101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 23



Apartemen Angga ...


"Kinar, aku duluan," ucap Angga lalu tergesa-gesa meninggalkan Kinara yang masih berbaring di tempat tidur itu.


Kinar hanya bisa mendengus kesal. Lagi dan lagi, Angga hanya membutuhkannya saat ia hanya ingin bercinta dengannya saja.


Dengan malas ia bangkit dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi.


Sementara Angga tampak sudah melajukan kendaraannya menuju kantornya. Ia pun memasang headset ke telinganya lalu menghubungi Quin.


"Di luar jangkauan?" desisnya lalu melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sudah jam 9.15? Harusnya Quin sudah ada di butiknya."


Angga memilih mengubah haluan ke arah butik Quin. Sesaat setelah tiba di butik itu, ia pun segera turun dari kendaraannya dan buru-buru masuk ke dalam.


Baru saja ia akan menapaki kakinya ke anak tangga, Al menegurnya.


"Angga!"


Ia pun menoleh. "Al, apa Quin ada di ruangannya?"


"Nggak. Tadi pagi dia memintaku mengantarnya ke bandara."


Angga mengerutkan keningnya. "Bandara? Maksudmu dia berangkat ke Jepang lagi ya?"


"Nggak, tapi ke KL. Ada klien yang ingin bertemu langsung dengannya di sana," bohong Al.


"KL? Malaysia, maksudmu?"


Al hanya mengangguk.


"Kapan ia akan kembali?"


"Kurang tahu juga. Yang jelas Quin sekalian ingin liburan," jelas Al dengan berbohong.


Angga tertunduk lesu lalu mengangguk. Tanpa banyak bicara ia pun keluar dari butik itu lalu menuju ke arah mobilnya.


Dengan perasaan getir ia pun kembali melajukan mobilnya ke arah kantornya.


*******


Rumah Sakit Kota J.


Lagi-lagi dokter Fahry mengulas senyum saat tahu siapa yang masuk ke ruangannya.


"Yo ... Bro, apa kabar? Sepertinya kamu terlihat berbeda," puji Fahry lalu meninju pelan dada temannya itu.


Damar hanya tersenyum lalu mengarahkan kursi rodanya ke arah besi penyangga. Dengan tekad dan usaha, ia memegang besi itu lalu perlahan berdiri dari kursi rodanya.


"Ya aku pasti bisa melakukannya," desisnya lalu perlahan melangkah pelan sambil berpegangan.


Aku ingin kaki ini segera pulih. Aku ingin melangkah bersama Quin sambil menggenggam tangannya.


Damar membatin dengan senyum sambil melangkah kecil. Ia terus melakukannya hingga pada akhirnya ia mencoba berjalan tanpa berpegangan.


Sambil melangkah, ia membayangkan Quin sedang berada di hadapannya. Ia melakukan itu beberapa kali dan lagi-lagi ia berhasil walaupun masih perlahan.


"Damar ... sulit di percaya. Apa yang membuatmu sesemangat ini? Honestly ini di luar perkiraanku," aku Fahry dan turut merasa senang.


"Quin," ucapnya singkat.


Fahry menautkan alisnya. "Quin? Maksudmu? Quin owner QA Boutique," tanya Fahry dengan penasaran.


"Ya," jawab Damar dengan senyum mengembang sempurna.


Merasa belum yakin, Fahry mengeluarkan ponselnya lalu membuka galeri foto dan memperlihatkan foto Quin dan dirinya saat berada di Jepang tepatnya saat musim semi.


"Maksudmu Quin yang ini?" selidiknya.


"Ya, kamu benar," desis Damar dan kembali tersenyum.


"Jangan gila kamu, Mar. Dia itu sudah punya tunangan."


"I know, but i don't care," sahut Damar dengan santai.


Fahry geleng-geleng kepala. Bahkan jauh sebelum Damar dan Angga, ia sudah lama menaruh hati pada gadis ceria itu. Namun entah mengapa ia lebih memilih Angga.


Tik ...


Fahry menjentikkan jarinya lalu tersenyum. Ia baru sadar jika saat adalah bulan Maret yang ditandai dengan masuknya musim semi.


"Aku yakin, Quin pasti akan akan ke Jepang. Ini kan, bulan Maret?" gumamnya dalam hati.


"Dokter Fahry, Tuan Maaf apa terapinya sudah selesai?" tanya Adrian yang baru saja masuk ke ruangan itu.


"Adrian," sahut keduanya.


"Aku sudah selesai," kata Damar lalu kembali duduk di kursi rodanya.


"Mar, jika kamu sering-sering melatih kaki mu seperti tadi, aku yakin kurang dari sebulan kamu sudah bisa melangkah cepat," jelas dokter Fahry.


(Maaf banyak typo 🀭🀭🀭 hanya di dunia pernovelan. Harap maklum.πŸ€­πŸ™)


Beberapa menit kemudian Damar kembali berpamitan dan memutuskan langsung ke kantornya.


.


.


.


Jam 4.00 waktu Osaka, Jepang


Quin terlihat sedang berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama selama 7 jam 45 menit, akhirnya ia tiba dengan selamat dan di jemput oleh supir kakaknya.


"Huh!! Lelahku terbayar dengan melihat bunga-bunga sakura yang bermekaran di sepanjang jalan," gumamnya lalu tersenyum.


"Aunty Quiiiin," pekik Ayumi sang ponakan cantik.


"Yumi ... cepatlah kemari," pintanya.


Ayumi langsung naik ke atas ranjang dan ikut berbaring di bantal yang sama dengan Quin.


Ia pun meraih ponsel khusus yang biasa ia gunakan ketika berada di kota asal mamanya itu.


"Ayumi, look at the camera and smile," pintanya lalu membentuk dua jarinya membentuk V.


Cekrek ... cekrek ... cekrek ...


Quin memotret fotonya berdua dengan sang ponakan lalu mengirimkan foto itu ke aplikasi WhatsApp Damar dan Almira.


βœ‰οΈ : Mr. Brewok πŸ€­πŸ˜… aku sudah sampai dengan selamat di rumah. Oh ya, di kota ini lagi musim semi loh. Apa kamu nggak tertarik berlibur? 😜😜


Seperti itulah isi pesan yang ia sematkan pada fotonya untuk Damar beserta emoji lucu.


βœ‰οΈ: Al, jika baju pesanan klien kita sudah selesai, minta Jihan dan Gisha saja yang mengantar ke alamat masing-masing. Setelah itu kamu susul aku ke sini. Kita healing bareng, apalagi saat ini musim semi. Masalah ongkos nggak usah khawatir nanti aku transfer ke rekeningmu. ☺️☺️


Begitu lah pesan yang di kirim Quin untuk sahabatnya itu.


Baik Damar maupun Al, keduanya sama-sama merasa gemas mendapat pesan dari Quin. Apalagi saat menatap foto gadis itu bernama ponakannya.


Damar yang saat ini sedang membaca pesan dari Quin, tampak tersenyum penuh arti menatap foto gadis itu dan sang ponakan.


"Quin, sebelum musim gugur, aku akan menggenggam tanganmu dan berjalan bersamamu tanpa kursi roda ini lagi," gumamnya dengan seulas senyum.


Tok ... tok ... tok ....


Pintunya di ketuk. Ia pun mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara.


"Mama," lirihnya lalu meletakkan ponselnya ke atas meja.


"Damar ... apa kamu sedang sibuk, Nak?"


"Nggak Mah. Kok, Mama sendiri nggak sama papa. Dan tumben Mama menyambangi kantorku. Ada apa?" cecarnya.


"Nggak apa-apa, Nak. Oh ya, jangan lupa hadir di HUT perusahaan papa, lusa nanti. Mama ingin kamu menggandeng Naira ke sana," jelas mama.


Damar menyeringai menatap mamanya.


"What! Naira? Apa aku nggak salah dengar Mah?!" pekiknya. "Tapi maaf Mah, aku nggak tertarik menggandeng Naira. Lagian aku nggak bisa hadir di HUT Perusahaan papa soalnya besok aku harus bertemu investor di Jepang," bohongnya.


"Apa investor lebih penting?!" kesal mama.


"Of course, Mah. Setidaknya itu sangat menguntungkan perusahaanku," tegas Damar meyakinkan walaupun ia berbohong.


Ngapain juga aku hadir, lagian lebih baik aku menghabiskan waktuku bersama Quin daripada harus menjadi pusat perhatian di acara papa lusa nanti.


Damar membatin dengan seringai penuh arti dan tak menghiraukan wajah kesal sang Mama.


...****************...


Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author.