101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 73



Malam hari 18.30 ...


"Damar, aku ke kamar dulu ya. Jika kamu ingin mandi, ke kamar sebelah saja," kata Quin.


"Hmm ..." Damar menjawab singkat dengan seulas senyum.


Matanya tak lepas menatap punggung Quin yang terlihat sudah menaiki tangga. Tak lama berselang, ia menyusul namun bukan ke kamar Quin melainkan ke rooftop villa gadis itu.


Ketika kakinya sampai di tempat itu, ia langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya.


"Beautiful view," gumamnya. "Quin benar, di sini memang cocok untuk menenangkan pikirannya.


Damar terdiam sejenak dan tampak berpikir.


"Apa saat Quin menghilang, dia ke sini ya?" Damar menerka-nerka.


Selang beberapa menit kemudian, ia pun turun dan langsung ke kamar Quin. Kebetulan Quin yang beru saja keluar dari kamar mandi langsung merasa kesal sekaligus protes.


"Damar!!!" kesalnya.


Damar hanya terkekeh melihat wajah kesal Quin lalu perlahan menghampirinya.


"Damar, mau apa kamu?" tanya Quin sambil menyipitkan matanya lalu mencebikkan bibirnya.


Damar hanya menyeringai sekaligus merasa gemes menatapnya.


"Mau apa? Aku menginginkan mu, Honey," desis Damar lalu merangkul pinggang ramping Quin.


Mata Quin langsung membulat sempurna lalu memukul pelan dada bidang berotot Damar.


"Damar, jangan macam-macam kamu," kesal Quin.


"Lagian siapa suruh kamu menggodaku," balas Damar.


"Cih ... siapa juga yang menggodamu pria player," ledek Quin. "Lagian aku nggak tertarik padamu," sambungnya.


Damar mengulas senyum menatapnya


"Benarkah," bisik Damar lalu semakin merapatkan rangkulannya kemudian membenamkan bibirnya ke ceruk leher Quin bahkan sedikit menyesapnya.


"Berhenti nggak? Jika nggak ... kamu akan menyesal," ancam Quin.


Bukannya melepas Damar malah semakin menyesap lehernya dan terus menggiringnya perlahan ke arah ranjang.


"Sssttt ..." ringis Quin. "One," hitung Quin. "Two," lanjutnya namun Damar seolah menulikan telinganya.


"Come on, Honey. Aku sudah nggak bisa menahannya," bisik Damar dengan suara berat dan serak.


Quin mengerutkan keningnya lalu sedikit meronta karena Damar semakin mendekapnya bahkan bibirnya terus bermain di leher dan pundak polosnya.


"Daa .... aaakkhh," belum sempat Quin menyelesaikan kalimatnya, keduanya sudah jatuh ke atas ranjang.


"Pppppffff ..." Quin langsung tertawa saat Damar menatapnya dengan tatapan sendu. "Come on ... jangan seperti ini," bisik Quin seraya mengelus rahang tegas Damar.


Damar bergeming menatapnya lekat. Seolah tak ingin menyerah ia mendaratkan kecupan di bibir Quin.


Setelah itu, barulah ia berbaring di sisi Quin lalu menatap langit-langit kamar. Sedangkan Quin, ia langsung mendudukkan dirinya lalu masuk ke ruang ganti.


"Akh!! Damn!" umpatnya lalu mengelus benda pusakanya yang sejak tadi sudah terasa sesak ingin segera dikeluarkan.


Sementara Quin yang berada di ruang ganti, tampak berpikir. Ia merasa belakangan ini Damar seolah-olah menyiratkan sesuatu tentang perasaannya.


Setelah mengganti pakaiannya, ia kembali ke kamar dan sudah tidak mendapati Damar di dalam kamar.


Ia pun keluar dari kamar lalu menuju ruang tamu untuk menunggunya


"Semoga semuanya berjalan lancar. Kontrak ... kontrak ... rasanya aku ingin segera lepas dari ikatan ini. Bisa-bisa Damar benar-benar khilaf padaku nanti," gumamnya sambil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


Sambil menunggu, Quin kembali mengamati ruangan mewah itu. Lagi-lagi ia teringat akan sosok sang mama.


Ia berpikir sejenak, kenapa ia bernasib sama dengan sang mama. Ia menghela nafasnya dengan kasar. Yang ia pikirkan saat ini adalah menikmati kesendiriannya tanpa menjalin hubungan dengan siapapun.


Quin lebih menikmati statusnya sebagai jomblo dan bebeas melakukan apapun yang ia inginkan tanpa harus repot-repot memikirkan perasaan pasangannya.


Ia mengulas senyum karena merasa single is better. Tanpa ia sadari Damar yang sedang menuruni anak tangga hanya bisa mengerutkan keningnya menatap dirinya.


Tanpa menjawab, Quin langsung beranjak dari sofa lalu menghampiri Damar kemudian memeluk lengannya.


Ia merasa seperti sedang bersama dengan sang kakak. Batinnya berkata, "Terima kasih Damar, setidaknya kamu sangat melindungiku. Walaupun kamu seorang Casanova, namun entah mengapa kamu begitu menjagaku. Semoga suatu saat ada seorang gadis yang bisa meluluhkan hatimu."


*


*


*


Apartemen Al ...


Sejak tadi Al tampak begitu kesal. Bagaimana tidak sejak tadi ia menghubungi sahabatnya namun ponselnya tidak aktif.


Al yang sudah tampak menyusun semua keperluannya ke dalam koper, terus saja mengoceh kesal.


Tak lama berselang bel pintunya berbunyi. Dengan malas ia berdiri lalu menghampiri pintu lalu menekan monitor.


Ia langsung memutar bola matanya dengan malas saat tahu itu adalah Adrian dan bukan Quin.


"Cih! Ini lagi si kulkas dua pintu, pakai nongol segala. Tadinya aku berharap itu adalah Quin, eeee .... tahunya dia yang datang," omelnya lalu membuka pintu.


Begitu pintu terbuka, Adrian menatap Al dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Dengan susah payah ia menelan salivanya.


Bagaimana tidak, Al hanya mengenakan crop top dan hot pants.


"Ayo masuk," tawar Al dengan malas.


Adrian hanya mengangguk lalu menghampiri sofa kemudian meletakkannya paper bag makanan yang ia bawa ke atas meja.


"Rian ... apa Damar bersama Quin?" tanya Al.


Adrian mengangkat bahunya dan alisnya.


"Kamu gimana sih?! Kamu kan asistennya. Masa nggak tahu?" gerutu Al lalu duduk di samping Adrian. "Sejak tadi aku hubungi Quin tapi ponselnya nggak aktif," sambung Al.


"Sama," jawab Adrian dengan singkat lalu menghisap rokoknya.


Al langsung memukul dadanya karena kesal.


"Al ... sakit," protes Adrian.


merasa belum puas, Al kembali menambak rambut Adrian sekaligus melepaskan kekesalannya.


"Apa sih Al?!" protes Adrian lagi lalu memegang kedua tangan gadis itu. Untuk sejenak keduanya bersitatap setelah itu, Al kembali duduk dengan tenang.


Sedangkan Adrian ia kembali rapikan rambutnya akibat ulahnya.


"Kesal sih kesal tapi jangan aku yang jadi pelampiasannya. Kamu pikir aku nggak punya perasaan apa?" sindirnya lalu melipat bibirnya menahan tawa.


Al hanya bergeming lalu menatap paper bag makanan di atas meja. Kebetulan perutnya sudah lapar, ia pun mengeluarkan box makanan itu lalu menatanya kemudian mengajak Adrian makan bersama.


Keduanya pun makan bersama tanpa ada yang membuka suara hingga mereka selesai makan. Begitu selesai, Al kembali merapikan meja lalu ke pantry mengambil air mineral.


"Nih ... buat kamu," kata Al lalu memberikannya air minum sesaat setelah berada di dekat Adrian.


"Thanks ya, Al," ucapanya singkat lalu meneguk minuman itu.


Beberapa jam berlalu ....


"Rian, thanks ya untuk makan malamnya. Oh ya ... mungkin lima hari kedepan kita nggak akan bertemu soalnya besok aku dan Quin akan ke Singapura," jelas Al dengan seulas senyum.


"Hmm." Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut pria dingin itu.


"What?!! Just ... hmm?" kesal Al dalam hatinya.


"Aku pamit dan jaga dirimu baik-baik saat tiba di Singapura," pesan Adrian. "And the last one ... jangan pakai baju seperti ini jika kamu keluar. Cukup di dalam kamarmu saja," pesan Adrian lagi lalu segera meninggalkannya.


Al hanya mengulas senyum menatap punggung pria tampan itu sembari menggelengkan kepalanya.


"Dasar kulkas dua pintu," gerutunya lalu menutup pintu.


...****************...