
Mira mencoba mencerna perkataan Roy beberapa saat yang lalu tentang kejadian yang baru saja terjadi. Keadaan di sana rupanya benar-benar berbahaya. Fakta yang diberikan oleh Roy adalah seharusnya, peluru itu diarahkan kepadanya. Namun ternyata keberadaan Ryo di sana yang menghalangi kemalangan itu dengan tubuhnya sendiri demi melindungi Mira, sehingga bukan Mira yang menjadi korbannya. Mengetahui hal itu, Mira merasakan lemas seketika pada tubuhnya. Bagaimana bila tadi Ryo tidak menghalangi tembakan itu? bukankah itu artinya bahwa dia dan calon anaknya yang akan ...
Astaghfirullah...
Sudah seharusnya dia tidak gegabah untuk berada di sana. Bagaimanapun, Mira masih sayang akan nyawanya, terlebih dengan kandungannya yang sebentar lagi akan tiba waktunya melahirkan. Membayangkan seberapa marahnya Athar bila melihatnya berada di tempat itu, sumpah Mira amat menyesal telah berani menyusul dan membahayakan diri sendiri serta calon anak mereka.
Oke, maka langkah yang paling tepat saat ini adalah dia menuruti Roy yang sesegera mungkin membawanya kembali menuju Bogor. Ya, itu lebih baik.
Di usapnya perut besarnya dengan gemetar.
Ya Allah, Sayang ...
maafin mama yang bawa kamu ke tempat berbahaya ...
Semoga papa kamu baik-baik aja ya.
Berkali-kali Roy juga meyakinkannya bahwa Athar –sang suami– sudah mendapat banyak bantuan, sehingga Mira tidak perlu panik lagi. Yang mesti dia lakukan hanyalah berdoa lalu percaya bahwa Athar akan baik-baik saja.
Namun, di antara ruwetnya pikirannya saat ini, sudah pasti terselip rasa bersalah yang amat besar terhadap Ryo. Entah bagaimana Mira menjabarkan perasaannya, yang pasti hal yang menimpa Ryo itu amat membuatnya bersedih.
Sungguh memilukan. Bayangan bagaimana keadaan Ryo tadi membuat Mira tak henti-hentinya menangis. Segala macam pikiran memenuhi benaknya juga. Tentang Pram, tentang rumah tangga mereka yang baru seminggu lamanya, terlebih tentang harapannya akan Ryo yang masih dapat diselamatkan oleh dokter. Semoga saja.
Mira gak peduli walaupun Roy dan pengawalnya yang lain bersikeras bahwa Ryo sudah tidak tertolong. Bagi Mira, yang terpenting adalah segera membawa Ryo ke rumah sakit dan dia berharap semoga masih ada keajaiban bagi temannya itu.
"Ryo ..." bisiknya lirih.
Mengkhawatirkan Ryo dan sudah pasti Athar membuat Mira merasa tak memiliki tenaga lagi untuk sekedar tetap terjaga. Entah sudah berapa lama dia memejamkan mata, walau nyatanya ia tidak merasa mampu untuk tidur walau sesaat saja.
"Non ..."
Suara Roy memaksa Mira membuka mata lebih lebar lagi.
"Teman Non yang tadi ... sudah dikirim ke rumah duka ...."
Mira tak dapat menahan jeritannya. Tangisnya kembali pecah karena rasa kehilangan sekaligus rasa bersalah yang teramat besar.
Andai dia tidak memaksakan datang,
Andai dia tidak membuat dirinya dalam bahaya ... maka pasti Ryo masih baik-baik saja.
"Ryo ..." isaknya. "Pram, maaf ...."
Kenapa mesti Ryo yang mengalaminya? Kenapa mesti Ryo yang harus pergi meninggalkan dunia?
Kenapa?
Bahkan sampai akhir Mira tidak mampu untuk membalas perasaannya. Sungguh Mira tidak berdaya.
Andaikan ... Andai saja Ryo tidak datang ...
Andai Ryo hidup bahagia saja dengan Hinata tanpa perlu kemana-mana lagi, maka ini semua tidak akan terjadi.
"Ya Allah, Ryo ..."
Rasa bersalah Mira terlalu besar hingga tak mampu lagi untuk menjerit. Dadanya terasa sesak ditambah air mata yang tak kunjung reda.
Lalu tiba-tiba ... dia merasakan ketidaknyamanan pada bagian perutnya. Sesuatu sedang terjadi, ia yakini. Rasa itu sungguh menyiksa hingga ia tak mampu untuk berkata-kata lagi.
...---💔---...
Dennis tak menduga kalau sekarang, dengan mudahnya keadaan berbalik. Dia yang tadi begitu percaya dirinya merasa mampu menghabisi Athar kini malah dia dan anak buahnya yang telah terkepung.
Tapi bukan Dennis namanya kalau hal seperti ini membuatnya mengakhiri semua dengan kekalahan. Tidak, sedikitpun dia tidak berniat untuk itu.
"Kenapa? Gak menyangka, 'kan kalau keadaan sudah berbalik sekarang." Athar dengan smirk khasnya kini menerima sebuah pistol dari seorang anak buahnya.
"Hey, Thar ... lo gak akan berani buat tembak gue ...."
Dennis tak dapat menyembunyikan raut cemasnya seketika. Dia tahu betul bagaimana Athar mampu melakukannya atau bahkan langsung membidik jantungnya.
"Lo gak bakalan tega, Thar. Istri lo lagi hamil, lupa?"
Peringatan Dennis tak membuat Athar goyah sedikitpun. "Kalau dengan menghabisi lo di sini bakalan membuat hidup gue tenang, maka lo mestinya bersiap-siap buat mengucapkan kata-kata terakhir. Jadi lo nggak perlu ngomong yang gak berguna."
"Oke, tembak gue!"
"Of course. My pleasure."
"Thar, tunggu," cegah Dennis buru-buru. "Gue cuma jalanin perintah Pak Yudistra. Gue cuma– gue gak punya niat jahat sama lo. Gue cuma bercanda juga kalo bilang naksir sama istri lo,"
Athar berdecak pelan. "Lo pikir gue anak kecil yang bisa dibodohi?"
"Sumpah, Thar. Gue itu berusaha melindungi Mira dari Belva. Yudis juga nyuruh Belva buat habisin Mira, makanya gue selalu jagain Mira–"
"DIAM, BRENGSEK!"
Dennis menutup mulutnya. Mata Athar yang nampak merah karena menahan amarah itu sungguh terlihat menakutkan.
"Dimana Belva?"
"Gak tahu."
Athar memberi isyarat mata kepada anak buahnya yang sedang memposisikan pistol di belakang kepala Dennis. Seketika Dennis jatuh berlutut karena sebuah tendangan keras dari anak buahnya itu.
"Gue beneran gak tahu!" teriak Dennis.
Salah seorang anak buahnya yang lain kini datang membisiki Athar akan sesuatu. Sembari itu, dia mengeluarkan ponselnya yang menampilkan sesuatu juga.
Sebuah senyum tipis terbit dibibirnya dan dia kembali menatap Dennis yang tak berdaya.
"Lo belum tahu, 'kan kalo bos lo Yudistra, dan beberapa anggota keluarga Garin yang lainnya baru aja ditangkap polisi."
Dennis terperangah. "Bohong,"
"Dirga berhasil mendapatkan bukti-bukti korupsi mereka, serta mengungkap perbuatan kotor mereka demi mengambil alih harta serta kekuasaan seorang mantan menteri beberapa tahun yang lalu." Athar melangkah perlahan untuk lebih dekat kepada Dennis. "Asal lo tahu, gue emang terlihat sibuk meladeni permainan Yudis selama ini. Tapi selain itu, gue sama Dirga juga sibuk mengumpulkan bukti-bukti kejahatan mereka. Keluarga Garin itu biadab. Gue yakin kalau kecelakaan yang dialami oleh kedua orang tua gue itu merupakan sabotase mereka."
Dennis mengangguk perlahan.
"Iya, benar. Gue jamin itu benar seratus persen."
Mendengar jawaban Dennis membuat Athar kembali tersulut emosinya. Dia bahkan mengabaikan suara tembakan tak jauh dari tempatnya berada. Mungkin itu perbuatan orangnya, begitu pikirnya. Sebelah tangannya yang tak memegang senjata api kini mengepal dengan kuatnya. "Sialan! Garin sekeluarga sialan!"
Dennis sudah terduduk sekarang. Matanya tak lagi membalas tatapan Athar. Raut kecemasannya pun telah hilang, dan kini berganti dengan sikap pasrah menyerah tanpa ekspresi.
"Gue akui Dirga memang cerdas. Setelah kejadian orang tua kalian, berkali-kali dia berhasil mengagalkan pembalasan Yudis terhadap kebodohan lo, Thar. Termasuk menyelamatkan lo ke Amerika waktu itu. Yudis sempat terkecoh dan percaya kalau lo sudah benar-benar mati dalam kecelakaan.
"Awalnya gue gak main hati saat mendapat tugas memata-matai lo, Thar. Gue cuma berperan sebagai mahasiswa yang bersahabat dengan target. Lalu melapor tanpa perlu repot-repot turun tangan dalam tindakan. Tapi ... setelah Mira hadir dalam hidup gue ... gue merasakan hal yang berbeda. Niat awal yang cuma bermain halus segera berubah penuh obsesi. Ya, gue segila itu sampai berencana melenyapkan lo agar bisa merebut dia dan menjadikannya milik gue. Ya, gue sebegitunya bertekad buat–"
BUGH!
Sebuah pukulan keras Athar layangkan ke wajah Dennis hingga Dennis tersungkur ke tanah.
"JANGAN PERNAH BERANI DEKATIN ISTRI GUE LAGI!"
Kini pukulan kembali dilakukannya tanpa mampu Dennis lawan sekalipun. Sebab Dennis tahu tak ada gunanya melawan di saat banyak pistol terarah kepadanya. Lalu Athar yang murka adalah satu hal yang ia hindari selama ini.
Entah sudah pukulan ke berapa yang Athar layangkan saat Dennis akhirnya terlihat semakin melemah. Lalu salah seorang anak buahnya datang menghampiri untuk memberitahukan sesuatu lagi.
Athar amat terkejut dengan apa yang didengarnya barusan.
...***...
Mungkin 2 part lagi kali ya.