
Mira ingin berlama-lama di dalam kamar mandi di lantai satu. Apa sebab? Ia enggan untuk memberitahu Athar perihal kedatangan Tania yang saat ini sedang duduk di teras. Biarlah salah seorang bodyguard yang mengatkannya kepada suaminya itu.
Tapi, itu hanya niatan awalnya saja ketika ia berpikir untuk tak meladeni Tania yang pastinya akan terkejut dengan statusnya. Nyatanya, Mira kini malah berdiri menyambut Tania yang sedang melangkah santai dari depan gerbang menuju teras dimana dirinya berada.
Saat mata keduanya bertemu, Mira tak melihat keterkejutan dari sorot mata wanita itu tentang keberadaannya di sini pagi-pagi. Dia biasa saja. Woah!
"Oh kamu lagi di sini. Athar mana?" tanya Tania yang hendak melangkah langsung ke dalam rumah ... seperti biasanya.
"Tunggu!" Mira mencegat Tania yang hampir melangkah masuk. Kalau sewaktu ia statusnya hanya menjadi pacar saja, maka Mira merass minder bila berada di jarak dekat dengan Tania. Tapi sekarang, setelah dirinya memiliki status yang resmi, sudah sepatutnya dan selayaknya ia menjaga suaminya dari terjangan betina-betina yang berpotensi mengganggu keharmonisan rumah tangganya.
"Kenapa?" tantang Tania.
"Mbak kalau mau bertemu sama Bang Athar, tunggunya di sini aja."
Tania melebarkan matanya. "Mana ada. Sejak kapan aku datang ke rumah ini hanya sampai teras?"
"Sejak hari ini. Gak baik menimbulkan fitnah kalau Mbak masuk ke dalam." Mira menjaga nada suaranya agar terdengar tetap tenang. Padahal hatinya panas.
Bibir Tania membulat. "Gak usah sok berkuasa ya! Walaupun status kamu adalah seorang pacar, tapi itu gak akan menghalangi aku yang hendak bertemu Athar–"
"Mira adalah istriku, Nia." Athar keluar dari dalam rumah dan langsung memeluk Mira dari belakang. Lengannya melingkar di depan leher Mira, setelah sebuah kecupan singkat mendarat di atas kepala Mira.
Tania melotot tak percaya. "What? Masa? Jangan bohong kamu, Thar,"
"Kami baru menikah seminggu yang lalu. Dan akan melakukan resepsi akhir bulan ini. Nanti kamu pasti aku undang kok."
Waduh, udah mau resepsi aja. Kok gue gak tau sih?
Tapi Mira tentu saja tak menampakkan apa yang ada di pikirannya sekarang. Ia masih fokus untuk mengusir wanita yang berpotensi menjadi pelakor dalam rumah tangganya.
Pelakor? ke laut aja!
Tania menatap Athar dengan dalam dan ekspresinya yang berubah sendu. "Ka-kamu bisa tega begini sama aku, Thar ... kupikir– a-aku pikir kita bakalan ..."
"Jangan harapkan aku lagi, Nia. Pasti ada laki-laki yang jauh lebih baik dari aku untuk kamu."
Mira mengalihkan pandangannya. Ia tak suka melihat cewek yang ditolak oleh cowok. Tapi dalam kasusnya kali ini ... dia SUKA pakai BANGET.
.
.
"Loh, Mama mau kemana?" Mira yang baru sampai di rumah Mamanya itu terkejut saat sang Mama sedang memegang sebuah koper di ruang tengah.
"Ke Bandung. Mama sama Mbak Desi diajak sama Mbak Renata ke acara ngunduh mantu adiknya di Bandung."
"Oh, kirain acaranya si Donny," ucap Mira dengan cengirannya.
"Kalau si Donny bulan depan memang mau tunangan sama pacarnya."
"Mama titip Ghani ya," ucap Mama yang sedang merapihkan bedaknya.
"Kebalik kali, Ma." orang yang disebut sudah menyahut dari depan kulkas, dimana dia berada. "Untung udah ada Bang Athar, jadi aku gak perlu repot-repot ngurusin Mira."
"Sialan. Gue bisa urus diri sendiri kali."
"Gak bisa."
"Gak bisa."
Mama dan Ghani kompak menjawab. Mira tak mampu berkata-kata. Apakah segitu payahnya dirinya sampai tak bisa mengurus diri sendiri?
"Athar mana?" Mama yang bertanya.
"Mau kasih briefing sebentar di cafe."
"Kamu libur?"
"Iya."
"Ya udah, titip kakak dan adik kamu."
"Ma!" lagi-lagi Ghani hendak protes.
"Sheli belum bangun?" tanya Mira karena tak mendapati sang kakak yang biasanya paling gak bisa anteng di rumah.
"Sheli malah belum pulang sudah tiga hari. Dia menginap di rumah temannya di Jakarta."
"Dalam rangka?"
"Temannya mau menikah, jadi dia repot gitu katanya sih."
Mira hanya manggut-manggut saja. Ada baiknya ia tidur di sini malam ini, sekalian menjaga Ghani–
"Jangan berniat buat tidur di sini dengan alasan buat jagain gue!" suara horor Ghani menembus otak Mira. Hebat, Ghani sudah menerawang pikirannya. "Gue gak suka diganggu!"
ck, dasar bocah!
* * *
Aku masih bertahan, kalo gak tahan, baru deh pindah lapak. 😊
Makasih semangatnya kalian semua 😘
*