
Setibanya di Bautista Club, dari salah satu meja yang ada di pojokan, tampak Gisha dan Jihan mengangkat tangannya.
"Quin, yuk kita samperin Gisha dan Jihan," cetus Al.
"Duluan saja, aku ke meja bartender saja," tolak Quin.
"Quin, jangan gila kamu?" kesal Al. "Pasti kamu mau minum?" tebak Al.
"Dikit saja, nggak banyak," sahut Quin lalu terkekeh. Ia pun menghampiri meja bartender lalu duduk di kursi yang kosong.
"Tak ingin terjadi sesuatu pada sahabatnya itu, Al ikut duduk di kursi yang kosong.
"Bro, red wine please," pintanya dengan seulas senyum.
Al hanya menggelengkan kepalanya lalu mengirim pesan pada Adrian.
βοΈ : Rian, datanglah ke Bautista Club', kami sedang berada di tempat ini.
Setelah itu ia meletakkan ponselnya di atas meja lalu memesan minuman yang ringan-ringan saja.
Tak lama berselang, Gisha dan Jihan menghampiri keduanya.
"Quin, Al, kami gabung ke dance floor ya. Kita goyang sampai puas," kata Gisha.
"Ok, kalian duluan saja," sahut Quin lalu meneguk minumannya sedikit.
"Quin ... apa kamu baik-baik saja?" cecar Al. "Setahuku jika kamu seperti ini, pikiranmu lagi kacau banget," tebak Al.
"Hmm ..." jawab Quin dan kembali meneguk minumannya sedikit. Dari arah berlawanan tampak Tista menghampirinya dengan senyum mengembang sempurna.
"Babyyyy ... wow ... satu kehormatan bisa bertemu lagi dengan designer muda berbakat sepertimu," kata Tista lalu duduk di sampingnya.
"Gombal berselimut modus," balas Quin lalu meninju pelan dada sang owner club'.
"Bagaimana kabar Juna, Quin? Sudah lama sekali aku nggak bertemu dengannya," tanya Tista.
"Baik, hanya saja kak Juna sibuk mengurus perusahaan mama di Jepang. Kamu tahu sendiri kan, sejak mamaku meninggal kak Juna memilih pindah ke Jepang," jelas Quin lalu memutar-mutar telunjuknya di bibir gelas red wine-nya.
"Hmm ... masih mau tambah wine-nya?" tanya Tista.
Quin menggelengkan kepalanya. Sedangkan Al hanya menjadi pendengar. Merasa jika Quin aman bersama Tista ia pun meninggalkan keduanya di meja bartender itu, lalu ikut bergabung dengan Gisha dan Jihan.
"Baby ..."
"Nooo ... jangan memanggilku dengan sebutan itu, Tista," protes Quin lalu menjambak rambut pria blasteran itu.
Tista terkekeh menatapnya seraya memegang kedua tangan gadis itu dengan gemas.
"Lagian nggak ada yang marah kan?" bisiknya.
"Hmm ..." jawab Quin lalu kembali meneguk minumannya. "Aku tinggal ya," pamit Quin lalu menghabiskan sisa red wine-nya lalu meninggalkan Tista.
Tista hanya bisa menghela nafas sambil menatap punggung gadis itu yang sudah menjauh dan bergabung dengan teman-temannya.
Suara dentuman musik yang menggema di club' malam itu membuat para pengunjungnya begitu menikmatinya, menggoyangkan badan mengikuti iramanya.
Tak terkecuali Quin dan teman-temannya. Sesekali mereka terbahak, entah apa yang membuat mereka tertawa lepas.
Dari lantai dua club', beberapa pasang mata sejak tadi terus memperhatikan mereka. Angga, Dennis, Kinara, Naira dan teman-temannya.
"Wah, sepertinya Quin sangat mengenal baik dengan pemilik club' ini," celetuk Dennis lalu menyesap rokoknya.
"Hmm ... soalnya Arjuna berteman baik dengan pemilik club' ini," jelas Angga sambil terus memperhatikan Quin yang tampak terus bergoyang sambil tertawa dengan teman-temannya.
Malam semakin larut setelah beberapa kali meneguk minumannya, Quin semakin tak bisa mengontrol dirinya. Tentu saja itu membuat Al khawatir.
Sedang asiknya bergoyang ia merasa seseorang memeluknya dari belakang dan merasa pundak polosnya dikecup.
"So ... ini alasannya kamu akan pulang larut malam," tanya pria itu.
Quin langsung membalikkan badannya menghadap Damar lalu melingkarkan kedua tangannya di punggung leher pria tampan itu.
"Hmm ..."
"Jika aku tahu kamu akan ke sini, kenapa nggak berterus terang saja tadi. Kita bisa ke sini bareng-bareng," bisik Damar.
Lagi-lagi dari lantai dua, Angga mengepalkan tangannya menyaksikan kemesraan Quin dan Damar.
Pun begitu dengan Naira. "Sial, gadis itu benar-benar ya!" geramnya sambil terus memperhatikan Quin dan Damar.
Sedangkan di dance floor, Gisha dan Jihan menghampiri Quin dan Damar.
"Quin ini sudah larut banget, aku dan Jihan cabut," pamitnya. "Kemungkinan besok kami pasti telat datang ke butik."
"Tenang saja, besok nggak usah turun. Aku liburkan kalian alias besok butik nggak buka," sahut Quin.
"Ok ... ya sudah kami cabut, kepalaku sudah mulai pusing," timpal Jihan.
"Hmm, pulanglah," suruhnya.
"Quin, apa kamu baik-baik saja," tanya Damar.
"Ya ..." desisnya lalu membenamkan keningnya di dada Damar.
"Sepertinya kamu mabuk."
Quin hanya bergeming karena ia memang merasakan kepalanya mulai pusing dan mual.
"Damar, bawa aku ke kamar," pintanya. "Aku merasa pusing," sambungnya sambil mendongak menatap Damar.
"Are you sure," bisik Damar dengan seringai tipis.
"Yes ..."
"Ok ..." Damar merangkul pinggangnya lalu menuntunnya berjalan karena ia tak bisa menyeimbangi tubuhnya bahkan beberapa kali ia hampir jatuh.
Setelah menyewa salah satu kamar VIP, Damar membawa Quin masuk ke kamar itu. Sesaat setelah berada di ruangan mewah itu, Quin langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang sambil memijat kepalanya.
"Itu akibat karena kamu terlalu banyak minum," bisik Damar sambil mengungkungnya. "Kenapa kamu minum, apa yang menganggu pikiranmu," tanya Damar sambil mengelus pipinya lalu menatap bibirnya.
"Nggak ada, aku hanya ingin bersenang-senang saja, lagian sekali-kali menghabiskan waktu dengan teman-temanku nggak ada salahnya kan," balas Quin lalu memeluknya.
Sadar jika ia sedang berada di atas tubuh Quin, Damar melepasnya lalu berbaring di sampingnya.
"Mendekatlah,"pinta Damar dan Quin hanya menurut.
"Jangan berbuat yang aneh-aneh padaku ya," bisiknya lalu menjadikan dada Damar sebagai bantal kemudian memeluknya.
"Hmm, jika pun terjadi sesuatu pada kita berdua, aku akan bertanggung jawab padamu."
"Damar ... jangan gila kamu. Itu sama saja kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan," sindir Quin.
Damar hanya terkekeh, seketika ingatan kembali berputar sebulan yang lalu. Ia kembali tersenyum mengingat momen itu.
Jika nggak mengingat, aku sudah menjamahmu Quin. Ia membatin sambil mengelus punggung dan rambut pendek Quin.
"Quin," panggilnya.
"Hmm ..."
"Berikan aku satu ciuman di bibir?" modusnya.
"Just one Kiss ... hmm ..." bisik Quin antara masih sadar dan tidak karena berada dibawah pengaruh minuman.
Perlahan Quin mengangkat kepalanya lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Damar, lalu perlahan menautkan bibirnya ke bibir tipis Damar.
Saat Damar membalas ia seolah tak menolak dan balik membalas luma*tan bibir pria itu. Bahkan tangan nakal Damar mulai menggerayangi setiap lekuk tubuh Quin.
Semakin lama, Damar seolah sulit untuk mengontrol hasratnya yang kini mulai menggebu.
"Aakhh ... Quin," erang Damar saat Quin menghentikan tautan bibirnya lalu menempelkan wajahnya di ceruk leher dan berbaring di atas tubuhnya.
"Sudah, biarkan aku tidur," bisik Quin. "Jika kamu ingin, cari lah bed partnermu untuk menuntaskan hasrat mu," bisik Quin lagi.
Setelah itu Quin sudah tak bersuara melainkan lanjut ke alam mimpi.
...****************...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ