
Mira cukup excited dengan pernikahan Pram hari ini. Hanya karena dapat berkumpul dengan gengnya semasa putih abu-abu dululah alasannya. Lebih dari itu, Mira mampu melihat seberapa santainya sekarang ekspresi wajah Pram dalam menghadapi pernikahannya. Terhitung sejak seminggu yang lalu saat mereka ngongkrong di cafe, rupanya Pram memang setangguh itu dalam menerima takdirnya. Bahkan Mira juga telah diberitahu kalau Raihan bakalan datang, menurut Pram. Entah benar jadi atau tidak, Mira dan Pram tak mampu menduganya. Pram merasa, setulus dan seikhlas apapun Raihan, tetap saja cowok itu adalah manusia biasa yang bisa sakit juga hatinya. Kalau sudah begitu, Pram tak mampu berpikir lebih jauh untuk menghindari robohnya pertahanannya.
"Segitunya sih," Athar merasa keberatan.
"Apa?" Mira saat ini masih duduk di depan cermin, dengan polesan-polesan ajaib yang telah Shelia ajarkan kepadanya.
"Kamu kok senang banget? Gak usah berlebihan deh."
Mira menatap suaminya melalui pantulan cermin. "Abang ih, aku gak senang ... salah. Aku senang ... juga salah. Trus aku mesti gimana dong?" protesnya. Karena memang awalnya Mira yang turut sedih karena mengetahui dengan jelas bagaimana perasaan Pram, tapi Athar malah menganggapnya sedih karena melihat Ryo bersanding dengan Pram. Lalu sekarang, saat Mira merasa bahagia selaras dengan apa yang ditampakkan oleh sahabatnya, ternyata masih dianggap negatif juga oleh Athar.
"Kamu tuh kayak bahagia karena mau ketemu dia. Ya udah, kita gak usah datang aja."
"Mana bisa!" serunya tak terima. "Abang jangan berpikiran buruk kenapa sih. Aku tuh senang karena mau bertemu sama teman-teman aku. Seperti reuni, 'kan?! Ditambah dengan keadaanku yang sekarang, aku pengen membuat kisah reuni kedua ini lebih indah dibanding yang pertama dulu. Sebab aku sudah memiliki Abang, juga ... calon anak kita."
Ketegangan di wajah Athar berkurang. Ada senyum bahagia yang coba ia sembunyikan. "Benar begitu?"
Mira menghela nafas. "Ya memang begitu adanya, Abang. Masa kebahagiaan aku mesti disangkutpautkan sama Ryo? Padahal aku benar-benar gak punya rasa sama dia, selain sebagai teman,"
"Teman juga nggak boleh."
"Iya, nggak. Aku cuma punya rasa sama Pram. Udah itu aja."
Athar melangkah mendekati Mira. Diusapnya kepala Mira dengan sayang dan tatapannya yang penuh cinta. "Iya, aku percaya. Kadang kala aku cuma merasa khawatir aja, Al. Rasa cemburu itu masih begitu besar di hatiku."
Sekarang Mira mengambil tangan Athar dan mencium punggung tangan itu dengan cinta sekaligus rasa hormat terhadap sang suami. "Duuuh, calon Papa muda ganteng. Gak usah pake cemburu segala deh. Liat dong, perut istrinya ini sedang membawa bukti cinta kita berdua. Siapapun yang melihat aku, pasti pandangannya langsung tertuju ke perutku lebih dulu. Maka sudah pasti pikiran mereka itu adalah 'oh, Mira sudah ada yang punya'. Hehe ..."
"Tapi tetap saja mata kamu lemah terhadap laki-laki yang ganteng. Padahal sudah pasti level ganteng mereka masih jauh di bawah aku," ucap Athar pelan dan santai. Dia telah berjongkok di depan Mira sekarang. Tangan mereka saling menggenggam erat.
"Iya juga sih,"
"'Kan,"
"Cuma iklan, Bang. Mereka yang lewat sepintas itu cuma iklan. Percaya deh. Karena menu utamanya sudah pasti suami aku yang level ketampanannya nomor wahid."
Athar tertawa renyah. Namun kepedeannya tidak luntur sedikitpun. "Nah, betul."
"Bukan narsis, Al," elaknya. "Tapi bersyukur. Disyukuri karena Tuhan memberikan banyak kelebihan padaku."
"Woah, aku jadi ingat dengan nasibku sejak dulu. Sebab aku merasa kalau hidupku penuh kekurangan. Dan itu membuat kita amat berbanding terbalik alias saling bertolak belakang."
"Mungkin itu sebab Tuhan menjodohkan kita, Al. Cuma kamu yang dapat melihat kekuranganku diantara banyaknya kelebihanku. Dan cuma aku yang dapat melihat kelebihanmu diantara banyaknya kekuranganmu."
Mira mengangguk setuju.
"Terimakasih, Al. Terimakasih telah datang dalam hidupku."
"Aku yang lebih berterimakasih, Bang. Terimakasih karena Tuhan telah mengirim Abang untuk membuat hidupku lebih dari kata sempurna. Cerita cinderella versiku akhirnya berujung dengan indah. Semua berkat Tuhan yang membuat mata Abang tertarik dengan keanehanku."
"Kamu itu bukan aneh, Al. Tapi unik. Lucu. Hidupku jadi penuh warna dan gak biasa-biasa aja."
"Biasa-biasa versi Abang tuh emangnya kayak gimana sih? Perasaan, sejak aku ketemu Abang, hidup Abang juga udah gak biasa-biasa
aja."
Sebelah tangan Athar mengusap perut Mira. "Bukan gak biasa yang itu, Al. Tapi lebih kepada masalah hati. Hati aku gak bisa biasa-biasa aja kalau sama kamu."
Mira merona. "Gitu ya?"
"Iya."
"Udah ah gombalannya. Aku keburu laper. Mending buruan kita berangkat, trus aku mau makan sepuasnya di pestanya Pram."
"Lagian siapa yang gombal? Aku tuh lagi jujur isi hati aku."
"Iya, percaya. Justru itu, aku gak kuat menahan serangan cinta dari Abang." Mira dengan gaya bicara lebay, seperti di drama Korea, lengkap dengan senyum-senyum manis najisnya.
Sekarang Athar geli melihatnya. Dia bangkit dan tanpa melepaskan gandengan tangannya lalu berkata, "Ayo berangkat sekarang!"
...***...