
Satu bulan kemudian ....
Pernikahan Damar dan Quin di laksanakan di kota M seperti keinginan Damar. Ia memutuskan menikah secara tertutup dan hanya di hadiri oleh orang-orang terdekat mereka.
Seperti yang sudah ia perkirakan, papanya dan Sofia serta pak Pranata lah yang menjadi wali bagi keduanya.
Walaupun tak mendapat restu dari sang mama, Damar tetap mewujudkan keinginannya itu. Terlebih lagi Quin yang kini tengah mengandung buah cintanya.
Keputusannya itu tentu saja mengejutkan banyak pihak termasuk Tista, Angga dan keluarganya, Kinar bahkan Naira dan bi Yuni.
Tadinya bi Yuni dan Naira sangat berambisi ingin menjadi bagian dari keluarga Alatas namun harus pupus karena Damar memilih Quin untuk menjadi pendamping hidupnya.
Tak ada yang tahu jika Quin sedang berbadan dua. Sehari setelah melangsungkan pernikahan, Quin dan Damar memutuskan meninggalkan kota M dan memilih ke Jepang sebagai tempat tinggal mereka yang baru.
Urusan perusahaan, untuk sementara Damar percayakan semuanya pada Adrian dan Nadif. Tadinya Damar dan Quin mengira, jika semua hak Damar akan dicabut oleh sang mama namun itu tidak terjadi.
Sebelum berangkat ke Jepang, keduanya tak lupa berpamitan pada kedua papanya dan bu Fitri juga Sofia. Jika tadinya Quin begitu membenci ibu tirinya, namun setelah menikah perasaan benci itu mulai berkurang karena ia bisa melihat sedikit ketulusan wanita paruh baya itu.
Apalagi saat ia akan berangkat, bu Fitri sempat meminta maaf sambil memeluknya dan menangis mengakui semua kesalahannya.
Namun ada hal yang masih mengusik hatinya karena pernikahannya dan Damar tidak mendapat restu dari nyonya Zahirah. Ada perasaan bersalah yang Quin rasakan karena kenekatan Damar. Pria itu rela menentang sang mama hanya karena dirinya.
**********
Bertepatan dengan hari ini, tak terasa usia pernikahan Quin dan Damar sudah berjalan selama sebulan lebih.
Pagi harinya Damar kembali mengalami morning sicknes. Sejak tadi ia terus muntah-muntah. Karena tak tega, Quin menghampiri suaminya itu lalu memijat tengkuknya.
"Honey ... sampai kapan aku akan seperti ini?" keluh Damar sambil tertunduk lemas. sedetik kemudian ia berbalik lalu mengelus perut Quin yang sudah terlihat sedikit membuncit.
Quin terkekeh mendengar keluhan sang suami. Ia menggedikkan bahunya seraya mengelus rahang tegasnya.
"Biasanya sampai trisemester bahkan bisa sampai aku melahirkan," bisik Quin.
Damar membawanya masuk ke dalam pelukannya lalu mengecup puncak kepalanya. Perasaan bahagia seketika menyelimuti dirinya karena sudah tak sabar ingin bertemu sang calon buah hati.
"Honey ... rasanya aku sudah nggak sabar ingin bertemu dengan anak kita," bisiknya sambil mengelus perut Quin.
Mendengar ungkapan dari sang suami, Quin hanya mengulas senyum. Setelah itu ia mengurai dekapannya lalu mendongak.
"Apa kamu nggak ngantor hari ini?"
"Hari ini nggak dulu," bisiknya. "Aku hanya ingin berdua denganmu saja dan calon bayi kita," sambungnya sambil mengelus perut istrinya.
.
.
.
Jauh dari negeri sakura tepatnya di kediaman Damar, tampak nyonya Zahirah sedang termenung di kamar sang putra sambil meneliti setiap sudut ruangan itu.
Bagaimana tidak setelah Damar memutuskan menikah dan memilih tinggal di Jepang, ia merasa kesepian dan seolah tidak bersemangat.
Ada penyesalan yang ia rasakan setelah dengan begitu kerasnya ia menentang sang putra untuk menikahi wanita pujaan hatinya itu.
Bahkan dengan angkuhnya ia tak mau menghadiri hari paling bersejarah dalam hidup sang putra.
"Damar, maafkan mama," ucapnya dengan lirih di sertai dengan linangan air mata.
Tak lama berselang tuan Alatas menghampirinya lalu duduk di sampingnya kemudian merangkul bahunya.
"Mah, sudahlah nggak ada yang perlu di sesalkan. Andai saja Mama mau menerima keputusan Damar menikahi Quin, tentu saja dia masih di sini," kata tuan Alatas dengan hela nafas.
Nyonya Zahirah hanya bergeming namun tetap saja kesedihan kini menyelimuti dirinya.
"Apa Papa tahu mereka tinggal di mana?" tanya nyonya Zahirah sembari menyeka air matanya.
Tuan Alatas menggelengkan kepalanya. Walaupun ia tahu, tapi ia enggan memberitahu sang istri keberadaan sang putra dan menantunya itu.
Bukannya tak ingin, tuan Alatas sengaja ingin memberinya sedikit pelajaran dan merenung akan keangkuhannya itu.
Maafkan aku, Mah. Aku akan memberitahu jika kamu benar-benar sudah sadar dan mengakui Quin sebagai menantu keluarga Alatas.
Tuan Alatas bergumam dalam hatinya sambil menatap istrinya.
Sementara itu di QA Boutique, tampak Al, Jihan dan Gisha sedang duduk di meja kerja.
"Haaah ... sepi banget," keluh Al sambil menatap Gisha dan Jihan.
"Bener. Biasanya Quin sering bepergian hingga berbulan-bulan. Tapi entah mengapa kepergiannya kali ini membuat suasana butik ini juga terasa berbeda," sahut Jihan.
Jihan dan Gisha mengangguk setuju.
.
.
.
Kantor Angga ...
Ia tampak terus termenung di kursi kerjanya sambil menatap foto Quin dan dirinya. Ia tak menyangka jika pada akhirnya Quin benar-benar memilih Damar menjadi bagian dari hidupnya.
Kini ia hanya mampu ikhlas dan menerima jika Quin sudah tak mencintainya lagi. Kesalahan akibat bermain api di belakang Quin akhirnya membuatnya terbakar sendiri.
Kini harapan, kesempatan dan peluang itu benar-benar telah tertutup baginya.
"Aku yang bodoh!" desisnya. "Andai saja aku nggak menuruti hawa nafsu. Posisi Damar saat ini pasti ada padaku," lirihnya lalu menyeka air matanya.
Tak lama berselang, pintu ruangannya dibuka tanpa diketuk.
"Angga," sapa Altaf lalu menghampirinya.
"Kakak," sahutnya dengan lirih.
Altaf menatapnya sesaat setelah duduk berhadapan dengannya.
"Apa lagi yang perlu kamu sesalkan. Biarkan saja Quin hidup bahagia dengan Damar. Lagian ini semua karena salahmu," sindir Altaf dengan senyum sinis.
Angga bergeming mendengar sindiran sang kakak.
"Sebaiknya, kamu buka saja hatimu untuk gadis lain," lanjut Altaf memberi saran.
Lagi-lagi Angga tetap bergeming seolah tak menggubris ucapan.
Padahal jauh dalam sudut hati Altaf, ia juga merasa patah hati karena Quin lebih memilih Damar.
Harusnya aku membuka hati saja untuk wanita lain. Lagian aku pun nggak bisa menggapai Quin.
Altaf membatin sambil tertunduk. Sedetik kemudian ia beranjak dari kursi menghampiri kaca.
Dengan hela nafas ia memperhatikan kesibukan kota J dari balik kaca transparan
.
.
.
Siang harinya waktu Osaka ...
Quin tampak sedang menyiapkan makan siang mereka berdua. Setelah selesai menata makanan, ia pun mengajak suaminya makan siang.
"Honey."
"Hmm."
"Sebaiknya besok kita pindah saja ke rumahku. Lagian jarak rumah itu dari kantorku nggak terlalu jauh," cetus Damar.
"Aku ikut saja jika menurutmu baik," sahut Quin dengan seulas senyum.
"Kemarilah," pintanya seraya menepuk pahanya mengisyaratkan jika ia ingin Quin duduk di pangkuannya.
Dengan patuh Quin menurut lalu melingkarkan kedua tangannya di punggung leher Damar.
"Honey, jangan berkecil hati meski mama belum mengakuimu sebagai menantu," kata Damar sembari mengelus tangannya. "Ingatlah, selalu ada aku yang setia bersamamu. Yakinlah ... kehadiran anak kita nanti pasti akan merubah sikap mama padamu. Trust me," lanjut Damar lalu kembali mengelus perutnya.
Quin hanya mengangguk sekaligus terharu mendengar ucapan Damar.
Saat ini aku sudah nggak peduli mamamu mau mengakui aku atau tidak. Yang terpenting aku bahagia bersamamu dan anak kita nantinya.
Quin membatin lalu berbisik ke telinga Damar.
"Honey ... aku mencintaimu dan menua lah bersamaku. Aku ingin kita menghabiskan waktu kita bersama dengan anak-anak kita hingga mereka tumbuh dewasa."
...****************...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ