
Ketika dalam perjalanan menuju pusat perbelanjaan, perasaan Damar semakin tidak enak.
"Honey?!" lirihnya lalu menghubungi nomor istrinya namun tak di jawab. Beberapa kali ia mencoba namun tetap sama. "What the hell!! Nggak seperti biasanya Quin seperti ini," kesalnya.
Ketika ingin menghubungi bi Atik, ia baru menyadari jika bi Atik tak membawa ponsel.
Ia terus melajukan kendaraannya hingga ia hampir tiba, ponselnya malah bergetar. Seketika fokusnya teralihkan lalu menepikan mobilnya di bahu jalan.
"Angga?" desisnya. "Hallo."
Tak langsung menjawab melainkan Angga langsung memberondongnya dengan pertanyaan.
"Dari mana saja kamu, huh?!!! Kenapa kamu membiarkan Quin dan bi Atik jalan berdua tanpa kamu temani?!!! Cepetan ke rumah sakit Arinata sekarang?!! Aku tunggu di loket," perintah Angga disertai dengan bentakkan lalu memutuskan panggilan telepon secara sepihak.
Tut ... tut ... tut ...
"Hallo!!! Hallo!! Angga!!!" Lord ada apa ini?" gumamnya dan kembali memutar arah menuju rumah sakit dengan perasaan khawatir.
.
.
.
Rumah sakit Arinata ...
Begitu tiba di rumah sakit, Damar langsung mengambil langkah seribu menuju loket tempat Angga menunggunya sejak tadi. Sedangkan bi Atik sedang duduk di depan ruang operasi.
"Angga!" Sapanya.
"Damar?! Ayo cepat tanda tangani surat persetujuan medis ini. Quin akan segera di operasi," perintah Damar.
Damar menatapnya dengan alis yang saling bertaut karena melihat noda darah yang menempel di lengan jaket.
"Tanda tangan saja, aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Sekarang bukan waktunya bertanya," tegas Angga.
Tanpa pikir panjang, Damar langsung menandatangani surat persetujuan itu. Begitu selesai, Angga langsung mengajaknya bertemu dengan dokter Emelie spesialis kandungan yang sejak tadi menunggunya.
"Bi, Dok," sapanya dengan wajah khawatir sekaligus cemas.
"Nak Damar, maafkan bibi," ucap bi Atik dengan suara tercekat. Sejak tadi wanita paruh baya itu terus saja menangis.
"Bi," lirih Damar seraya merangkulnya sekaligus menenangkan. Setelah itu, ia menatap dokter Emelie yang akan mengoperasi istrinya.
"Pak, istri Anda mengalami pendarahan dan harus segera dioperasi caesar untuk menyelamatkan janinnya," jelas dokter Emelie.
Damar sangat terkejut mendengar penjelasan dokter Emelie barusan. Seketika ia langsung terduduk lalu menangis.
"Tolong selamatkan istri dan anak saya, Dok," pintanya dengan suara pelan.
"Kami akan melakukan yang terbaik, selebihnya kalian bantu dengan doa," sahut dokter Emelie lalu menepuk pundaknya
Setelah itu, dokter Emelie dan team membuka pintu ruang operasi. Sepeninggal dokter Emelie dan teamnya, Angga menatap Damar dengan benak yang dipenuhi dengan berbagai pertanyaan.
Namun karena situasi saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk bertanya, ia memilih duduk di sampingnya lalu merangkul bahunya sekaligus menguatkannya.
"Mari kita sama-sama berdoa untuk keselamatan Quin dan bayinya," desis Angga.
Damar hanya mengangguk namun air matanya tak bisa berhenti mengalir. Ia menggenggam jemari bi Atik yang masih saja menangis.
Kenapa Quin bisa sampai pendarahan? Lord selamatkan istri dan anakku.
Sedangkan Angga, memilih menghubungi pak Pranata dan tuan Alatas supaya ke rumah sakit. Begitu selesai memberi kabar, ia menghela nafasnya lalu tertunduk.
"Bi, bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Damar dengan suara bergetar.
"Bibi juga nggak tahu, Nak. Saat kami hampir sampai ke lantai dasar menggunakan tangga eskalator, tiba-tiba dari arah atas seseorang berjalan dengan terburu-buru lalu menabrak nak Quin," jelas bi Atik lalu menyeka air matanya.
"Apa Bibi melihat orang itu?"
"Bibi nggak sempat, soalnya bibi langsung panik saat melihat nak Quin jatuh lalu pendarahan," jelas bi Atik lagi.
Siapa pelakunya? Kenapa dia tega banget pada Quin?
Damar merogoh kantong celananya lalu mengeluarkan ponselnya kemudian menghubungi Adrian. Ia meminta asistennya itu untuk menyelidiki apa sebenarnya yang terjadi di pusat perbelanjaan beberapa jam yang lalu.
Tap ... tap ... tap ...
Tap ... tap ... tap ...
"Mah, Pah," lirihnya.
"Damar, Angga, Bibi! Bagaimana keadaan Quin," cecar pak Pranata dengan wajah cemas.
"Belum tahu, Pah," jawabnya lalu memeluk pak Pranata kemudian menangis. "Quin masih di dalam ruang operasi. Aku takut jika Quin dan bayinya sampai kenapa-kenapa, Pah."
Sama halnya Damar, pak Pranata merasakan hal yang sama.
.
.
.
Naira yang kini sudah berada di rumahnya, tampak tersenyum puas setelah membuat Quin terjatuh bahkan berharap Quin dan bayinya tak selamat.
Setelah dengan sengaja menabrak Quin, ia sempat bersembunyi sambil memperhatikannya dari kejauhan yang terlihat kesakitan.
"Biar mampus sekalian!" harapnya dengan senyum penuh kepuasan. "Aku ingin mendengar kabar selanjutnya dari wanita itu."
"Nai, ada apa? Sejak tadi, mama perhatikan kamu ngomong sendiri."
"Nggak apa-apa, Mah," sahutnya seolah tak terjadi apa-apa.
"Ya sudah, mama ingin berbelanja sembako. Apa kamu nggak mau ikut," tawar bi Yuni.
"Nggak, Mama saja," tolaknya.
********
Kembali ke rumah sakit Arinata ....
Sudah sejam berlalu sejak Quin berada di ruang operasi. Dengan perasaan getir, Damar seolah tak bisa merasa tenang.
Sejak tadi ia terus mondar mandir di depan pintu ruang operasi.
"Damar, tenanglah, Nak," tegur nyonya Zahirah.
"Bagaimana aku bisa tenang jika operasinya belum selesai, Mah! Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Quin dan bayinya?" balas Damar.
Tak lama berselang, pintu dibuka. Melihat dokter Emelie keluar dari ruang operasi, Damar langsung mencecarnya.
"Dok, bagaimana dengan operasinya? Bagaimana dengan keadaan istri dan anak kami, Dok?"
Dokter Emelie mengulas senyum sembari mengelus lengannya. "Operasinya berjalan lancar dan sukses. Istri dan bayi Anda baik-baik saja," jelas dokter Emelie. "Karena putra Anda lahirnya prematur, maka untuk sementara dia kami masukkan ke dalam inkubator," jelas dokter Emelie lagi.
"Bersabarlah untuk sementara karena istri Anda masih belum sadarkan diri. Itu karena dia masih dalam pengaruh obat bius. Kami akan memindahkannya ke kamar rawat. Bayi Anda akan kami tempatkan ke ruangan khusus," pungkas dokter Emelie.
"Pindahkan istri saya di kamar rawat VIP, Dok," pinta Damar. "Apa boleh saya melihat istri dan putra saya sebentar?" izinnya.
"Baiklah, tapi hanya sebentar karena kami akan segera memindahkan keduanya. Sebelumnya Anda harus mengenakan baju khusus dulu."
Damar hanya mengangguk lalu mengikuti langkah dokter Emelie ke suatu ruangan.
Setelah memakai baju khusus, ia segera mempercepat langkahnya menuju ruang operasi.
"Honey," lirihnya sesaat setelah berada di dalam ruangan operasi. Berdiri menatap Quin dan putranya mungilnya di dalam inkubator.
Seketika air matanya menetes menatap keduanya. Bahagia sekaligus khawatir.
"Cepatlah sadar, jangan lama-lama memejamkan matamu. Kasian putra kita," bisiknya lalu membenamkan bibirnya yang cukup lama di kening istrinya.
Setelah itu, ia menghampiri inkubator di mana sang putra berada. Ingin rasanya ia menggendong, mengecup dan mendekap putranya namun tak bisa ia lakukan.
"My Hero," desisnya dengan suara bergetar lalu memegang jemari mungil putranya sambil menangis. "Sehat-sehat terus ya, my Hero. Daddy menyayangimu dan momy," desisnya lagi.
...----------------...