
Setibanya di kediamannya, Damar langsung membawanya masuk ke dalam kamarnya. Setelah membaringkan Quin, ia menatap lekat wajah gadis itu lalu mengelus pipinya.
"Maaf, aku tinggal sebentar. Aku harus mencari bed partner malam ini. Gara-gara kamu, hasratku ikut terpancing," desisnya yang seolah ingin melahap Quin detik itu juga.
Ia pun menyelimuti Quin lalu mematikan lampu kamar dan menyisakan lampu tidur.
"Have a nice dream, Honey," bisiknya lalu mengecup kening dan bibir gadis itu. Sedetik kemudian Damar terkekeh menyebut kata Honey yang awal mula tercetus begitu saja dari Quin. Bahkan saat gadis itu memanggilnya dengan sebutan sayang itu terdengar begitu manja.
"Terima kasih, kehadiranmu membuat hatiku selalu menghangat dengan sikap dan perlakuan mu padaku. Aku ingin berharap lebih dari sekedar asisten pribadimu. Bisakah kamu membuka hatimu untukku?" tanya Damar sambil menatap wajah Quin di bawah cahaya temaram.
Setelah itu, ia pun meninggalkan kamar lalu menuruni anak tangga menuju mobilnya. Tujuannya saat ini adalah ke salah satu club malam ternama milik sahabatnya.
Sementara, Al dan Adrian yang masih dalam perjalanan tampak sedang mengobrol.
"Rian, apa Damar bisa dipercaya?" tanya Al mencemaskan sahabatnya itu.
Adrian terkekeh. "Jangan khawatir Al, Damar pasti bisa dipercaya," jawab Adrian dengan santainya.
"Aku hanya takut jika sampai Damar mengambil kesempatan dalam kesempitan," celetuk Al lalu melirik Adrian.
"Tenang saja Al, jika pun terjadi sesuatu di antara mereka, Damar pasti bertanggung jawab," kata Adrian lagi dengan santai.
"Semoga saja," lirihnya. "Oh ya, daripada kita langsung pulang, gimana jika kita cari hiburan dulu di salah satu club' malam," cetus Al.
"Boleh juga," sahut Adrian. "Gimana jika kita ke Bautista Club'," cetus Adrian.
"What?! Itu kan salah satu club' malam elit di kota ini," pekik Al.
"Hmm, tenang saja ownernya sahabat tuan Damar. Lagian tuan juga salah satu pemegang saham di club' malam itu," jelas Adrian.
"Woahh ... amazing," desis Al. Adrian hanya terkekeh mendengar Al.
********
Di club' malam tempat Angga berada saat ini, sejak tadi ia terus menenggak minumannya sambil membayangkan Quin dan Damar.
"Damn!!! Mereka pasti sedang making love saat ini," pikirnya. Tangannya langsung terkepal karena emosi.
Plak ...
Seseorang menepuk punggungnya. "Ada apa, Bro," tegur Dennis.
Ia hanya menggelengkan kepalanya dan malas menjawab.
"Angga, apa aku nggak salah lihat tadi?" kata Dennis membuka obrolan. "Maksudku Quin dan Damar," lanjutnya.
Angga bergeming. Sedetik kemudian Dennis mengerutkan keningnya. "Apa kamu dan Quin ..."
"Ya, Quin memutuskan pertunangan kami," sahut Angga sekaligus menyambung kalimat temannya itu.
"What!! Serius?!" pekiknya tak percaya.
"Menurutmu?! kesal Angga lalu kembali meneguk sisa minumannya.
"Bwhahahaha ..." tawa Dennis langsung pecah sambil memukul-mukul meja bartender. "Angga, pasti kamu sudah melakukan hal yang sangat fatal," tebak Dennis.
Angga bergeming seolah membenarkan ucapan Dennis. Ia menghela nafas seolah merasa frustasi.
Tak lama berselang, Kinar menghampiri keduanya.
"Hai, Den, Angga ... apa aku bisa bergabung?"
Angga langsung menyeringai penuh arti saat Kinar duduk di sampingnya. "Sendiri saja? Biasanya bareng teman kamu," cecar Angga.
"Menurutmu?"
Angga mengangkat bahunya lalu menyesap rokoknya dalam-dalam. Sejenak ia memejamkan matanya lalu membayangkan wajah Quin.
"Dengan cara apa lagi aku harus membuatnya takluk. Sial!! Gara-gara Kinar, hubunganku dan Quin harus berakhir ngenes seperti ini," gumamnya dalam hati.
"Butuh teman tidur malam ini?" bisik Kinar tepat di telinga Angga dengan nada sensual dan jangan lupa tangannya yang kini sedang meraba pahanya.
Angga menyeringai, pikirnya untuk apa menolak jika ia sedang ditawari kembali menikmati surga dunia bersama gadis itu.
"Jika itu inginmu aku nggak akan menolak," balas Angga. Apalagi saat ini ia sedang dalam pengaruh minuman keras.
Sedangkan Dennis seolah tak memperdulikan keduanya dan terlihat santai.
"Pantasan saja Quin berpaling darimu. Tapi baguslah, berarti aku punya kesempatan mendekati Quin," gumam Dennis lalu lanjut meneguk minumannya.
*
*
*
Setelah dua tahun lebih absen dari hingar bingar keriuhan club' malam, ini pertama kalinya selama pasca sembuh, Damar menginjakkan kakinya ke Club itu.
Seketika club' itu semakin riuh dengan kehadiran dirinya. Suara teriakkan histeris para gadis penikmat dunia malam seketika menambah keriuhan club' itu bersamaan dengan dentuman musik hip hop yang sejak tadi dimainkan DJ club'.
Mendengar teriakkan histeris gadis-gadis di clubnya, Bautista langsung mengarahkan pandangannya ke depan mencari tahu sosok itu.
Saat tahu siapa yang membuat gadis-gadis itu histeris, senyum Bautista langsung mengembang sempurna lalu segera menghampiri sahabatnya itu.
"Damar, kenapa nggak mengabariku jika kamu sudah kembali?" bisiknya lalu memeluk sahabatnya itu.
Damar terkekeh lalu merangkul sahabatnya naik ke lantai dua.
"Tista, i need bed partner," ucapnya langsung to the poin sambil membayangkan wajah Quin.
"Dasar!! Masih saja nggak berubah," ledek Tista lalu meninju lengannya.
Tak lama berselang, seorang gadis blasteran menghampiri keduanya.
"Damar?! Apa itu kamu?" tanya gadis itu dengan sembringah lalu memeluknya tanpa permisi.
"Menurutmu?! sahut Damar tanpa membalas pelukan gadis itu. Hillary, itulah namanya. Gadis yang masih tergila-gila padanya.
"Good ... malam ini kamu harus melayaniku. Quin, gara-gara kamu aku terpaksa melampiaskan hasratku pada wanita lain. Jika nggak mengingat, aku pasti sudah menerkammu," gumamnya dalam hati lalu melirik sahabatnya memberi isyarat.
Seakan mengerti, Tista memberi isyarat kepada bartender untuk membawa minuman.
"Apa kamu butuh bed partner malam ini?" bisik Hillary lalu menggigit kecil telinga Damar. "Sudah lama kita nggak making love."
"Aku nggak akan menolak," balas Damar sambil meraba paha gadis itu yang kini duduk di atas pangkuannya. "Pu*askan aku malam ini. Sudah lama sekali aku nggak mencicipi ini," bisiknya sambil menunjuk titik-titik sensitif gadis itu lalu melu*mat bibirnya.
Tista hanya menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan liar sahabatnya itu lalu meninggalkannya dan memilih kembali ke lantai satu.
Sebelum membawa Hillary ke kamar, ia memilih menenggak beberapa gelas minuman dengan kadar alkohol lima puluh persen. Setelah merasa cukup, ia mengajak Hillary ke kamar tempat biasa mereka bergulat panas mengguncang ranjang.
Meninggalkan Damar dan Hillary, Adrian dan Al baru saja tiba. Namun keduanya langsung mengerutkan kening mendapati mobil Damar terparkir di antara mobil-mobil mewah yang berjejer rapi di parkiran club'.
"Rian, perasaanku kok jadi nggak enak begini ya," desis Al merasa getir memikirkan Quin.
"Sama," balas Adrian. Pikirnya bukan tidak mungkin Damar berbuat nekat. "Al sebaiknya kita ke kediaman tuan Damar dulu, demi memastikan dia sudah mengantar Quin," cetus Adrian sambil memundurkan mobilnya dan kembali meninggalkan tempat itu.
*********
Setibanya Adrian dan Al di kediaman Damar, Adrian menekan password pintu lalu membukanya.
Dengan tidak sabaran, Al langsung berlari kecil menuju anak. Setibanya ia di depan pintu kamar Quin ia langsung membukanya.
"Nggak ada?!" desisnya semakin khawatir. "Damar, jika sampai kamu melakukan sesuatu pada Quin, aku pun nggak akan pernah memaafkanmu," lirih Al.
"Al, bagaimana?" tanya Adrian yang baru saja tiba lalu menghampirinya.
"Quin, nggak ada di kamarnya," kata Al dengan perasaan getir
"Sebentar, coba kita cek di kamar sebelah," cetus Adrian dan dijawab dengan anggukan kepalanya.
Keduanya menghampiri kamar Damar lalu memutar handle pintu kemudian menyalakan lampu.
Keduanya langsung menghela nafas merasa lega setelah mendapati Quin sedang tertidur pulas di ranjang berukuran king size itu.
"Oh God ... sukurlah," ucap Al. "Aku sudah berpikir yang tidak-tidak tadi," akunya lalu menatap Adrian.
"Sama," sahut Adrian. Keduanya langsung tertawa.
"Sebaiknya kita langsung pulang saja, Al. Ini sudah larut," ajak Adrian lalu kembali mematikan lampu kamar.
"Baiklah," sahutnya.
Rencana keduanya yang awalnya ingin mencari hiburan di Bautista Club', sirna seketika gara-gara Damar. Semuanya gatot alias gagal total.
Sementara yang sedang dicurigai oleh mereka, malah sedang asik bergulat panas di kamar club'. πβοΈ
...****************...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ