AL-THAR

AL-THAR
#21. Dimple



Setelah beberapa saat Sheli dalam keheningan sambil menatap sang mama dengan raut wajah yang serius, lalu Mira melihat kakaknya itu bangkit dari kursi dan langsung bersimpuh di kaki sang mama dengan tangisan yang menderu. Sebuah tangisan pilu karena semua rasa yang telah terjadi amat sangatlah buruk memenuhi jiwa raganya kini.


Mira dan Ghani sendiri masih berdiam di tempat untuk melihat bagaimana reaksi mama selanjutnya.


"Loh, kamu kenapa, Shel? Kenapa tiba-tiba begini? Ada apa? kok sampai mewek begini sih?" mama berupaya mengangkat tubuh Sheli agar bangkit dari kakinya, namun si sulung itu tak berniat untuk berpindah sedikitpun. Hanya tangisan pilu, penyesalan, serta rasa bersalah yang saat ini tengah dikeluarkannya. Lalu mama menoleh kepada Mira dan Ghani bergantian dengan raut bingungnya. Ia berharap salah satu anaknya yang lain mampu menjelaskan keadaan ini. "Ini kenapa? Sheli kenapa sampai mewek begini kerasnya?"


Baik Mira ataupun Ghani tak ada yang mampu berkata-kata.


"Sheli! Bangun Mama bilang!" mama panik juga.


"Nggak, Ma ... nggak ... aku mohon ampun, Ma ... aku–" Shelia yang berkata dengan terbata-bata disela tangisannya yang menderu. "Aku bukan anak yang baik ... aku ... mohon ampun, Ma ... maafin aku ...."


"Iya tapi kenapa?" mama cemas sekaligus kesal di saat bersamaan. "Kenapa kamu menangis sampai kayak gini? ayo ceritain ke Mama, biar Mama ngerti, Shel! Jangan bikin Mama khawatir." mama terbawa suasana tangisan Shelia hingga wajahnya seperti siap untuk menangis juga.


Shelia semakin pilu tangisnya. Mira turun dari kursi dan berjongkok sambil memegang bahu kakaknya, menguatkan. Diusapnya dengan sayang punggung kakaknya itu. Sekuat tenaga ia menahan tangis juga yang seolah tertarik untuk menyusul keluar seperti saudaranya. Ia mengerti dengan yang tengah dirasakan oleh Sheli, amat sangat. Tak terbayang bila itu terjadi pada dirinya. Mungkin ia pun tak akan pernah sanggup untuk melanjutkan hidup juga, seperti yang ada dalam pikiran Shelia beberapa hari yang lalu.


Ghani bangkit perlahan untuk menghampiri sang mama dan berdiri di belakang wanita yang melahirkannya itu. Kedua tangannya memegang lembut kedua sisi lengan atas sang mama, dengan maksud menguatkan juga.


"Kalian semua kenapa? Jujur sama Mama! Jangan buat Mama bingung begini!" seruan mama menandakan kalau wanita itu juga telah pada ambang batas rasa sabar, kesal, penasaran dan kekhawatiran. "SHELI!" bentaknya.


"Aku hamil, Ma ...." raung Shelia hingga bersujud di kaki sang mama.


Mira masih memegang kedua lengan kakaknya itu. Sedangkan mama ... tersentak, lalu mencerna tiap kata putrinya barusan ... dan ia merasa kalau pendengarannya telah salah. "Ka-kamu bicara apa, Shel?"


"Aku ... hamil, Ma ...."


Mama terpaku pada kata itu. Kata yang barusan terlontar dari bibir si sulung cantiknya. Bukankah yang telah menikah itu putrinya yang kedua, lalu mengapa malah Shelia yang hamil?


Begitu otaknya mencerna dengan apa yang sedang menimpa sang anak, maka seketika lelehan air mata mengalir deras dari kedua pelupuk matanya. Sebagai seorang wanita yang belum lama ditinggal pergi oleh suaminya, tentunya kenyataan ini membuatnya merasa seperti jutaan jarum menghujam jantungnya.


Mama Pertiwi menyandarkan punggungnya di kursi dengan lemah. Tatapannya kabur karena terhalang oleh air mata. "Tega kamu, Shel ..." ucapan lirih Mama yang diikuti pelukan dari arah belakang yang berasal dari putranya.


Shelia semakin terisak. Mira menarik tubuh kakaknya itu agar tak bersujud lagi, tapi Shelia bersikukuh dengan keinginannya.


"Maafin aku, Ma ..." balas Shelia disela tangisannya.


Mama menangis sesenggukan hingga tak mampu berkata-kata selama beberapa saat. Mira juga sudah menghapus air matanya yang meleleh karena melihat keadaan. Menit demi menit berlalu hanya diisi dengan suara tangisan dari semua penghuninya.


"Kamu Mama percaya untuk belajar ... untuk mengejar cita-cita kamu ... bukannya malah buat aib begini, Shel. Mama bisa apa kalau sudah begini? MAMA BISA APA, SHEL? Papa sudah gak ada, kenapa kamu begini sama Mama, hah?" mama meluapkan emosinya dengan air mata yang tak kunjung reda. "ANAK SIAPA ITU? CEPAT BILANG ANAK SIAPA ITU?"


Mendengar suara mama yang meninggi dan penuh emosi, Shelia akhirnya tersungkur hilang kesadaran. Keadaannya yang memanglah masih lemah jiwa raga, ditambah dengan kondisi kehamilannya, membuatnya tak mampu bertahan dengan kesadaran.


"Sheli! Sheli, bangun, Shel!" Mira menepuk-nepuk pipi kakaknya itu. "Ghani, bantuin!" ia meminta tolong Ghani agar memindahkan Sheli.


.


.


"Kenapa keluar? Temenin Sheli sana, takutnya dia punya pikiran pendek lagi," Ghani menyuruh Mira kembali ke kamar kakak mereka, padahal Mira baru saja menutup pintu kamar Sheli itu. Setelah pingsan sebentar, Shelia yang telah sadar malah menyuruh Mira untuk keluar.


Mira menghela nafas. "Apaan, dia ngusir gue. Dia pengen sendiri katanya."


"Ya jangan dibiarin,"


"Gue udah paksa dia, Ghan, tapi dia emang bener-bener butuh sendirian. Gue percaya kalo kali ini dia gak akan berpikiran pendek lagi kok." Mira melirik jam tangannya. "Mama gimana?"


"Mau tidur katanya. Gue disuruh keluar."


"Nah kan, sama aja."


Ghani mengendikkan bahunya.


"Gue mau keluar sebentar ya,"


"Mau kemana?"


"Kok lo possesifin gue sih?"


Ghani memutar bola matanya. "Gue khawatir sama Mama juga Sheli. Bukan lo."


"Dih, jahat. Ya udah, gue mau nyamperin orang yang khawatir sama gue aja," Mira menjulurkan lidahnya.


"Jangan lama-lama!"


"Iya, nggak lama kok. Gue cuma mau nemenin Bang Athar makan siang doang."


Sebenarnya Mira berat untuk meninggalkan sang kakak dan mamanya yang kini tak saling bicara. Bahkan pastilah memerlukan waktu bagi keduanya untuk dapat berhadapan lagi. Baik Mira ataupun Ghani khawatir pada keduanya. Namun sifat keras mama kali ini adalah hal yang wajar dilakukannya. Bagaimanapun juga, mama adalah orang yang paling terluka setelah Shelia tentu saja.


Hanya saja, Athar meminta Mira untuk datang menemani makan siang suaminya itu, sekaligus bercerita apa yang terjadi di dalam rumahnya. Mira juga sudah mengatakannya kepada Shelia, dan kakaknya itu memang juga sedang ingin sendirian menunggu reda emosinya lalu ia siap untuk bertatap muka lagi dengan sang mama.


Sebagai seorang istri, tentunya Mira juga tak akan mengabaikan keinginan Athar. Apalagi ia baru menyadari kalau fokus dirinya terhadap sang kakak dan keluarganya, sedikit banyak membuatnya teralihkan fokus dari Athar. Namun sayangnya Mira kurang peka dan Athar yang mencoba untuk mengertinya, kini malah membuatnya merasa bersalah yang tak terucap. Oleh karenanya, Mira tak perlu berpikir panjang saat Athar memintanya untuk menemani makan siangnya.


Di sebuah restoran Athar telah menunggunya. Mira yang diantar oleh sopirnya, kini tengah celingukan mencari keberadaan Athar di dalam restoran. Begitu salah seorang pelayan yang sedang berdiri di depan sebuah meja itu beranjak, mata Mira akhirnya menangkap keberadaan Athar yang kini tengah duduk ... tidak sendirian.


waduh, siapa tuh?


Rasa panas menjalari hati Mira. Bagaimana tidak, Athar yang sudah paripurna di matanya itu tengah duduk semeja dengan seorang wanita cantik nan anggun. Lha sedangkan Mira?


Dia menyesal tidak berganti pakaian dulu sebelum pergi menemui Athar. Kalau sudah begini, dirinya lebih tepat bila disebut sebagai istri rasa babu.


masuk, jangan?


Tentu saja Mira melangkah menuju Athar. Peduli apa dia dengan tampangnya yang kelewat biasa ini, toh yang penting dia adalah istri dari cogan yang terlihat super tampan, keren, dan suamiable yang duduk di sana itu. Langsung saja, tanpa basa-basi Mira menempati kursi di sisi kanan Athar.


"Siapa?" tanya wanita itu pelan kepada Athar. Keanggunan wanita itu membuat hati Mira cenat-cenut karena merasa tak sepadan. Ia terasa seperti seorang mahasiswi lusuh yang tak berarti.


hiks.


"Ini istriku," sahut Athar tegas. Tangannya meraih tangan Mira dan membuat hati Mira lebih lega. Dilihatnya alis cetar wanita itu sedikit terangkat yang Mira pahami kalau ia pastinya terkejut dengan penampakan istri seorang Athar. Biarlah, biarkan wanita-wanita cetar itu terkejut dengan dirinya yang terlihat di bawah standar untuk bersanding dengan Athar, karena kenyataannya takdir memang semanis itu kan?!


Lalu Athar menoleh kepada Mira, "Ini Mbak Nanda, relasi aku."


Mira menyunggingkan senyum sopannya. Ia melihat tangan wanita itu yang telah terulur, dan mau tak mau demi kesopanan dan kesejahteraan dunianya, ia menyambut tangan itu untuk berkenalan.


"Nanda."


"Almira."


"Mbak Nanda ini menaruh sahamnya di perusahaan real estate milik Dirga, dan aku yang menjadi penanggung jawabnya sebagai perwakilan Dirga."


"Nanda aja, Thar. Aku kan cuma lebih tua setahun sama kamu."


Athar tersenyum singkat. Dan Mira yang melihat itu merasa cemburu. Yap, dia cemburu hanya karena melihat Athar tersenyum dengan wanita lain. Padahal senyum itu hanya singkat dan mungkin beberapa detik saja hitungannya.


"Oh," Mira tak tahu mesti berkomentar apa lagi kan. Takutnya, yang keluar dari mulutnya adalah sesuatu yang dapat mempermalukan Athar. Karena ternyata dia juga sebucin itu kepada suaminya. Jadi, lebih baik ia tak banyak bicara. "Jadi ini yang sedang Abang fokusin?"


"Nggak juga. Aku kan gak sendirian jadi penanggung jawabnya. Masih ada Irsyad di tim aku. Tapi dia sedang keluar kota, makanya mesti aku yang urus juga. Oh ya, kamu dari rumah Mama?"


Mira mengangguk.


"Baiklah, Thar. Aku pergi duluan ya. Masih ada urusan penting lagi." Nanda tersenyum manis sambil bangkit. Ada dua lesung pipi di sana yang tertangkap oleh mata Mira.


gue gak punya lesung pipi sialaaaan 😥


Athar berdiri untuk menyalami Nanda. Sedangkan Mira enggan. Tapi Nanda mengulurkan tangan kepadanya juga, hingga ia membalasnya dengan senyum yang sangat lebar tapi ... terpaksa.


Setelah kepergian Nanda, hati Mira terasa amat sangat lega.


gue pengen punya lesung pipi


gue pengen punya lesung pipi


gue pengen punya lesung pipi


dimple ... oh dimple ...


"Besok aku kuliah mau pakai rok pendek kayak gitu, atasan kayak gitu, dan heels kayak gitu ..." ucap datar Mira dengan telunjuk mengarah kemana tadi Nanda berlalu.


"Enak aja!" pungkas Athar tegas dan singkat.


"Enak lah. Kan besok berangkat kuliah dari rumah Mama. Banyak baju dan rok Sheli yang kayak gitu. Dan untungnya aku satu size sama Shel–"


cup


Athar mengecup bibir Mira singkat. Segera Mira menoleh ke kanan dan ke kiri kepada pengunjung yang lain, yang ia khawatirkan melihat adegan Athar kepadanya barusan.


"Abang ih,"


"Kamu gak usah berpikiran untuk memakai pakaian kayak gitu selama aku masih hidup."


"Loh kenapa?" Mira protes. Gak adil dong!


"Masih banyak kan rok kamu yang panjangnya di bawah lutut? Jadi jangan harap kamu bisa pakai yang seksi-seksi kalau di luar rumah."


Mira sebenarnya sebal. Bagaimana bisa Athar bersikap egois seperti itu, di saat matanya saja suka melihat cewek-cewek yang seksi kan?! tapi ... otak Mira malahan salfok.


"Eh, emangnya aku seksi ya, Bang?" tanyanya dengan senyum polosnya.


Athar yang melihat ekspresi wajah Mira yang seperti itu malah membuatnya menyugar rambutnya singkat dan berkata, "Plis, jangan bikin aku gak nafsu makan."


Mira langsung tersinggung. "Kok gitu? Emangnya aku ap–"


"Aku jadi pengennya ke kamar, bukan makan."


...* * *...


Maaf baru up lagi. Setelah NT error, sinyal error, eh akunya jadi gak mood buat nengokin NT. 😂


 


Makasih udah baca! Jangan lupa dukungannya ya! 😘


*