
Damar semakin mempercepat langkahnya menuju lift demi mengejar Quin. Sesaat setelah berada di dalam lift ia tampak gelisah dan memikirkan gadis itu.
"Bisa-bisanya mama berkata seperti itu pada Quin," gumam Damar merasa geram.
Tak lama berselang pintu lift terbuka. Ia langsung berlari kecil tanpa menghiraukan tatapan para karyawannya yang terus memperhatikannya.
Sesaat setelah langkahnya terhenti di parkiran ia langsung memanggil Quin yang baru saja akan membuka pintu mobilnya.
"Quin!! Wait!!!" pekiknya sekaligus menahan tangan gadis itu dari membuka pintu mobilnya.
Ia langsung berlari kecil menghampiri Quin dengan perasaan getir. Tanpa sepatah katapun ia langsung mendekap erat tubuh gadis itu seolah tak ingin melepasnya.
"Maafkan semua ucapan mamaku tadi," bisik Damar.
Quin hanya mengulas senyum pahit sembari mengelus punggung tegap Damar.
"It's okay, aku mengerti," sahut Quin lalu sedikit melonggarkan pelukannya kemudian menangkup kedua rahang tegas Damar.
Dengan perasaan yang bercampur aduk, Damar memegang kedua tangan Quin yang masih menempel di rahangnya lalu menatap wajahnya lekat.
"Come on, follow me," ajaknya.
"Ke mana?" tanya Quin keheranan namun tetap mengikuti langkah Damar ke arah mobilnya.
Sesaat setelah duduk di dalam mobil, Damar mulai melajukan kendaraannya tanpa memberitahu ke mana ia akan membawa Quin.
Ketika dalam perjalanan, Quin mengernyit karena ia merasa tak asing dengan jalan yang mereka lewati.
"Apa kamu akan mengantarku ke apartemen?" tanya Quin sekaligus membuka suara.
"Hmm ... aku ingin kita menghabiskan waktu hingga sore sebelum kita pulang," jawab Damar.
"Baiklah, tapi sebelumnya kita belanja dulu," pinta Quin. "Aku ingin memasak," sambung Quin.
Damar hanya mengangguk dan kembali fokus menyetir hingga keduanya tiba di salah satu supermarket yang tak terlalu jauh dari gedung apartemen tempat tinggal Quin.
*
*
*
QA Boutique ...
Tampak Angga baru saja memasuki butik Quin. Setelah berada di dalam, ia pun langsung menyapa Al yang tampak baru saja menuruni anak tangga.
"Al, apa Quin ada di atas?"
Al menggelengkan kepalanya lalu memutar bola matanya dengan malas.
"Sepertinya dia ke kantor Damar," kata Al dengan santainya lalu menghampiri meja kerjanya.
Angga mengepalkan kedua tangannya dengan perasaan dongkol. Mendengar nama Damar saja darahnya langsung mendidih.
"Ada keperluan apa kamu mencari Quin? Bukankah kalian sudah nggak punya urusan lagi?" sindir Al.
Angga bergeming sedetik kemudian ia menghampiri Al lalu mendaratkan bokongnya di sofa lalu menatap penuh selidik pada sahabat Quin itu.
"Sepertinya kamu tahu banyak tentang keduanya?" cecar Angga.
"Jika iya, kenapa? Lagian itu juga bukan urusanmu. Urus saja selingkuhan mu itu. Jika pun Quin menjalin hubungan serius dengan Damar, aku rasa itu sah-sah saja. Pikirkan sendiri siapa yang memulainya," sindir Al lagi dengan nada ketus.
Angga bergeming sekaligus merasa geram mendengar jawaban tak bersahabat dari Al, bahkan gadis itu seolah mengulitinya.
"Jangan harap dan jangan bermimpi Quin bakal balik lagi dengan pria munafik sepertimu," ketus Al. "Sebaiknya kamu tinggalkan butik ini lagian Quin nggak ada di sini," usir Al.
"Kamu!!" geram Angga menatap kesal gadis itu lalu beranjak dari tempat duduknya kemudian meninggalkan tempat itu dengan perasaan dongkol.
Sesaat setelah berada di samping mobilnya, ia merogoh saku jasnya lalu mengeluarkan ponselnya. Setelah itu ia menghubungi Quin.
Namun ia harus kecewa karena Quin tak menjawab panggilan darinya. Tak ingin menyerah begitu saja, ia kembali menghubungi gadis itu hingga beberapa kali, namun lagi-lagi ia harus menelan pil pahit karena Quin tetap tak menjawab panggilan darinya.
"Sebaiknya aku periksa lokasinya saja," gumamnya lalu memeriksa di mana lokasi Quin sekarang.
Sudut bibirnya langsung membentuk sebuah lengkungan setelah tahu lokasi Quin berada sekarang.
Setelah itu, Angga membuka pintu mobilnya lalu duduk di kursi kemudi. Sedetik kemudian ia pun mulai melajukan kendaraannya itu menuju apartemen Quin. Ia tidak tahu jika saat ini Quin sedang bersama Damar. 😅✌️
*
*
*
Apartemen Quin ...
Begitu keduanya berada di unit apartemen. Quin terlebih dulu meletakkan barang belanjaannya di atas meja. Setelah itu ia langsung ke kamarnya karena ingin mengganti pakaiannya.
Ia menjadi kesal karena Damar ikut masuk ke kamar dan dengan santainya ia langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang empuknya.
"Damar! Kamu apa-apaan sih?!" protesnya lalu menarik kedua tangannya dengan maksud membangunkannya kembali.
Damar hanya tersenyum menatap wajah Quin. Alih-alih bangun, ia malah menahan kedua Quin lalu menariknya hingga gadis itu jatuh tepat di atas tubuhnya.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Damar langsung mengubah posisinya dengan cepat lalu mengungkungnya dengan senyum penuh arti.
"Damar ... jangan gila kamu," bisik Quin sambil menahan dadanya.
Bukannya menjawab, Damar terus menatapnya lalu mengecup lama keningnya perlahan turun ke kedua mata Quin, hidung, pipi dan bibirnya.
Merasa Quin tak menolak ia mulai ******* bibir gadis itu, namun sedetik kemudian tersentak kaget karena Quin mengigit bibirnya.
"Arrgghh ..." erangnya dan spontan melepas tautan bibirnya dari Quin karena kesakitan.
Sedangkan Quin yang masih berada dalam kungkungannya langsung tertawa lalu mengusap bibir pria tampan itu kemudian mengelus rahangnya dengan sayang.
"Maaf ... aku hampir terbuai. Kita bisa kebablasan jika seperti ini," bisik Quin.
"Aku akan bertanggung jawab bahkan akan menjadikanmu sebagai istriku. Quin ... aku mencintaimu," bisik Damar lalu merubah posisinya menjadi duduk.
Setelah itu ia membangunkan Quin lalu mendudukkan gadis itu di atas pahanya dengan posisi saling berhadapan.
Quin kembali menangkup wajahnya lalu mengulas senyum. Menatap lekat wajah pria tampan berdarah timur tengah itu lalu menyatukan keningnya.
Namun lagi-lagi ungkapan tulus dan jujur Damar tetap saja ia anggap hanya bualan semata dan tak menanggapi serius.
"Mamamu bisa berubah menjadi singa jika kamu menikahiku Damar. Sewaktu-waktu dia akan siap menerkamku," bisiknya lalu terkekeh
"Ck," decak Damar namun ikut terkekeh.
"Sepertinya aku nggak akan bisa melupakan senyum manis dan kedua lesung pipi ini," bisik Quin lagi seraya menyentuh kedua lesung pipi Damar.
Damar semakin tersenyum lebar dan semakin jelas menampakkan kedua lesung pipi yang disentuh oleh Quin.
Quin perlahan memeluknya lalu berbisik, "Thanks for everything Damar. Tanpa terasa besok kita akan berpisah."
Quin melonggarkan pelukannya lalu mengecup bibirnya singkat.
"Istirahatlah," kata Quin sembari mengusap bibirnya. "Aku masak dulu, setelah masakanku mateng aku akan membangunkan mu," sambung Quin lalu mengelus rahangnya.
"Baiklah," jawabnya lalu melepas Quin kemudian kembali membaringkan tubuhnya.
Lima menit kemudian setelah mengganti pakaiannya, Quin meninggalkan kamar dan membiarkan Damar tertidur.
Sedangkan dirinya memilih ke pantry untuk mulai memasak. Dengan cekatan ia mengolah semua bahan masakan lalu memasaknya hingga mateng.
Empat puluh menit berlalu ...
Ting ... tong ... ting ... tong ...
Quin mengernyit saat mulai menata makanan yang baru saja mateng ke atas meja. Ia sempat bertanya-tanya dalam hatinya siapa yang datang?
"Apa itu Al dan Rian?" tebaknya.
Tanpa pikir panjang ia pun melangkah menghampiri pintu tanpa mengintip terlebih dulu. Pikirnya mungkin itu Al dan Rian.
Begitu ia membuka pintu, matanya langsung membulat sempurna saat mendapati Angga lah yang datang.
Dengan secepat kilat ia kembali mendorong pintunya namun dengan cepat pula Angga menahannya.