
Keesokan harinya pukul 08.00 Bandara Kota J ...
Quin baru saja tiba di bandara dan terlihat ia sudah ditunggu oleh Altaf dan Al. Sedangkan para model sudah berangkat lebih dulu kemarin.
Dengan setia Damar mengantarnya ke arah Altaf dan Al.
"Thanks ya. Maaf harus meninggalkan mu beberapa hari ke depan. Kemungkinan ponselku nggak akan aktif jika aku ada even seperti ini," kata Quin dengan seulas senyum. "Tapi nggak usah khawatir, aku akan mengirim pesan jika aku sempat," pungkasnya.
"Hmm," balas Damar lalu menatap lekat wajah gadis itu. "Quin ... hug me," pinta Damar dan Quin hanya menurut.
"Jaga kesehatanmu, jangan mabuk-mabukkan lagi dan jangan berdebat dengan mamamu. Hargai keinginannya karena itu yang terbaik untukmu," bisik Quin menasehatinya.
Damar hanya mengangguk lalu mengecup pipinya sekilas. Setelah itu ia melonggarkan pelukannya lalu melepas Quin.
Al dan Altaf hanya bisa menjadi penonton bagi keduanya.Namun jauh di dalam sudut hati Altaf ia sedikit cemburu dengan Damar.
"Kak Altaf, Al ... yuk kita berangkat sekarang," ajak Quin lalu menggandeng lengan Altaf dengan seulas senyum.
Sedangkan Damar yang masih berdiri di tempat hanya bisa menatap punggung gadis itu menjauh darinya.
*
*
*
Kantor Angga ...
Tok ... tok ... tok ...
Ketukkan pintu seketika memaksanya menghentikan jemarinya dari keyword laptopnya. Ia pun langsung mengarahkan pandangannya ke arah depan.
"Bram," desisnya lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya.
"Tuan," sapa Bram sembari menghampiri kursi yang ada di depan meja kerja sang CEO. "Tuan, Kinara ingin bertemu dengan Anda," kata Bram sesaat setelah duduk di kursi.
Angga menautkan alisnya lalu tersenyum sinis.
"Ada keperluan apa dia mencariku?" tanya Angga.
"Dia hanya ingin bertemu, Tuan. Jika Anda nggak mengizinkan, maka saya akan menyuruhnya pulang saja," kata Bram lagi.
"Hmm." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Angga.
Setelah itu, Bram kembali meninggalkan ruangan itu lalu menemui Kinar yang sedang menunggu di luar.
Setelah memberitahu jika Angga tidak ingin menemuinya, dengan perasaan geram ia langsung menerobos masuk ke ruangan itu.
Sontak saja ulahnya itu membuat Bram panik dan ikut masuk ke dalam ruangan Angga.
Sedangkan Angga yang baru saja ingin melanjutkan pekerjaannya, langsung mengarahkan pandangannya ke depan karena pintu dibuka paksa.
"Tuan ... saya sudah melarangnya tapi ..." ucapan Bram terputus karena Angga hanya mengangguk mengerti.
"Panggil pihak keamanan saja," balas Angga dengan santai lalu beranjak dari tempat duduknya.
Mendengar ucapan Angga, Kinar semakin dibuat kesal dan geram.
"Angga!!! Keterlaluan kamu!!" bentak Kinar begitu dongkolnya. "Jadi seperti ini sifat aslimu hah!!! Kamu hanya menginginkan tubuhku saja lalu seenaknya menendangku?!! ucapnya dengan nada satu oktaf lebih tinggi.
"Menurut mu?" balas Angga dengan santainya dengan senyum sinis.
"Keterlaluan kamu!!" kesalnya lalu menghampiri kemudian memukul dada Angga lalu mendorongnya.
"Kamu pikir ... Quin sebaik yang kamu pikir? Dia lebih munafik dari yang kamu perkiraan. Sebelum dia memutuskan pertunangan kalian, dia sudah tinggal serumah dengan Damar dan malah menjadi asisten pribadinya," jelas Kinar dengan senyum mengejek menatap Angga.
Angga hanya bergeming sekaligus terkejut mendengar ungkapan Kinara.
"Jika kamu datang hanya ingin memfitnahnya di sini bukan tempatnya," timpal Angga. Namun tetap saja ia merasa geram mendengar kenyataan barusan.
Tak lama berselang, Bram dan beberapa security memasuki ruangan itu. Saat Kinara akan digiring keluar, ia menolak dan membentak.
"Nggak perlu menggiringku keluar, aku bisa sendiri," ketusnya lalu berlalu meninggalkan ruangan Angga.
*
*
*
Siang harinya di kota singa ...
Al dan Quin tampak sedang berbaring untuk mengistirahatkan tubuhnya, karena sebentar lagi mereka akan bersiap-siap untuk memulai tugasnya.
Tak lama berselang pintu kamar mereka di ketuk.
"Itu pasti kak Altaf," kata Quin lalu segera mendudukkan dirinya kemudian melangkah menghampiri pintu lalu membukanya.
Dan benar saja tebakannya. "Kak, ayo masuk," ajak Quin.
"Aku ingin membahas persiapan kita," kata Altaf sesaat setelah duduk di sisi ranjang berhadapan dengan Quin.
"Bisa kak," jawab Quin dengan seulas senyum. "Aku dan Al sudah menyiapkan segalanya. So ... don't worry," sambung Quin.
"Hanya tiga hari, setelah itu kita free," bisik Altaf lalu mengacak rambut Quin dengan gemas. Setelah itu ia pun berpamitan lalu meninggalkannya dan Al.
Beberapa jam kemudian setelah menyiapkan segala perlengkapan untuk masing-masing modeling yang akan memperagakan busana mereka, Quin berserta team terlebih dulu menyantap makan siang.
Tak lupa ia mengirim pesan singkat untuk Damar supaya tidak melewatkan makan siangnya. Setelah itu, ia kembali melanjutkan makannya.
Tepat jam dua siang waktu Singapura, ia dan teamnya pun kini bersiap-siap untuk menunggu giliran.
Sebelum maju memperagakan busana mereka, Quin terlebih dulu memberi semangat kepada para model supaya tampil percaya diri dan tidak gugup.
"Guys, ayo ... do the best," kata Quin sambil mengangkat kedua tangannya menyimbolkan semangat.
Para model hanya mengangguk lalu tersenyum. Setelah itu mereka mulai maju satu persatu berjalan di atas catwalk dengan percaya diri.
Jauh dari kota singa, tepatnya di kantor Damar, ia tampak tersenyum lebar membaca pesan dari Quin.
βοΈ : Hei ... pria pemaksa, jangan lewatkan makan siangmu ya. βΊοΈπ Peluk kangen dari jauh untukmu.
"I miss you too, Quin," desisnya lalu beranjak dari kursi kerjanya kemudian menghadap kaca besar sambil menatap kesibukan kota J dari balik ruangan kerjanya. "Cepatlah kembali ... aku merasa hampa tanpamu," desisnya lagi.
Asik dengan pikirannya, tak lama berselang pintu ruangannya di ketuk. Dari balik pintu terlihat Adrian dan Nadif sedang menghampirinya.
"Tuan, ini makan siang pesanan Anda," kata Adrian.
"Hmm ... sebaiknya kita makan dulu, setelah itu kita langsung berangkat ke kota M," sahut Damar.
"Baik, Tuan," jawab Adrian dan Nadif bersamaan.
"Nadif apa kamu sudah mempersiapkan semua kebutuhan kita?" tanya Damar.
Setelah menimbang-nimbang keputusannya dari semalam, akhirnya ia memutuskan untuk berkunjung ke kota M. Tentu saja keputusan mendadaknya itu membuat Nadif uring-uringan mengubah jadwalnya keberangkatannya.
"Sudah, Tuan," jawab Nadif lalu menyenggol lengan Adrian. "Si boss kenapa sih? Tiba-tiba saja mengubah keputusannya," tanya Nadif.
"Dia lagi dalam mode galau," bisik Adrian lalu terkekeh. "Quin pagi tadi berangkat ke Singapura. Nggak menutup kemungkinan, Quin lah yang membuat keputusannya berubah," pungkas Adrian.
"Kalian lagi ngomongin aku ya?" tebak Damar lalu duduk di sofa lalu meraih salah satu box makanan.
Adrian dan Nadif langsung salah tingkah sambil cengengesan. Setelah itu mereka kembali melanjutkan makan siang mereka.
...****************...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ