101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 68



Tepat jam 03.00 dini hari, Quin menggeliat, meringis dan merasakan mual.


"Sssttt .... uueeekkk ... damn!!!" ia langsung bangkit dari tidurnya dan menyalakan lampu.


Sontak saja ulahnya itu membuat Damar terusik.


"Quin," desisnya.


Quin langsung berlari ke arah kamar mandi lalu memuntahkan semua isi perutnya di wastafel.


Merasa gadis itu tidak baik-baik saja ia langsung menyibak selimutnya menyusul Quin ke kamar mandi.


"Quin, are you okay?" tanya Damar sembari memijat tengkuk gadis itu. Quin tak menjawab melainkan terus memuntahkan semua isi perutnya.


Beberapa menit kemudian ia pun membasuh wajahnya lalu berkumur-kumur dan tampak lemas.


"Kenapa kamu minum jika sudah tahu akibatnya akan seperti ini," dumal Damar lalu menyelipkan anak rambutnya ke belakang kuping telinganya.


Quin hanya bergeming menatapnya. "Aku kembali ke kamarku saja," pamitnya lalu meninggalkan Damar di kamar mandi itu.


Sesaat setelah berada di dalam kamarnya, Quin langsung meraih handuk lalu ke kamar mandi mengguyur tubuhnya di bawah shower air hangat.


Setelah membersihkan dirinya, Quin kembali ke kamar lalu mengenakan setelan piyama lalu turun ke pantry untuk membuat kopi.


Sambil menunggu kopinya jadi, ia bersandar sambil memijat kepalanya.


"****! Sakit banget," desisnya dan sesekali memejamkan matanya. "Sudah jam berapa ini?"


Tak lama berselang Damar menghampirinya lalu menegurnya.


"Quin? Are you okay?"


Quin mengarahkan pandangannya ke arah Damar dan mengangguk kecil.


"Sepertinya kamu minum terlalu banyak?" kata Damar.


"Hmm." Ia langsung membenamkan kepalanya ke dada bidang berotot Damar. "Maaf, sudah merepotkanmu," desisnya lalu melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Damar.


"Nggak masalah, Quin. Selagi itu masih menyangkut tentang dirimu," balas Damar.


"Why?" Quin mendongak menatapnya.


"Because i love you," aku Damar.


Quin tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dan menganggap ucapan Damar hanyalah bualan semata.


"Jangan bercanda kamu, Damar. Bagiku cinta itu bullshit. Aku nggak mau percaya cinta lagi. Entahlah ... aku lebih nyaman seperti ini," bisik Quin lalu mengigit lehernya karena gemas.


"Sssttt ... Quin," ringis Damar dan semakin mendekapnya erat lalu membenamkan bibirnya ke ceruk leher gadis itu.


"Izinkan aku untuk membuatmu percaya lagi akan cinta. Kenapa kamu masih menganggap ungkapan ku tadi hanya candaan? Quin aku benar-benar mencintaimu, percayalah. Aku masih berharap kamu akan membalas cintaku." Damar membatin lalu kembali menatap wajah Quin.


"Apa kamu ingin aku sekalian membuatkanmu kopi?" bisik Quin bertanya.


"Hmm ... boleh," jawab Damar.


"Sebentar ya," pintanya lalu melepas dekapannya.


Damar hanya mengangguk lalu memperhatikannya. Entah mengapa ia semakin berat melepas gadis itu.


Setelah beberapa menit menunggu akhirnya kopinya pun jadi.


"Ini ... untukmu," kata Quin lalu memberikan cangkir berisi kopi lalu mengajaknya duduk di kursi pantry.


Sambil menyeruput kopi, Quin sesekali memijat kepalanya karena merasakan pening.


"Damar,"


"Hmm."


"Kenapa harus membelaku sedangkan mamamu sangat membenciku?" lirih Quin. "Honestly aku justru merasa semakin bersalah pada mamamu," aku Quin.


Damar mengubah posisi duduknya menghadap Quin lalu menatapnya.


"Karena mama sudah sangat keterlaluan. Lagian aku memang nggak suka hidupku diatur-atur," kesal Damar.


"Damar, walau bagaimanapun dia tetaplah mamamu dan pengen yang terbaik untukmu," balas Quin. "Sekalipun kamu menolak, setidaknya kamu bisa bicara secara baik-baik dengannya jangan membentak ataupun berbicara kasar," nasehat Quin.


"Aku akan mencoba, Quin. Kamu bisa lihat sendiri jika mama selalu memaksa. Berbeda dengan papa. Papa selalu mendukung apapun yang aku putuskan," jelas Damar.


Quin hanya bergeming menatapnya. "Lalu sampai kapan? Aku rasa nggak ada salahnya jika kamu menikah dalam waktu dekat. Apalagi kamu sudah mapan dan usiamu juga sudah terbilang mateng," kata Quin lalu terkekeh.


"Apa itu artinya kamu menganggapku sudah tua, hmm?" balasnya merasa gemas.


"Ck ..." decaknya.


Quin kembali terkekeh menatap wajah kesalnya.


"Quin ... lebih baik terlambat menikah daripada salah memilih pasangan. Pernikahan adalah suatu hal yang sakral, cukup sekali untuk selamanya," kata Damar.


Quin bergeming mendengar kalimat Damar. Pikirnya seorang player Casanova sepertinya pun ternyata bisa berkata bijak.


"Hmm, kata bijaknya, ok juga."


Keduanya tampak terus melanjutkan obrolan hingga fajar mulai menyinari. Saking asiknya mengobrol keduanya bahkan tak menyadari jika hari sudah pagi.


Setelah puas mengobrol Quin memilih berbaring di sofa ruang santai, sedangkan Damar memilih ke ruang fitness.


******


Beberapa jam kemudian ...


Damar yang tampak baru saja keluar dari ruang fitnes, sedang mengusap keringat di sekujur tubuhnya dengan handuk kecil.


Ia pun menghampiri Quin yang tampak berbaring dengan mata terpejam di sofa ruang santai.


"Good morning," bisiknya lalu mengecup kening gadis itu tanpa permisi.


"Damar?!" protesnya.


Damar hanya terkekeh lalu duduk di sampingnya lalu menatapnya kemudian mengelus pipinya.


"Aku akan siapkan pakaianmu dulu," cetus Quin lalu perlahan mendudukkan dirinya.


"Jika kepalamu masih sakit, nggak perlu dilaksanakan," kata Damar. "Biar aku saja. Tapi ada syaratnya." Damar tersenyum penuh arti.


Dengan alis bertaut Quin bertanya, "Apa."


"One Kiss," tawar Damar.


Quin langsung terkekeh lalu mengecup pipinya kemudian memeluknya dengan gemas.


"Not cheeks but lips," bisik Damar.


Quin langsung menggigit pundaknya karena gemas.


"Sssttt ... Quin. Kamu seperti drakula saja.


Kenapa sih suka banget menggigit?"


"Gemas dengan permintaan konyolmu itu," bisiknya lalu kembali membenamkan wajahnya di ceruk leher Damar.


Hening sejenak namun sedetik kemudian Damar mencuri satu ciuman di bibir gadis itu.


"Damar?!" kesalnya. "Ayo, sebaiknya kamu mandi. Aku siapkan dulu pakaian kantormu," kata Quin.


Ia pun beranjak dari sofa lalu meninggalkan Damar yang masih menatapnya.


Sesaat setelah berada di walk in closet ia memilih setelan jas berwarna hitam, rose bros dan arloji seperti biasanya. Setelah itu ia menghampiri etalase miniatur mobil dan motor balap yang berjejer rapi di ruangan itu.


"Hobi mahal, kapan aku bisa menyaksikan dia balapan?" desis Quin. "Ck ... sebaiknya jangan, itu sama saja bikin senam jantung," sambungnya lalu keluar dari ruang ganti itu.


Karena masih merasakan kepalanya pusing, akhirnya ia memilih berbaring di ranjang sambil menunggu Damar


Selang beberapa menit, Quin malah tertidur. Sedangkan Damar yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung ke walk in closet.


Setelah mengenakan setelan, arloji dan menyematkan bros di jas yang telah disiapkan Quin untuknya, Damar kembali ke kamar lalu menghampiri Quin.


"Pasti kepalanya masih sakit," desis Damar seraya mengecup keningnya lalu memperbaiki posisi tidur gadis itu. "Tidurlah, aku berangkat ke kantor ya," pamitnya walau Quin tak mungkin mendengarnya.


Setelah mengenakan sepatu, Damar kemudian bergegas meninggalkan kamar menuju halaman parkir rumahnya.


Sesaat setelah berada di dalam mobil, ia menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Sudah jam delapan?" desisnya lalu menyalakan mesin mobilnya meninggalkan rumah menuju kantornya.


Dalam perjalanan, Damar tampak menyeringai.


"Mama pasti akan ke rumah," tebaknya. "But, ignore it. Soalnya mama sudah nggak bisa masuk sebebas dulu," sambungnya lalu terkekeh.


Damar sudah bisa memastikan dan membayangkan wajah kesal sang mama ketika tidak bisa mengakses smart lock pintu rumahnya.


...****************...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜