101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 37



Keesokan harinya ....


"Sssttt ... aakhh ..." Angga meringis sambil memijat keningnya. Perlahan-lahan ia membuka matanya.


Ia mengamati kamar yang tidak asing baginya. Tak lama berselang sang mama menghampirinya lalu menatap tajam padanya.


"Mah," lirihnya lalu merubah posisinya menjadi duduk sambil tertunduk.


"Ada apa denganmu? Kenapa kamu jadi seperti ini?" tanya mama.


Angga bergeming dan tetap menunduk. Yang ada di benaknya saat ini adalah Quin. Dan bagaimana caranya ia mengembalikan kepercayaannya pada Quin.


"Mandilah ... ini sudah siang," perintah mama lalu meninggalkannya sendiri.


"Sudah siang?" desisnya lalu menatap jam dinding di kamarnya. "Jam 12.40. Sh*it!!!" umpatnya lalu segera beranjak dan menuju kamar mandi.


.


.


.


QA Boutique ...


Sejak pagi, Al tampak gelisah karena ponsel Quin sejak semalam tidak bisa di hubungi. Bahkan sampai siang ini nomornya masih diluar jangkauan.


"Ayolah ... Quin," desisnya merasa gelisah dan terus mondar mandir di galery butik dan sesekali melihat ke arah parkiran.


Sedangkan Damar yang baru saja tiba, berharap jika Quin saat ini ada di butiknya. Sambil menenteng paper bag makanan, ia menghampiri meja kerja yang ada di lantai satu.


"Kok sepi," gumamnya. "Ke mana mereka?"


"Damar!" panggil Al dengan raut wajah khawatir.


"Al, tumben sepi?"


"Jihan dan Gisha lagi keluar makan siang."


"Apa mereka bareng Quin?"


"Itu dia yang jadi pertanyaannya, Damar," jawabnya.


Damar mengernyit dan tampak bingung menatap sahabat dari Quin itu.


"Damar, sejak semalam ponsel Quin nggak bisa dihubungi bahkan sampai detik ini. Sejak pagi, dia juga belum muncul di butik ini. Tidak seperti biasanya dia seperti ini," jelas Al. "Biasanya jika dia akan bepergian atau harus bertemu klien secara mendadak di luar kota, dia pasti mengabari, tapi ini nggak sama sekali. Aku takut dia kenapa-napa."


Damar sangat terkejut mendengar ungkapan Al. Setahunya kemarin sebelum maghrib, gadis itu berpamitan akan ke apartemen Angga.


Apa Angga melakukan sesuatu padanya atau jangan-jangan?


Damar menebak-nebak dalam hatinya dan tampak berpikir. Ia kembali menatap Al.


"Al, apa kamu tahu ke mana saja tempat biasa Quin datangi?" tanya Damar.


"Yang paling sering ia datangi adalah taman kota, tapi itupun hanya di sore hari," jawab Al.


"Selain taman kota?"


Al hanya menggeleng karena memang ia tidak tahu. Keduanya tampak terdiam dan sama-sama larut dengan pikirannya masing-masing.


Satu-satunya yang tahu keberadaan Quin adalah Angga. Karena tempat terakhir yang Quin datangi adalah apartemennya.


Meninggalkan Damar dan Al yang sedang mengkhawatirkan Quin.


Padahal orang yang sedang mereka khawatirkan tampak masih tertidur pulas di ranjang empuknya.


"Eeeeughh ..." ia melenguh lalu perlahan membuka matanya. "Lord ... sudah jam berapa ini?" desisnya lalu melentangkan tubuhnya menghadap langit-langit kamar.


Ia menghela nafasnya dengan kasar lalu mendudukkan dirinya. Mengingat kejadian kemarin, seketika membuatnya jijik.


"Dasar pasangan laknat," geramnya lalu segera beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.


Beberapa menit kemudian ...


"Rasanya aku ingin tenang seperti ini, tanpa ada yang menggangu. Dua bulan dari sekarang kontrak ku bakal selesai dengan Damar," gumamnya. "Setelah itu aku ingin berlibur ke beberapa negara untuk menghibur diriku."


"Rasanya aku nggak ingin menginjakkan kakiku ke rumah papa lagi. Apa bedanya dia dengan Angga, dua-duanya sama-sama brengsek!" makinya.


.


.


.


Kantor Damar ...


"Adrian, coba cari tahu lokasi mana saja yang biasa Quin datangi," perintahnya "Aku khawatir dia kenapa-napa.


"Baik, Tuan," kata Adrian lalu meninggalkan ruangan itu.


Sepeninggal Adrian, Damar kembali tampak termenung memikirkan gadis itu.


"Quin ... kamu di mana? Kenapa ponselmu sama sekali nggak bisa dihubungi," desisnya lalu menatap arloji dipergelangan tangannya. "Ini bahkan sudah hampir jam 16.00."


Kembali lagi pada Angga yang kini sedang duduk di ruang tamu bersama sang mama.


"Angga, jelaskan pada mama, kenapa kamu bisa mabuk seperti itu semalam. Bahkan kamu terus meracau memanggil-manggil nama Quin," selidik mama.


"Mah ... aku ... aku ..." ia seolah tak bisa melanjutkan kalimatnya dan tampak menundukkan wajahnya.


"Kenapa, ayo jelaskan pada mama," desak mama tanpa mengalihkan sedikitpun tatapan matanya pada putra bungsunya itu.


"Aku ... aku takut jika Quin benar-benar tidak akan memaafkan aku dan benar benar-benar membatalkan pernikahan kami," tuturnya.


"Jika itu terjadi, pasti ada alasannya. Mama curiga jika kamu telah berbuat sesuatu yang memancing amarahnya," tegas mama.


Angga terdiam sejenak. "Mah, tolong bantuin aku supaya Quin mau memberiku satu kesempatan terakhir untuk memperbaiki hubungan kami," lirih Angga.


"Tapi kenapa, Ngga? Apa yang sudah kamu lakukan?" cecar mama sedikit merasa geram padanya.


"Quin memergoki aku dan Kinar ..." Ucapannya tertahan ketika suara bariton Altaf menyapa gendang telinganya.


"Aku sudah menduganya." Altaf berjalan menghampirinya lalu mencengkeram baju kaos sang adik.


"Apa dia sudah memergoki kalian sedang berhubungan intim, hmm?" tebak Altaf.


Sontak saja ucapan yang terucap tanpa permisi dari mulut Altaf membuat Angga kaget begitu pun dengan mamanya. Setelah itu Altaf mendorongnya.


Mata mama langsung memerah dan menatap tajam padanya bahkan menyiratkan kekecewaanya pada Angga.


Tanpa aba-aba, mama langsung melayangkan tamparan yang cukup keras di wajahnya.


"Mama benar-benar kecewa padamu Angga. Jika masalahnya seperti ini, mama bahkan tidak bisa membantumu," ucap mama lalu meninggalkannya begitu saja.


Sepeninggal mama, Altaf kembali menghampirinya. "Sejak awal melihatmu dekat dengan Kinara, aku sudah curiga dengan gerak gerik kalian berdua," kata Altaf.


"Kenapa? Kenapa kamu tega melakukan ini pada Quin? Aku kan, sudah pernah bilang padamu. Gadis seperti Quin, jika tersakiti sekali dia nggak bakal memberi kesempatan kedua. Apalagi jika tebakanku benar," lanjut Altaf.


"Dari mana kakak tahu jika Quin memergoki aku dan Kinar sedang berhubungan intim?" tanyanya sambil tertunduk.


Alih-alih menjawab, Altaf tersenyum sinis menatap adiknya dan malah balik bertanya padanya.


"Jadi aku benar kan, jika Quin memang memergoki kalian berdua. Aku jadi curiga ... jangan-jangan penyebab Quin nggak hadir di hari ulang tahunmu sebulan yang lalu karena hal yang sama juga," sindir Altaf.


"Jika benar, berarti Quin sudah sering memergoki kalian berdua, tapi dia hanya diam dan membiarkan. Hingga akhirnya dia sudah benar-benar muak akhirnya dia menyerah."


Lagi-lagi Angga hanya bisa bungkam mendengar ucapan bernada sindiran dari sang kakak.


...****************...


Mohon dukungannya ya, readers terkasih dengan meninggalkan coment, rate, vote, like, gift jika berkenan.


Maaf author memaksa. Tanpa dukungan dari readers terkasih, siapalah author recehan seperti aku. Happy reading 🙏😊🥰😘 .. Terima kasih