
Ketika keduanya berada di parkiran, Quin mengulas senyum sambil menggelengkan kepalanya menatap motor yang terparkir di samping mobilnya.
"So ... sepertinya kamu punya hobi yang cukup ekstrim juga," kata Quin lalu membuka pintu mobilnya namun langsung ditahan oleh Damar.
"Kita pulang bareng saja," cetus Damar dengan seringai tipis.
"Nggak ah, dingin," tolak Quin.
"Peluk aku jika kamu dingin," bisik Damar lalu menatap bibir Quin.
"Ck ... kamu modus," decaknya lalu kembali ingin membuka pintu mobil namun lagi-lagi Damar menahan.
"Baiklah, jika kamu ngotot. Tapi kontraknya akan aku tambah 30 hari lagi," ancamnya.
Quin menyipitkan matanya. Geram sudah pasti. Namun jika ia menolak itu sama saja akan membuatnya semakin lama menjadi asisten pribadi pria brewok itu.
Mau tidak mau akhirnya ia hanya menuruti keinginan Damar.
"Baiklah, Mr. Brewok pemaksa," pasrahnya.
Damar hanya terkekeh mendengar ucapan Quin sekaligus merasa gemas pada gadis itu.
"Sudah, ayo," ajak Damar.
"Kamu mau kita ditilang?" celetuk Quin ketika sudah duduk di atas motor.
"Don't worry. Nggak akan ada drama tilang-tilangan," sarkasnya."Lagian ini sudah larut."
Lagi-lagi Quin hanya bisa pasrah sambil menggerutu kesal.
Di sepanjang perjalanan menuju kediaman Damar, Quin hanya diam dan sedikit menikmati perjalanan dan bebas melihat kiri kanan tanpa ada yang menghalangi pandangan matanya.
Tak butuh waktu yang lama, Damar Quin akhirnya tiba juga di rumah.
"Aku duluan ya, soalnya aku sudah ngantuk," izin Quin lalu menghampiri pintu lalu membukanya.
Sesaat setelah berada di kamarnya ia langsung menaruh sembarang ponselnya lalu merebahkan tubuhnya ke atas ranjang dan lupa menutup pintu kamarnya.
Mungkin karena efek lelah dan malam yang sudah larut, akhirnya ia tertidur.
Selang beberapa menit kemudian Damar ikut menyusul. Bukannya masuk ke kamarnya, ia seolah-olah tidak ingin membuang kesempatan.
Dengan senyum penuh arti ia masuk ke kamar Quin lalu mengunci pintu kamar gadis itu.
"Siapa suruh pintunya nggak ditutup. Kamu seperti memancingku saja," gumamnya sambil melepas kaos yan yang membalut tubuhnya.
"Haishhh ... bahkan ponselnya di taruh sembarangan. Anak ini benar-benar ceroboh.
Ia duduk di sisi ranjang lalu memperhatikan wajah lelap Quin. Meraih jemarinya lalu mengelusnya.
"Apa menghilangnya Quin, ada hubungannya ya, dengan cincin yang sudah nggak ia kenakan lagi di jarinya ini," tanyanya pada dirinya sendiri.
Tak ingin berandai-andai dan rasa kantuk yang ikut mulai menyerang matanya, ia ikut berbaring di sisi Quin.
"Maaf ... malam ini aku numpang tidur di sini," bisiknya lalu mengecup keningnya dan ikut memejamkan matanya.
*********
Pagi harinya ....
"Eeugh ..." Quin melenguh lalu membuka matanya. "Damar? Kok dia tidur di sini sih?" desisnya.
"Damar ... bangun," kata Quin sambil menepuk pipi pria brewok itu.
"Lima menit lagi Quin," imbuhnya.
"Ck, nanti kamu telat," peringatnya. "Lagian ngapain sih kamu tidur disini?" protes Quin.
Damar membuka mata lalu menatapnya yang kini sudah merubah posisinya menjadi duduk.
"Kamunya yang salah, soalnya membiarkan pintu kamarmu terbuka lebar," jelas Damar.
Quin mencebikkan bibirnya sambil mendesah kasar.
"Baiklah, kalau begitu aku ke kamarmu dulu," ucapnya mengalah lalu menghampiri pintu kamarnya meninggalkan Damar.
Sedangkan Damar, ia hanya tersenyum dan ikut menyusul gadis itu.
"Puas banget bikin dia kesal. Aku jadi gemes," bisiknya.
Sementara itu di butik, Al yang baru saja tiba langsung tersenyum menatap mobil Quin yang kini terparkir.
Ia pun segera mempercepat langkahnya menuju pintu masuk butik. Ia mengira jika Quin sudah berada di dalam butik.
Begitu pintu terbuka, Al langsung naik ke lantai dua mencari keberadaan sang owner butik. Lagi-lagi ia hanya bisa mendesah, saat mendapati ruangan itu kosong.
"Quin ... Quin ... sebenar apa yang terjadi padamu? Menghilang tiba-tiba tapi yang muncul di sini hanya mobilnya saja, lantas kamu di mana saat ini? Gadis aneh," gumam Al kemudian kembali ke lantai satu.
.
.
.
"Damar ... baju kantormu sudah aku siapkan," kata Quin. "Aku kembali ke kamarku dulu ya, sekalian mau mandi dan bersiap-siap. Al pasti sudah ada di butik. Mungkin saja dia merasa heran karena mobilku ada di sana sedangkan orangnya nggak ada," katanya lagi lalu tertawa.
"Dia pasti akan mengomelimu nanti," sahut Damar dan ikut tertawa.
"Biarkan saja," balas Quin lalu meninggalkan Damar di kamarnya.
Dari arah lantai bawah, sejak tadi Naira terus memperhatikan kamar Damar yang terbuka dan melihat Quin yang baru saja keluar dari kamar itu.
Naira mengerutkan keningnya. "Ngapain dia di kamar Damar," tanyanya pada dirinya sendiri dan terlihat geram.
Entah mengapa ia membenci Quin dan merasa tidak terima gadis itu dekat-dekat dengan Damar.
Cemburu bahkan ia ingin memiliki pria brewok itu dan ingin segera menyingkirkan gadis itu dari rumah Damar.
"Aku nggak akan tinggal diam," desisnya.
Tiga puluh menit kemudian ...
Quin meraih ponselnya lalu menatap layar benda pipih tersebut. Matanya langsung membulat saat tahu arah jarum jam sudah menunjukkan pukul 8.45 pagi.
"Duuuuh ... bagaimana ini?" bisiknya dengan perasaan getir memikirkan damar. Ia takut jika pria itu bakal dimarahi oleh boss-nya bahkan ia takut jika damar sampai dipecat.
Ia segera kembali ke kamar pria brewok itu.
"Damar! Ini sudah hampir jam sembilan."
"Lalu?" Damar terlihat santai sambil merapikan jas-nya.
"Aku takut kamu dimarahi atasanmu dan aku takut kamu dipecat gara-gara aku," pungkas Quin dengan raut wajah gelisah dan khawatir.
Damar hanya terkekeh dan terlihat santai sambil memakai kaos dan sepatunya.
Sedangkan Quin ia merasa kesal dengan sikap santainya. Ia menghampiri pria brewok itu lalu merapikan rambutnya.
"Cepatan, Mar ... kamu sudah terlambat desisnya lalu mengikat rambut gondrong Damar dengan rapi.
Lagi-lagi Damar hanya tersenyum dengan sikap Quin yang terlihat sangat khawatir pada dirinya.
"Aku nggak bakalan dipecat, siapa yang berani. Aku boss-nya Quin," batin Damar.
Tanpa permisi ia langsung memeluk gadis itu bersamaan dengan Naira yang baru saja berada di ambang pintu.
"Mr. Brewok! Lepasin," kesal Quin.
"Nggak mau," bisiknya.
"Ck ..." decak Quin. Sedetik kemudian ia terkekeh. "Biasanya jika kita seperti ini pasti akan dipergoki mamamu."
Baru saja Quin selesai bicara, suara Naira menegur keduanya.
"Quin, Damar ..." tegur Naira.
Quin dan Damar saling bertatapan lalu tertawa lucu.
"Kali ini bukan mamamu, tapi sang perawat," bisik Quin tepat di telinga Damar. "Oh ya, jika kamu memiliki kekasih, aku sarankan kamu jangan terlalu dekat dengannya sepertinya dia calon-calon pelakor," pungkas Quin.
Setelah selesai berucap, Damar melepasnya lalu menatap Naira. "Ada apa, Nai?" tanya Damar.
"Turunlah sarapan," pintanya lalu segera meninggalkan keduanya.
Lima belas menit kemudian setelah selesai sarapan, Damar mengajak Quin segera berangkat.
"Quin ... ayo" ajak Damar. "Jika kamu ingin ke kantor, jangan lupa hubungi aku dulu ya," pesannya.
"Ok ... siap."
Setelah itu, Damar mulai melajukan kendaraannya meninggalkan halaman parkir rumahnya.
...****************...