
Satu Minggu berlalu ...
Jam sepuluh pagi, tampak Quin dan Damar kini sedang berada di pesawat, keduanya memutuskan ke kota J untuk menjemput bi Atik.
Setelah menghubungi sang papa dan mengutarakan niatnya untuk membawa bi Atik tinggal di Jepang, ia pun memilih langsung menjemput wanita paruh baya itu.
Di hari yang bersamaan pula, dari kota J, tuan Alatas dan Sofia baru saja take off menuju kota Osaka. Keduanya sama sekali tak memberi kabar jika mereka akan mengunjungi Damar dan Quin.
"Honey ... are you ready?" bisik Damar sambil menautkan jemarinya dengan Quin.
Quin hanya mengangguk lalu menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
Tak lama berselang pesawat yang mereka tumpangi akhirnya take off dan akan mengudara selama kurang lebih tujuh jam lamanya.
.
.
.
.
Kota J pukul 10:00 pagi ...
Nyonya Zahirah baru saja tiba di kantor suaminya. Ia bahkan tak mengetahui jika suami dan putrinya sejak pagi tadi sudah berangkat ke kota Osaka.
Sesaat setelah berada di ruangan kerja tuan Alatas, ia tampak bengong karena suaminya tak berada di ruangan itu.
"Apa papa ada janji dengan klien ya?" desisnya lalu duduk di sofa.
Tak lama berselang ponselnya bergetar. Ia mengerutkan keningnya saat tahu siapa yang menghubunginya.
Ia pun menjawab panggilan itu yang tak lain dari orang suruhannya untuk mencari tahu tentang Naira dan mamanya, sang kepala pelayan di mansionnya.
Orang suruhannya itu ingin bertemu di salah satu restoran Eropa tempat biasa keduanya bertemu. Setelah memutuskan panggilan.
"Jika sampai apa yang mereka tuduhkan pada Quin itu nggak benar, maka bersiaplah kalian akan aku tendang dari mansionku," gumam nyonya Zahirah.
Baru saja ia akan beranjak dari tempat duduknya, Nadif yang baru saja membuka pintu langsung merasa gugup.
"Nadif?!" panggil nyonya Zahirah.
"Iya, Nyonya."
"Bapak ke mana? Tumben jam segini dia nggak ada di kantor?" cecarnya.
"Tuan ... pagi tadi berangkat ke Jepang, Nyonya. Mendadak," jawab Nadif sedikit gugup.
Nggak anak nggak bapak, selalu saja membuat diriku kerepotan menjawab pertanyaan nyonya. Kapan lah mereka akan akur.
Nadif membatin sambil mengingat Damar dan tuan Alatas. Selain di repotkan oleh Damar, ia juga sekaligus harus siap jika sewaktu-waktu di butuhkan oleh sang tuan besar.
Malang sungguh nasibnya Nadif. 😆✌️
"Kok bisa bersamaan gitu ya dengan Sofia?" desisnya dan sedikit curiga.
"Mungkin saja kebetulan nona Sofia ada urusan di sana sekaligus berlibur dengan teman-temannya, nyonya," kata Nadif memberi alasan.
Nyonya Zahirah tampak mengangguk dan merasa jawaban dari Nadif masuk di akalnya. Karena sudah ada janji, akhirnya nyonya Zahirah meninggalkan ruangan itu.
Sepeninggal sang nyonya, Nadif langsung mengusap dadanya dengan hela nafas.
"Haah ... benar-benar merepotkan. Mau bagaimana lagi ... nasib ... nasib jadi bawahan," keluh Nadif lalu meletakkan berkas penting di atas meja kerja tuan Alatas.
.
.
.
.
QA Boutique ...
"Girls ..." Al tampak begitu sembringah setelah tahu Quin dan Damar sedang dalam perjalanan menuju kota itu.
"Quin sedang dalam perjalanan kemari," jelasnya.
"Really?!!!" pekik Jihan dan Gisha bersamaan.
Al mengangguk seraya merangkul kedua teman kerjanya itu dengan senyum bahagia. Tentu saja Jihan dan Gisha turut merasa senang setelah lima bulan lamanya tak bertemu dengan sang owner butik itu.
"Anyway ... tahu dari mana kamu?" tanya Gisha.
"Rian ... Damar menghubunginya semalam," jelas Al.
Gisha kembali mengangguk. Setelah itu mereka kembali melanjutkan pekerjaannya dengan perasaan bahagia dan senang sekaligus sudah tak sabar bertemu dengan Quin.
Sementara itu di salah satu restoran Eropa, kini tampak nyonya Zahirah sedang duduk berhadapan dengan orang suruhannya.
"Nadine, informasi apa saja yang sudah kamu dapatkan tentang bi Yuni dan Naira?" tanya nyonya Zahirah.
Nadine menghela nafasnya lalu meneguk air putih sebelum mengatakan sesuatu. Entah ia harus memulai dari mana.
"Nyonya, pantas saja selama ini tuan nggak respect dengan kepala pelayan dan putrinya itu. Walaupun bi Yuni sudah lama bekerja di mansion dan Anda menyekolahkan putrinya hingga lulus kuliah, tapi mereka malah mengharap lebih," jelas Nadine.
Seketika alis nyonya Zahirah bertaut dan tampak bingung.
"Maksudmu?"
"Nyonya, Naira dan bi Yuni sangat berambisi ingin menjadi bagian dari keluarga Alatas. Apalagi saat Damar masih duduk di kursi roda, mereka memanfaatkan keadaan itu untuk menjebak Damar. Sukurnya ada nona Quin saat itu yang menjadi asisten pribadinya. Itulah mengapa mereka nggak bisa leluasa mendekati Damar hingga sangat membenci nona Quin," jelas Nadine lagi.
"Lalu?"
"Mereka memfitnah nona Quin ..." Nadine menghela nafas lalu menatapnya. "Nyonya tahu sendiri kan, fitnah yang mereka tuduhkan tentang nona Quin?"
Nyonya Zahirah tertunduk lesu sekaligus membenarkan ucapan Nadine.
"Tuduhan tentang nona Quin sebagai wanita pemuas naf*su Damar, ingin menguasai hartanya dan hanya memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi tidaklah benar adanya, Nyonya."
"Seperti yang kita tahu, nona Quin adalah wanita mandiri. Di usianya yang masih terbilang muda, nona Quin sudah masuk di jajaran designer profesional. Bahkan design busananya sudah merambah ke luar negeri," sambung Nadine sambil menghela nafasnya.
Lagi-lagi nyonya Zahirah hanya bisa terpekur bahkan lidahnya keluh tak bisa berkata-kata mendengar penjelasan dari Nadine.
Apa yang sudah aku lakukan pada gadis itu? Pantasan saja Damar begitu nggak menyukai bi Yuni dan Naira. Dengan bodohnya aku malah lebih mempercayai bi Yuni dan Naira dengan fitnah yang mereka buat-buat.
Nyonya Zahirah membatin dengan penuh penyesalan.
"Maafkan mama, Damar, Quin," lirihnya masih dengan kepala tertunduk.
Setelah berada di restoran itu selama kurang lebih satu jam, akhirnya nyonya Zahirah dan Nadine meninggalkan restoran itu.
Sesaat setelah berada di dalam mobil, ia langsung bertanya kepada sang supir, apakah dia yang mengantar suami dan putrinya tadi pagi ke bandara.
Dengan menganggukkan kepala sebagai isyarat, nyonya Zahirah hany bisa menghela nafasnya.
"Apa benar bapak ke Jepang karena urusan bisnis? Kenapa bisa bersamaan dengan Sofia?" selidiknya.
"Yang saya tahu, tuan memang mengatakan seperti itu pada saya Nyonya," bohong Ucup dengan sedikit gugup.
Nyonya Zahirah kembali menghela nafas dengan perasaan kecewa.
"Ya sudah, antar aku pulang ke mansion," perintahnya.
Dengan patuh, Ucup mengikuti perintah nyonya Zahirah. Ia pun mulai mengendarai kendaraan itu menuju mansion.
"Di sepanjang perjalanan, nyonya Zahirah hanya bisa termenung sekaligus merasa menyesal, karena selama ini membenci Quin tanpa mencari tahu terlebih dulu kebenarannya.
Ia pun sudah bertekad akan memanggil bi Yuni dan putrinya itu untuk mengakui perbuatannya. Setelah itu, ia akan memutuskan memecat sekaligus meminta ibu dan anak itu keluar dari mansionnya.
"Lalu ... bagaimana caranya aku menemui putra dan menantuku itu? Sebenar di negara mana Damar dan Quin menetap?" gumam nyonya Zahirah.
Ia hanya bisa bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Maafkan mama," lirihnya lagi dengan mata yang kini berkaca-kaca mengingat putra sulung dan menantunya itu.
...----------------...