AL-THAR

AL-THAR
#83. Part Special (2)



Lanjut Flashbacknya ya, 😉


...-----------***-----------...


Dirga bilang, kejadian yang menimpa adiknya itu kali ini jangan sampai ada satu orang pun yang tahu. Terutama warga kampus, dan termasuk juga sohib-sohib Athar yang memiliki potensi untuk dicurigai. Oleh karenanya, Dirga bersikeras agar Athar mampu membungkam cewek bernama Almira itu —yang sayangnya adalah termasuk warga kampusnya— supaya tidak sampai bocor kemana-mana. Sebab Dirga mulai yakin kalau ada mata-mata yang berkeliaran di sekitar sang adik.


Dirga juga telah meyakinkan kepada cewek polos itu untuk merawat Athar yang kondisinya butuh perawatan.


Awal mula harus menerima ketentuan dari sang kakak itu membuat Athar muak dan murka. Bagaimana bisa ia mesti ditemani oleh cewek yang ... jauh dari levelnya. Ditambah dengan kejadian sandal busuk itu, malah membuat Athar benci setengah mati pada cewek itu. Namun, lagi-lagi keadaanlah yang memaksanya untuk menerima takdir buruk ini.


Wajah cewek itu ternyata biasa saja, begitu kira-kira kesimpulan Athar setelah beberapa hari dirinya dirawat paksa oleh Almira. Nggak jelek, tapi juga nggak cantik. Bener-bener biasa saja. Bahkan cenderung ngeselin wajah sekaligus tingkahnya. Selain itu, kecerdasan yang biasa pula menjadikan Athar –entah mengapa– jadi senang mengejek, mengatai, dan membentak-bentak.


Cewek itu jadi terlihat lucu saat ia bentak dan berupaya membalas. Balasan-balasannya yang membuatnya kesal pun malah berakhir nagih.


Yap, Athar merasa gila dengan pemikirannya yang ikut gak waras.


Sungguh berbeda Almira dengan cewek manapun yang pernah ia temui. Tak ada harinya yang membosankan ketika menghabiskan waktu berada di rumah sakit. Keributan antara dirinya dan cewek itu benar-benar menjadi hal baru sekaligus hiburan yang menyenangkan, yang membuatnya seakan lupa dengan masalah-masalahnya.


Hingga suatu waktu dia merasa khilaf karena tertarik dengan bibir gadis itu –yang nampak lucu– lalu membuatnya refleks ingin menyentuhnya. Merupakan sebuah penyesalan dan malu yang teramat sangat begitu menyadari kebodohannya itu. Dia malu kepada dirinya sendiri yang bisa-bisanya ... tertarik?


What?


Athar berupaya mati-matian menentang pemikiran gak warasnya terhadap Almira. Sebuah pemikiran kalau ia merasa nyaman adalah hal yang mustahil terjadi kepada cewek seperti itu. Alhasil, ia malah semakin merasa senang berdebat, ribut, bahkan membentak-bentak agar dapat selalu melihat keluguan dan kelucuan Almira.


Sekali lagi, Athar merasa gak waras.


Untuk mengenyahkan pemikiran gilanya itu, walau keadaannya belum terlalu membaik, Athar meminta kepada Dirga untuk pulang ke rumah. Namun, dalam perjalanan pulang sesuatu terjadi lagi padanya. Mobil yang dinaikinya ditabrak oleh musuhnya hingga terbalik dan mengakibatkan kecelakaan parah dialaminya. Setidaknya, hampir dua minggu ia koma, kata sang kakak.


Setelah kecelakaan itu, sesuatu ia sadari secara perlahan. Mau tak mau akhirnya mengakui pada dirinya sendiri kalau hatinya ... sudah tertarik sedemikian rupa dengan sosok gadis aneh yang tak pernah terbayang akan singgah dalam hidupnya.


Bahkan, ikatan yang bernama pacaran tak membuatnya merasa cukup lagi. Ia tidak akan pernah bisa lagi hidup tanpa Almira di dekatnya.


...------------------------------------...


(Part special Atharnya selesai sampe sini aja ya. Selanjutnya adalah part terbaru, tapi dikit aja 😁)


...------------------------------------...


ALMIRA sedari tadi memperhatikan sahabatnya itu dengan iba. Sudah sepuluh menit sejak kedatangan Pramita ke rumahnya, dan gadis itu hanya menangis pedih tanpa Mira ketahui sebabnya.


"Pram ... udahan nangisnya ...."


Gadis di hadapannya itu masih membenamkan wajahnya di meja sambil terisak.


"Gue 'kan bukan dukun yang bisa nebak isi hati lo. So, cerita dong lo kenapa?" tanyanya dengan perlahan. Sebisa mungkin Mira membujuk Pram untuk bersuara dan membuat rasa penasaran di hatinya hilang.


"Gue ..." Pram meraung lagi. Dia benar-benar belum mampu mengutarakan yang dialaminya sekarang.


"Lo jangan bikin gue cemas dong. Lo yang biasanya sekuat wonder women masa sekarang meweknya ngalahin sinetron ku menangis?"


"Mumpung laki gue belum pulang kerja, buruan deh cerita. Biar gue khusyu gitu," Mira belum menyerah dengan rayuannya.


Sekuat tenaga Pram membuka suaranya dan dalam satu tarikan nafas ia berucap, "Gue ... gue putusan ...."


Mira menutup mulutnya yang membulat. Pantas saja Pram sebegini hancurnya. Mira terlalu paham bagaimana Pram mencintai Raihan yang pekerja keras itu.


"Kenapa? Dia selingkuh?"


Pram menggeleng pelan. Tangannya masih sibuk menyeka air mata yang seolah tak ada habisnya itu.


"Dia terlalu baik dan jujur buat selingkuh dari gue, Mir."


"Nah iya. Gue juga bisa menilai kok. Trus, masalahnya apa dong sampai kalian putusan? Apa hubungan yang gak direstui orang tua?"


Pram mengangguk sekali. "Keluarga gue jahat. Mereka hancurkan kebahagiaan gue."


Mira sudah tahu. Sejak awal Pram bercerita tentang Raihan, pacarnya itu, maka kedua orang tuanya tak setuju karena cowok itu lebih muda sedikit dari Pram. Tapi masa iya cuma gara-gara itu?


"Cuma beda usia setahun kok rasanya berlebihan ya, Pram, orang tua lo. Kecuali kalau masalah beda keyakinan, baru deh wajar kalau hubungan kalian ditentang habis-habisan sampai kandas."


Pram meneguk sedikit air putihnya. "Mereka punya pemikiran sendiri, Mir. Mereka gak peduli apakah itu menyakiti gue atau nggak. Mereka gak peduli apakah gue setuju atau nggak. Yang mereka tahu adalah hal itu baik untuk mereka. Padahal, kalaupun itu baik untuk mereka, maka belum tentu baik untuk gue."


Sejenak Mira memikirkan kalimat Pram barusan. Itu artinya ... "Lo mau dijodohin lagi, gitu? Sama siapa lagi? Kok bisa?" cecarnya.


Sebagai jawaban, Pram meraung lagi. Dirinya yang kuat selama ini, namun tidak dengan hari ini. Kekuatannya hancur oleh ketidakberdayaan dan kekecewaan yang mendalam.


Refleks Mira mengusap punggung tangan kanan Pram dengan sayang. Dia terlalu kasihan melihat sahabatnya itu dalam keadaan sedih yang terlalu.


"Sabar, Pram ... kalo jodoh gak bakalan kemana ya, 'kan?!"


"Gak gini juga, Mir. Gak gini juga kejadiaannya. Orang tua gue bener-bener kepengen gue hancur."


"..." Mira tak tahu harus berkata apa.


"Lo tahu ..."


"Hm?"


Dengan menatap Mira lekat dan pedih, Pram pun berkata getir; "Minggu depan gue mesti nikah sama Ryo."


...*****...


Bersambung bung bung


Sorry for typo ya.