101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 71



Keduanya terdiam sejenak namun Damar terus menatapnya.


"Ada apa? Kok senyum-senyum, sepertinya lagi bahagia banget," bisik Quin seraya menyentuh kedua lesung pipi Damar.


"Bahagia ... karena hari ini hanya bisa berdua denganmu saja," balas Damar. "Oh ya, Quin,.aku sudah mengganti password pintu. Passwordnya tanggal pertemuan kita pertama kali di taman," balas Damar.


"But why?"


"Aku nggak mau mama atau siapapun masuk ke rumah ini dengan bebas, kecuali Rian, Al dan kita berdua," jelas Damar.


Quin menghela nafas. "Hmm ... ya sudah, sini aku bantuin lepas jas-nya," tawar Quin.


Damar hanya mengangguk dan membiarkan Quin melepas jasnya lalu berdiri. Saat Quin melepas kancing kemejanya, ia terus menatap lekat wajah gadis itu.


Tak bisa menahan, tangannya terangkat mengelus wajah dan bibir Quin lalu mendekatkan wajahnya kemudian mencium bibirnya dan sedikit melu*matnya.


Merasa Quin hanya diam dan tak membalas lu*matan bibirnya, ia pun melepas.


"Jangan memancing jika kamu nggak ingin menyesal," bisik Quin dengan senyum tipis menggoda.


Setelah itu, ia meraih jas Damar yang ada di atas kasur lalu membawa jas dan kemejanya ke walk in closet.


Damar hanya mengulas senyum mendengar bisikan bernada menggoda gadis itu, sambil mengikuti langkahnya ke walk in closet.


Ketika melepas celana kantornya, lagi-lagi ia mengulas senyum sambil melirik Quin sekilas.


"Harus aku akui jika kamu best kisser, Honey," gumamnya dalam hati. Mengingat lu*matan bibir Quin seketika benda pusakanya terasa sesak.


"Oh sh*it!!!" umpatnya dalam hati.


"Kenapa sih? Kok kamu kelihatan gelisah begitu?" cecar Quin.


Damar berbalik lalu menatapnya lalu menggigit bibir bawahnya.


"Ada apa, hmm?! bisik Quin seraya menangkup rahang tegasnya.


"I wan't you, Honey," balas Damar.


"Ppppfffff ... what?!! Jangan bercanda kamu," sahut Quin sambil tertawa. "Honey?" Quin menggelengkan kepalanya. "Rasanya aku nggak bisa menghentikan tawaku."


Quin mengelus rahangnya, setelah itu ia pun meninggalkan Damar dan memilih ke rooftop untuk mencari angin segar.


"Kenapa sih, dia nggak percaya padaku?" keluh Damar dengan hela nafas kemudian ikut meninggalkan ruang ganti itu.


Sesaat setelah berada di pantry ia mencari keberadaan Quin namun tak menemukan gadis itu.


"Kok nggak ada," desisnya. "Sepertinya dia di rooftop," lanjut Damar menebak.


Ia pun meraih paper bag makanan yang ia letakkan tadi di atas meja, lalu menuju lift untuk mengantarnya ke rooftop.


Dan benar saja, saat pintu lift terbuka ia langsung melihat Quin sedang duduk di salah satu kursi yang terdapat di tempat itu.


"Quin," sapanya.


Quin langsung menoleh lalu tersenyum padanya.


"Kapan kamu memesan makanan?" tanya Quin sesaat setelah Damar duduk di sampingnya.


"Saat pulang kantor," jawabnya lalu mengeluarkan box makanan dari dalam paper bag.


"Thanks," ucap Quin.


"Hmm ... ayo makan dulu, sejak pagi kamu pasti belum makan," kata Damar


*


*


*


Restoran xxxx ...


Sedari tadi Angga sudah menunggu kehadiran Damar, namun ia harus kecewa karena yang datang menghampirinya adalah Adrian.


"Tuan," sapa Adrian lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. "Maaf, Tuan, Tuan Damar nggak bisa bertemu anda soalnya beliau ada pertemuan dengan klien yang lain," bohong Adrian.


"Sial!! Gara-gara si bos, aku pun harus berbohong," gerutu Adrian dalam hatinya.


"Ah ... sayang sekali," gumam Angga yang tampak kecewa.


"Bisa kita mulai sekarang?" tanya Adrian.


"Ya," jawab Angga. "Oh ya, Rian aku dengar, Quin juga menjadi salah satu partner bisnis Damar di bagian fashion," kata Angga.


"Iya , Tuan. Quin khusus di bagian itu saja. Seperti yang Anda tahu, perusahaan tuan Damar juga bergerak di bidang itu bukan hanya di bidang otomotif saja," jelas Adrian.


"Hmm ... aku ingin menjalin kerjasama di salah satu agensi miliknya," kata Angga lalu menyerahkan proposal miliknya.


"Hmm ... bagus," desis Adrian. Ia pun menandatangani proposal itu sebagai tanda setuju untuk menjalin kerjasama. "Oh ya, proposalnya sudah saya tanda tangani. So ... ini akan saya serahkan pada tuan Damar nantinya," kata Adrian.


"Baiklah, sebelumnya thanks ya," sahut Angga.


Adrian hanya mengangguk lalu mengulas senyum.


*******


Di salah satu cafe ternama di kota J, Naira terlihat sedang asik mengobrol dengan Kinara.


Setelah dari butik Quin, ia langsung ke cafe lalu menghubungi Kinara dan ingin bertemu dengan temannya itu.


"Kinar, aku baru tahu jika Quin seorang designer sekaligus saudara tirimu dan yang lebih membuatku kaget adalah, dia ternyata tunangannya Angga," kata Naira.


Kinar memutar bola matanya dengan malas.


"Lalu?" sahut Kinar dengan perasaan dongkol.


"Yang aku heran, dia malah menjadi asisten pribadi Damar bahkan sudah dua bulan terakhir dia tinggal bersama di kediaman putra tuan Alatas itu," jelas Naira.


Seketika alis Kinar langsung bertautan.


"What?! Beneran?!!" pekiknya.


"Menurutmu? Gara-gara gadis itu aku dan mamaku sengaja Damar kembalikan ke rumah utama. Yang lebih membuatku kesal, sepertinya Damar menyukai Quin," jelas Naira lagi.


"Gara-gara dia juga, Damar dan mamanya sering bertengkar karena Damar sering membelanya," kesal Naira. "Apa Angga tahu jika tunangannya itu serumah dengan Damar?"


Kinar tertawa sinis lalu menatapnya kemudian menggelengkan kepalanya.


"Quin dan Angga sudah tidak memiliki hubungan apapun. Quin sudah memutuskan hubungan pertunangannya dengan Angga," jelas Kinar.


Sial!! Ternyata diam-diam dia menjalin hubungan dengan Damar.


Kinar membatin kesal sekaligus cemburu. Bahkan menerka-nerka hubungan yang terjalin di antara keduanya.


Tapi biarkan saja, itu artinya aku bisa dengan leluasa mengejar cintanya Angga. Lagian aku merasa rugi jika nggak bisa memiliki Angga.


Lagi-lagi Kinar membatin lalu menyedot jusnya.


Keduanya larut dengan pikirannya masing-masing.


*


*


*


Kediaman Damar ...


Setelah selesai menyantap makan siang, baik Damar maupun Quin, kini keduanya sudah berada di pantry.


"Damar, apa kamu pengen aku buatkan sesuatu?" tawar Quin.


"Apa boleh, hmm?" bisiknya menggoda lalu mengangkat gadis itu kemudian mendudukkannya di meja pantry.


"Akkhh ... Damar," pekik Quin yang merasa kaget karena ulahnya. "Hish ... kamu apa-apaan sih?" kesalnya lalu memukul dadanya. Namun sedetik kemudian ia mengulas senyum lalu melingkarkan kedua tangannya ke leher pria itu.


"Sikap manjamu ini bakal membuatku kangen bahkan sulit untuk dilupakan," gumam Damar dalam hatinya.


"Quin."


"Hmm."


"Maukah kamu menjadi istriku?" tanya Damar dengan tatapan serius.


Quin mengerutkan keningnya namun merasa lucu dengan ungkapan Damar barusan.


"Istri? Pppppffff ... hahahaha ... yang benar saja. Seorang Casanova sepertimu ternyata bisa juga memikirkan hal itu," ledek Quin sambil tertawa dan lagi-lagi menganggap ucapan pria itu hanyalah bualan semata dan menganggap seperti angin lalu.


"I'm serious, Quin," bisiknya seraya membelai wajah gadis itu.


"Tapi tidak bagiku," sahut Quin lalu memeluknya. Seketika perasaannya menjadi sedih. "I'm scared ..." bisik Quin. "Aku nyaman seperti ini. Sendiri lebih baik. Aku merasa bebas karena nggak terikat dengan suatu hubungan yang rumit," aku Quin.


Untuk yang kesekian kalinya Damar dibuat kecewa dengan ucapan gadis itu.


"Harus dengan cara apa lagi aku harus meluluhkan hatinya? Lord ... please help me."


"Damar, bersiaplah aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," bisik Quin lalu melepas pelukannya lalu menatap Damar dengan senyum manisnya.


...****************...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜