101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 45



"Damar ... setialah hanya pada satu pasanganmu kelak. Percayalah ... dikhianati itu sangat menyakitkan," bisik Quin dalam pelukannya.


Damar hanya bergeming dan semakin merengkuh erat tubuh Quin. Seakan terbawa perasaan, Quin malah merasa nyaman dalam rengkuhan pria brewok itu.


Sedetik kemudian ia tersadar lalu berdehem.


"Ehem ... apa kamu bisa melepasku?"


"Jika aku nggak mau?" desis Damar merasa gemas.


"Ck ... Damar," decaknya lalu sedikit meronta.


"Sebaiknya kamu makan dulu," saran Damar.


"Aku masih kenyang."


Damar mengerutkan keningnya. "Kenyang? Kapan kamu makan dan di mana?" cecarnya.


"Pppppffff ..." Quin tertawa menatapnya seraya menangkup wajahnya. "Kok ... kamu jadi posesif begini sih?" kata Quin. "Tadi sore, di salah satu cafe yang ada di dekat wahana tempat aku menghabiskan waktuku," jelas Quin.


"Lain kali jika kamu ke wahana itu


lagi, jangan lupa ajak aku juga," kata Damar.


"Ok ... baiklah Mr. Brewok," kata Quin dengan hela nafas. "So ... bisa lepasin nggak?"


Lagi-lagi Damar seolah enggan melepasnya dan malah menatap lekat wajah Quin, menatap matanya lalu turun ke bibirnya. Perlahan mulai mendekatkan bibirnya ingin melu*mat bibir gadis itu namun lagi-lagi gagal saat Quin menahan bibirnya dengan jari telunjuknya.


"Nooo ... jika kamu tidak ingin kecanduan," bisik Quin lalu tertawa lucu.


"Ah ... sh*it!!!" umpat Damar dalam hatinya. "Sebelum mengenalmu aku memang addicted Quin, seorang player. Aku takut jika kamu tahu yang sebenarnya," batinnya.


"Aku hampir lupa?"


"Apa?"


"Aku ingin mencukur rambut dan brewokmu ini," cetus Quin.


"Are you sure?"


"Why not?"


"Now?"


"Yes ... nggak ada alasan untuk menolak," jawab Quin dengan seulas senyum.


"Quin ... besok saja," dalihnya.


"Ok, nggak masalah," balas Quin. "Bisa lepasin?" pintanya lagi yang masih berada dalam rengkuhan Damar.


"Boleh ... dengan satu syarat," kata Damar dengan seringai tipis.


"Ck ... katakan, Tuan pemaksa," decak Quin.


"One Kiss," tawarnya.


"Oh, come on ... jangan begini," tolak Quin.


Quin bergeming menatap Damar. Oh Lord ... bagaimana ini. Geli banget lihat kumisnya. 😆✌️


Quin membatin tak rela dan tampak memikirkan sesuatu. Seketika idenya tercetus setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


Tanpa aba-aba ia langsung menggelitik pinggang Damar tanpa henti, sehingga membuat pria brewok itu kegelian dan tertawa.


"Quin, stop it! Geli."


Quin tak menghiraukan permintaannya dan malah terus menggelitiknya.


"Quin ... please stop," pintanya lagi sambil tertawa.


Lagi-lagi Quin tak menghiraukan sampai ia merasa puas, barulah ia berhenti lalu berlari menuruni anak tangga menuju kamarnya.


Sesaat setelah berada di kamarnya ia langsung mengunci pintu lalu menghempaskan tubuhnya di ranjang empuknya lalu menatap langit-langit kamar.


"Huh, ngeselin banget. Pakai ngancam segala," desis Quin. "Jika dia beneran menambah 30 hari lagi, aku akan kabur dari sini. Mana mau aku terjebak di sini, aku ingin bebas. Lagian aku dan Angga sudah putus," lirihnya.


Tak lama berselang pintunya diketuk, namun Quin enggan membuka dan hanya membiarkan saja.


"Emang enak dikibulin," ucapnya lalu memejamkan matanya.


Sedangkan di luar pintu, Damar terus mengetuk benda yang terbuat dari kayu itu sambil memanggilnya.


Tok ... tok ... tok ...


Tok ... tok ... tok ...


"Quin, open the door please!" pintanya masih sambil mengetuk pintu namun pintu itu tak kunjung di buka.


"Apa dia marah ya?" tanya Damar pada dirinya sendiri. "Apa aku keterlaluan tadi? Lord ... aku nggak rela jika dia bakal menghilang lagi tanpa kabar seperti kemarin," cemasnya.


"Quin, open the door ... please," pintanya. "Ok ... ok ... aku mengaku salah, maafkan aku," ucapnya namun Quin sama sekali tak bersuara dan pintu kamarnya tetap tertutup rapat.


Tak kehabisan akal, ia mencari kunci serep, namun lagi-lagi ia harus kecewa karena kunci itu ada di kamar Quin.


Quin yang hanya menjadi pendengar akhirnya terkekeh, namun tetap saja ia tidak beranjak dari tempat tidurnya.


"Rasain, sekali-kali kerjain si brewok pemaksa itu, nggak apa-apa kali ya?" kata Quin dan kembali memejamkan matanya.


Karena tak kunjung membuka pintu, akhirnya Damar kembali lagi ke rooftop.


"Ternyata nggak gampang membuatnya takluk," desis Damar setelah mendaratkan bokongnya di kursi santai lalu meraih salah satu gambar desain Quin.


Sedetik kemudian, Damar tampak berpikir. Ia takut jika besok Quin benar-benar menghilang seperti tiga hari yang lalu.


"Please ... jangan lagi," desisnya lalu membereskan peralatan kerja Quin yang masih berada di atas meja lalu membawa ke kamarnya.


.


.


.


...****************...