101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 30



Al mengangkat bahu dan alisnya secara bersamaan ketika Adrian meliriknya. Setelah itu, pria irit bicara itu meneruskan langkahnya.


"Walaupun Quin milik si pria bajingan itu, belum tentu dia mau lanjut. Yang Quin pikirkan saat ini adalah cara supaya bisa lepas darinya."


Adrian menghentikan langkahnya lalu berbalik.


"Maksudmu?"


"Pikir saja sendiri," jawab Al lalu segera berlalu melewati Adrian.


Adrian hanya menggelengkan kepalanya dengan jawaban gantung dari Al. "Gadis aneh," gumamnya sambil mengekori Al di depan.


Sesaat setelah mereka mendekat, lagi-lagi Damar meminta Adrian memotretnya berdua dengan Quin yang sedang bersandar di pagar pembatas.


"Hmmm ... looking not bad. Tapi terlihat bagus," kata Quin lalu terkekeh.


"Quin."


"Hmm ..."


"Aku akan mengajak mu lagi ke sini saat musim gugur," cetus Damar.


"Boleh ... tapi itupun jika aku nggak sibuk," kata Quin.


"Sibuk nggak sibuk, pokoknya kamu harus mau," tegas Damar.


"What!! Kamu pemaksa dan aku menolaknya," protes Quin.


"Ingat ... kamu masih terikat kontrak denganku," Damar terkekeh dan menang banyak.


Quin langsung menyipitkan matanya dan mencebikkan bibirnya merasa kesal pada pria brewok yang sedang menatapnya sambil cengengesan.


Perdebatan Quin dan Damar, menjadi tontonan gratis bagi Adrian dan Al.


"Quin!! Apa kalian ingin berdebat terus?" tanya Al.


Baik Quin maupun Damar, sama-sama mengarahkan pandangannya ke arah Al dan Adrian yang sedang duduk di bangku sambil menatap kedua-nya.


"Iya, Mom Al." Quin terkekeh lalu memapah Damar ke kursi rodanya.


"Ini, untuk kalian," kata Adrian lalu memberikan keduanya minuman.


"Thanks," ucap keduanya bergantian.


Ke-empat nya kembali berbincang-bincang kecil dan saling share. Sesekali mereka tertawa cekikikan karena ulah konyol Quin.


Setelah menghabiskan waktu kurang lebih satu jam di taman itu, mereka ke restoran terdekat untuk makan siang.


"Quin kamu mau pesan apa?" tanya Al.


"Seperti biasa, ramen dan yakitori minumnya mugicha."


"Waaahh, makanmu banyak juga ya," kelakar Damar.


"Biarin ... toh, hidup hanya sekali. So ... nikmati saja apa yang kita inginkan," sahut Quin lalu tertawa.


Baik Al, Damar dan Adrian, ketiga-nya hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Oh ya, setelah selesai makan siang, aku dan Al izin ya."


"Izin?" tanya Damar.


"Hmm ... kami ingin ke rumah kak Juna. kemungkinan sore baru kami pulang. Boleh ya, Mr. Brewok. Atau kalian mau ikut boleh juga," tawar Quin.


Adrian dan Damar saling berpandangan. Bukan tanpa alasan, soalnya Arjuna sangat mengenal siapa dirinya apalagi kakak dari Quin itu bersahabat dengan dokter Fahry.


"Eeee ... nggak deh, Quin," tolak Damar. "Baik lah aku izinkan."


"Thanks ya," ucap Quin lalu tersenyum.


Tak lama berselang, makanan pesanan mereka pun di antar dan langsung disajikan.


.


.


.


Kantor Angga ...


Di ruang kerja Angga, tampak Bu Fitri sedang mengobrol dengan calon menantunya itu.


"Angga, apa kamu tahu Quin sedang ke luar negeri?"


"Iya Tante. Katanya ada urusan pekerjaan, tapi Quin nggak ngomong sama aku. Bahkan nggak mau mengangkat panggilan telfon dariku," jelas Angga dengan raut wajah kecewa.


"Nggak ada Tante. Hubunganku dan Quin baik-baik saja. Hanya saja beberapa hari belakangan sifatnya memang agak berubah."


Bu Fitri hanya bisa menghela nafasnya. Ia pun tak bisa berbuat banyak mengingat watak Quin yang begitu keras dan pemberontak. Bahkan gadis itu tak segan-segan menyindirnya di depan khalayak ramai.


Hening sejenak sebelum akhirnya Bram mengetuk pintu lalu menghampiri Angga.


"Maaf Pak, Bu. Sudah mengganggu," ucap Bram.


"Nggak apa-apa, Bram. Ada apa?" tanya Angga.


"Pak Denis baru saja menghubungi saya, di titip pesan ingin bertemu Anda di restoran xxxx," jawab Bram.


"Baik lah, aku akan ke sana sebentar lagi."


"Pasti ada sesuatu yang ingin dia sampaikan."


Angga membatin lalu melirik sang camer.


"Baik lah, Tante ke ruangan Kinara dulu," pamit Bu Fitri lalu segera beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Angga.


Angga hanya mengangguk dan ikut beranjak dari sofa lalu menyambar jas-nya di kursi kerjanya. Dengan langkah panjangnya ia menuju lift khusus.


Sesaat setelah berada di dalam mobilnya, ia menggerutu kesal dan kembali mencoba menghubungi Quin lewat aplikasi medsos.


Lagi-lagi ia harus kecewa. Kali ini malah medsosnya yang tidak aktif.


"Sayang, ada apa denganmu? Apa kamu semarah itu padaku? Aku hanya ingin kita segera menikah! Apa susahnya," dumalnya sambil mencengkram kuat setir mobilnya.


Tiga puluh menit kemudian, akhirnya ia tiba juga di restoran itu lalu melangkah cepat menemui Denis di salah satu meja tempatnya berada.


"Bro, maaf lama. Kamu tahu kan, jam segini pasti macet," jelas Angga lalu mendaratkan bokongnya di kursi meja makan.


"I'ts Ok," timpal Denis dengan seringai tipis namun menyiratkan makna.


Angga mengernyitkan keningnya. "Why?" tanya Angga.


"Aku punya berita yang akan membuatmu kaget. aku nggak tahu apa kamu bisa menahan emosi atau nggak," jawab Denis.


"Ck .. selalu saja begitu," decak Angga dengan malas lalu membakar rokoknya.


"Sebelumnya aku ingin bertanya. Apa kamu dan Quin baik-baik saja? Maksudku apa hubungan kalian tidak bermasalah?" tanya Denis penuh selidik di sertai seringai penuh arti.


"Menurut mu?" Angga menghembus asap rokoknya dengan kasar lalu memanggil waiters.


Setelah memesan menu makan siang, Angga kembali menatap Denis. "Sepertinya ada yang ingin kamu sampaikan. To the poin saja," desak Angga.


"Aku nggak yakin, kamu akan bisa tenang jika melihat ini." Denis menggantung ucapannya.


"Ck ... apaan sih?!" decaknya merasa kesal.


Denis menyerahkan ponselnya pada Angga. "Lihatlah," desis Denis dengan seringai.


Angga meraih benda pipih itu lalu menatapnya.


"What!!!" geramnya. Darahnya langsung mendidih. Ingin rasanya ia membanting benda pipih itu jika tak mengingat bendanitu milik Denis.


"Ini barusan di upload," desisnya lalu mengetatkan rahangnya. "Kamu membohongiku?!" geram Angga.


Melihat air muka kekesalan Angga Denis sedikit memprovokasi Angga.


"Apa Quin sedang dekat dengan Damar ya? Sepertinya mereka lagi berlibur. Apalagi setahuku quin nggak pernah melewatkan musim semi di Jepang," kompor Denis.


Angga hanya bungkam. Kepalan tangannya sudah cukup membuktikan betapa pria itu sangat marah.


"Jadi ini alasan mu ke luar negeri karena ingin bersama Damar? Alasannya karena pekerjaan. Bahkan tidak menghubungiku atau memberi kabar," batinnya dengan begitu geramnya.


Pikirannya mulai kalut, mengingat Quin yang tiba-tiba saja berubah dan menunda pernikahan mereka.


Tanpa pikir panjang Angga langsung menghubungi nomor khusus yang digunakan Quin jika berada di Jepang


"Please ... angkat ponselmu sayang," desisnya berharap.


Sedangkan Denis hanya menatap sahabatnya itu dengan seringai tipis.


"Sebenarnya ada apa dengan mereka berdua?" gumam Denis bertanya-tanya dalam hatinya.


.


.


.


Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author pemula seperti saya. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜