AL-THAR

AL-THAR
#88. Belva



Happy Reading!


"Tadi Belva?"


Mira mengangguk pelan. Sejujurnya, sebagian semangatnya telah luntur berkat cobaan yang baru saja dilaluinya itu. Siapa sangka kalau tiba-tiba dia akan bertemu dengan Belva di gedung olahraga ini. Seolah dunia memang sesempit itu, dimana Mira akan selalu bertemu dengan salah satu pembencinya.


"Abang liat aja sih?"


"Ya keliatan. Aku 'kan selalu pantau kamu, Al."


Dia menghela nafas pelan. "Punya teman kok gitu amat," gerutunya sembari memakaikan handuk kecil di kepala Athar.


"Dia bukan temanku." suaminya itu sudah duduk lesehan di lantai, sembari menghadap ke arahnya. "Dia bilang apa aja emangnya?"


Sebuah cebikkan tersungging singkat di bibir Mira. "Biasa. Hater. Eh– jangan dilepas!" cegahnya saat Athar hendak menurunkan handuk kecil tadi.


"Kenapa? Biar orang-orang gak melihat ke wajahku?"


"Itu Abang ngerti," begini nih resiko punya suami ganteng dan selalu menarik perhatian para betina di luar sana.


Athar tersenyum mengerti. Tangannya membetulkan kembali letak handuk kecil di kepalanya.


"Cewek-cewek yang nonton di sana selalu nyebut nama Abang. Padahal, 'kan udah cukup Ferrow aja yang menarik perhatian mereka. Kenapa mesti Abang juga?"


"Trus?"


"Trus apa? Ya aku kesel-lah. Gak suka."


Athar hanya meringis seraya mengusap kepala Mira dengan sayang. "Coba sekarang lihat ke arah mereka yang kamu sebut barusan, gimana?"


Mira belum paham sampai kemudian dia menoleh ke arah kursi penonton tadi dan mendapati tatapan-tatapan iri dari kebanyakan mereka. Auto senyum manis merekah di bibir Mira karena senang. Itu tak luput dari mata Athar yang selalu memperhatikan istrinya itu dengan seksama.


"Nah ..." cengiran lebar Mira tak surut saat ia kembali menatap suaminya.


"Apa? Puas?"


"Iya, dong. Sekarang mereka tahu 'kan kalo cogan bintang lapangan ini sudah punya pawang dan sebentar lagi jadi bapak-bapak."


"Enggak bapak-bapak juga, kali. Aku masih muda, Al," protes Athar.


"Pahmud. Papah muda."


"Apa sih?"


Mira cekikikan dengan pikirannya sendiri. Bersamaan dengan itu waktu istirahat beberapa menit itu telah berlalu. Athar kembali ke lapangan dan melanjutkan pertandingannya yang bertabur cogan-cogan itu.


Bunyi notifikasi chat masuk ke ponsel Mira. Sebuah nomor tak dikenal di sana yang mengiriminya pesan.


{Tau kenapa gue bilang kalo lo berhasil ambil semuanya? Karena selain Athar yang suka sama lo, ada Dennis juga yang sampai detik ini masih tergila-gila juga sama lo. Lo tau gimana perasaan gue yang ditolak karna dia bilang suka sama lo padahal lo sudah merried?


Sakit. Gue sakit banget. Sejak awal kuliah gue suka sama dia, tapi dia gak pernah bls perasaan gue. Jadi jgn salahin gue yang benci bgt sama lo dan berharap lo gak akan pernah bahagia.}


Mira terdiam mencerna kalimat di layar pintarnya itu. Dia yakin si pengirim adalah Belva. Cewek yang tadi sudah ditemuinya. Namun ketika Mira melayangkan pandangan ke tempat ia bertemu Belva tadi, rupanya cewek itu sudah tidak ada di tempatnya.


Sekarang pertanyaannya, "Kok dia bisa punya nomor hp gue ..." ucapnya pelan. Selain itu, dalam pikirannya bertanya-tanya bagaimana bisa Belva bilang kalau Dennis tergila-gila kepadanya sedangkan pada kenyataannya Dennis sudah beberapa kali mencoba membunuhnya?


Seketika bulu kuduknya merinding karena mengingat Dennis yang hampir seperti karakter seorang psycho, yang ia tonton di drama Korea. Dan Mira, tidak berniat sedikitpun untuk membalas pesan dari Belva.


...- - -...


Sambil menunggu sang suami yang sedang berganti pakaian di ruang ganti, Mira menghampiri Ferrow yang sedang duduk di kursi, padahal belum ganti pakaian.


"Selamat ya, Ferrow," ucapnya dengan senyam senyum sambil mengusap perutnya. Dia harap, ada satu saja kegantengan Ferrow yang menulari anaknya kelak.


Maruk dikit bolehlah!


"Thank's, Mira. Aku mau panggil kamu 'Al' tapi gak boleh sama Athar. Jadi aku mesti panggil kamu dengan 'Mira' aja."


Jawaban Ferrow membuat Mira melongo. "Ha?"


Cogan level artis yang sudah Mira gilai sejak lama itu kini tersenyum manis. Merupakan pemandangan yang tak akan pernah mampu Mira banyangkan dulu kalau di masa sekarng dia malah bisa dekat dengan idolanya itu. Dapat dikatakan sebagai sahabat –suaminya.


"Ehem," dia berupaya mengendalikan rasa terpananya karena melihat senyum Ferrow dalam jarak dekat begini. "Kamu beneran mau merried sama Cassandra ya?"


"Oh gitu ..."


"Kenapa?"


"Kirain cuma gosip," dia menyengir. Ya udah deh, mau gimana lagi. Kalau ternyata Ferrow memang jodohnya adalah sohibnya si Belva, maka Mira bisa apa? Rasa tak terima karena idolanya hendak menikah dengan salah seorang pembencinya, mesti ia pendam.


"Hey!"


Mira kira Ferrow masih berbincang dengannya, rupanya dia salah. Artis cogan level parah itu ternyata menegur pada Belva yang telah menghampiri. Lebih tepatnya, bergabung dengan dirinya dan Ferrow.


Auto tertutup pendengaran Mira dengan obrolan Ferrow dan Belva di dekatnya. Dia hanya sedang berfikir akan makan apa siang ini sebelum nanti sore kembali ke Bogor. Bukannya apa, Mira hanya enggan mendengar kalimat sarkas yang bakalan Belva ucapkan manakala dirinya berada dalam jarak dekat dengan cewek dem– mawar itu.


Mawar oh mawar! Durimu pengen Mira basmi deh!


Kok tiba-tiba pengen makan gado-gado Nyak Ipah ya? Hmmm ... kayaknya enak tuh ....


"Sekarang lo sudah tahu alasan kenapa gue benci banget sama lo." suara Belva menarik hayalan Mira akan gado-gado Nyak Ipah di kampung bekas rumahnya dahulu.


Loh, Ferrow kemana? Kapan perginya?


"Benci dengan sangat."


"..." gak usah nyaut, Mir! anggap aja angin ...


"Entah apa yang bikin Dennis bisa sebegitunya suka sama lo yang begini,"


dih!


Mira mengangkat pandangan dengan kening berkerut. "Lo tuh jangan ngada-ngada, Kak Belv. Gimana bisa Bang Dennis suka sama gue, kalo kenyataannya sebaliknya?"


Mira yakin kalau Belva penasaran dengan kalimatnya. Tapi gengsi membuat cewek itu enggan untuk bertanya. Maka Mira hanya melanjutkan ucapannya. "Dia itu sudah berniat membunuh gue, Kak. Mem-bu-nuh."


"Bullshit."


"Serius! Bang Den sendiri yang bilang begitu ke gue." Dia mesti meyakinkan cewek yang kini terlihat sedikit terperangah karena kalimatnya itu.


Yang Mira lihat selanjutnya adalah Belva yang yang mengeluarkan smartphone-nya dari tas selampangnya, dan mulai menghubungi seseorang.


"Bang Den gak bohong sama ucapan Bang Den kemarin?"


Mira mendongak saat mendengar suara Belva yang rupanya sedang menelpon Dennis, kalau ia tidak salah.


"Bisa bilang langsung ke orangnya sekarang?"


Mira tidak siap saat Belva tahu-tahu telah menyodorkan hpnya di depan wajahnya. Dia gelagapan bahkan menggeleng keras karena tidak mau menerima sodoran hp itu.


Siapa juga yang berniat buat ngomong sama dia?


Dengan gemas Belva menarik tangan Mira secara paksa dan menyerahkan hpnya. "Dengerin," perintahnya.


Mira yang takut perut buncitnya diapa-apain seperti di sinetron, terpaksa menerima hp itu dan perlahan mendekatkannya ke telinganya.


"Mir ..." suara di seberang sana menyebut namanya dengan mengerikan. Itulah yang Mira rasakan.


"Aku serius loh kalau aku memang sesuka itu sama kamu. Perasaan aku tuh tulus ..."


Mendengar kalimat itu membuat rasa kesal di hati Mira tumpah. "Bang Den gak usah ngomong yang nggak-nggak. Kenyataan Bang Den udah jahat sama aku, itu gak akan bisa dirubah."


"Hey ... memangnya kalo suka itu gak boleh jahat ya?"


"Apa?"


"Serius, aku tuh suka banget sama kamu, Mir. Saking sukanya aku sama kamu, sampai-sampai aku rasanya gak rela melihat kamu bahagia sama Athar loh. Sumpah deh."


"Bang Dennis ngomong apa sih?" kali ini suara Mira yang bergetar. Dia menduga-duga akan ...


"Aku cinta sama kamu, dan aku gak terima kalo kamu bahagia sama Athar. Makanya, saking cinta itu membuat aku pengen bunuh kamu loh. Kalo aku gak bisa dapetin kamu, maka itu artinya Athar atau siapapun juga gak boleh dapetin kamu, Mir. Jadi lebih baik kamu mati aja. Gitu loh maksudku ...."


...****...


sorry for typo