AL-THAR

AL-THAR
#87. Cobaan



Lanjut yuk!


...----...


"Gila, cogan-cogan semua. Di syurga nih gue kayaknya."


"Ferrow asli, 'kan itu? Gila, gue masih gak percaya bisa lihat Ferrow."


"Nomor 22 ganteng banget."


"Ferrow ganteng, tapi nomor 22 lebih ganteng lagi."


"Fix, nomor 22 jangan sampai lepas."


"Nomor 22 punya gue, Lin. Lo Ferrow aja. Asli, gue bakalan samperin ntar si ... Athar namanya."


Mendengar itu semua sejak beberapa menit yang lalu membuat Mira merasa sesak nafas. Pasalnya, suaminya sedang menjadi incaran cewek-cewek yang saat ini tengah menonton pertandingan basket.


kalian ituh ... cewek-cewek yang ... ugh!


Dia mengusap-usap perut besarnya. amit-amit ... amit-amit ... untung kita ikut ya, dek, biar sekalian jagain papa kamu dari ... lebah-lebah genit.


Fokus Mira sudah berubah pada lima menit kedua setelah pertandingan basket dimulai. Kini ia lebih memasang telinga untuk cewek-cewek yang kebetulan sedang mengangkat hot topic, yakni suaminya. Komenan nomor punggung Athar sudah pasti membuat pendengaran Mira jadi panas. Kenapa mereka tertarik sama Bang Athar sih?


"Ya ampun, ada yang nge-vlog pula. Jangan sampe targetnya dia itu Bang Athar. Gak boleh. Biar dia rekam Ferrow aja, jangan laki gue," gerutunya sendiri.


Membayangkan bagaimana Athar bakalan viral karena ketampanan dan kepandaiannya bermain basket, Mira jadi merinding.


Awalnya Mira memang menempati kursi special yang Athar siapkan untuknya, di sisi pintu masuk menuju ruangan dalam gedung itu. Namun Mira adalah perempuan hamil yang nggak bisa diam. Dia berjalan berkelana menuju kursi penonton, setelah mendapat persetujuan tatapan dari Athar, yang menyadari pergerakannya.


Alhasil, di sinilah dia berada. Mengusap dada, perut, hati agar sabar dalam mendengar komenan para penonton. Terutama yang berjenis kelamin perempuan.


Pikirannya pun mulai berandai dan menghayal, bagaimana bila Athar memiliki kumis, jenggot, jambang ...


ya ampun, kayak bung Rhoma!


Mira menggeleng. Bukan seperti itu juga sih. Tapi dia sama sekali belum memiliki ide untuk membuat suaminya terlihat tidak menarik di mata kaum hawa yang lainnya.


"Ternyata bener ya," suara seseorang membuat Mira menoleh, dan melepas hayalan-hayalannya barusan. Namun, seseorang itu lebih membuat Mira terbengong sesaat. "Gue kirain bukan lo. Ralat– gue harap sih bukan lo ... but, mau gimana lagi kalau ternyata itu memang lo."


sabar


"Lo ngomong apa sih?" sahut Mira datar. Dia mencoba untuk sabar menghadapi cobaan ini.


Benar-benar cobaan.


"Woah, ternyata lo lagi hamil? serius?" keterkejutan cewek itu tak membuat Mira merasa tersinggung. Walau nada sedikit mencemooh itu dapat ia tangkap dengan baik. Refleks Mira mengusap possesif perutnya saat cewek itu menatap perut buncitnya.


"Kenapa nggak? Gue udah merried, sah menurut agama dan negara ... lalu hamil. So what?"


Si cewek berkacamata hitam itu berdecak pelan. Senyum sinis tak segan ia tunjukkan kepada Mira walau nyatanya Mira sudah tidak peduli alias sudah tahan banting.


"Jangan sombong,"


"Gue nggak sombong," tukasnya langsung. "Kapan gue sombongnya?"


Mira tak habis pikir. Pada bagian mana dia telah bersikap sombong? Dia hanya sedang berupaya mempertahankan pengendalian dirinya, atas cobaan yang datang ini.


"Udah deh, jangan sok lugu. Sampai kapanpun, lo gak berhak buat bahagia,"


"Siapa lo sampai berhak memutuskan gue bahagia atau nggak? Apa urusan lo? Dan kenapa lo segitunya benci sama gue? Salah gue apa sih sama lo? Bukannya dari lama lo yang selalu jahat sama gue ya? trus kenapa sampai sekarang lo masih benci gue tanpa sebab?"


Mira meradang juga. Wanita hamil itu memang lebih sensitif sepertinya. Dan Mira walaupun telah berupaya untuk sabar tingkat dewa, tapi Mira juga cuma manusia biasa yang memiliki kesal, sebal, dan emosi.


Ini cobaan.


"Tanpa sebab?" cewek itu melotot. "Enak aja tanpa sebab. Justru karena ada sebab makanya gue jadi benci sama lo sampai detik ini."


"Ya trus apa sebabnya? Kasih tahu gue biar gue ngerti."


Gelengan darinya yang Mira lihat malah semakin membuat Mira kesal. Senyum culas itu lagi yang nampak, dan kali ini diiringi dengan tatapan tajam penuh kebencian.


"Kalau gue sebut sekarang, lo pasti jadi besar kepala."


"YA TRUS MAU LO APA?"


Suara keras Mira yang penuh emosi itu tak terlalu menarik perhatian orang lain. Gemuruh penonton yang menyaksikan pertandingan basket itu semakin seru. Tentunya itu menguntungkan Mira agar tak perlu menjadi pusat perhatian. Ya kecuali beberapa orang remaja yang berada tak jauh darinya. Dan Mira gak peduli.


"Mau gue?" cewek itu terdiam sesaat. "Mau gue ya lo nggak bahagia. Karena lo nggak seharusnya mendapatkan semuanya."


Dua.


Sudah dua orang yang menginginkan supaya Mira tidak bahagia. Kenyataan itu benar-benar membuatnya merasakan pedih seketika. Ini efek hamil yang membuatnya lebih sensitif ataukah reaksi alami manusia biasa?


Entahlah.


Dan lagi, semuanya apa? Memangnya Mira dapat apa selain Athar dalam hidupnya?


"Jadi lo salah satu anggota club haters gue nih?" sahut Mira masih mencoba tegar. "Ya nggak apa-apa sih. Anggap aja gue artis yang punya banyak penggemar dan pembenci."


Baru saja cewek itu ingin menyela, tapi Mira sudah menyambung kalimatnya. "Terserah kalo gue dianggap sombong, angkuh atau apapun, terserah. Karena di sini gue gak paham letak salah gue apa dan dimana, sampai gue dibenci segitunya."


Tanpa menunggu suara cewek itu lagi, Mira segera melangkah menjauh meninggalkan kursi penonton. Dan dia kembali pada kursi special yang Athar siapkan tadi.


...****...


sedikit dulu ya ... aku lagi gak enak body đŸ˜£