101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 13



Angga mendekap erat tubuh Quin lalu berbisik, "Sayang ... please, sebaiknya kita percepat saja pernikahan kita."


Quin menggelengkan kepalanya lalu mengurai pelukannya kemudian duduk di pangkuan Angga saling berhadapan.


"Aku sudah bilang, aku belum siap," bisiknya sambil menangkup wajah Angga dengan senyum manisnya.


setelah itu Quin berdiri sambil memegang kedua tangan Angga supaya ikut berdiri.


"Sebaiknya kamu kembali ke kantor," saran Quin. "Ini sudah jam satu. Siapa tahu masih ada klienmu yang sudah membuat janji denganmu," tambah Quin.


"Baiklah," kata Angga.


"Ayo aku antar sampai ke bawah," ajak Quin sambil memeluk lengan kekar Angga.


Sesaat setelah berada di tempat parkir, Quin kembali memeluk dan memberi kecupan singkat di bibir Angga.


"Aku akan menghubungimu nanti malam," bisik Angga.


Quin hanya mengangguk lalu tersenyum manis padanya. Ia pun melambaikan tangannya hingga mobil mewah itu menghilang dari pandangan matanya.


*


*


*


Kediaman Pak Alatas


Tampak bi Yuni benar-benar menyambangi rumah mewah itu dengan harapan, agar anaknya bisa menjadi terapis untuk putra sulung Tuan dan Nyonya besarnya itu.


Disinilah wanita paruh baya itu berada, di ruang tamu bersama Nyonya Zahirah.


"Bi, katanya ada yang ingin Bibi bicarakan?" tanya nyonya Zahirah.


"Begini Nyonya, saya ingin mengusulkan anak saya, menjadi terapis untuk Nak Damar," usulnya.


"Maksud Bibi, Naira?"


"Iya, Nyonya. Kebetulan Naira biasa menangani pasien lumpuh dengan menjalani terapis darinya. Jadi tidak ada salahnya jika Nak Damar di rawat olehnya supaya bisa berjalan lagi," jelasnya penuh harap.


Nyonya Zahirah, tampak berpikir dan menimbang-nimbang.


"Nyonya, saya tidak suka saja dengan gadis yang di bawa Nak Damar tinggal di rumahnya."


"Maksudnya?" selidik Nyonya Zahirah.


"Gadis itu akan tinggal di rumah Nak Damar selama 101 hari sebagai asisten pribadinya. Saya hanya tidak ingin Nak Damar dimanfaatkan olehnya." Bi Yuni seolah memprovokasi.


"Baik lah, atur saja kapan Naira akan menjadi terapis Damar. Biarkan Naira tinggal di sana. Jika perlu, awasi gadis itu supaya jangan macam-macam di rumah itu," tegas Nyonya Zahirah.


Senyum penuh arti terbit di bibir wanita paruh baya itu.


Aku yakin, jika Naira yang menjadi terapis Nak Damar, lambat laun dia pasti akan tertarik dengan putriku ketimbang gadis itu.


"Baik Nyonya," jawabnya dengan girang.


"Oh ya, Bi. Sebentar lagi perusahaan akan merayakan HUT-nya. Biar Naira saja yang menjadi pendamping Damar," kata Nyonya Zahirah.


Mendengar permintaan langsung dari sang Nyonya besar, bi Yuni semakin besar kepala.


"Kalau begitu saya pamit pulang Nyonya," kata bi Yuni.


Nyonya Zahirah hanya mengangguk lalu meminta supir mengantarnya pulang ke rumah damar.


*


*


*


Saat menatap kontak yang memanggil Quin mengulas senyum. "Mr. Brewok," gumamnya.


"Hallo Mr. Brewok," jawab Quin lalu terkekeh. "Ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya Quin.


"Ck ... biasa saja jawabnya. Oh ya, apa kamu akan singgah ke taman kota lagi?"


"Nggak, aku dalam perjalanan pulang. Kan, aku harus mengurusmu," canda Quin. "Apa kamu ada di taman?"


"Nggak, aku sudah di rumah. Pulanglah, aku menunggumu," kata Damar.


"OK, Sir."


Quin memutuskan sambungan telfon sambil menggelengkan kepala. Ia kembali fokus menyetir mobilnya menuju kediaman Damar.


Sementara di rumah Damar, tampak Naira sedang menghampirinya.


"Damar. Apa kabar?" sapanya.


Damar menoleh ke arah Naira lalu mengulas senyum ramah.


"Naira, kapan kamu ke sini?" tanya Damar. "Seperti yang kamu lihat sekarang?" lanjutnya.


"Mulai besok aku akan menjadi terapismu," kata Naira.


Damar hanya mengangguk namun terlihat cuek. Ia pun menggerakkan tuas kursi rodanya menuju kolam renang.


Damar tersenyum miris. Kolam renang yang berukuran luas itu, biasa ia jadikan tempat ngumpul teman-temannya ditemani gadis-gadis seksi bertubuh aduhai.


Namun sekarang semua itu berbanding terbalik. Sejak ia duduk di kursi roda, bahkan sengaja membuat dirinya nyaris tak dikenali.


Tak lama berselang, Quin yang baru saja tiba melangkah masuk ke dalam rumah dan tak sengaja menabrak Naira.


"Ah ... maaf aku nggak sengaja," ucap Quin.


"Heh ... makanya kalau jalan pakai mata. Apa kamu buta atau pura-pura nggak lihat hah!" bentaknya.


Namun bentakkan Naira sedikit membuatnya geram padahal ia sudah meminta maaf.


Mendengar keributan yang terjadi, Damar menghampiri keduanya lalu bertanya, "Quin ... Naira, ada apa? Kenapa kamu marah-marah?" tanya Damar.


"Aku yang salah." Quin membuka suara. "Aku nggak sengaja menabraknya," jelas Quin.


"Ya sudah, nggak apa-apa. Oh ya, Quin. Perkenalkan ini Naira, anaknya bi Yuni. Dia yang akan menjadi terapisku," jelas Damar.


"Cih, aku mengira siapa tadi ternyata anaknya si nenek peyot itu. Anak dan mama sama-sama angkuh. seolah-olah dia pemilik rumah ini saja," batin quin merasa geram.


"Hai ... aku Quin, asissten pribadinya damar," kata Quin memperkenalkan dirinya.


Naira hanya mengangguk lalu menatap tak suka padanya. Namun bukan Quin namanya jika tidak terlihat cuek.


Ia pun melangkah pelan menuju kamarnya. "Nyebelin banget, hanya akan menjadi terapis saja angkuhnya nggak ketolongan. Bagaimana lagi nanti jika dia menjadi Nyonya rumah ini?" geram Quin lalu memejamkan matanya.


Mungkin karena kelelahan seharian bekerja di butik Quin malah tertidur dan lupa menutup pintu kamarnya.


*


*


*


...****************...


Jempolnya jangan malas kasih like, coment and vote ya readers. Gift, one like, one coment, one favorit and one vote very precious to me. Thanks readers 😘😘😘🙏🙏🙏