
...Happy Reading!...
...๐๐๐...
Mira terdiam selama beberapa saat. Air matanya luruh sembari fokus meresapi dekapan hangat sang suami yang akhirnya datang juga menemani. Athar tiba tepat saat Mira bersiap untuk memulai perjuangannya dalam persalinan normal. Tak sampai dua menit selang kedatangan Athar itulah bayi mereka kemudian lahir dengan mudahnya.
Tak terbayang seberapa penuhnya rasa yang membuncah di hati Mira saat ini.
Kekhawatirannya akan keadaan Athar sudah pastilah yang menjadi alasan utama mengapa air matanya meleleh begitu saja tanpa henti. Lalu perjuangannya sendiri yang terasa nikmat, kini berganti dengan rasa bahagia karena mendengar suara si kecil untuk pertama kalinya.
"Ssshhh ..." Athar membelai sayang kepala Mira, dengan kecupan yang tak hentinya ia berikan sebagai ungkapan syukur dan bahagia atas perjuangan sang istri, juga atas lahirnya keturunan pertama mereka. "Al, Sayang ... maaf," bisiknya. Permintaan maaf yang rasanya tak akan pernah ada cukupnya karena hampir saja ia membuat kesalahan yang besar. yakni, dengan melewatkan kehadirannya dalam menemani serta menyambut kelahiran buah hati mereka. "... maaf ...."
Mira menggeleng pelan. "Justru aku berterima kasih, aku bersyukur atas kehadiran Abang di sini, sekarang." Ia mengusap pipinya yang basah. "Kebayang gak seberapa takutnya aku karena memikirkan Abang?"
"Iya ..." sahut Athar pelan. "Kebayang juga seberapa besar rasa khawatir aku karena mendengar kamu berada di sana, Al ... tolong, jangan pernah ulangi lagi. Jangan pernah pergi tanpa izinku lagi."
Segera Mira mengangguk. Memang benar datang kesana adalah sebuah penyesalan yang besar yang tak akan pernah bisa ia lupakan. Bagaimana Ryo telah benar-benar menjadi korban nyata, semata-mata demi melindungi dirinya. Dan apalabila Ryo tidak menghalangi, maka yang terjadi bahkan lebih buruk lagi.
Ah, tentu saja. Kematian Ryo merupakan hal yang sudah pasti buruk juga, dan amat disesalinya.
"Ryo, Abang ... Ryo sudah ...."
Mira tak mampu melanjutkan kata-katanya yang terlampau pahit. Tidak satupun dalam benaknya akan mendapati kenyataan seseorang harus meninggalkan dunia karenanya.
Maka Athar mendekap Mira semakin erat saja. "Iya, Sayang, aku tahu."
"Aku ... aku yang salah ... kalau bukan karena akuโ"
"Al. Semua yang terjadi sudah pasti atas kehendakNya. Jadi kamu gak perlu menyalahkan diri kamu atas sebuah kematian seseorang. Itu di luar kendali kita, Al."
"Tapi aku penyebabnya,"
"Meskipun begitu, Al. Kamu hanyalah jalan, sebuah sabab yang Tuhan kehendaki dalam akhir perjalanan dari hidup dia."
"Ya tapi kenapa mesti aku? Terlalu menyakitkan mengalami ini semua di saat bersamaan ..."
"Pelan-pelan, Al. Biarkan kamu, kita, mencerna mengapa ini semua terjadi pada kamu, pada kita. Sudah pasti akan ada hikmah yang kita dapatkan atas sebuah peristiwa yang terjadi. Tidak perlu marah atas sesuatu yang terasa buruk, pada apa saja yang Tuhan berikan kepada kita. Karena meskipun buruk bagi kita, itu belum tentu buruk menurutNya. Aku sudah mengambil banyak pelajaran atas hidupku, Al. Hidup yang penuh dendam, masalah, dan darah yang tiada akhirnya. Lalu saat aku kira aku akan mendapatkan kematian padahal aku sedang menanti sebuah kebahagiaan besar, saat itulah aku menyadari kalau kamu dan anak kita adalah ... buah manis yang aku dapatkan setelah banyaknya kepahitan hidupku. Dan aku tidak berniat menyia-nyiakan kalian demi balas dendam lagi. Melihat hidupku dari sudut pandang yang membahagiakan rupanya adalah hal yang mesti aku lakukan mulai kini dan seterusnya. Aku berjanji untuk tidak mencari cara melampiaskan dendam di masa lalu lagi. Karena kalian berdua, adalah yang terpenting dalam hidupku."
Perlahan Mira mengangkat wajahnya dan menatap penuh cinta kepada Athar. Tak lupa seulas senyum ia sunggingkan karena perasaannya yang sudah lebih tenang kini. Setidaknya, kalimat Athar barusan membuatnya tidak lagi ingin mempertanyakan mengapa harus dirinya penyebab akhir cerita hidup seorang Ryo.
"Tapi, Bang ... apa aku pantas mendapatkan kebahagiaan ini semua?"
"Kenapa nggak? Biar Tuhan yang memutuskan apakah kamu pantas atau tidak, Al. Karena Dia lah yang memberikan kebahagiaan kepada siapa yang Dia kehendaki. Bukan begitu?"
"Iya," angguknya pelan. "Trus kenapa Abang lama? Abang nggak mendapat luka, 'kan?!" tanyanya sembari memeriksa tubuh Athar dengan seksama.
"Alhamdulillah aku nggak apa-apa, Al. Seperti yang tadi aku bilang, aku pikir aku akan mati dan melewatkan kebahagiaan yang seharusnya aku dapatkan bersama kamu dan anak kita. Saat Belva mengarahkan pistolnya kepadaku ..."
Mata Mira melebar. Rasa khawatir segera meliputi hatinya yang baru saja merasa lega. "Belva? Kok bisa?"
"Dia di sana." Athar agak berhati-hati dengan kalimat yang hendak ia ucapkan. "Belva lah yang menembak Ryo."
Lantas Mira menutup mulutnya segera yang terbuka karena terkejut. Dia tak pernah menyangka kalau Belva adalah seseorang yang berniat membunuhnya. Dan sudah pasti Belva lah si pembunuh Ryo, sahabatnya.
"Tenang aja," ucap Athar segera. "Dia sudah berada di tempat yang seharusnya."
"Sebenci itu dia sama aku, Bang?" naik turun emosi dalam hati Mira, sampai dia bingung apakah dia sedang berbahagia atau tidak.
"Iri. Dia cuma iri sama kamu, Al. Dia iri pada hasil yang kamu dapatkan sekarang, tanpa dia ingin tahu apa saja yang sudah kamu lalui dalam hidup kamu."
"Segitunya ..."
"Tapi berkat pistol yang dia todongkan tadi, aku jadi sadar akan kebahagiaanku sendiri. Aku tidak berniat untuk melewatkan momen sejak kamu melahirkan dan seterusnya. Karena apabila Belva beneran tembak aku, maka sudah pasti aku tidak berdiri di sini sekarang."
"Syukurlah dia gak jadiโ"
"Dia jadi ... tembak seseorang."
"Siapa?"
"Dennis."
"Kok bisa?"
"Belva terlalu kecewa sama Dennis."
Athar mengingat lagi kalimat Belva sebelum gadis itu menembakkan pelurunya untuk Dennis, yang membuat Dennis membelalakkan matanya saking terkejutnya.
"Gue sebodoh itu sampai percaya kalo lo beneran suka sama gue, Den. Gue sebucin itu sama lo, nurut sama lo, bahkan sampai memuja lo. Tapi pada akhirnya, gue mesti denger lagi dari mulut lo kalo lo suka sama Mira. Kalo setelah ini gue masih jatuh pada lubang yang sama, itu artinya gue bener-bener bodoh. Tapi gue berhak memilih, Den. Apakah gue masih akan terus memuja lo, ataukah ..."
Mira menelan saliva. "Beneran?"
Athar menjawabnya dengan anggukkan.
"Trus?"
"Dennis lewat. Sedangkan Belva menyerahkan diri ke polisi."
"Ya ampun ..." entah Mira mesti berkata apa. Sudah pasti dia tidak berkeinginan untuk bertemu manusia macam Dennis dan Belva lagi. Jangan pernah.
...- - -...
Kalimatnya mesti terpotong sebab sahabatnya itu langsung memeluknya dengan erat. Rasa cemas tak mampu Mira elakkan tatkala mesti berhadapan dengan Pram setelah kejadian kemarin. Ketika Pram melepaskan pelukannya, sorot mata tak terbacalah yang Mira temukan darinya.
"Sorry, Pramโ"
Gelengan keras dari Pram membungkam Mira kembali. "Jangan bilang begitu. Gue jadi merasa bersalah sama dia."
"Hah?"
Pram duduk di tepi ranjang Mira. "Jujur gue emang gak punya sedikitpun rasa itu sama dia. Tapi justru karena hal itulah yang membuat gue jadi memiliki rasa bersalah sama dia. Entah itu bagaimana jelasnya, yang pasti gue juga ... gak nyaman, Mir. Tapi sumpah, gue gak pernah salahin lo atas semua ini. Jadi jangan merasa bersalah sama gue. Karena ini semua sudah takdir."
Mira kembali memeluk Pram. Air matanya masih saja mudah mengalir bila itu menyangkut kejadian kemarin yang amat penuh penyesalan.
"Jangan sedih, jangan stres. Lo mesti menjaga ASI lo supaya lancar dan berkwalitas."
"Gitu?"
"Iyalah. New Mom harus selalu happy."
Mira mengangguk sembari menghapus air matanya. Dia mencoba tersenyum sedikit agar kesedihannya berakhir. "Trus, gimana jasad Ryo?"
"Langsung dimakamkan kemarin, setelah Bu Ayumi tiba."
"Nyonya Ayumi pasti marah ya sama gue?"
Pram menggeleng. "Udah gue bilang lo gak usah dibikin stres. Gak usah pikirin macem-macem dulu, Mir. Seiring jalannya waktu, semua luka pasti akan sembuh dengan sendirinya. Percaya deh. Fokus aja buat bahagia. Karena lo bukan orang jahat, Mir. Gue yang tahu persis gimana cerita hidup lo selama ini. Maka dengan kejadian yang memang bukan sengaja karena perbuatan lo, ya lo gak usah banyak pikiran yang bikin lo sendiri sedih. Lo mesti happy, Mir. Busui harus bahagia, bahagia, dan bahagia."
"Makasih, Pram ..."
"Iyeh. Eh by the way, keponakan gue mana nih?"
"Sama suster. Lagi mandi. Kita siap-siap mau pulang soalnya."
"Eh bentaran doang ya nginep di rumah sakitnya."
"Ngapain lama-lama?" suara Abay yang baru saja memasuki pintu bersama dengan Puput. "Selamet ye, Bu," ucapnya kepada Mira.
"Makasih. Kadonya mana?"
"Dih, nodong kadonya to the point banget. Basa basi dulu kali. Secara udah berapa minggu kita gak ketemuan."
Mira tertawa juga karena melihat ekspresi muka Abay yang jengkel. Ah, ini kali pertama Mira mampu tertawa sejak kemarin.
"Gue penasaran, lo bakal kasih gue kado apa."
"Tenang, Bu. Gue udah siapin jersey bola lengkap sama bola juga sepatunya buat jagoan lo."
"Anak gue masih bayi kali, Bay."
"Orok udah disuruh main bola, ya ampun, Abay," ujar Puput jengah. "Kado lo gak guna."
"Dih, guna banget itu nanti kalo udah gede."
"Pret lah."
"Eh by the way anak lo namanya siapa, Mir?" tanya Abay penasaran.
Athar masuk ke dalam ruangan sembari menggendong bayinya.
"Tanyakan saja sama bapaknya," sahutnya. "Gue juga belum tahu namanya siapa."
"Serius? Kalian ribut?"
Athar menatap Abay tajam dan langsung mendapat tanggapan dari salah seorang sahabat Mira itu. "Becindi, Bang." Abay menyengir lalu mendekat untuk melihat bayinya Mira. "Ya ampun, ih wow! Ini siapa, Mir? Kok ganteng pake bingit? Kok gak mirip lo?"
"Ya anak gue lah!"
"Wahh ..."
"Apa? Apa? Mau ngatain apa?"
"Siapa yang mau ngatain? Justru gue takjub, kok anak lo bisa sekinclong dan ... alamak, hidungnya tinggi banget!"
"Lebay amat!" ujar Pram ketus. "Tapi emang anak lo cakep banget, Mir. Namanya siapa nih? Raja? Pangeran? Sultan?"
Kini Mira menatap Athar yang diikuti juga oleh teman-temannya. Mereka menuntut jawaban. Sebab yang Mira tahu kalau suaminya itulah yang sudah menyiapkan nama bagi putra pertama mereka sesuai kesepakatan. Karena bila yang lahir anak perempuan maka Mira lah yang akan memberikannya nama.
"Namanya ..." Athar membuka suaranya setelah terdiam sebentar. "Nick."
...*******...
...**END....
Seriusan end. Tamat. Selesai sampai sini aja yak**.
Akhirnya Athar Mimir tamat juga. Udah gak sabar aku mau nulis lapak yang lain. ๐
Terima kasih buat semua pembaca yang setia sampai ending. Luv you all!