
Lanjut!
"Abang ... boleh ya ...."
Athar tak menyahut. Dia sibuk dengan pekerjaannya di laptop. Sedangkan Mira, sejak tadi merengek memohon izin suaminya itu. Namun, izin belum juga keluar sekalipun Mira telah mengatakan demi kemanusiaan.
"Abang tega banget sih," keluhnya yang mulai kesal juga atas sikap Athar. "Udah dibilang, aku sama orang-orang kepercayaan Abang yang banyak itu. Kalo semuanya mau ikut, boleeeh. Sekalian kita pakai bus ke rumah Ridho. Biar semua keangkut."
"Bukan begitu, Al ..."
"Trus gimana, Abang?"
"Bisa tunggu hari minggu saat aku libur?"
"Nggak."
"Ya udah, gak usah."
"Abang iiihh ... aku bukannya mau main atau nongkrong, atau have fun sama temen-temen loh. Aku tuh mau jenguk orang sakit. Ibunya Ridho sakit parah, Bang. Aku mesti segera kesana. Sekali lagi, Abang gak punya perikemanusiaan."
Sepertinya, Athar menyerah juga. Seberapa kuat dia enggan melepaskan Mira pergi ke Jakarta tanpa dirinya, tapi sepertinya itu tidak bisa dicegah lagi.
"Sabtu deh. Gimana?"
"Ini aja baru hari senin, Bang. Dan keadaan ibunya Ridho itu udah gak di rumah sakit lagi. Mereka udah bawa pulang karena–"
Tak sanggup Mira mengatakan kalau keluarga Ridho telah pasrah dengan keadaan sang ibu. Penyakit komplikasi yang dideritanya membuat sang ibu menginginkan pulang, berada di rumah bersama anak-anaknya sampai tiba waktunya. Waktu yang mungkin tidak akan lama lagi.
Sebagai seseorang yang pernah dekat dengan keluarga Ridho, pun dengan rumah yang bersampingan kala itu, membuat Mira terlalu bertekad untuk menjenguk mungkin untuk yang terakhir kalinya. Lalu larangan Athar semata-mata karena suaminya itu belum sempat menemani.
"Plis ..." Mira memohon lagi dan lagi. "Aku janji jaga diri dan jaga anak kita baik-baik."
Athar membuang nafas sebelum mengatakan, "Ya udah. Tapi kamu gak sendirian loh."
"Ya iyalah. Aku ngerti. Lagian gak bakalan lama juga,"
"Nanti kamu kecapekan, Al," lagi, Athar masih saja penuh kekhawatiran. Terlebih kondisi Mira yang hamilnya memasuki bulan ke delapan.
"Nggak akan, Abang. Percaya deh sama aku." dia mencium singkat pipi Athar. "Makasih ya."
"Iya."
Kemudian ponsel Athar yang diletakkannya di meja mendapat panggilan masuk. Keduanya otomatis melihat benda itu dan mendapati nama Nanda tertera di sana.
Mira merasa sebal secara naluri. Meskipun Athar telah menjelaskan dengan detail bagaimana kejadian di Surabaya, lalu sikap Nanda selama ini, serta apa saja sinyal tersirat dan tersurat yang Athar dapatkan dari rekannya itu, telah Athar ceritakan semuanya kepada Mira tanpa kecuali.
Setelah menatap Mira dengan artian menenangkan, Athar menjawab panggilan itu. Singkat saja. Mira hanya mendengar suaminya itu mengatakan 'tidak' dan 'ya', lalu selesai.
"Jangan bete dong," ucap Athar sembari membelai rambut panjang Mira. Sebelah tangan ia gunakan untuk mengusap perut besar Mira tentu saja.
"Sedikit."
"Jangan."
"Ya mau gimana lagi. Sebel kalo–"
Athar meletakkan telunjuknya di bibir Mira. "Jangan mengingat lagi hal yang menyakitkan di masa lalu. Terlepas itu adalah salah aku, atau salah kamu. Semua sudah menjadi pelajaran berharga untuk kita berdua. Dan fokus kita sekarang adalah keluarga kecil kita, kebahagiaan kita. Benar begitu, Al?"
Benar. Mira mengangguk pelan. Begitupun dengan semua masalah Athar dan keluarga Garin, Mira juga berharap semua hanyalah masa lalu belaka.
"Nah, gitu." Athar tersenyum dan mengecup pelan kening Mira. "Jangan biarkan siapapun, apapun merusak kebahagiaan kita."
Iya sih. Memang benar yang dikatakan suaminya itu. Tapi yang namanya rasa cemburu itu gak bisa dicegah. Apalagi kalau tampilan sosok yang dicemburui itu terlihat lebih wow.
"Jangan mikir yang nggak-nggak," Athar mengingatkannya terus. "Kami cuma membahas pekerjaan. Gak lebih. Aku beneran menjaga batasan sama dia, Al. Kamu mesti percaya sama aku. Ya?"
"Iya ... aku percaya sama Abang." Mira memang cemburu, tapi dia juga mempercayai suaminya. Apalagi Athar selalu tampak perhatian kepadanya. "Hm. Oh ya, Bang. Masa kata Sheli aku pelet Abang sampai Abang kayak gini sayangnya ke aku." Mira mengingat lagi candaannya kemarin dengan sang kakak. Katanya, Shelia sampai ilfil melihat Athar yang bucin kepada Mira. Padahal dulu jelas-jelas Mira hanyalah butiran debu. Kakaknya itu tidak menyangka bahwa masa depan berubah penuh kejutan. Siapa yang sangka kalau nasib mereka di masa depan malah berkebalikan.
"Emangnya siapa yang sayang sama kamu?"
"Ha?" awan gelap seketika menyelimuti hati dan pikirannya. Tapi sebelum badai datang, Athar telah melanjutkan kembali kalimatnya dengan senyuman.
"Aku bukan cuma sayang, tapi cinta sama kamu."
"Katanya kalo orang gampang bilang cinta, itu artinya dia gak serius."
"Kata siapa lagi sih?"
"Siapa mutiara?"
"Maksud aku, quotes. Quotes yang aku temuin di medsos."
"Yang bikin qoutes?"
"Nggak tahu. Hehe ..."
Athar menatap Mira dengan sebelah tangannya menopang dagu di meja. "Aku emang gak gampang bilang cinta. Coba kamu tanyain ke semua mantan-mantan aku. Apa pernah aku bilang cinta ke mereka? Ya nggaklah. Aku cuma yakin sama kamu, makanya aku bisa bilang kalau aku cinta, aku sayang, cuma sama kamu, Al."
Tatapan datar Mira layangkan sebagai respon kalimat Athar barusan. "Mantan-mantan? Widih, banyak bener nih kayaknya," sindirnya.
Athar tersenyum geli. Dia sengaja menggoda istrinya itu.
"Ada berapa nih? Ratusan ya? Lebih? Udah kayak iklan wafer aja."
Hanya gelengan singkat tanpa hilang senyum gelinya. Athar hanya menunggu kalimat apalagi yang akan Mira ucapkan.
"Jangankan ratusan ... puluhan, belasan, bahkan lima jari pun aku nggak punya mantan sebanyak itu. Cukup satu jari buat ngitung jumlah mantan aku. Itu juga buruk banget kisahnya," gerutunya sebal. "Abang playboy cap apa nih tadinya?"
"Mana ada. Aku gak suka mainin cewek, Al. Aku tuh cuma ya ..."
"Gak usah dilanjut!"
Athar membawanya ke dalam pelukannya. "Ya lagian kamu, jadi bahas mantan segala."
Mira tak terima dan melepaskan pelukannya. "Abang duluan yang nyebut, lupa?"
"Iya, sih. Kalo dipikir-pikir, aku memang punya banyak mantan. Tapi gak ada yang beneran serius kayak aku sama kamu. Dan kamu, Al. Walaupun mantan kamu cuma satu, tapi ada banyak cowok lain yang sudah bucin sama kamu bahkan tanpa memerlukan status."
Ucapan Athar yang barusan terdengar serius dan nyata. Memang benar seperti itu kenyataannya, 'kan?!
Tapi ...
kok bisa dia ngomong kayak gitu gak pake emosi?
"Kenapa? Aku benar, 'kan?!"
Mira mengangguk. "Kok Abang biasa aja ngomongnya? Bukan Abang banget deh."
"Aku belajar dari kamu, Al. Aku belajar memafkan masa lalu. Selain itu, aku belajar tidak terpengaruh lagi sama yang namanya mantan. Toh kita sudah bahagia. Asalkan mereka gak ada yang nampakkin batang hidungnya di depanku, maka gak akan ada masalah. Tapi sekali aja, ada masa lalu yang hadir di tengah kebahagiaan kita ... maka aku gak akan bisa biasa lagi."
"Hm, intinya, kita sedang menyambut masa depan kita, 'kan?!" tanya Mira dengan elusan pada perutnya, sebagai bukti masa depan mereka.
"Betul." Athar mengecup bibir Mira dengan singkat. "Jangan biarkan siapapun merusak kebahagiaan kita, Al. Itu tugas awal kita sebagai orang tua."
Lagi, Mira memberi anggukan setuju.
"Sebenernya aku juga gak ngerti kenapa aku sesayang ini sama kamu." tangan Athar merapihkan anak rambut yang menjuntai di pipi Mira. "Aku cuma merasa kalau aku nggak bisa kehilangan kamu, Al. Seolah hati aku sudah menemukan yang pas, yang aku mau, yang aku harap selamanya ada di dalam hidupku."
"Itu artinya aku jodohnya Abang, dan Abang jodohnya aku. Ya kita berjodohlah intinya."
"Iya, Sayang. Betul."
...---...
Mengabaikan rasa kehilangan akan rumah masa kecilnya yang telah berubah sama sekali, Mira melangkah menuju rumah Ridho.
"Assalamualaikum." ucapnya pelan saat melewati pintu gerbang rumah Ridho. Dua orang tetangga nampak sedang duduk di teras dan menjawab salamnya.
"Langsung masuk aja, Neng Mira."
Maka Mira melangkah pada pintu yang memang sedang terbuka, setelah mengisyaratkan dua orang bodyguardnya agar menunggu di luar gerbang saja. Sebelumnya, ia mengucap salam lagi.
"Masuk, Mir." Ani, saudar kembar Ridho yang mempersilahkannya masuk.
Nampak ibunya Ridho berbaring di kasur yang tergelar di lantai ruang tamu. Keluarganya berkumpul, terlebih si bungsu Mustofa alias Emus yang berbaring di sisi sang ibu. Mata Mira tak menemukan sosok sahabatnya, si Ridho.
Kemana anak itu?
Namun, ketika matanya beralih pada seseorang yang sedang duduk di belakang Ani, sebisa mungkin ia memendam ketidak nyamanannya. Karena hal itu telah ia antisipasi sebelum datang kesana. Kemungikannya bertemu dengan Diva sudah pasti sangatlah besar.
...***...