101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 46



Pagi harinya ...


"Eeuughh ... duuuh ... badanku kok, pegel banget ya," keluh Quin. "Mr. Brewok? Apa dia sudah bangun? Cih ... ngeselin," keluhnya lagi.


Setelah itu ia segera beranjak dari tempat tidurnya lalu ke kamar mandi. Lima menit kemudian ia pun meninggalkan kamarnya dan ke kamar Damar.


Clek ...


Ia memutar handle pintu kamar lalu menghampiri sang empunya ranjang lalu duduk di sisi pria brewok itu lalu mencebikkan bibirnya merasa kesal.


Karena masih kesal mengingat kejadian semalam, Quin mencubit perut liatnya sekuat mungkin.


Sontak saja ulahnya itu membuat Damar kaget.


"Aakh ... sssttt," ringis Damar lalu dengan secepat kilat memegang tangan Quin. "What the hell Quin?!" kesalnya lalu mendudukkan dirinya.


"Pppfff ... hahaha ..." tawa Quin seketika memenuhi kamar Damar lalu memukul pelan dada liatnya.


"Terus ... terus saja seperti itu," kesalnya sambil mengusap perutnya yang masih terasa perih.


Sedetik kemudian Quin memeluknya dengan gemas.


"Maaf untuk semalam," bisiknya. "Lagian siapa suruh, kamu main ngancam segala. Aku nggak mau jika kamu menambah 30 hari lagi. Sesuai kesepakatan awal hanya 101hari saja dan nggak lebih," sambung Quin.


Hati Damar lagi-lagi menghangat saat Quin mengucapkan kata maaf. Padahal gadis itu sama sekali tidak salah. Namun tetap saja gadis itu tak segan-segan untuk meminta maaf duluan.


"Nggak apa-apa. Justru aku yang harusnya meminta maaf padamu," balas Damar sambil mengelus rambut Quin lalu membenamkan wajahnya ke ceruk lehernya.


Ulahnya tentu saja membuat Quin terusik dan merasa geli lalu melonggarkan pelukannya kemudian menyisir jari rambut gondrong Damar.


"Come on, bergegaslah ke kamar mandi, aku akan menyiapkan pakaianmu," ucap Quin dengan seulas senyum.


"Ok ..." balasnya lalu mencuri satu kecupan di pipi Quin lalu terkekeh.


"Damar!!!" kesalnya sambil menyipitkan matanya.


Damar tak memperdulikan raut wajah kesal gadis itu. Ia malah terlihat santai berjalan menuju kamar mandi.


Sedangkan Quin, ia segera beranjak dari ranjang lalu masuk ke walk in closet untuk menyiapkan pakaian kantor Damar.


Ketika berada di ruangan itu, lagi-lagi Quin sangat tertarik dengan sebuah etalase yang dipenuhi dengan koleksi miniatur motor dan mobil balap milik Damar.


"Aku bisa menebak harga miniatur ini harganya pasti mahal banget," desisnya. "Saat di Jepang waktu itu, dia juga punya benda-benda seperti ini?"


Sedetik kemudian Quin tampak berpikir. "Who are you Damar?" Quin bertanya-tanya. Setelah itu, ia memilih salah satu setelan kantor berwarna hijau army dan sebuah arloji.


Sambil menunggu, Quin kembali memperhatikan etalase itu dengan seulas senyum.


Beberapa menit berlalu, ia terlonjak kaget saat Damar memeluknya dari belakang.


"Damar," desisnya lalu berbalik berhadapan dengannya. Menatap lekat wajah Damar dengan rambut yang masih terlihat basah.


Quin seakan terhipnotis menatap wajah pria brewok itu.


"Why?" bisik Damar dengan seulas senyum seraya mengelus pipinya.


"You know? I love to see you smile, because of these two dimples," aku Quin lalu menyentuh kedua lesung pipi Damar.


Senyum Damar semakin mengembang mendengar ucapan Quin tanpa ingin mengalihkan tatapan matanya pada gadis berparas manis itu.


Lagi-lagi ia seakan tidak bisa menahan dirinya untuk tidak melu*mat bibir gadis itu. Perlahan ia semakin mendekatkan bibirnya.


Merasa Quin seolah tak menolak, Damar seperti di atas angin namun saat bibirnya hampir bertaut dengan bibir Quin, lagi-lagi ia mengumpat kesal dalam hatinya saat pintu kamarnya diketuk.


"Ah sh*it!!! Selalu saja begini."


Untuk yang kesekian kalinya, Quin kembali tertawa lalu menangkup gemas wajah kesal Damar.


"Mungkin itu bi Yuni," bisik Quin lalu lmendorong pelan dada Damar. "Keluarlah, nanti aku menyusulmu," pinta quin dan Damar Hanyar menurut.


Sepeninggal Damar, Quin menggelengkan kepalanya lalu menepuk jidatnya.


"Quin ... hampir saja," gumamnya lalu meraih setelan kantor Damar dan arloji yang sudah ia siapkan, tak lupa ia memilih salah satu bros milik Damar.


Sementara Damar yang kini sedang membuka pintu, tampak mengerutkan keningnya.


"Naira," sebutnya dengan ketus. " Ah ... aku lupa. Aku ingin bicara dengan kalian nanti," kata Damar. "Maksudku kamu dan mamamu."


Naira hanya bergeming menatapnya sambil mengigit bibir bawahnya menatap tubuh sempurna Damar.


"Boleh ak ....." Ucapannya terputus saat Quin melihat Quin keluar dari walk in closet sambil membawa setelan kantor Damar.


Melihat Naira menatap Damar dengan tatapan mendamba, seketika otak Quin memunculkan ide. Kebetulan ia masih kesal dengan gadis itu, ia pun memanggil Damar dengan manja.


"Hunny ... come here," pinta Quin dengan senyum manis. "Haah ... aku ingin membuatnya kesal. Sepertinya dia sangat menyukai Damar," batin Quin dengan seringai tipis.


Mendengar Quin memanggilnya dengan sebutan Hunny, seketika senyum Damar mengembang sempurna lalu menoleh ke arahnya.


"Can you repeat?" bisik Damar lalu merengkuhnya.


"My Hunny," ucap Quin dengan sedikit meninggikan suaranya lalu menangkup wajah Damar sambil tersenyum.


"Apa Quin beneran? Damn!! Quin jangan membuatku baper begini. Apa kamu tahu jantungku kini berdetak dua kali lebih cepat," batin Damar.


Seakan lupa jika Naira masih berada di ambang pintu, Damar ingin menciumnya namun Quin langsung memeluknya dengan gemas.


"Naira masih di depan pintu. sebaiknya kamu tutup pintunya dulu," bisik Quin dengan nada menggoda.


"Lord ... aku lupa," balasnya lalu melepas rengkuhannya.


Ia pun menghampiri pintu lalu menyuruh Naira menunggunya di bawah. Setelah itu, Damar kembali merapatkan pintu.


Setelah pintu tertutup, Naira yang masih berada di depan pintu langsung mengepalkan kedua tangannya merasa geram dan kesal pada Quin.


"Awass saja kamu nanti," ucapanya dengan perasaan dongkol. Setelah itu, ia meninggalkan tempat itu lalu turun ke lantai satu.


Sedangkan bi Yuni, menatap heran sang putri.


"Ada apa? Kok wajahmu kusut begitu?" tanya mamanya.


"Bagaimana nggak kesal. Damar dan gadis itu lagi asik mesra-mesraan di depanku dan malah memintaku menunggu di sini," jawabnya dengan kesal.


Bi Yuni mengerutkan keningnya mendengar jawaban kesal putrinya. Ia pun menghampirinya lalu duduk di sampingnya.


"Mama curiga, jika gadis itu sudah sering tidur dengan Damar. Mungkin saja Damar membayarnya untuk menjadi pemuasnya," tebak bi Yuni dengan sinis. "Dasar gadis murahan," hinanya tanpa tahu yang sebenarnya.


"Kamu harus bergerak cepat, Naira. Apa kamu mau jika gadis itu terus menjadi penghalang?" desak bi Yuni.


"Aku sudah berusaha, Mah. Tapi Damar seolah tidak bisa jauh-jauh dari gadis sialan itu. Dia sudah banyak berubah," kesal Naira sambil mengepalkan kedua tangannya.


Bi Yuni menghela nafasnya dengan kasar.


"Oh ya, Mah, kat Damar, dia ingin mengatakan sesuatu pada kita," kata Naira lalu tersenyum.


"Aku berharap, apa yang akan ia sampaikan adalah kabar baik," gumamnya.


Sementara di kamar, Damar menuntut jawaban dari Quin karena memanggilnya Hunny. Namun Quin hanya berdecak.


"Aku sengaja, soalnya Naira seakan-akan ingin melahapmu saja. Apa kamu nggak memperhatikan sorot matanya menatapmu dangan tatapan mendamba?" tanya Quin.


"Biarkan saja," balas Damar sambil mengenakan celana kantornya.


"By the way, kenapa sih kamu terlihat cuek padanya. Padahal dari tatapan matanya, terlihat banget jika dia sangat menyukaimu. Maybe she is falling in love to you," bisik Quin lalu terkekeh sambil mengancingkan kemeja Damar.


"I don't care, Quin," ucapnya sambil menatap Quin.


"Why? Dia cocok denganmu dan tidak ada salahnya kalian menjalin hubungan," dukung Quin lalu meraih jas Damar lalu membantunya melengkapi penampilannya.


"But i'm not interested," aku Damar lalu menyugar rambut gondrongnya.


Quin terkekeh lalu menyematkan bros di jas Damar lalu mengelus dada pria brewok itu lalu menatap maniknya.


"Sudah," desisnya. " Aku ke kamarku dulu soalnya aku juga harus bersiap ke butik. Sekali lagi, maafkan aku tentang semalam," ucap Quin dengan tulus.


Damar hanya mengangguk lalu mengecup keningnya sekilas.


"Aku akan mampir ke butik saat jam makan siang nanti."


"Baiklah," kata Quin lalu meninggalkannya.


Damar kembali menatap punggung gadis itu. Gadis yang sudah sebulan ini selalu membuat hatinya menghangat, sekaligus selalu membuatnya baper dengan ucapan dan perlakuan lembutnya


"Hunny ... aku ingin. kamu terus memanggilku dengan sebutan itu seterusnya," desis Damar dengan senyum tipis.


Setelah itu ia meninggalkan kamarnya lalu menuju lantai bawah untuk membahas sesuatu pad bi Yuni dan Naira.


Sesaat setelah berada di ruang tamu, Damar langsung duduk di single sofa lalu menatap bi Yuni dan Naira.


"Bi, Naira ... maaf jika aku harus mengatakan ini. Sebelumnya aku ingin berterima kasih pada kalian berdua karena sudah banyak membantuku selama beberapa bulan terakhir," kata Damar.


Keduanya saling berpandangan merasa heran.


"Bi, Naira ... mulai besok kalian bisa kembali bekerja di rumah mama. Dan kamu Naira, kamu bebas bisa bekerja lagi seperti biasa tanpa harus capek-capek bolak balik mengurusku. Karena ada Quin asisten pribadiku yang mengurus segala keperluanku," jelas Damar.


Sontak saja ucapan sang penerus Alatas Corp, membuat ibu dan anak itu sangat terkejut.


"Damar!!!"


Sontak saja suara yang tiba-tiba menyapa gendang telinganya, membuatnya menoleh ke arah sumber suara.


...****************...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™. Bantu like, vote dan komen, setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜