AL-THAR

AL-THAR
#27. Janjian sama Pram.



Mira menyesap minuman yang baru saja tiba di depannya. Saat ini ia sedang berada di sebuah cafe untuk menunggu Pram yang mengajaknya nongkrong berdua saja.


Seperti biasa, Athar yang tadi mengantar Mira ke cafe ini lalu melanjutkan perjalanannya untuk menuju perusahaan Dirga dimana Athar saat ini sedang menjalankan fokusnya. Dapat dikatakan kalau Mira sebenarnya bingung, bagaimana suaminya itu sibuk dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lainnya. Baik itu perusahaan sendiri maupun perusahaan Dirga. Belum lagi dengan cafe, restoran dan beberapa distro miliknya yang butuh perhatian juga. Namun untungnya, Athar tak pernah luput dari memperhatikan Mira sebagai istrinya.


Kalau tempat janji temu Mira dengan Pram itu berada di tempat lain, sudah dapat dipastikan kalau Athar akan menemaninya menunggu hingga Pram datang, tak peduli dengan seberapa sibuk dirinya. Namun, berhubung tempat ketemuan Mira dengan Pram adanya di cafe milik Athar, maka dengan tenang Athar meninggalkan Mira untuk menunggu Pram sendirian. Karena Mira juga yakin kalau Athar telah menyuruh beberapa orang untuk mengawasinya.


Kadang Mira pikir, emangnya siapa yang bakalan naksir padanya? Kenapa Athar sampai sepossesif itu?


Aneh.


"Sendirian?" tanya seorang lelaki tak dikenal tiba-tiba berdiri di dekat mejanya.


"Ha?" Mira tergagap. Ia sedikit terkejut karena memang sedang melamun sebelumnya.


"Boleh aku duduk di sini?"


boleh apa nggak ya?


"Kenapa ya?" Mira malah balas tanya.


Lelaki itu tersenyum manis sambil menarik kursi di depan Mira saat seorang berpakaian pelayan telah mendahuli lelaki itu dalam memegang kursi.


"Maaf ya, Mas. Kursi di meja Mbak ini sudah ada yang pesan. Jadi, maaf, silakan Mas mencari kursi yang lain." si pelayan pria berkata sopan namun Mira seakan teringat dengan tingkah laku dari Linggar.


"Loh kok bisa?" si lelaki tadi bingung sambil menoleh ke arah Mira. "Benar begitu?"


Dalam pikiran Mira, ia teringat akan Pram yang memiliki janji dengannya. Maka ia mengangguk dengan senyum canggungnya.


"Ah sayang sekali. Kalau begitu aku mesti kembali ke mejaku. Nanti kalau teman Mbak sudah datang, aku mau izin bergabung. Gimana?"


"Ah ..." Mira hanya tersenyum.


Sekarang si lelaki mengulurkan tangannya kepada Mira. "Boleh kenalan?"


"Maaf, Mbak Mira. Mas Athar nanti datang kesini secepatnya katanya." sela si pelayan yang membuat Mira paham kalau Athar memang mengawasinya meskipun dari jauh.


"Iya." senyum Mira kepada pelayan yang lalu undur diri untuk pergi.


Kini tatapan Mira kembali pada si lelaki asing yang mengajaknya berkenalan barusan. "Nanti ya kenalannya, kalau suami saya sudah datang."


"Suami?" si lelaki menaikkan kedua alisnya dengan seringai samar di sudut bibirnya. "Oke. Lain kali kita baru kenalan," ucapnya dengan senyum manis yang Mira anggap bukan manis, melainkan brengsek.


Setelah berlalu si lelaki tadi, Mira mengerjap sesaat. Bagaimana bisa dirinya terlihat menarik di mata cowok brengsek sekalipun?


Entahlah. Yang pasti, Mira tidak bisa menikmati saat-saat menjadi cantik dengan mendapat perhatian banyak cowok kalau nyatanya sekarang dia sudah memiliki cogan yang sudah menjadi suaminya, dan selalu menjaganya dimanapun dia berada.


Pram mengirim chat kalau dia terjebak macet. Maka itu artinya Mira mesti menunggu sedikit lebih lama lagi sampai sahabatnya itu datang.


Sebuah pesan chat masuk lagi ke hpnya.


Duduknya sendirian aja. Gak usah ada yang duduk sama kamu kecuali Pram.


Siapa lagi pengirimnya kalau bukan Athar?


Oke, Bos, balasnya.


Sebuah emotikon hati dikirim oleh Athar, dan itu membuat Mira senyum-senyum kesenengan. Dia jadi teringat semalam saat mereka yang masih perang dingin sudah tiba di rumah. Athar yang masih marah dengan kelakuan Mira yang sembrono karena memeluk Romeo, sedangkan Mira yang sebal karena Athar mendapat telepon nggak penting dari Tania.


Mira pikir Tania sudah raib dari hidup mereka setelah waktu itu datang ke rumah mereka dan terkejut mendapati kenyataan mengenai pernikahannya. Memang sih, waktu itu Tania amat nampak kecewa dan pergi dalam keadaan diam seribu bahasa. Lalu semalam, cewek sahabat suaminya itu menghubungi lagi untuk sekedar menanyakan kabar basa basi busuk. Nggak penting!


Dalam keadaan dirinya dan Athar yang sama-sama sedang bete, Mira memutuskan untuk berlama-lama berada di kamar mandi demi menghindari Athar yang wajahnya masih terlihat angker. Namun, baru lima menit ia berendam di bathtub, rupanya Athar datang bergabung dengan dirinya.


"Abang ngantri dong!"


"Kenapa mesti mengantri disaat kita bisa berbagi."


"Maksudnya?" Mira menutupi tubuhnya dengan busa-busa. Dia memejamkan mata saat dilihatnya Athar tengah membuka pakaiannya satu persatu di hadapan Mira.


"Kan aku sudah bilang mau mandiin kamu. Dan kamu juga sudah 'mengundangku' tadi siang."


"A-aku gak ngundang Abang-"


Athar telah memasuki bathtub berhadapan dengan Mira.


Mira membuka mata dan saat melihat pemandangan di depan matanya, ia berkata, "Wah, kita kayak di film-film ya, Bang? Eh, di novel-novel juga deh," ucapnya polos dan sumringah.


Athar tersenyum geli.


"Abang udah gak marah nih?"


"Kan aku mau bersihin kamu dari sisa-sisa kumannya Romeo."


"Ish, temen sendiri dibilang kuman."


Athar memberikan sebuah isyarat dengan jarinya agar Mira mendekat. Mira yang hampir paham kini malah merona. "Apa?"


"Sini dong,"


"Bukannya kita udah sempit-sempitan gini ya? Mau kemana lagi coba?"


"Belum nempel, Al,"


"Apanya?"


"Ya kita-lah. Sini cepat,"


"Bukan begitu,"


"Giman–"


Athar menarik tangan Mira sekaligus tubuh Mira agar berada di pangkuannya. "Nah, ini baru betul."


Mira merasakan wajahnya memanas saat mengingat apa saja yang telah dia dan Athar lakukan tadi malam, di bathtub. Oke, itu sebuah pengalaman dewasa yang baru, yang tak akan pernah bisa Mira lupakan rasanya seperti apa.


"Dih, gila kok di tempat umum."


Pram telah datang dan membuyarkan lamunan Mira. Sahabatnya itu langsung menempati kursi di hadapannya.


"Gue waras, alhamdulillah." cengiran Mira tak surut sedikitpun. "Eh, Pram. Nikah gih! Enak tau!"


Pram menatapnya datar. "Sekarang gue tahu kalau otak lo sudah tercemar sama Athar."


"Haha, ya namanya pasangan halal, ya mesti gitulah. Hot!"


"Ah, jijik gue dengernya."


"Makanya lo segera nyusul gue, biar tahu apa yang gue rasakan sekarang."


"Gak usah bahas itu. Sumpah gue nggak pengen nikah dalam waktu dekat."


"Kenapa? Kan ada Raihan–" Mira menganga karena mengingat sesuatu. "Ya ampun gue lupa. Kenalin gue sama Raihan, Pram."


"Lagian lo sih, keburu kumat gilanya cuma gara-gara lihat jaket Athar. Diseret pulang kan jadinya."


Mira memberengut. "Iya-iya. Itu sih gue emang salah. Tapi udah beres kok masalah itu sih. Eh, gue masih penasaran, kenapa lo tunda ke Jepangnya? gue kan mau salam buat Ryo."


"Ini yang gue mau ceritain ke lo."


"Ya udah, cerita aja sih,"


"Lo tau gak kenapa gue mesti pergi ke Jepang?"


"Bukannya lo mau pacaran ya? Kan lo sendiri yang bilang begitu kemarin."


Pram menghela nafas. Dia sedikit bingung saat sebuah minuman tersaji di depannya padahal ia belum memesan. Ia pun melirik Mira penuh tanda tanya.


"Gue yang pesenin. Gratis deh. Ini kan cafe laki gue," katanya memberitahu dengan senyuman lebarnya. "Ayo deh cerita!"


"Jadi ... gue tuh dipaksa bokap buat ke Jepang." Pram menyeruput lemon tea kesukaannya. "Dan saat bokap gue tahu kalau gue mau ke Jepang berdua Raihan, dia marah. Nyokap juga marah. Mereka larang gue terbang kemarin."


"Kenapa?" tanya Mira bingung. "Gak boleh pergi berduaan doang gitu?"


Pram menggeleng. "Gak tepat begitu sih."


"Kenapa dong? Apa mereka gak setuju ya lo sama Raihan itu?" tebak Mira.


Pram mengangguk murung.


"Kok bisa? Apa kurangnya si Raihan?"


Pram tak langsung menjawab. Ia terlihat berfikir beberapa saat. "Raihan gak bercela. Walaupun masih muda, dia rajin loh dalam memanfaatkan waktu luangnya. Selain mengajar les, dia juga aktif di kampusnya."


Mira menyimak dengan seksama. "Kesalahannya cuma satu ... dia lebih muda setahun dari gue."


"Cuma setahun kan?"


"Iya, tapi itu masalah buat orangtua gue. Mereka gak suka lihatnya."


Mira menghela nafas. "Susah juga ya, Pram, kalau masalah usia mah. Mau digimanain lagi kan?!"


"Tapi bukan itu masalahnya buat gue. Ya maksud gue, kalau cuma karena masalah usia mah, gue sama Raihan masih bisa perjuangin. Tapi ada satu masalah yang bikin gue stres dan pengen kawin lari dari rumah."


"Apa? Lo kok sampai begitu? Berat ya masalahnya?"


Pram mengangguk. "Lo tahu ... gue itu sebenernya ..."


Mira menunggu dengan sabar kalimat Pram yang melambat itu.


"Gue ... dijodohin,"


"What?" Mira terkejut. "Kok bisa? Hari gini masih ada acara perjodohan segala? ck ck, orangtua lo luar biasa banget ya, Pram."


"Bukan cuma itu, Mir. Lo mesti tahu kalau gue dijodohin sama ... Ryo."


Mira tercengang.


* * *


Like


Komen


Vote


Makasiii 😘😘


*