
Sore harinya pukul 17.00 ....
Quin dan Damar meninggalkan apartemennya dan memilih singgah di taman kota. Seperti biasa, Quin terlebih dulu membeli es boba sebagai teman ngobrol keduanya.
Kini Quin dan Damar duduk bersama di salah satu bangku sambil memperhatikan orang-orang yang ada di taman itu termasuk anak-anak kecil.
Damar mengulas senyum lalu melirik Quin yang tampak begitu senang melihat sekumpulan anak-anak kecil yang sedang asik bermain.
"Quin ... apa kamu menyukai anak-anak?" tanya Damar.
"Sangat ... dan berharap suatu hari nanti aku bisa memilikinya," jawab Quin tanpa mengalihkan pandangannya dari anak-anak kecil itu.
Lagi-lagi sudut bibir Damar membentuk sebuah lengkungan sempurna hingga menampakkan kedua lesung pipinya. Pria tampan itu langsung menggenggam tangan Quin lalu mengecupnya.
"Damar?!" protes Quin.
Damar hanya terkekeh namun enggan melepas genggaman tangannya dari Quin.
"Me too ... tapi aku menginginkan anak darimu," bisik Damar tanpa ragu.
"What?! Pppppffff ... hahaha ..." Quin langsung tertawa merasa lucu. "In your dreams?" kelakar Quin sambil menatapnya.
Damar menggelengkan kepalanya dengan tatapan serius seraya mengelus pipinya dengan sayang.
"Not in my dreams but in your life. Aku serius, Quin," jawabnya dan langsung mendaratkan kecupan yang cukup lama di keningnya.
Quin bergeming dan sejenak memejamkan matanya. Kali ini ia bisa merasakan jika Damar tidak main-main dengan ucapannya.
"Stop it ... kita menjadi tontonan umum," bisik Quin. "Sebaiknya kita pulang sekarang dan bersiap-siap. Sebenarnya kamu ingin mengajakku kencan di mana?" cecarnya lalu menyedot sisa es bobanya.
"Ada deh ... nanti juga kamu bakal tahu," sahut Damar.
Quin hanya mengangkat alisnya lalu beranjak dari bangku, pun begitu dengan Damar. Keduanya akhirnya meninggalkan taman lalu menuju ke arah parkiran.
*
*
*
Setibanya di rumah, keduanya tampak turun dari mobil secara bersamaan. Sesaat setelah berada di dalam rumah, Quin langsung menapaki anak tangga menuju kamar Damar.
Sedangkan Damar, ia memilih ke rooftop untuk merokok sebentar. Ia menghembus asap rokoknya dan tampak termenung.
Entah mengapa ia merasa hari ini waktu berputar begitu cepat. Ia kembali mengingat ucapannya tadi di taman kota. Senyumnya langsung mengembang membayangkan jika ia dan Quin memiliki anak.
"Lord ... aku ingin dia menjadi milikku," desis Damar lalu menengadahkan kepalanya menatap langit yang kini mulai menggelap.
*********
Beberapa jam berlalu tepatnya pukul 19.30, Quin tampak merapikan jas Damar. Setelah itu ia menatapnya sejenak lalu mengulas senyum.
"Perfect," bisik Quin. "Apa kamu sudah siap?"
"Tentu saja, Honey," goda Damar lalu terkekeh. "Quin ... you are so beautiful," puji Damar.
"Gombal berbalut modus," kelakar Quin lalu tertawa.
"Ck ... bisa nggak sih, kamu tanggapi ucapanku dengan serius," protes Damar karena Quin selalu saja menganggapnya gombal.
"Tergantung," sahut Quin.
Damar mendesah pasrah. Mau serius bagaimana pun dirinya, Quin selalu saja menanggapinya dengan candaan.
Setelah itu, ia menggenggam jemarinya lalu mengajaknya meninggalkan kamar menuju halaman parkir.
Ketika keduanya sudah berada di dalam mobil, Quin meliriknya sekilas. Sedangkan Damar tampak mulai melajukan kendaraannya itu menuju ke sebuah restoran Eropa yang sudah ia booking untuk semalam hanya untuk dirinya dan Quin.
Di sepanjang perjalanan Quin hanya bergeming dan sesekali menatap keluar jendela mobil. Ucapan Damar kembali memenuhi benaknya dan sedikit mengusiknya.
Ia mengulas senyum lalu menggelengkan kepalanya lalu melirik Damar. "Kenapa dia tiba-tiba saja berkata seperti itu padaku? Mungkin dia sudah nggak waras," gumam Quin dalam hatinya.
"Ada apa? Kok kamu melihatku seperti itu? Apa aku sangat tampan?" narsisnya.
Quin terkekeh lalu mencubit lengannya dan enggan menjawab. Damar terus melajukan kendaraannya.
Setelah kurang lebih satu jam mengendara akhirnya mereka tiba juga di tempat tujuan.
Quin mengerutkan keningnya saat melihat restoran mewah itu, lalu melirik Damar.
Sesaat setelah bkeduanya memasuki restoran, keduanya langsung di sambut oleh karyawan restoran dengan senyum ramah.
"Damar ... kamu ingin mengajakku kencan atau melamarku, hmm?" kelakar Quin lalu terkekeh.
"Keduanya sekaligus," sahut Damar dengan santainya.
Sontak saja jawaban Damar membuat langkah kaki Quin terhenti sekaligus membuat Damar mengerutkan keningnya.
"Ayo," ajak Damar lalu merangkul pinggang rampingnya menuju lantai dua restoran.
Sesaat setelah berada di lantai dua, alunan musik bergenre klasik langsung menyambut keduanya. Mendengar alunan musik klasik seketika membuat hati dan perasaan Quin begitu tenang.
"I love it," bisik Quin lalu mendudukkan dirinya setelah Damar menarik kursi untuknya.
"Really?" tanya Damar lalu duduk di kursi satunya yang saling berhadapan dengan Quin.
Tak lama berselang seorang pelayan mengantarkan makanan untuk mereka berdua dan dilayani secara eksklusif.
Setelah selesai menyajikan makanan dan meletakkan wine di atas meja itu, pelayan restoran pun dengan ramah mempersilahkan Quin dan Damar menyantap makanannya. Setelah itu ia berpamitan lalu meninggalkan Quin dan Damar.
"Thanks, Damar. Aku serasa menjadi ratu saja malam ini dengan layanan eksklusif. Apa kamu membooking restoran ini? Soalnya hanya kita berdua di sini," cecar Quin sambil memotong steak-nya.
"Ya, khusus untuk kita berdua," jawab Damar. "Ayo kita makan dulu," cetus Damar dan mulai menyantap makanannya dan sesekali mencuri pandang ke arah Quin.
Quin hanya mengulas senyum menatapnya dan sedikit merasa salah tingkah dengan tatapan dan senyum manis pria tampan itu.
Kok aku jadi salting begini ya? Baru kali ini aku merasa sedikit gugup selama bersamanya.
Quin membatin lalu meraih gelas yang berisi air putih kemudian meneguknya perlahan.
"Aku sudah selesai," kata Quin lalu mengusap bibirnya dengan serbet makan. Ia meraih gelas yang berisi wine lalu meneguknya sedikit. "Hmm, enak banget," desis Quin setelah meneguk wine-nya. "Ini wine mahal," terka Quin lalu melihat mereknya dan benar saja tebakannya.
"Sepertinya kamu tahu banget antara wine mahal dan tidak," kata Damar.
"Lumayan, soalnya aku penikmat wine," aku Quin. "Lagian aku suka bertanya jika aku berkunjung ke suatu negara," aku quin lagi.
Damar mengulas senyum lalu berdiri menghampirinya lalu mengulurkan tangannya pada Quin.
"Mau berdansa denganku?" tawar Damar.
Quin menatapnya sejenak lalu menyambut uluran tangannya sambil mengangguk. Iringan alunan musik klasik yang begitu membuatnya tenang seketika membuat Quin larut dengan perasaannya.
"Aku nggak menyangka jika kamu bisa seromantis ini," bisik Quin lalu menyatukan keningnya dengan Damar.
"Semuanya aku lakukan untukmu, Quin. Bagiku kamu wanita spesial," kata Damar.
"Why me?"
"Because i love you. Percayalah padaku," aku Damar dengan wajah serius. "Tataplah mataku apakah ada kebohongan?" bisiknya. Sedetik kemudian ia memegang tangan Quin lalu menempelkan ke dadanya.
"Apa kamu bisa merasakan detak jantungku yang saat ini berdebar kencang?" sambung Damar. Menatap manik matanya lalu menempelkan telapak tangan gadis itu di dadanya.
"Damar," desis Quin seolah tak kuat menatap mata Damar yang terlihat memang tak ada kebohongan.
Sedetik kemudian Damar kembali mengecup lama keningnya lalu memeluknya dengan erat seolah tak ingin melepasnya.
"Quin ... aku merasa besok terasa sangat berat ingin melepasmu pergi," bisik Damar dengan suara tercekat.
Quin bergeming dalam pelukannya. Jauh dalam sudut hatinya merasakan hal yang sama. Sedetik kemudian ia kembali mengajak Damar duduk dan mengajaknya menikmati wine yang masih ada.
"Quin ... aku mohon jangan minum terlalu banyak, aku takut kamu mabuk," peringat Damar.
Quin hanya mengangguk dan keduanya kembali menikmati minuman itu hingga Quin lupa akan peringatan Damar.
Ditambah lagi ia mengingat serentetan pengkhianatan Angga dan Kinar padanya ia, seolah tak peduli dengan nasehat Damar dan malah terus menambah minuman itu ke dalam gelasnya dan Damar sekaligus memaksanya ikut meneguk minuman itu.
Alhasil membuat keduanya mabuk. Namun Damar masih bisa mengontrol dirinya karena masih dalam keadaan setengah sadar.
Tak ingin terjadi sesuatu ketika menyetir, ia meminta salah satu karyawan restoran mengantar mereka pulang ke kediamannya.
Sesaat setelah berada di dalam mobil, Damar terus memijat kepalanya yang terasa begitu berat.
Sedangkan Quin yang sudah terlihat mabuk terus meracau, memaki, mengumpat Angga dan Kinar. Ia seolah mengeluarkan semua uneg-unegnya yang terpendam termasuk keluh kesahnya akan nyonya Zahirah.
...****************...