
Setibanya di kantor, Damar langsung menuju ke ruangan kerjanya. Kedatangannya sejak tadi sudah ditunggu oleh Adrian.
"Rian, sebelum jam makan siang, tolong handle semua jadwalku. Aku nggak ingin diganggu karena Quin akan menyambangi kantor."
"Baik Tuan." Rian menunduk takjim. "Oh ya, Tuan, apa tuan besar nggak memberitahu Anda jika beliau dan Sofia kemarin sudah berangkat ke Jepang?"
Damar tampak bengong sambil menggelengkan kepalanya.
"Apa papa dan Sofia ingin menyambangimu dan Quin? Tapi kenapa mereka sama sekali nggak kasih kabar?"
Damar terkekeh mengingat adik dan papanya.
"Haaah ... biarkan saja, Rian. Lagian salah mereka berdua. Palingan besok mereka sudah balik lagi." Damar lagi-lagi terkekeh lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Setelah berpamitan, Adrian kembali ke ruang kerjanya dan melanjutkan pekerjaannya.
.
.
.
Tak terasa setelah menandatangi berbagai berkas penting dan menyelesaikan beberapa pekerjaan penting, akhirnya Damar bisa bernafas lega.
Tampak ia meregangkan otot dan jemarinya yang sejak tadi terus bergerak ikut bekerja. Sejenak ia menyandarkan punggungnya.
Meraih rokok serta pemantiknya, membakar lalu menyesapnya dalam-dalam. Ia melirik arloji di pergelangan tangannya yang kini sudah menunjukkan hampir jam satu siang.
"Honey ...? Kenapa dia belum menghubungiku?" Damar sedikit merasa khawatir.
Baru saja ia akan meraih ponselnya, pintu terdengar di ketuk lalu dibuka. Damar langsung mengarahkan pandangannya ke depan.
"Mama?!" Sambil menghembus asap rokoknya dengan kasar.
Ia sama sekali tak menyangka jika sang mama akan ke kantornya.
"Apa ada yang memberitahu mama jika aku sedang berada di kota J? Damn!!! Bagaimana jika Quin datang sebentar lagi?"
"Kapan kamu sampai? Kenapa setiap kali kamu ke Kota J, kamu selalu nggak pernah mengabari mama?" Pertanyaan itu langsung menyapa gendang telinganya.
Damar menghela nafas dan kembali menyesap rokoknya. Ia kemudian beranjak dari kursi kerjanya lalu menghampiri dinding kaca ruangan kerjanya.
"Ada atau nggak adanya diriku, apa pedulinya Mama? Jika Mama kemari hanya ingin berdebat, lupakan saja. Sebaiknya Mama tinggalkan kantorku.''
"Damar ... Mama ..." Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya keduanya langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu yang di ketuk.
"Jangan bilang itu Quin."
Sayangnya harapan harus sirna karena yang membuka pintu benar-benar Quin.
"Hon ...." Kalimat itu langsung terputus sekaligus membuat Quin terkejut. Sontak saja matanya langsung membola menatap sang mertua yang tak pernah menganggapnya.
"Maaf ... sebaiknya aku kembali ke butik saja."
"Stop and stay here with me!" cegah Damar seraya menghampiri istrinya.
Sedangkan nyonya Zahirah tampak terpaku di tempat saat menatap Quin dengan perut buncitnya sambil memegang paper bag.
Ada perasaan bahagia namun sekaligus bersalah pada menantunya itu.
"Damar, Quin. Apa kita bisa bicara?" Nyonya Zahirah membuka suara sambil menatap keduanya.
"Jika Mama hanya ingin mengata-ngatai istriku lagi, sebaiknya Mama pulang saja," tegas Damar.
"Honey?" Quin menatapnya.
"Damar ... Mama hanya ingin meluruskan semua kesalahpahaman yang terjadi selama ini," kata nyonya Zahirah.
Damar menghela nafas. Sedikitpun ia tak melepas rangkulannya dari Quin.
"Baiklah." Damar mempersilahkan sang mama duduk di sofa lalu menyusul bersama Quin.
Hening sejenak sesaat setelah ketiganya duduk saling berhadapan. Quin hanya diam. Sedangkan Damar terus menggenggam jemari istrinya.
"Damar, Quin, maafkan mama. Maaf jika selama ini, mama sudah banyak berkata-kata kasar tanpa mencari tahu terlebih dahulu," ucap nyonya Zahirah.
"Maksud Mama?"
"Selama ini, mama terlalu percaya dengan semua ucapan bi Yuni dan Naira. Mereka selalu mengatakan hal buruk tentangnya," aku nyonya Zahirah.
"Lalu!"
"Maafkan mama. Mama sudah tahu semua alasan mereka memfitnah Quin."
Nyonya Zahirah kemudian menceritakan semuanya, termasuk alasan ex kepala pelayan rumah dan putrinya itu memfitnah Quin.
Tentu saja semua penjelasan dari sang mama membuat Quin terkejut namun tidak bagi Damar, karena ia sudah bisa menebaknya.
"Sudah kuduga," desisnya dengan senyum sinis. "Salah satu alasanku menolak Naira menjadi terapis ku, ya karena itu. Dia tak lebih seperti wanita murahan!" tegas Damar. "Itulah mengapa aku memutuskan menggunakan jasa dokter Fahri ketimbang gadis itu. Kebetulan ada Quin, so ... aku merasa aman bersamanya."
Nyonya Zahirah tertunduk sekaligus mematung di tempatnya. Sedetik kemudian ia beranjak dari tempat duduknya berpindah ke sebelah Quin.
"Quin, maafkan mama. Selama ini mama sudah salah paham padamu."
Tak langsung menjawab melainkan Quin melirik suaminya. Damar hanya mengangguk sambil mengedipkan kedua matanya.
"Sedikitpun aku nggak pernah mengharapkan maaf dari Nyonya. Yang aku harapkan adalah hubungan Nyonya dan Damar selalu baik-baik saja," bisik Quin.
Nyonya Zahirah melonggarkan dekapannya lalu menatap lekat wajah sang menantu kemudian menggelengkan kepalanya.
"Jangan panggil nyonya tapi mama, karena kamu menantu mama." Nyonya Zahirah mengelus kedua lengannya dengan perasaan terharu.
Ia pun mengelus perut buncit Quin lalu tersenyum kemudian kembali bertanya,
"Sudah berapa bulan usia kandungan mu, Nak?"
"Tujuh, Mah."
Nyonya Zahirah tampak bengong. Melihat wajah penuh tanda tanya sang mama, Damar terkekeh lalu menjelaskan kejadian sebenarnya.
Tak pelak, nyonya Zahirah langsung mencubit paha sang putra sekuat mungkin.
"Dasar!!! Anak nggak ada akhlak," kesalnya.
Damar hanya bisa meringis sembari mengusap bekas cubitan di pahanya.
"Harusnya Mama bersyukur dong ... kesalahan satu malam itu akan mengubah status Mama menjadi Oma." Lagi-lagi Damar terkekeh.
"Sebaiknya kita makan dulu," cetus Quin. Karena sejak tadi ia hanya menjadi penonton antara ibu dan anak itu.
Seketika kebahagiaan langsung menyelubungi hati Damar karena sang mama akhirnya mengakui Quin sebagi menantu.
.
.
.
.
Jika saat ini Damar dan Quin diliputi dengan perasaan bahagia, sebaliknya bagi kedua ibu dan anak yang baru saja di usir dari mansion keluarga Alatas.
Bi Yuni dan Naira kini tampak sedang berada di rumah mereka. Seketika kehidupan keduanya langsung berubah drastis.
Kemewahan yang selama puluhan tahun mereka rasakan di rumah mewah itu, kini membuat keduanya mengeluh sambil menggerutu kesal.
Saling menyalahkan antara satu sama lain. ππ
"Aku akan bikin perhitungan dengan gadis itu jika sampai aku bertemu dengannya!"
Naira tersenyum sinis sambil memikirkan cara. Ia kembali menatap mamanya yang sedang merapikan pakaian.
"Mah, ngomong-ngomong, selama ini mereka tinggal di mana ya? Soalnya Damar dan gadis itu sudah nggak pernah terlihat pasca menikah."
"Setahu mama, mereka pindah ke luar negeri. Tapi Damar biasa pulang hanya saja ia sendiri nggak bersama gadis itu."
Naira hanya mengangguk disertai dengan rasa geram berselimut dendam.
"Huh!!! Menyebalkan!!"
******
Menjelang sore, sepeninggal nyonya Zahirah, Quin dan Damar menyambangi rumah pak Pranata.
Setibanya di kediaman sang papa, Quin langsung disambut oleh bi Atik dengan perasaan haru.
Setelah sekian lama, gadis itu kembali menginjakkan kakinya sejak terakhir kali ia berkunjung ketika masih berstatus tunangan Angga.
"Nak Quin," desis bi Atik sambil memeluknya lalu mengelus perutnya.
"Bibi." Quin menatap wajah keriput wanita paruh baya itu dengan seulas senyum. "Nggak lama lagi bibi akan menjadi nenek." Ia terkekeh sambil merangkul bahunya.
Tak lama berselang setelah berada di ruang tamu, pak Pranata dan bu Fitri menghampirinya.
"Sayang ... Damar." Pak Pranata kemudian memeluk putri bungsunya itu. "Papa kangen banget denganmu, Nak. Bagaimana dengan Juna, Yura dan Ayumi?"
"Mereka baik dan sehat-sehat saja, Pah." Quin melepas dekapan sang papa lalu menatap bu Fitri.
"Apa boleh mama memelukmu?" izinnya karena ragu.
Quin mengangguk lalu tersenyum. Tanpa pikir panjang ia langsung memeluk putri sambungnya itu.
"Sekali lagi, mama minta maaf padamu dan juga Juna," ucapnya dengan tulus.
"Iya, Mah. Mau sebenci apapun aku pada Mama, pada kenyataannya yang menjadi pendamping papa saat ini adalah Mama," balas Quin tak kalah tulus. "Aku juga minta maaf Mah. Selama bertahun-tahun sudah menyakiti hati Mama."
Mendengar ungkapan tulus dari Quin, bu Fitri tak kuasa membendung air matanya. Gadis yang selama bertahun-tahun itu selalu menghina dan menyalahkan dirinya, kini dengan tulus mengucapkan kata maaf.
Pak Pranata, Damar dan bi Atik ikut terharu melihat keduanya yang saling merangkul, berpelukan dengan saling memaafkan.
Sungguh suatu pemandangan
yang sangat indah di mata pak Pranata.
...----------------...
Sambil menunggu beberapa bab terakhir, jangan lupa dukung terus kisah Damar dan Quin ya, dengan rate, vote, dan tekan jempol like βΊοΈπ