101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 85



Sudah dua minggu Quin berada di kota J. Selama itu juga pulalah, ia benar-benar sangat mengkhawatirkan keadaan Damar karena setiap pagi pria itu mengalami morning sickness.


Belum lagi permintaannya yang menginginkan makanan hasil dari olahan tangannya sendiri. Cukup membuatnya repot dan uring-uringan.


Namun demi sang buah hati, ia tetap menuruti semua permintaan calon ayah bayinya itu. Belum lagi jika ia harus menuruti kemauannya jika ingin makan di tengah malam. Sungguh sangat membuatnya terheran-heran.


********


Seperti yang terjadi pagi ini, ia terus memijat tengkuk Damar karena sejak tadi pria itu kembali mengalami morning sicknes.


Entah ia harus bagaimana bahkan ia sendiri bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya dan Damar. Namun di sisi lain ia sekaligus bersyukur.


Ia tak bisa membayangkan jika ia yang mengalami apa yang di alami oleh Damar saat ini.


"Quin," lirihnya sambil memegang perutnya yang masih terasa mual.


"Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Quin sembari mengelus punggungnya.


Damar menggelengkan kepalanya lalu mencuci muka dan berkumur-kumur. Sedetik kemudian ia berbalik lalu menangkup wajah Quin.


"I don't need anything, i just need you, Quin," bisiknya lalu merengkuh tubuh gadis itu.


Quin bergeming dalam rengkuhannya dengan mata berkaca-kaca.


"Udah ... sebaiknya kamu segera mandi," bisik Quin.


Dengan patuh Damar menurut. Setelah itu, Quin keluar dari kamar mandi lalu ke walk in Closet untuk menyiapkan pakaian kantor Damar.


Ketika berada di ruang ganti itu, Quin meneliti seluruh isi ruangan.


"One hundred and one day to be your partner," lirih Quin lalu mengulas senyum tipis. "Aku nggak menyangka di hari terakhir itu kita sampai khilaf," desisnya. "Dan one night stand itu malah menghadirkan malaikat kecil di rahimku."


Tiga puluh menit berlalu ...


Setelah memakaikan jas Damar, Quin mengelus dadanya sambil menatap wajahnya dengan lekat.


"Aku akan sangat merindukan wajah ini nantinya," lirih Quin dalam hatinya. Ia kembali memeluk tubuh tegap Damar dengan perasaan sendu.


"Ada apa? Selama seminggu terakhir sikapmu berubah menjadi manja," kata Damar sekaligus senang.


"Bukan aku, tapi itu keinginan calon bayi kita," jawab Quin dalam hatinya.


Hening sejenak sebelum akhirnya bel pintu berbunyi. Quin langsung mendongak menatapnya.


"Damar," lirihnya.


"I'ts Ok ... biarkan saja, itu pasti mama," sahut Damar. "Biar aku buka pintunya," cetusnya.


Namun Quin menahan tubuhnya. Ia tidak ingin terjadi perdebatan lagi dia antara anak dan mama itu.


"Biar aku saja yang membuka pintu, sekalian memberi alasan jika aku ke sini hanya mengantar pakaian pesanan mu dari butik," cetus Quin.


"But Quin ..."


"Nggak apa-apa, tenang saja semuanya akan baik-baik saja," kata Quin yang tahu apa yang sedang Damar pikirkan dan khawatirkan.


Setelah itu, Quin meninggalkannya di kamar lalu segera menuruni anak tangga menghampiri pintu utama lalu membukanya.


Dan benar saja tebakan Damar, jika yang sedang memencet bel pintu adalah sang mama. Tak sendirian tapi berdua dengan suaminya.


Quin sedikit bisa bernafas lega karena ada tuan Alatas. Dengan seulas senyum ramah Quin menyapa Keduanya.


Bukannya membalas senyumannya, nyonya Zahirah malah bertanya dengan nada ketus.


"Sedang apa di sini?!"


"Maaf, Nyonya, saya hanya mengantar pakaian pesanan putra Anda," bohong Quin. "Maaf ... Nyonya , Tuan, saya sekalian pamit karena harus ke butik sekarang," pamit Quin sembari membungkuk tanda hormat.


Tuan Alatas hanya mengangguk sementara nyonya Zahirah sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah.


Sepeninggal Quin, tuan Alatas ikut menyusul sang istri untuk menemui Damar.


"Mah, Pah," sapa Damar sesaat setelah langkah kakinya menapak di lantai satu.


"Damar," sahut sang mama dan papanya. "Apa kamu sakit? Wajahmu kok pucat begini?" tanya nyonya Zahirah dengan perasaan cemas.


"Apa kamu punya untuk malam nanti?" tanya mamanya.


"Come on, Mah ... jika ini tentang perjodohan, aku nggak mau membahasnya. Biarkan aku menentukan pilihan dan jalanku sendiri," sarkas Damar yang seolah tahu niat mamanya.


Damar melirik arloji di pergelangan tangannya lalu menatap mamanya kemudian memeluknya.


"Maaf Mah, aku sudah telat. Aku ada rapat penting hari ini dengan klien dari luar negeri," bisik Damar. "Maaf ... jika sikapku selalu membuat mama emosi," lirihnya lalu mengurai pelukannya dari sang mama.


Ia pun melangkah menghampiri papanya dan memberikan pelukan yang sama seperti sang mama.


"Pah, aku mencintai Quin dan akan menikahinya. Jika mama nggak memberi restunya, aku mohon Papa memberikan restu Papa untuk kami berdua," lirih Damar.


Mendengar ungkapan yang keluar dari bibir Damar, tuan Alatas hanya mengangguk sembari mengelus punggung tegap putranya.


"Papa nggak masalah, Nak. Kamu berhak memilih dan menentukan pendamping hidupmu. Papa janji akan membujuk mama," balas tuan Alatas lalu melepas pelukannya kemudian tersenyum.


Sedangkan nyonya Zahirah yang berada tak terlalu jauh, hanya bisa menatap heran suami dan anaknya. Entah mengapa ucapan Damar barusan, membuatnya bingung.


Sepeninggal Damar, tuan Alatas mengajak istrinya duduk di ruang tamu. Sesekali ia meneliti setiap sudut ruangan milik sang putra yang sama sekali tidak berubah.


"Mah ... sepi ya?" kata tuan Alatas sesaat setelah mendaratkan bokongnya di sofa.


Nyonya Zahirah hanya diam dan ikut duduk di sampingnya.


"Andai saja Damar sudah menikah dan memiliki anak, rumah ini pasti rame dengan suara cucu-cucu kita," sambung tuan Alatas lalu mengulas senyum membayangkan seorang cucu hadir di tengah-tengah mereka.


"Sayangnya Damar belum mau menikah. Bahkan di usianya yang sudah menginjak tiga puluh satu tahun, dia masih saja enggan menikah. Padahal mama sudah beberapa kali ingin menjodohkan dirinya tapi dia selalu menolak," jelas nyonya Zahirah.


"Menurut papa, biarkan saja dia memilih wanita pilihannya sendiri. Daripada dijodohkan dan ujung-ujungnya berakhir pisah itu sangat disayangkan," kata tuan Alatas.


Nyonya Zahirah hanya bergeming. menelaah ucapan suaminya yang ada benarnya. Jauh dalam sudut hatinya, ia juga sangat ingin menimang cucu.


.


.


.


Siang harinya ...


Di butik, Quin, Gisha Jihan dan Al tampak sedang menyantap makan siang bersama di selingi obrolan kecil.


Saat asik bercanda dan mengobrol, suara yang begitu tak asing baginya menyapa gendang telinganya.


Seketika Quin mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara lalu menghentikan makannya.


"Papa," lirihnya. Pria yang selalu ia hindari bahkan enggan bertemu karena masih merasa sakit hati, kini kembali menyapanya.


"Apa papa bisa bergabung?" tanya pak Pranata.


Seketika mereka yang ada di ruangan itu langsung mengiyakan permintaan papa dari Quin itu.


Sebenci-bencinya ia pada sang papa, jauh dalam sudut hatinya, ia tak bisa berbohong jika ia merindukan papanya itu.


Setelah Quin mengangguk barulah pak Pranata menghampirinya lalu duduk di sampingnya dan mengecup kepalanya.


"Sayang, bagaimana kabarmu, Nak," tanya pak Pranata.


"Papa?" lirih Quin lalu memeluk pak Pranata dengan mata berkaca-kaca. "Seperti yang Papa lihat, aku sehat dan baik, Pah," lirihnya lagi.


"Papa merindukan kalian. Juna, Ayumi dan Yura. Maafkan papa karena membuat kalian kecewa," lirih pak Pranata.


Dalam dekapan sang papa, Quin hanya mengangguk dan menangis. Pelukan hangat dari sang papa yang sudah lama tak ia rasakan kini bisa ia rasakan lagi hari ini.


Al, Gisha dan Jihan yang masih berada di tempat itu ikut terharu menatap keduanya. Baru kali ini mereka melihat Quin begitu tulus memeluk papanya dan berbicara lembut.


Biasanya, jangankan berbicara lembut ia bahkan terkesan menghindar dan berbicara ketus. Dan seolah tak menganggap papanya ada.


Dari arah pintu butik, Damar dan Adrian yang sejak tadi berdiri di tempat itu, hanya menjadi penonton. Sedetik kemudian ia mengulas senyum sekaligus merasa senang menatap anak dan bapak itu saling berpelukan.


...****************...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜