
Tak terasa sudah dua minggu, Quin dan Damar berada di kota J. Setelah saling memaafkan hubungan antara Quin, nyonya Zahirah dan bu Fitri kini terjalin baik.
Keduanya sama-sama sangat perhatian padanya. Kebetulan hari ini adalah hari minggu, kedua keluarga itu tampak sedang berada di kediaman Damar.
"Quin, apa sebaiknya kamu melahirkan di kota ini saja, Nak?" saran nyonya Zahirah.
"Iya, Kak. Ngapain kembali lagi ke Jepang? Sedangkan di sini kami siap menemani kakak nantinya," timpal Sofia.
"Mertua dan iparmu, ada benarnya, Nak. Mama dan papa juga berharap kamu mau lahiran di sini saja," sambung bu Fitri.
"Honey, lagian usia kandunganmu sudah mau masuk delapan bulan. Otomatis pihak maskapai penerbangan mikir-mikir lagi untuk mengizinkan kamu naik pesawat," lanjut Damar sekaligus menasehatinya.
Quin yang sejak tadi menyimak masukkan dari mama, ipar dan suaminya tampak berpikir. Akhirnya ia mengangguk setuju.
"Tapi, biarkan bi Atik tetap tinggal bersama kita di sini," pintanya.
Pak Pranata langsung tersenyum menatapnya.
"Iya, bi Atik tetap akan tinggal bersamamu. Papa nggak akan melarangnya," sahut pak Pranata.
Quin melirik bi Atik yang sedang duduk di sampingnya.
"Bi, tinggal lah di sini bersamaku. Biarkan papa dan mama, mencari pengganti Bibi," pinta Quin.
Bi Atik hanya mengangguk lalu tersenyum seraya mengelus lengannya.
Setelah berbincang santai dan di lanjut dengan acara keluarga selama beberapa jam di kediaman Damar, akhirnya kedua orang tuanya mereka berpamitan.
Sayangnya Kinara tidak ikut bergabung karena tuntutan pekerjaan di kota. Bahkan ia juga belum tahu jika Quin saat ini ada di kota J.
"Bi, aku ingin mengajak Bibi jalan-jalan ke mall. Hahh ... sudah lama kita nggak jalan bareng sejak terakhir bersama mama," kata Quin.
Bi Atik tersenyum sambil memegang tangannya.
"Baiklah, bibi ikut saja, tapi nggak gratis," kelakar bi Atik.
"Bisa di atur, Bi. Pokoknya apapun yang ingin bibi beli, aku akan belikan. Tenang saja ada paksu yang bayar," kata Quin lagi lalu melirik suaminya.
"Nggak masalah, pokoknya bibi boleh belanja sepuasnya," timpal Damar.
Selang dua puluh menit kemudian, setelah menunggu bi Atik mengganti pakaian, akhirnya mereka melanjutkan perjalanan menuju pusat perbelanjaan yang dimaksud oleh Quin.
.
.
.
Sesaat setelah tiba di tempat tujuan ...
"Honey ... hubungi aku jika kalian akan pulang. Maaf, aku nggak bisa menemani soalnya aku ada urusan mendadak dengan Tista," kata Damar.
"Baiklah," balas Quin lalu membuka pintu mobil.
"Bi, aku titip Quin sebentar ya," pesan Damar dan di jawab dengan anggukan kepala oleh bi Atik.
Setelah itu Quin menggandeng lengan bi Atik meninggalkan Damar. Sepeninggal Quin dan bi Atik, Damar terus menatap keduanya yang mulai menjauh.
"Lord ... kenapa perasaanku tiba-tiba nggak enak begini?" gumamnya sembari mengelus dadanya. "Sebenarnya ada apa Tista ingin bertemu denganku?" gumamnya lagi dan kembali melajukan kendaraannya menuju restoran tempat tujuan.
Meninggalkan Damar yang kini sudah meninggalkan parkiran, lain halnya dengan Quin dan bi Atik.
Keduanya tampak berjalan pelan sambil melihat-lihat. Keduanya bahkan tampak asik mengobrol dan sesekali tertawa.
Hingga langkah kaki Quin terhenti di salah satu galeri pakaian khusus bayi.
"Bi, yuk kita masuk. Sekalian kita pilah pilih pakaian untuk si dedek," cetus Quin sambil mengelus perut buncitnya.
"Baiklah," kata bi Atik dengan seulas senyum.
Keduanya langsung masuk ke galeri itu lalu memilih pakaian dan perlengkapan bayi. Saking semangatnya, Quin serasa ingin memborong semua pakaian itu karena gemas.
Hampir satu jam-an Quin dan bi Atik berada di galeri itu. Setelah merasa cukup, kemudian membayar semua barang belanjaannya, keduanya meninggalkan galeri.
"Bi, apa Bibi ingin membeli sesuatu? Jika ada sesuatu yang ingin Bibi beli, beli saja. Nanti aku yang bayar," tawar Quin.
"Ya sudah, kita lanjut belanja sembako saja ya, Bi," cetus Quin.
Bi Atik mengangguk lalu mengulas senyum. Dari jarak yang tak terlalu jauh dari keduanya seseorang terus memperhatikan keduanya.
Senyum sinis terbit dari sudut bibir gadis itu.
"Kebetulan banget. So ... saat ini dia sedang ada di kota ini? Tapi sejak kapan? Mana hamil lagi?" gumamnya dengan sinis.
Ia pun mengekori Quin dan bi Atik yang saat ini sedang menuju tangga eskalator untuk ke lantai satu.
"Kamu harus membayar mahal akibat sudah menjadi batu sandungan bagiku. Kamu penyebab gagalnya diriku menjadikan damar suamiku," geramnya.
Saat Quin dan bi Atik sudah berada di setengah jalan tangga eskalator, dari arah atas, Naira sengaja menuruni tangga eskalator dengan mempercepat langkahnya dan sengaja menabrak Quin yang hampir sampai di lantai dasar.
Tak pelak ulahnya itu seketika membuat Quin terjatuh dengan perut yang terlebih dulu menyentuh lantai.
"Aaaakkkkhhhh!!!!!" pekik Quin kesakitan.
"Nak, Quin!!!" Bi Atik ikut berteriak lalu segera menghampirinya.
Sontak saja pusat perbelanjaan itu langsung riuh karena mendengar suara teriakkan bi Atik dan Quin.
Sedangkan Naira langsung melarikan diri setelah membuat Quin jatuh.
"Tolong!!! Tolong!!! Siapa pun di sini tolong bantu anakku!!!" pekik bi Atik dengan begitu paniknya sambil menangis.
"Ssssttt .... aaakkhh, Bi," ringis Quin disertai rintihannya.
Di pangkuan bi Atik, ia memegang perutnya dan merasakan sesuatu mengalir deras dari area intimnya.
"Permisi, ada apa ini?" tanya Angga yang baru saja sampai di lantai satu. "Bi!! Quin!!" pekiknya lalu menghampiri keduanya.
Melihat Quin yang akan di gendong oleh seorang pengunjung Mall, ia segera menghampiri dan meminta supaya pria itu mengikutinya ke arah mobilnya di parkir.
"Bi, ayo ikut denganku," pintanya sembari merangkul wanita paruh baya itu yang sejak tadi terus menangis.
Sesaat setelah berada di dalam mobil, bi Atik memangku kepala Quin sembari terus mengelus kepalanya lalu mengusap keringat yang kini mulai bercucuran di wajahnya.
"Aakhhh, Bi, sakit banget," rintih Quin sambil memejamkan matanya menahan sakit.
"Bersabarlah, Quin, kita dalam sementara dalam perjalanan menuju rumah sakit," kata Angga lalu menoleh ke belakang.
"Nak Angga, bisa cepat sedikit nggak, Nak, sepertinya Nak Quin mengalami pendarahan. Kasian bayinya jika terlambat di tangani," pinta bi Atik.
"Iya, Bi," sahut Angga. Ia semakin menambah kecepatan mobilnya.
.
.
.
Sementara itu, di tempat yang berbeda Damar dan Tista masih tampak mengobrol. Namun sejak tadi Damar tampak tidak fokus.
Perasaanku kok, nggak enak begini ya? Ada apa ini? Bahkan sejak meninggalkan Quin dan bi Atik di parkiran aku sudah merasa nggak enak.
Tik ... tik ... tik ...
Tista menjentikkan jarinya tepat di depan wajah sahabatnya.
"Mar, ada apa? Kok sejak tadi kamu terlihat gelisah?" Tanya Tista.
"Perasaanku nggak enak, Tista," akunya. "Apa masih ada yang perlu kita bahas seputar saham club'?" tanyanya balik lalu melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sudah jam satu lewat tiga puluh lima?" desisnya lalu kembali menatap Tista. "Maaf Tista, kita lanjut besok saja di kantor," kata Damar lalu beranjak dari tempat duduknya kemudian meninggalkan sahabatnya.
"Tapi Damar?!!" protes Tista sambil menghela nafas.
Sedangkan Damar terlihat buru-buru tanpa menghiraukan Tista yang sedikit memprotesnya.
...----------------...