
Setelah merapikan setelan itu lalu memasukkan ke dalam paper bag, Quin menyerahkan padanya.
"Ini ... silakan transaksi di lantai satu," pinta Quin.
Untuk sejenak Angga bergeming dan menatap paper bag yang masih dipegang oleh Quin.
"Quin ... apa kita ..." ucapannya terpotong karena Quin langsung menyela.
"No and enough, semuanya sudah berakhir. Aku rasa sudah tidak ada yang perlu kita bahas," tegas Quin.
"Quin ... please," mohon Angga namun Quin hanya tersenyum sinis sambil menggelengkan kepalanya.
"Angga ... apa kamu tahu? Kesetiaan itu sangat mahal harganya. Saking mahalnya, nggak bisa dibeli atau pun ditukar dengan materi, dan hanya mampu dimiliki oleh pria yang jujur dan mampu bersabar dari nafsunya," tekan Quin.
Angga bergeming lalu tertunduk.
"Apa kamu pernah membayangkan jika kamu berada di posisiku? Merasakan betapa sakit dan hancurnya hati ini melihatmu dan Kinar mengkhianatiku?" cecar Quin. "Sudahlah, aku sudah nggak ingin membahasnya. Rasanya begitu sakit jika aku kembali mengingatnya," lirih Quin lalu meninggalkannya begitu saja.
Sepeninggal Quin Angga hanya terpaku ditempat dan kembali menelaah ucapan Quin yang benar-benar terdengar kecewa.
"Quin ..." lirihnya dengan perasaan yang kini diselimuti penyesalan mendalam.
Dengan langkah gontai ia menuruni tangga sambil menenteng paper bag. Seketika ia terkenang ketika Quin masih menjalin kasih dengannya.
Di setiap ada acara penting seperti ini, gadis itulah yang selalu menyiapkan pakaian formal untuknya. Namun kini semuanya hanya tinggal kenangan belaka.
Sesaat setelah berada di lantai satu, ia menghampiri Al, karena Jihan dan Gisha sudah pulang lebih dulu. Yang tersisa hanya Quin dan Al.
Setelah membayar setelan pilihannya, dengan berat hati ia meninggalkan Quin yang tampak seolah tak memperdulikannya lagi.
"Quin ... apa kamu baik-baik saja," tanya Al.
"Seperti yang kamu lihat," sahut Quin dengan wajah datar.
"Jika aku jadi dirimu, aku nggak akan kuat berhadapan dengan mantan sepertinya apalagi dengan saudara tirimu itu," geram Al.
"Mau bagaimana lagi, Al. Kuat nggak kuat, ya harus kuat. Sudahlah ... ngapain juga mikirin mereka, nggak penting. Sebaiknya kamu hubungi Adrian dan Carikan setelan yang pas untuknya," saran Quin lalu terkekeh. "Tenang saja, nanti Damar yang bayar," sambung Quin.
"Baiklah," kata Al.
"Kalau begitu aku pulang dulu," pamit Quin sambil menenteng paper bag gaunnya meninggalkan Al.
*********
Setibanya di kediamannya Damar.
"Kok, tumben sepi?" desis Quin sesaat setelah berada di dalam rumah.
Ia pun melangkah lalu meneliti seluruh sudut ruangan mewah itu. "Biasanya jam segini, si nenek peyot itu masih berkutat di dapur dan anaknya si the next valakor itu sudah pasti sudah duduk manis di sofa," gumam Quin dan tampak bingung. "Tapi kok ... mereka nggak terlihat? Apa sudah di telan bumi ya?" kelakarnya lalu tertawa sendiri.
Ketika Quin berbalik, ia hampir saja terjungkal ke belakang karena kaget mendapati Damar yang sedang berdiri di belakangnya.
Namun dengan sigap Damar langsung merengkuhnya.
"Damar!!" kesalnya. "Kamu mengagetkanku saja."
Sambil terkekeh ia melepas rengkuhannya dan menatap gemas wajah gadis itu.
"Oh ya, bi Yuni dan Naira ke mana? Tumben anak dan mama itu nggak kelihatan?" cecar Quin penuh tanda tanya.
"Mereka sudah aku asingkan ke rumah utama," jawabnya tanpa beban.
"But why?" tanya Quin lagi.
Sebelum menjawab Damar menghela nafasnya lalu mengelus pipi Quin.
"Aku nggak suka mereka berbuat seenaknya padamu," jelas Damar. "Maksudmu."
"Quin, jangan anggap dengan diamnya diriku, aku nggak memperhatikan gelagat keduanya. Sejak awal kehadiranmu di rumah ini, aku sudah bisa merasakan bi Yuni dan Naira nggak menyukaimu. Bahkan aku curiga jika mereka jugalah yang membuat mama semakin nggak menyukai dirimu," aku Damar.
"Damar kamu ..." ia tak melanjutkan kalimatnya namun menatap lekat wajah Damar.
"Ya, lagian sejak dulu aku sudah terbiasa tinggal sendiri. Aku nggak suka di atur apalagi dikekang," akunya.
"Hmm ... aku tahu alasannya," sahut Quin dengan kalimat menggantung ditambah dengan senyum penuh arti dari gadis itu. "Sudahlah ... aku ingin membersihkan diriku dulu, gerah tahu," ucapnya lalu segera menapaki anak tangga menuju kamarnya.
Lagi-lagi Damar hanya terkekeh menatapnya hingga menghilang dari pandangan matanya.
Satu jam berlalu ...
Kini Quin sudah terlihat anggun dengan gaun yang senada dengan setelan jas Damar. Gaun model turtle neck berwarna silver tanpa lengan dengan belahan paha tinggi.
Aura kecantikan semakin terpancar dengan dandanan minimalis karena Quin memang tidak menyukai dandan menor. Setelah menyemprotkan parfum ke tubuhnya, ia pun merapikan rambutnya lalu meraih dompet pestanya.
Setelah itu, ia pun keluar dari kamarnya lalu ke kamar Damar. Ia mengetuk pintu sebelum masuk ke kamar pria itu.
"Damar," sapanya dengan seulas senyum.
Damar menoleh ke arahnya dan tampak tertegun menatapnya ia seolah tak ingin berpaling dari menatap gadis itu.
"Ck ..." decak Quin menatapnya dengan handuk yang masih melilit di pinggangnya. "Kamu gimana sih?! Aku mengira jika kamu sudah siap, tapi ternyata belum apa-apa," gerutu Quin.
"Ah, maaf ... sengaja," celetuknya. "Aku menunggumu karena sudah terbiasa di urus olehmu," aku Damar dengan seulas senyum.
"Modus," balas Quin lalu merangkul lengan kekarnya menuju walk in closet.
Setelah berada di ruang ganti itu, ia pun meraih kemeja lalu memakaikannya kemudian memasang kancingnya satu demi satu.
"Sudah ... kenakan dulu celanamu," pinta Quin lalu menarik laci bros dan jam tangan yang berjejer rapi di tempat khusus.
Setelah memilih bros dan jam tangan, Quin kembali menghampirinya lalu memasangkan jam tangan itu di pergelangan tangannya.
Damar terus saja menatap wajah Quin, semua bentuk perhatian dari gadis itu selalu saja membuat hatinya menghangat.
"Quin, seperti apa diriku jika kontrak kita berakhir. Aku sudah terbiasa dengan kehadiranmu," batin Damar. Seketika tangannya terangkat lalu mengelus pipi Quin.
"Ada apa?" tanya Quin yang sedang menyempatkan bros mawar bertahta berlian di jasnya.
"Nggak apa-apa?" desisnya lalu merengkuh tubuh Quin ke dalam dekapannya. "Quin apakah salah jika hatiku berlabuh dan menjadi pelabuhan cintaku yang terakhir di hatimu?"
Damar hanya bisa mengungkapkannya dalam hatinya saja. Sedetik kemudian ia mengurai dekapannya lalu menangkup wajah Quin lalu berbisik, "Terima kasih."
"Sama-sama," balas Quin lalu tersenyum lalu kembali merapikan jas Damar lalu mengelus dadanya. "Ayo, sebentar lagi Al dan Adrian tiba. Kita tunggu mereka di bawah saja," cetus Quin dan dijawab dengan anggukan kepala Damar.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Al dan Adrian pun tiba.
"Tuan, Quin," sapa Adrian.
Damar hanya mengangguk lalu melirik Quin.
"Quin, apa sebaiknya kita satu mobil saja?" tawar Damar.
"Nggak usah, aku sudah janji dengan Al," kata Quin dengan seulas senyum.
"Baiklah," ucapnya dengan hela nafas.
"Jangan cemberut begitu. Nanti gantengnya hilang," ledek Quin lalu terkekeh.
"Quin, ayo," ajak Al yang sudah merasa gemas jadi penonton dan pendengar keduanya.
"Iya bawel," celetuk Quin lalu meninggalkan Damar dan Adrian.
Tak lama berselang Damar dan Adrian menyusul. Mereka pun meninggalkan kediaman Damar menuju hotel tempat diselenggarakan acara peluncuran produk dari perusahaan Altaf.
...----------------...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ