintahan."
"Jadi ... itu artinya Dennis beneran ...."
Suaminya itu mengangguk. "Ya, dia mati. Walau sebenernya aku masih kurang percaya, kalau orang seperti Dennis begitu mudahnya lenyap dari muka bumi."
Tangan Mira bergerak untuk membungkam mulut Athar. Dia menggeleng pelan dan berkata, "Udah, Bang. Udahan ya berhubungan sama merekanya. Kita jalani aja hidup kita. Biar mereka dengan dunianya," dia khawatir. Entah dari mana perasaan tidak nyaman itu datang. Yang pasti, Mira mesti meyakinkan Athar bahwa sudah cukup mereka hidup bahagia dengan kesulitan yang masih dalam jangkauan. Bukan masalah besar dengan keluarga Garin yang sudah jelas Sabrina saja meninggalkannya. Mira khawatir bakalan terjadi apa-apa bila Athar masih saja terlibat dengan masalah masa lalunya.
Athar tersenyum menenangkan. Tapi itu masih belum membuat Mira merasakan ketenangan. "Aku gak mau Abang kenapa-napa lagi. Sekarang ada dia," tunjuknya ke perutnya sendiri. "Ada dia yang mesti kita buat bahagia. Iya, 'kan?!"
"Iya," Athar mengangguk setuju.
"Al ...."
"Lihat Sheli. Dia pergi bekerja meninggalkan bayinya di rumah. Dia menutupi kesepiannya. Dia menampilkan senyum walaupun sebenernya dia merindukan Bryan. Dia merindukan sosok ayahnya Tia. Andai Bryan ada maka lengkaplah kasih sayang buat Tia. Tapi Bryan gak akan pernah kembali sekalipun dia menangis darah. Dan aku gak mau kalau ... kalau ...."
Athar membawa Mira ke dalam pelukannya. Diam-diam Mira menghapus air mata yang sempat meleleh begitu saja. "Tuh, 'kan aku jadi baper,"
"Iya, Al ... sayang ... aku mengerti kekhawatiran kamu. Kamu tenang aja. Jangan dibawa stres. Itu makanya aku kepengen nunda ceritanya."
"Makanya jangan spoiler!" Mira menampar pelan dada suaminya itu.
Senyum tak mampu Athar sembunyikan. Seberapa menyenangkannya rasa ini. Ya, rasa memiliki dan dimiliki yang sepenuhnya tulus. Dan siapa juga yang hendak menukar ini semua dengan sebuah kebodohan?
Berbanding terbalik dengan Mira yang kini pikirannya melayang-layang. Kenyataan bahwa Dennis telah tiada ... entahlah. Seperti Athar, maka Mira pun masih belum percaya akan hal itu.
"Jadi Sheli sebenarnya rapuh?" tanya Athar tak lama kemudian.
Mira mengangguk dalam pelukannya. "Aku tahu banget dia kayak gimana. Dia memang kuat, tangguh ... tapi dia juga cuma seorang perempuan yang sebenarnya butuh kasih sayang laki-laki. Terlebih dengan semua yang telah menimpa dirinya ... maka senyuman merupakan hal terbaik yang mampu dia tampilkan di hadapan keluarganya. Semua orang mampu dia bohongi pakai senyumannya, tapi aku dan mama gak akan pernah bisa dia bohongi."
"Trus ... kira-kira kita bisa bantu apa?"
"Bantu semangat aja. Aku lihat dia lagi deket sama Dylan juga Baihaqi. Eh maksudku, Wira juga Baihaqi. Ya mungkin aja, dalam waktu dekat dia bakalan menentukan pilihannya. Serius, Sheli itu butuh laki-laki dalam hidupnya. Sama kayak aku juga yang butuh Abang dalam hidup aku."
Athar tak langsung menyahuti lagi. Dipelukanya Mira semakin erat, tanpa membuat perut besarnya merasa tidak nyaman. Setelah beberapa saat kemudian suaranya baru terdengar lagi. "Hm ... gimana kalau kita culik yang satu untuk menemani yang lainnya."
Perkataannya itu membuat Mira mendongak dan melepaskan pelukannya. "Maksud Abang?"
...---...