
Ketika Kim duduk di pangkuannya, Damar hanya menyeringai tipis lalu menatap nakal tubuh gadis itu lalu menghembus asap rokoknya dengan pelan.
"I miss you so much, Damar," bisiknya tepat di telinga Damar seraya melingkarkan kedua tangannya di punggung pria tampan itu.
"Oh ya?"
"Yes."
Sayangnya itu sudah nggak berlaku padaku. Karena yang menempati hatiku sekarang adalah Quin.
Kim mulai membelai wajah Damar bahkan kini merubah posisi duduknya berhadapan dengan Damar dan otomatis memperlihatkan belahan dua buah kenyal padatnya di depan wajah Damar.
Damar hanya mengulas senyum dan kembali menyesap rokoknya lalu menghembusnya ke wajah Kim.
"Uhuk ... uhuk .. uhuk ..." Gadis itu terbatuk oleh ulah Damar. Ia pun langsung beranjak dari pangkuan Damar dan sedikit merasa kesal.
"Kamu apa-apaan sih, Damar," kesalnya.
"Ppppffff ... hahahaha ... sorry," ucapanya tanpa dosa lalu berdiri dari kursi kebesarannya sambil tertawa puas. "Well ... ada apa, Kim?" tanya Damar lalu kembali menyesap rokoknya yang terakhir setelah itu ia mematikan apinya.
Kim hanya menatapnya dari ujung kaki hingga kepala. Seketika keningnya bertaut memperhatikan penampilan Damar yang jauh terlihat rapi dan elegan.
Bahkan outfit kantornya begitu serasi ditubuh tegapnya, brewok tipis dan rapi semakin menambah kesan macho pada pria itu.
Ia pun mendekati Damar dan sengaja menempelkan dua gundukan padatnya ke dada Damar.
"Apa kamu merindukan pergulatan panas kita?" goda Damar lalu menyesap leher jenjang Kim sambil menaikkan sebelah kaki jenjang gadis itu.
"Damar?" desis Kim, mulai terpancing karena Damar mulai meremas dua gundukan padatnya.
Damar hanya tersenyum nakal bahkan terus meningkatkan libido gadis itu hingga nafasnya terdengar mulai memburu bahkan mengeluarkan desa*han kecil.
Setelah merasa puas membuat hasrat Kim menggebu, perlahan Damar melepasnya lalu kembali duduk di kursinya.
Sedangkan Kim, ia begitu kesal saat Damar malah melepasnya setelah hasratnya kini sudah berada di ubun-ubun.
"Oh ya, Kim. Maaf mungkin lain waktu saja kita bercinta," ucap Damar dengan santainya lalu tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya pada Kim.
Setelah itu ia pun beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri Kim. Ia membelai wajah gadis itu lalu mendekatkan bibirnya.
Saat Kim membuka mulutnya, Damar malah menjauhkan bibirnya lalu mengulas senyum seraya berbisik, "Not for this time, Baby."
Lagi-lagi Kim merasa begitu kesal karena seolah dipermainkan.
"Aku harus bertemu klien sekarang. Kita bisa melakukannya di lain waktu, Ok," sambung Damar lalu meninggalkannya di ruangan itu tanpa dosa.
Mendengar ucapan Damar, Kim mengepalkan keduanya karena begitu kesal sudah dipermainkan oleh Damar.
Sedangkan Damar yang kini berada di luar, tersenyum puas setelah berhasil mengerjai ex kekasihnya itu.
Karena tidak ingin diganggu, ia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu lalu menuju lift. Karena terlanjur membuatnya bad mood, Damar memutuskan meninggalkan tempat itu.
"Haaah, sebaiknya aku pulang saja. Daripada terus berada di sini. Urusan meeting dengan Angga, aku serahkan saja pada Adrian," gumamnya dengan seringai tipis.
Sesaat setelah berada di dalam mobil, ia menghubungi Adrian. Hanya di deringan pertama asistennya itu langsung menjawab panggilan darinya.
"Ya, Tuan."
"Adrian, aku mau kamu yang menemui Angga," perintah Damar. "Katakan saja padanya jika aku masih ada urusan dengan klien yang lain."
Adrian hanya bisa pasrah lalu menghela nafasnya.
"Baik, Tuan," sahutnya. Setelah itu ia pun memutuskan panggilan.
Lagi-lagi Damar hanya tersenyum sinis mengingat raut wajah Kim yang terlihat sangat menikmati sentuhannya. Bahkan sampai mende*sah.
"Akan aku buat dirimu semakin menggila, namun saat hasratmu menggebu dan mulai merasa berada di awang-awang maka aku akan kembali menghempasmu," sinis Damar sambil menyeringai.
Ia kembali menghubungi Adrian. Adrian yang sedang sibuk dengan laptopnya kembali melirik benda pipih yang bergetar.
"Ada apa dengan si boss hari ini?! gumamnya lalu segera menjawab panggilan itu.
"Ya, Tuan."
"Rian, jika mamaku bertanya tentang keberadaanku, bilang saja aku sedang bertemu klien," pesannya.
"Baik, Tuan. Apa masih ada?"
"Nggak hanya itu," sahut Damar dari seberang telepon. Setelah itu ia kembali memutuskan panggilan dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju kediamannya.
Di pertengahan jalan, Damar terlebih dulu mampir ke salah satu restoran untuk membeli makanan. Setelah memesan dan menunggu selama beberapa menit, akhirnya makanan pesanannya pun di antar.
"Tuan, ini makanan pesanan Anda," kata pelayan restoran.
"Ok ... thanks ya," ucapnya lalu membayar makanan pesanannya. Setelah itu ia kembali melanjutkan perjalanannya menuju kediamannya.
Setelah kurang lebih hampir empat puluh menit mengendara, akhirnya ia pun tiba di kediamannya.
Senyumnya terus mengembang membayangkan wajah Quin. Setelah menekan password ia kemudian masuk ke dalam rumah dan kembali menutup pintu.
"Kok sepi banget ya? Apa Quin masih tidur? Atau sudah ke butik? Tapi semalam, di sempat mengatakan jika nggak buka butiknya?"
Ia meletakkan paper bag itu di atas meja makan lalu kembali menapaki anak tangga menuju kamarnya.
Ketika membuka pintu kamar, ia langsung tersenyum saat mendapati Quin masih saja tertidur.
Perlahan ia menghampiri ranjang lalu duduk di sisinya. Menatap,mengelus lalu mendaratkan kecupan di kening dan bibir gadis itu tanpa permisi.
"Hehehe ... mumpung dia lagi nggak sadar. Jika dia sadar pasti raut wajah ini akan terlihat kesal dan bibir ini akan memprotes," gumamnya sambil mengelus wajah dan bibir Quin.
"Quin," panggil Damar. "Quin." Damar kembali memanggilnya sambil mengelus pipinya. "Hei ... come on wake up," kata Damar dengan seulas senyum.
"Damar," desis Quin sambil menahan jemarinya yang masih menempel di pipinya. Perlahan ia membuka matanya lalu menatapnya.
Damar mengulas senyum. "Ini sudah hampir jam dua belas siang," bisiknya.
"What?!" kaget Quin. "Are you serious?"
"Yes ... look at that clock." Damar mengarahkan dagunya ke arah jam dinding.
"Maaf, soalnya kepalaku agak pening," sesal Quin lalu merubah posisinya menjadi duduk. Sedetik kemudian ia memeluk Damar dan membenamkan wajahnya ke ceruk lehernya.
"Maaf," ucapnya. "Tumben kamu pulangnya cepat," sambung Quin.
"Nggak apa-apa, lagian semua urusan kantor hari ini aku serahkan pada Rian," balas Damar. "Quin."
"Hmm ... katakan saja apa yang ingin kamu katakan. Biarkan aku memelukmu seperti ini sebentar," imbuhnya.
Hening sejenak, bahkan Damar sangat menikmati pelukan erat gadis itu yang sesekali memainkan kancing kemejanya.
Setelah merasa puas memeluk Damar, barulah Quin melepas dekapannya.
"Sudah puas?" tanya Damar dan dijawab hanya dengan anggukan kepala.
"Apa kamu akan kembali ke kantor lagi setelah ini?"
"Nggak ... aku hanya ingin berdua saja denganmu tanpa ada yang menganggu," aku Damar dengan seulas senyum.
...****************...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasiH... πβΊοΈπ