
"Mira mana?" tanya mama kepada Shelia yang saat ini tengah meletakkan mangkuk kosong bekas bubur ayam, ke dalam sink.
"Mabok."
"Hah? Mabok?" mama yang tengah mengambil minuman di dalam kulkas pun menoleh.
"Iya, dia kayaknya masuk angin tuh. Bawaannya marah-marah aja kalo liat aku. Dibilangnya aku makan bang-ke lah, bau-lah, apalah ..."
Mama terlihat berfikir sejenak. "Dia mual nggak?"
"Mual, muntah, uek-uek, kayak aku pas ngidam gitu."
"Jangan-jangan dia ngidam?" tebak mama dengan mata melebar.
"Nggak kok, Ma. Mira bilang, kalo setiap orang yang masuk angin dianggap hamil maka jamu tolak angin gak bakalan laku."
"Trus kamu percaya?"
Shelia mengangguk.
"Kecerdasan kamu lagi cuti ya, Shel, selama hamil?" sindiran mama membuat Shelia terdiam mencerna. Sedangkan mama telah beranjak langsung menuju kamar Mira.
"Jadi gue dikibulin?" Shelia bertanya pada diri sendiri.
.
.
"Miiirr!" mama memanggil dengan ketukan di pintu kamar mandi, dalam kamar Mira. Soalnya pintu luar kamarnya memang terbuka sedikit karena ulah dari Shelia yang tak menutupnya dengan benar. "Kamu masih mandi?"
"Iya, Ma!" sahut Mira dari dalam. Saat ini ia memang tengah berendam dengan air hangat. yang menbuatnya serasa di syurga.
"Jangan lama-lama! Kamu belum sarapan loh."
"Nanti aja, Ma."
"Ya udah, mama tungguin loh."
"Kenapa mesti ditungguin?"
"Mama mau bicara. Buruan mandinya!"
"Iyaa ..."
Maka mama kembali ke lantai bawah dan menunggu Mira di meja makan. Dilihatnya, pitri sulungnya tengah bersiap untuk pergi bekerja.
"Bryan jemput?"
"Nggak. Dia lagi ke Bali dari kemarin sore."
"Kamu nggak menikah aja sekarang, Shel?" mama tak pernah menyerah untuk membujuk putrinya itu agar segera menikah. Dalam pikirannya, mumpung Bryan masih memiliki keinginan untuk bertanggung jawab. Sebab yang namanya waktu itu dapat membuat hati seseorang berubah.
Perihal ketentuan nanti setelah anaknya lahir maka mereka mesti menikah ulang, maka itu urusan masih nanti. Setidaknya, Bryan sudah memiliki status sah sebagai suami saat putrinya itu nanti melahirkan.
"Nanti, Ma. Nanggung melahirkan," jawab Shelia dengan sabar. Meskipun sudah terlalu sering sang mama membujuknya, tapi ia tidak akan mengatakan hal yang menyakitkan kepada wanita yang telah melahirkannya itu.
"Ya nanti menikah lagi, sesuai ketentuan agama. Yang penting sekarang kan menyelamatkan kehormatan keluarga, termasuk harga diri kamu juga."
Shelia terdiam sejenak. Nada suara sang mama terdengar getir. Kalau menurut ego dan pemikirannya, memang dia tidak peduli dengan omongan orang lain, pendapat orang lain, dan judge orang lain terhadap hidupnya. Pemikiran itu ia dapatkan setelah berlama-lama tinggal di negeri orang. Akan tetapi, bila kembali ia renungkan bagaimana sisi dari orang tuanya –terlebih ini satu-satunya orang tua yang dia miliki– maka akan ada rasa perih tak tega juga bila menyakiti hati wanita yang telah melahirkannya itu. Bukankah dosa dia sendiri telah banyak diperbuat dan sudah jelas menyakiti mama? Lalu mengapa sekarang ia mestilah menambah-nambah terus perbuatannya yang menyakiti sang mama.
Shelia mendesah pelan. Dia menoleh dan menatap lembut penuh rasa bersalah kepada mama. "Nanti aku pikirin ya, Ma. Segera aku kasih jawaban ke mama."
Mama mengangguk pelan. Dalam hatinya juga tak ingin memaksa lebih dari ini. Hanya saja, ia juga mesti menjaga kehormatan keluarga sebagai seorang orang tua tunggal bagi anak-anaknya.
...💜💖💜...
Benda itu terlepas begitu saja dari tangan Mira. Dia syok mendapati bahwa garis dua akhirnya hadir di depan matanya ... dalam hidupnya.
"Gue ..." suaranya menghilang. Lututnya melemas hingga ia kini terduduk di lantai kamar mandi dengan wajah terbengong melongo.
ha-hamil?
"Kok bisa ..."
Bagaimana Mira tidak syok, sejak bulan lalu kan dia menggunakan kontrasepsi suntik KB. Lalu mengapa sekarang dia malah ...?
Cukup tak masuk akal di pikiran Mira. Makanya dia kaget luar biasa, dan nyaris tak percaya.
Setelah melewati menit-menit dalam kekagetan yang luar biasa, kini Mira merasakan hatinya menghangat seketika. Mengingat kalau ada makhluk kecil yang kini menghuni rahimnya, maka pikirannya berkelana hingga nanti anaknya dan anak Sheli akan terlibat gelud yang mewakili kedua ibunya.
Dia segera menggeleng. Padahal baru saja garis dua itu ia dapatkan, masa khayalannya sudah menjelajah jauh ke depan.
Akhirnya dengan masih lemas dia bangkit dari lantai kamar mandi. Pikirannya sekarang hanyalah satu; bagaimana caranya memberi kabar gembira ini kepada Athar?
Refleks bibirnya menyunggingkan senyum manis. Ia tahu pasti, meskipun antara dirinua dengan Athar telah sama-sama sepakat dalsm menunda memiliki momongan, tapi kalau Tuhan telah berkehendak menurunkan amanahnya, mereka bisa apa selain bersyukur kan?!
"Woah, hebat bener benih papamu, Nak, walaupun sudah dicegat suntikan KB, kamu berhasil tumbuh juga. Hebat ... hebat!" ujarnya sambil mengelus perut di depan cermin, setelah ia keluar dari kamar mandi.
"Mira!" suara mama memanggil dan membuatnya menoleh. Sang ibu Pertiwi melangkah memasuki kamarnya. "Gimana hasilnya?" tanya mama tak sabar.
Tadi, sewaktu Mira keasyikan berendam di air hangat dan memakan waktu cukup lama, akhirnya mama Pertiwi mendatanginya karena khawatir. Kebetulan saat itu mual yang dialaminya sedang kambuh dengan hebat. Maka segera mama mengambilkan test pack yang ada di kamar Shelia –karena Shelia pernah bilang memiliki banyak sisa kejadiannya waktu itu– untuk diberikan kepada Mira. Awalnya Mira menolak dan merasa kalau ia hanya masuk angin biasa, dengan keyakinan bahwa ia memang suntik KB demi menunda momongan. Lalu setelah mama mendesaknya, akhirnya kenyataan baru pun ia dapatkan.
Mira menyengir garing. "Hehe, mama bakalan punya cucu kedu–"
"WAH!" mama langsung mendekap Mira dengan bahagia. "Alhamdulillah. Syukur alhamdulillah kamu hamil juga," ucap mama dengan senang yang tak dapat disembunyikan.
Mira merasa agak gimana gitu mendapati kalau sang mama ternyata sebahagia ini dengan kehamilannya. Jauh berbanding terbalik dengan kejadian sewaktu Shelia pertama kali mengabarkan perihal kehamilannya. Ya memang sih, jelas berbeda kondisi antara dirinya dengan sang kakak. Maka wajar bila mamanya bertingkah demikian. Hanya saja, Mira tak ingin bila Shelia menyadari hal ini juga. Dia tidak akan pernah rela melihat kakaknya itu bersedih kembali. Cukup tragedi berdarah beberapa bulan lalu terjadi sekali saja. Jangan pernah lagi.
"Trus gimana dong, Ma?"
"Gimana apanya?"
"Ya gimana? Aku hamil. Trus gimana?"
Mama mengerutkan keningnya. "Gimana sih maksud kamu?"
"Aku harus apa? Harus gimana?"
"Ya memangnya mesti gimana?" mama malah balik bertanya. "Kamu bikin mama pusing aja."
Mira menggaruk pelipisnya. Dia juga bingung gimana mengungkapkan rasa campur aduk yang tiba-tiba melanda hatinya. "Aku mesti tiduran atau gimana?" tanyanya ragu.
"Kamu bukan sakit, Mir, tapi kamu hamil. Jadi buat apa tiduran pagi-pagi?"
"Iya sih,"
"Mendingan kita ke dokter aja sekarang!" putus mama.
"Mau ngapain, Ma?" Mira bertanya bingung. Kenapa mesti ke dokter kan?! "Kan aku gak sakit. Kayak yang barusan mama bilang; aku itu hamil, bukan sakit."
Mama mencubit gemas sebelah pipi Mira. "Kita periksa ke dokter, untuk memastikan kalau benar kamu hamil,"
"Kan tadi udah test pack."
"Supaya tahu juga janin kamu sudah berusia berapa minggu."
"Oh gitu ..."
"Nah makanya, ayuk–" mama menarik tangan Mira, tapi Mira menahannya. "Apa lagi?"
"Dua jam lagi aku mesti ada presentasi penting di kampus, Ma. Bisa telat kalo mesti ke dokter dulu."
Mama menghela nafas. "Ya udah, pulang kuliah aja," putusnya.
...❤❤...
"Pak Athar–" Barra menegur bosnya dengan hati-hati.
Lalu ketika Athar menoleh, ia berucap, "Saya gak ikut meeting, Bar. Kamu wakilkan saya."
"Tapi, Pak, kata Pak Dirga tadi–"
"Kamu mesti dengarkan saya, bukan Dirga."
Barra memundurkan langkahnya dengan hormat. Dia cukup paham dengan suasana hati bosnya yang sedang tidak baik itu. Dari pada nanti dia malah terkena marah, lebih baik dia menghadapi Dirga, bosnya yang satu lagi, yang pembawaannya lebih tenang dan lebih ramah.
"Baik, Pak. Saya permisi dulu."
Selepas keluarnya Barra dari hadapannya, Athar kini terdiam menatap kejauhan melalui jendela besar di sisi ruangan yang ditempatinya kini. Fikirannya sedang kalut. Dia mesti memutuskan hal penting dalam hidupnya. Namun sebelum memutuskan, ia mesti memikirkannya matang-matang, atau semuanya akan berakhir tak seperti harapannya.
Sekali lagi ia mengusap wajahnya dengan kasar. Hatinya kini sedang menyimpan amarah yang mesti ia tahan agar tidak nampak ke permukaan.
...* * *...