AL-THAR

AL-THAR
#42. Hai



Happy reading!


Bel berbunyi berkali-kali dan itu mengganggu mood baik bumil yang sedang mengemil.


"Bi Naniiii!" teriak Shelia kepada asisten rumah tangga di rumahnya itu.


Penghuni rumah hanya ada dirinya saja saat ini. Sang Mama dengan beberapa asistennya memiliki jadwal padat di luaran sana mengenai orderan kue-kuenya.


Bicara tentang penghuni rumah dan buntut-buntutnya, misalkan; Ghani dengan Ibram, Mama dengan para asistennya, dan Mira dengan ketiga temannya, maka semua orang itu telah mengetahui bahwa dirinya sedang hamil.


Shelia sudah tak peduli dengan apa kata orang. Toh dia yang menjalani baik dan buruknya. Nasi sudah menjadi bubur, maka Shelia siap dengan segala konsekuansi yang mesti dia jalani dan hadapi. Termasuk kejulidan dan pedasnya omongan manusia-manusia di muka bumi.


Selain menghadapi kenyinyiran yang bagai angin itu, maka hidupnya kini tidak tenang dengan kehadiran kembali sang mantan dalam hidupnya. Siapa lagi kalau bukan Bryan?


Semenjak di Bali dua minggu yang lalu, Shelia sudah dapat menebak jalan cerita hidupnya selanjutnya. Yakni, dikejar-kejar Bryan.


Jujur saja, Shelia kini amat sangat membenci lelaki itu. Perihal masa lalu yang buruk antara keduanya, maka sudah pasti itu akan menjadi alasan utama mengapa ia membencinya. Mungkin awalnya kadar kebencian itu tidaklah seberapa, karena sudah berakhir dengan damai dan mereka menjadi teman biasa. Walaupun lebih dari itu, alias friends with benefits.


Namun, sejak hari ia mulai menerima bahwa dirinya telah mengandung anak dari sang mantan, maka kebencian itu semakin merajalela di dalam hatinya.


Termasuk ketika di Bali empat belas hari yang lalu saat mau tak mau ia harus berhadapan dengan lelaki yang sudah beberapa bulan tak dijumpainya itu. Adalah Bryan, sang mantan sekaligus ayah dari anak dalam kandungannya.


Walaupun saat di Bali tak ada sepuluh menit ia bertemu dengan Bryan, tapi sejak hari itu tak henti-hentinya Bryan mengiriminya pesan chat yang amat sangat banyak. Karena sudah pasti, kalau mantannya itu melakukan panggilan telepon, maka ia tidak akan sudi mengangkatnya.


Shelia memang muak dengan banyaknya chat dari Bryan, tapi entah mengapa ia tidak memiliki keinginan untuk memblokir nomor lelaki itu.


Semacam ada perasaan dan pemikiran yang mengatakan kalau Bryan tetap berhak tahu kabar anaknya, walaupun Shelia sendiri tidak menyukai fakta itu. Anggaplah Bryan adalah cobaan yang tengah dihadapinya kini.


"Ya ampun kemana sih Bi Nani itu?" dengan berat hati dan sambil ngedumel, ia bangkit dari sofa untuk berjalan menuju pintu. "Pengen rasanya gue sewa bodyguard-nya si Athar kesini. Biar ada yang bukain pintu rumah kalau orang-orang pada pergi. Gak tahu apa kalau bumil itu mager."


Meski begitu, dengan camilan yang ada di tangannya, Shelia membuka pintu.


"Ha?" ia terkejut dengan seseorang yang kini berdiri di hadapannya.


"Hai!"


...🍥🍥🍥...


"Mana jemputan lo?" Pram celingukan karena tak mendapati mobil Athar yang biasanya telah menunggu Mira. Atau, sebuah mobil lagi yang biasa juga mengantar jemput Mira saat Athar tak dapat menjemputnya.


"Juragan lagi di Jakarta."


Abay berdecak. "Kasihan ... pulang sama sopir terus. Lama-lama lo cinlok sama Pak Sopir nih?"


Mira mentoyor kepala Abay.


"Heh, songong! Gue lebih tua dari lo, Miranda."


"Ya lagian ngomong sekate-kate. Gue masih pengantin baru kelles."


"Dua bulan lebih masa pengantin baru?"


"Lah kan gue baru aja resepsi."


"Semerdeka lo, Mimir. By the way Juragan ngapain sih ke Jakarta mulu? Nengokin istri muda ya?"


Lagi, Mira mentoyor kepala Abay lagi. Namun kali ini Abay hanya mendelik saja.


"Sembarangan ya kalo ngomong. Perlu gue kasih deterjen tuh mulut, biar bersih dan wangi."


Abay terkekeh. "Serius gue nanya. Bang Athar ngapain di Jakarta? Bukannya besok kalian mau open house ya? Lebaran kali ah open house,"


"Trus lo kenapa gak ikut?"


"Kata siapa gue gak mau ikut? Ya mau bangetlah. Tapi kan lo tau sendiri kalau Juragan gue melarang gue buat bolos."


"Bukan cuma juragan, seluruh anggota keluarga lo juga melarang lo bolos sejak dulu, kelles," sambar Pram.


"Nah ... itu."


"Kasihannya," ujar Abay. "Lo tidur pelukan sama guling dong?"


"Ntar malam Juragan pulang kali."


"Eh gitu ya."


"Trus sekarang lo mau naik apa? Bonceng gue kuy!" ajak Pram.


"Gue udah pesen grab."


"Mobil kemana, Bu? Dijual?" tanya Abay.


"Gue emang lagi gak mau dijemput aja. Kan naik grab juga sama aja."


"Mau bonceng gue kali gitu?" Abay menawari Mira.


"Ogah. Lo suka mampir di Pom bensin sih."


"Emangnya kenapa?" tanya Pram bingung.


"Dia tuh, Pram," kata Mira sambil menunjuk pada Abay. "Boncengin sih boncengin, eh ... selalu berhenti di pom bensin tau gak?! Gue dipalak sama dia buat traktir motornya yang haus."


Pram tertawa.


"Ya kan hidup lo sekarang sudah terjamin sama donatur tetap, Miranda. So, lo mesti rajin sedekah sama gue."


"Rakyat jelata, kaum missquen," ujar Pram datar.


"Bodo amat deh ah. Ayo dong Mimir cantik, jadi donatur gue ya. Gue kan perlu Sumber Daya Manusia yang bahagia buat melancarkan konten-konten gue."


"Lo yang dapet bayaran, kenapa gue yang jadi donatur?"


"Bukan donatur sih, Mir, tapi partisipasi. Solidaritas,"


"Tutup aja chanel lo."


Mira melangkah meninggalkan teman-temannya berada, dan menuju taksi online yang dipesannya, dan telah sampai tak jauh darinya.


"Yah, aduh si Mimir mah,"


Tak dipedulikannya panggilan Abay yang masih membujuk rayu, dan ia kini telah memasuki mobil. Semenit berlalu tapi sang sopir tak juga bergerak. Mira yang sejak memasuki mobil itu sibuk memeriksa layar pintarnya, kini ia mendongak.


"Ayo Mas jalan!"


Si sopir bukannya berjalan tapi malah menoleh ke arahnya yang membuat Mira melongo tak percaya.


"Hai!"


...* * *...