
Happy reading!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Lutuuuunaaaa ... cantik amat kamyuuuu ...." Mira baru saja memakaikan salah satu kado pemberiannya untuk sang keponakan. Si cantik keponakan pertamanya itu sangat membuatnya iri untuk dapat memiliki anak perempuan juga.
"Alay!"
"Topinya pas bingit. Unch unch ... semoga nanti anakku gak kalah cantik dari kamu ya, Chayank ...."
"Aku maunya anak cowok, Al."
Mira mengabaikan baik itu adiknya atau pun sang suami yang menyahutinya. Saat ini ia tengah fokus pada keponakannya yang cantik bak boneka barbie. "Namanya siapa deh?" tanyanya kepada Shelia. "Gue lupa."
"Fathia Xaviera Autumn."
"Kenapa Autumn?"
"Karena di kota tempat bapaknya lahir, sekarang itu sedang musim gugur."
"Owh, sweet banget! Nanti tunggu anakku lahir ya, Dek Tia. Biar nanti kalian nyalon bareng,"
"Anak kita laki-laki, Al," sela Athar dengan santai. Padahal itu baru harapannya saja. Kandungan Mira 'kan masih kecil, belum juga mereka bisa periksa jenis kelaminnya.
"Belum pasti, Abang. Aku kan maunya anak cewek,"
"Aku maunya anak cowok."
"Gue pusing denger kalian ribut," sela Shelia. "Sana keluar kalian semua, gue mau istirahat sama anak gue!" usirnya sambil meminta bayinya dari tangan Mira.
Mira, Athar, dan Ghani beranjak keluar dari kamar Shelia. Ketiganya baru saja menyambut kepulangan baby Tia dari rumah sakit.
Mira hanya memperhatikan Athar yang segera berlari ke dalam kamar mereka, sedangkan Ghani bertanya dengan bingung, "Kenapa dia?"
"Uek. Bang Athar 'kan masih sering mual, walau gak sesering bulan lalu."
"Ribet banget sih! Yang hamil siapa, yang ngidam siapa. Dih, amit-amit!"
Mata Mira memicing, "Hm, gue doain lo bakalan sama kayak bang Athar nanti, kalo lo udah merried sama Kiara dan kalian punya anak."
"Sialan!" Ghani berdesis tajam sambil berlalu. Wajah juteknya jelas membuat Mira puas karena telah berhasil membuat adiknya kesal.
"Jangan dengar umpatan om kamu ya, Dek," ucapnya seraya mengelus-elus perutnya yang sedikit saja terasa tak sedatar biasanya. "Itu gak baik. Sholehahnya Mamah ..."
"Sholeh, Al," Athar menyahuti sembari berjalan keluar dari kamar.
Mira bingung. "Loh, bukannya Abang lagi muntah ya di kamar mandi?"
"Gak jadi. Tiba-tiba aku kepengen makan makanan yang manis-manis nih,"
"Oh? Dodol? Dodol 'kan manis tuh,"
Athar menggeleng. Tangannya meraih tangan Mira untuk digenggamnya. "Bukan."
Mira pun menurut kemana langkah sang suami membawanya. "Trus, apa dong? Ayam bakar madu? Melon madu? Kue lupis? Kolak duren?"
aduh, gue jadi pengen itu semua
Isi otak rakyat jelata milik Mira rupanya tak mampu menembus makanan yang saat ini tengah diidamkan oleh Athar. "Aku lagi kepengen ... Turron de Donna Pepa."
Mira melongo. "Tur apa? Itu tumbuhan langka ya?"
Athar mencubit gemas hidung Mira yang sepertinya otewe meninggi karena saking seringnya Athar menjepitnya. Dan sumpah kalau itu nyata, Mira bakalan lebih bahagia lagi.
"Nanti juga kamu tahu. Ayo, kita ke restoran milik temanku!"
...🍒🍒🍒...
Kandungan Mira sudah berusia lima bulan ketika akhirnya ia melihat kembali keberadaan Dennis secara tak sengaja sedang berdiri di depan sebuah cafe.
Kali ini Mira yang melihat Dennis sedang duluan, sedangkan posisi Mira masih beberapa langkah sebelum tiba persis di depan cafe. Untungnya cowok itu belum melihat Mira dan Mira telah lebih dulu merapat ke dinding agar tak kelihatan Dennis.
"Ya ampun ... gue deg-degan ...." gumamnya pelan dengan telapak tangan membekap ringan mulutnya sendiri. "Kenapa dia mesti ada di situ ... bikin gue—"
"Non!"
"ADUH COPOT!" teriak Mira karena terkejut. Matanya melotot ke arah laki-laki yang adalah bodyguard-nya. "Ngagetin aja sih, Gar!"
Mira lupa kalau selalu ada bodyguard yang mengikutinya meskipun dalam jarak yang tak diketahuinya.
"Maaf, Non, maaf," Linggar berkata dengan datar. Lelaki itu matanya berfokus pada arah yang tadi Mira hindari, yakni pada tempat Dennis berada. "Non melihat siapa?" tanyanya memastikan.
"I-itu ..." sahut Mira terbata.
"Siapa wanita itu?"
"Hah? wanita? sejak kapan Dennis jadi wanita?" Mira melongok kembali ke arah depan cafe. Dan ternyata ... di sana sudah tak ada sosok Dennis yang dilihatnya tadi. Hanya ada seorang wanita dan anak kecil sebagai gantinya.
Loh, dia kemana? masa iya gue halu?
.
.
Rupanya penglihatan Mira akan Dennis bukan hanya terjadi sekali itu saja. Pada hari-hari berikutnya pun entah kenapa ia selalu melihat sosok Dennis di mana-mana. Di jalanan, di depan kampus, di dalam kampus, hingga di mall.
"Gue tuh kenapa ya? Kenapa muka Dennis di mana-mana? Tapi anehnya gak sekalipun dia lihat balik ke gue. Kenapa coba? Fenomena apa?" tanyanya heran kepada Pram.
"Kangen kali lo sama dia?" tebak Pram asal.
"Jangan waras deh!"
"Antonim gila ya," balas Pram dengan cengiran. "Emang enak lagi bunting! jadi gak bisa berkata kasar, 'kan. Kasihan. Berkurangnya nikmat berkata kasar sejak usia dini."
Mira mengabaikan ledekan Pram. Saat ini otaknya tengah berfikir serius perihal Dennis yang selalu ada di mana-mana.
"Lo cuma halu kayaknya, Mir," lanjut temannya itu. "Gue gak lihat penampakan Dennis seperti yang lo bilang."
"Ya dia keburu hilang waktu lo nengok, Pram."
"Masa?"
"Gue gak ngarang ya. Intonasi suara lo seolah gak percaya sama gue dan menganggap kalo gue halu. Karangan." Mira jadi lebih sensitif karena kehamilannya.
"Nah, sekarang lo bisa baca hati gue ya."
Mira cemberut. Sebenernya dia juga gak terlalu percaya dengan yang dilihatnya. Seolah wajah Dennis ada di mana-mana. Tapi dia mesti percaya juga karena memang penglihatannya seperti itu.
"Tau ah," dia memijat pelan keningnya. "Gue juga gak ngerti,"
"Jangan stres dong, bumil. Kasihan jabang bayi lo."
"Iyee ... gue berusaha buat gak stres."
"Ya lagian, ngapain lo biarin mukanya si Dennis malah mengganggu hidup lo? Dari pada lo mikirin Dennis yang bisa bikin lo stres sekaligus bikin bang Athar murka, mendingan lo melakukan hal yang bermanfaat gitu."
"Misalnya?"
"Senam hamil?"
Mira menggeleng. Dia belum berniat untuk senam atau sejenisnya.
"Shopping?"
"Gak minat."
"Shopping perlengakapan baby, Mir."
Dia menggeleng lagi. "Nyokap gak bolehin. Dulu juga si Sheli dilarang belanja perlengkapan bayi sebelum usia tujuh bulan kandungannya."
"Alasannya?"
"Pamali," sahutnya santai.
Mira mengendikkan bahunya.
Pram bangkit dari posisi selonjorannya yang sedari tadi udah pewe itu. "Ayo ah, jangan gara-gara si pamali kita jadi telat. Nanti Prof. Bro kesayangan manusia di jagat semesta ini murka, 'kan bisa repot."
Maka Mira pun bangkit juga. Sebelum mereka beranjak, Puput dan Abay telah menghampiri mereka untuk berjalan bersama menuju ruang kuliah di mana dosen mereka telah menanti.
"Udah gue bilang kalo bumil itu gak boleh duduk di bawah pohon, Mimir." Puput menatap Mira dengan sungguh-sungguh. Diliriknya ke arah atas pohon, lalu kembali ke wajah sahabatnya itu.
"Emang ini pohon ya? Sejak kapan?" Pram memperhatikan pohon belimbing yang rindang, karena memang pohonnya tak seberapa besarnya.
"Kenapa gitu? Bumil gak boleh duduk di bawah pohon? kenawhy, Ijah? " Abay yang menyahuti Puput.
"Pamali."
"Saha si pamali?"
Pram mendahului melangkah meninggalkan teman-temannya. "Ternyata di antara kita ada penganut paham 'pamali' juga kayak nyokapnya Mira."
...🐦🐦🐦...
Mira membuka matanya tiba-tiba, diikuti dengan tubuhnya yang langsung bangkit seketika. Nafasnya memburu dengan tangan kiri memegang dada seolah menenangkan kekecauan yang tengah dirasa oleh hatinya kini.
"Al ..." Athar bangkit juga. Padahal biasanya, dia yang paling susah untuk bangun dari tidur. "Kamu kenapa?" tanyanya cemas kepada sang istri. "Mimpi buruk?"
Mira mengangguk tanpa suara.
Athar membawanya ke dalam pelukan dan mengusap kepala Mira dengan sayang. "Gak apa-apa, ada aku ..." Dipeluknya Mira selama beberapa saat hingga istrinya itu kembali tenang. Dan setelah ketenangan iya pastikan sudah menguasai Mira, maka Athar melanjutkan kalimatnya, "Mimpi apa, hm?"
"...."
"Al ..."
"Katanya kalo mimpi buruk itu gak boleh diceritain."
"Kata siapa?"
"Kata Puput."
"Oh,"
Kembali hening di antara keduanya. Mira tengah berfikir apa yang barusan dimimpikannya. Karena dalam waktu singkat ingatannya akan mimpi itu melemah.
"Ya udah, aku mau cerita."
"Sebelum aku lupa."
Athar menatap Mira. "Ha?"
"Aku mau transfer cerita mimpi burukku ke Abang."
Lelaki itu mengangguk. "Oke. Apa itu?"
"Aku mimpiin Dennis."
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
"Baby Tia kesayangan aku!"
Mira langsung meminta bayi Shelia yang masih berusia dua bulan itu, setelah ia sempatkan mencuci tangan di kamar mandi tadi. Dikecupnya bertubi-tubi pipi sang bayi, dengan penuh rasa gemas dan sayang.
"Ya ampun, kenapa kamu semakin bulat, dek? Kamu tuh cewek loh. Nanti dikasih obat diet sama bunda kau, baru tau rasa!"
Shelia berdecak. "Siapa juga yang mau kasih Tia obat diet, Mira sholehah!"
Mira menyengir lebar karena sebutan kakaknya itu barusan. "Di depan bayi dan calon bayi, kita mesti jaga ucapan ya, Shel, gak boleh berkata kasar."
"Ho oh. Gatel lidah gue nyebut lo sholehah."
Mira tergelak. "Emakmu, Tia. Emakmu adalah kakak yang ... sholehah juga." Awalanya ia ingin mencela Shelia, tapi untungnya lidahnya masih bisa mengerem juga.
"Wahai para perempuan sholehah!" interupsi suara itu membuat Mira dan Shelia menoleh. Di sana, di pintu yang sedikit terbuka, ada Ghani sedang menatap kakak-kakaknya. "Turun yok ke bawah! Ibu negara memanggil kita semua."
"Ngapain?" tanya Shelia yang asli mager. Sebab semalaman ia begadang baby Tia yang lagi cantiknya.
"Ibunda ratu Pertiwi baru saja selesai membuat rujak dan seblak sesuai pesanan si Mira."
"Okeh. Kuy-lah baby Tia, kita ngerujak dan ngeseblak!" Mira langsung saja membawa baby Tia yang memang masih berada di dalam gendongannya, berjalan keluar kamar dan menuju lantai bawah. Sedangkan Shelia menyusulnya di belakang.
"Sini sama nenek," pinta sang mama kepada Mira yang dimaksudkan untuk menggendong cucunya.
"Tia mau, mangga?" Mira menawari keponakannya itu. "Oh pake sambel juga?"
"Sembarangan!" sahut mama Pertiwi.
"Nyicip, Ma. Nanti dia ngiler," Mira membela diri.
"Semprul! Nanti bayi lo gue suapin duren loh ya!" Shelia yang membalas. Dia segera duduk di kursi sebelah Mira, di depan Ghani.
"Duda keren?"
"Mau lo!"
"Nggak dong. Gue mau anak gue nanti jodohnya sama jejaka manis, cute, dan tampan. Tapi kalo durennya kayak Song joong Ki sih gue iyes." Mira memberikan cengiran lebarnya.
Brak!
Mira dan Shelia menoleh karena terkejut. Baru saja Ghani menggebrak meja karena melihat kedatangan seseorang ke tengah-tengah mereka. Kemudian cowok itu melangkah lebar ke arah lantai dua, dan tidak peduli dengan tamunya.
"Ampun deh, untung baby Tia gue gak kagetan gara-gara Oom-nya yang ambekan," gerutu Shelia.
"Hai, Ki!" sapa Mira kepada Kiara yang sumringah karena melihat baby Tia.
"Halo, Kak. Halo semua!" gadis itu menghampiri mama Pertiwi yang sedang menggendong cucunya, tapi Kiara tak menyentuh baby Tia. Dia paham sudah, bila ingin menyentuh bayi maka sebaiknya ia mencuci tangannya dulu. "Halo, Tia! Makin cantik aja sih!"
"Cantik ... tapi gendut," sahut Mira santai. Sedangkan Shelia menatap adiknya tidak santai.
"Bayi tuh mending gendut, chuby, dari pada kurus kurang gizi, tau!"
"Iya-iya. Santuy dong, Shel. 'Kan gue udah bilang kalo Tia itu cantik."
"Kamu apa kabar, Ki? Kok udah dua minggu baru mampir ke sini lagi?" tanya mama. "Biasanya, 'kan hampir setiap hari. Kamu lagi marahan ya sama Ghani?"
Kiara tersenyum canggung. Memang sih, ada sesuatu yang terjadi antara dirinya dan Ghani. Tapi, sekarang bukan saatnya ia mengatakan hal itu. Terlebih dahulu, ia mesti mengumpulkan bukti dan pengamatan yang pasti. Baru setelahnya ia berani membeberkan segalanya.
"Aku ada kerjaan bantu temanku di tokonya, Tante. Makanya aku jadi jarang bisa mampir ke sini," jelasnya yang tak sepenuhnya dibuat-buat.
"Toko apa?" tanya Shelia yang saat ini tengah menyantap seblak.
"Toko aksesoris di mall, Kak. Beberapa hari yang lalu aku sempat lihat Kak Almira di mall loh,"
Mira pun menoleh. "Oya? Masa? Akunya lagi ngapain, Ki?"
"Lagi makan permen kapas."
oh iya, bener. itu gue.
Tiba-tiba hp Mira yang berada di dalam tas berbunyi membahana, membuat semua orang menoleh ke arahnya.
"Kenceng banget, Sholehah!" seru Shelia. "Kalo baby Tia lagi tidur mah bisa kebangun gara-gara bunyi hp lo."
Mira cengengesan. "Iya, sorry. Bakal gue kecilin deh." Dia menggeser layar hp untuk langsung menjawab panggilan masuk dengan segera. "Halo!"
"Halo, Mir. Gue di Bogor nih. Ketemuan yuk!"
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Halllloooo..... apa kabar semua? baik aja, 'kan?! Maaf ya lama gak update. Kan aku lagi hiatus. Ini juga karena kangen aja makanya jd update. 😄
Makasih buat yang masih stay di lapak ini. Maaf gak bisa rajin kayak dulu lagi. 😊
.