
Lima belas menit kemudian ...
Damar yang baru saja selesai membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa potongan rambut dan brewoknya, menatap lekat dirinya di depan kaca kamar mandi Quin.
"Ternyata dia berbakat juga jadi penata rambut," desis Damar sambil tersenyum. Ah sudahlah, karena sudah terlanjur seperti ini, seterusnya aku akan tampil jadi diriku sendiri," desisnya lagi.
Setelah itu, ia pun keluar dari kamar mandi lalu meneliti seisi ruangan kamar Quin yang di dominasi warna putih dan abu. Tampak begitu rapi, bersih dan wangi.
"Benar-benar gadis perfect," pujinya dengan senyum yang kini kembali terukir di wajahnya. "Bay the way, di mana dia?"
Ia pun melangkah keluar dari kamar itu. Saat berada di ruang tamu ia mendapati Quin masih berdiri di dekat jendela kaca besar ruangan itu.
Perlahan ia menghampiri gadis itu yang tampak tak menyadari kehadirannya di belakangnya.
"Mikirin apa sih?" bisiknya yang tanpa izin langsung memeluk Quin dari belakang.
Sontak saja ulahnya itu membuat Quin terlonjak kaget hingga nyaris membuat jantungnya terasa ingin copot.
"Damar!!! Kamu apa-apaan sih?!! Bikin kaget saja," kesalnya lalu melepas kedua tangan besar yang melingkar di perut ratanya.
Damar terkekeh lalu memutar tubuh Quin menghadapnya. "Maaf ... kaget ya," ucapnya lalu tersenyum.
"Jelaslah aku kaget..Jantungku serasa ingin copot," jawabnya dengan kesal. "Tunggu sebentar ya, Al masih dalam perjalanan ke sini membawa setelan jas untukmu," jelas Quin.
"Lama-lama juga nggak masalah," sahut Damar.
Quin memutar bola matanya dengan malas lalu meninggalkannya. Ia memilih masuk ke dalam kamar lalu menyalakan TV.
Sedangkan Damar, ia memilih berdiri di depan kaca besar itu sambil mengamati kesibukan kota J dari balik kaca jendela itu.
Sedetik kemudian, ia kembali meneliti seisi ruangan apartemen Quin yang tampak elegan, bahkan semua pernak pernik di ruangan itu tertata dengan rapi.
"Terlihat sangat elegan," desisnya hingga ekor matanya tertuju pada sebuah pigura besar foto keluarga gadis itu. Damar pun menghampiri pigura itu lalu menatapnya lekat.
"Jadi mamanya asli orang Jepang? Pantasan saja dia sangat menyukai kota itu," ucap Damar. Ia langsung teringat peristiwa sebulan yang lalu ketik berada di kota Osaka. "Jika musim gugur nanti, aku ingin mengajaknya ke sana."
Damar terus meneliti ruangan itu dari satu sudut ke sudut yang lain dan berakhir kembali di kamar Quin.
Bibirnya kembali melengkung membentuk sebuah senyuman menatap Quin.
"Bukannya dia yang nonton tapi TV yang menonton dirinya. Benar-benar ya," desisnya. Ia menghampiri gadis itu lalu duduk di sisi ranjang lalu menatap kemudian mengelus wajahnya.
"Quin," panggilnya, namun Quin tak merespon. "Quin," panggilnya lagi namun tetap sama ia tak menjawab.
Ting ... tong ... ting ... tong ...
Bunyi bel pintu terdengar berbunyi beberapa kali. Karena merasa tak tega membangunkan Quin akhirnya Damar segera keluar dari kamar dan menghampiri pintu lalu membukanya.
"Al," sebutnya. Namun yang di sapa hanya diam dan tertegun menatap Damar yang hanya mengenakan handuk.
Tik ... tik ... tik ...
Damar menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Al sambil terkekeh.
"Al, kamu kenapa? Ayo masuk?" ajaknya.
"Ah ya," ucapnya dan merasa canggung. "Apa benar dia Damar? Buset cakep amat. Apa mereka berdua .... ah, Al kamu mikirin apa sih?!"
Batinnya menerka-nerka dan otaknya langsung traveling ke mana-mana membayangkan tubuh sempurna pria itu.
Al langsung masuk ke kamar Quin sambil menenteng paper bag.
"Quin!!! Wake up!!" pekiknya lalu mencubit pahanya.
Ulahnya itu sontak membuat Quin kaget dan langsung mendudukkan dirinya.
"Al!!! Kamu apa-apaan sih?!!" kesalnya sambil mengusap bekas cubitan sahabatnya itu di pahanya.
"Bwhahahahah," tawa Al langsung pecah menatap wajah kesal Quin. Sedetik kemudian ia duduk di samping Quin lalu berbisik, "Wah Quin, apa kalian habis ...." ucapannya langsung terpotong karena Quin mencapit bibir sahabatnya itu.
"Jangan pikir yang aneh-aneh deh, Al. Aku dan Damar nggak ngapa-ngapain. Lagian nih ya, siapa juga yang mau dengan pria player sepertinya. Kebayang nggak, jika terong import nya itu sudah keluar masuk ke lorong-lorong keramat wanita pemuas ranjangnya. Ihh ... jijay tahu," kata Quin.
"Pppfff ... Quin ... bwhahahahaha."
Lagi-lagi tawa Al langsung pecah memenuhi kamar itu. Sama halnya Al, Quin juga tak bisa menahan dirinya untuk tertawa, hingga membuat Damar keheranan menatap kedua sahabat itu.
"Quin ... Al ... kalian kenapa?" tanya Damar.
"Nggak apa-apa," sahut Quin.
"Coba perhatikan terong import nya, Quin," goda Al dan langsung mendapat jitakkan dari Quin.
"Dasar mesum," balasnya masih sambil tertawa.
Setelah puas tertawa, Quin meraih paper bag yang tergeletak di samping Al lalu segera beranjak dari ranjangnya.
"Thanks ya, Quin. Sebentar ... aku pakai celananya dulu," kata Damar.
Quin hanya mengangguk sambil memegang kemeja berwarna putih. Sedangkan Al ia hanya menjadi penonton saja.
Setelah celananya terpasang sempurna, Quin membantunya memakaikan kemeja putih itu di tubuh tegap atletis Damar lalu memasang kancingnya satu persatu.
Lagi-lagi Damar seolah tak ingin mengalihkan tatapannya dari wajah Quin. Bahkan senyumnya terus mengembang di wajah tampannya.
Lupa jika dikamar itu masih ada Al, lagi-lagi Damar mengelus wajah mulus Quin lalu menangkupnya. Perlahan mendekatkan wajahnya dan ingin melu*mat bibir gadis itu namun gagal karena deheman Al.
"Ehem ... ehem ..."
"Ah sh*it!! Again?
Baik Quin dan Damar seketika menoleh ke arahnya yang terlihat sedang senyam senyum menatap keduanya.
"Nggak tahu apa? Jika di kamar ini bukan cuman kalian berdua. Aku mau kalian ke manakan?" protesnya sambil menaik turunkan alisnya dengan senyum jahil.
Quin kembali menatap Damar lalu memukul dadanya. "Ini semua gara-gara kamu," kesal Quin. "Pasti Al sudah berpikir yang tidak-tidak. Ngeselin banget," omelnya.
Damar hanya terkekeh mendengar Omelan asisten pribadinya itu.
Setelah itu, Quin kembali membantunya memakaikan jas sebagai pelengkap penampilannya. Begitu selesai, Quin mendur dua langkah kebelakang lalu menatapnya kemudian membentuk bingkai jarinya.
"Ok ... sempurna Mr. Bre ...." ia menahan ucapannya lalu mengulas senyum. "Nggak ... bukan Mr. Brewok lagi tapi Mr. Hansome," lanjut Quin sambil terkekeh.
Damar hanya menggelengkan kepalanya mendengar kalimat Quin. Sedangkan Al, ia hanya bisa melongo hingga encesnya hampir jatuh.
"Awas, ilernya jatuh. Sampai segitunya ya, kamu mengaguminya," tegur Quin sambil tertawa saat melirik sahabatnya itu.
Al langsung mengusap bibirnya. Merasa sedang di kerjai, ia langsung melempar Quin dengan bantal sambil menggerutu kesal.
"Sialan kamu Quin."
Quin balik melemparnya dengan tawa yang semakin pecah.
"Emang enak dikerjain," balasnya.
Setelah itu ia menghampiri Damar. "Kembalilah ke kantor," kata Quin. "Kita akan bertemu lagi di rumah."
"Berjanjilah jika kamu akan pulang ke rumah nanti," kata Damar.
"Ok, aku janji, Tuan," balas Quin. "Ayo aku antar sampai ke depan pintu," ajaknya sambil memeluk lengannya.
Dengan senang hati, Damar menurut.
"Quin ... rasanya aku nggak rela jika kontrak kita akan segera berakhir. Aku merasa waktu semakin cepat berlalu," ucapnya dalam batinnya.
"Aku berangkat ya," pamitnya seraya mengelus pipi mulus Quin.
"Iya, kamu hati-hati ya. Semangat," ucap Quin dan Damar menjawab dengan anggukan kepalanya.
Setelah itu, ia pun berlalu meninggalkan Quin.
Sepeninggal Damar, ia kembali ke kamar lalu merebahkan dirinya di samping Al.
"Quin ..."
"Hmm ..."
"Jika aku perhatikan, sepertinya Damar sangat menyukaimu," celetuk Al.
"Cih ... but i'm not interested. Jika kamu mau, ambil saja," kata Quin. "Bukankah tadi kamu menatap mendamba padanya? Sampai-sampai ngeces, hahhahaha. Silakan berfantasi liar dengannya," saran Quin menggoda sahabatnya itu.
"Never," protes Al.
"Then?" tanya Quin.
"Aku lebih tertarik pada Adrian," jawabnya cepat.
"What!!! Beneran?!!" pekik Quin.
"Menurut mu? Ya beneranlah, Quin" jawab Al lagi.
"Bwhahahahaha ... tampaknya kalian memang serasi. Adrian orangnya kaku, sedangkan kamu cerewet," tutur Quin sekaligus mendukung. "Jika kalian menikah, aku yang akan menjadi MUA-mu sekaligus designermu," dukung Quin.
"Really?! Thanks ya, Quin." Al merasa terharu.
...****************...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ
Author juga ingin mengucapkan Selamat hari guru untuk semua guru. Tanpa kalian kami bukanlah apa-apa. Tetap semangat dalam berbagi ilmu.πππ