
Satu minggu kemudian ...
Setelah berada di rumah sakit selama seminggu, akhirnya Quin diperbolehkan pulang oleh dokter Emelie karena kondisi kesehatanya sudah mulai membaik.
Kini tampak dua keluarga itu sedang berada di mansion tuan Alatas. Nyonya Zahirah sejak tadi tampak sangat antusias menggendong sang cucu.
Aizen Chizuru Alatas yang bermakna indah dan cerdas dalam bahasa Jepang sedangkan Alatas adalah nama keluarga besar dari sang suami.
"Quin, untuk sementara sebaiknya kalian tinggal saja di sini," usul nyonya Zahirah. "Lagian kasian baby Zen."
"Sayang, papa rasa usulan dari mertuamu ada benarnya. Tinggal di sini untuk sementara sambil mencari baby sitter untuk baby Zen," timpal pak Pranata.
Quin hanya mengangguk setuju.
"Nggak usah khawatir, Kak. Aku bisa kok jadi baby sitter," kelakar Sofia lalu mencubit pipi baby Zen.
"Bagus deh. Sekalian belajar jadi mama," sahut Damar lalu terkekeh. "Jangan lama-lama jadi jomblo dan jangan jual mahal pada Fahry," sambung Damar sekaligus meledek sang adik.
"Kakak!!" kesalnya sambil mencebikkan bibirnya.
Mereka langsung tertawa melihat keduanya yang saling membalas ucapan.
"Oh ya, Mar, bagaimana dengan lanjutan kasus Naira?" tanya tuan Alatas.
"Untuk sementara, biarkan dia mendekam di penjara, Pah. Biar dia kapok," tegas Damar.
"Ya sudah, papa serahkan semuanya padamu dan bagaimana bagusnya, kamu sendiri yang berhak menentukan keputusan," balas tuan Alatas.
Suasana di mansion itu tampak riuh. Sesekali terdengar suara canda tawa dua keluarga besar itu.
Seharian mereka menghabiskan waktu di mansion itu hingga akhirnya pak Pranata dan bu Fitri kembali berpamitan pulang.
"Sayang, mama dan papa pulang dulu ya," pamit bu Fitri lalu mengecup baby Zen kemudian memberikannya kembali pada Quin.
"Iya Mah. Sering-seringlah ke rumah jika kami sudah berada di kediaman kami," kata Quin.
Bu Fitri hanya mengangguk. Sedetik kemudian ia memeluk Quin sejenak lalu menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Mama mohon maaf atas semua kesalahan dan perbuatan Kinara padamu," lirihnya. "Sebenarnya dua hari yang lalu dia ingin menjengukmu, tapi dia merasa malu," aku bu Fitri.
"Mah," lirih Quin.
"Mama mohon," melas bu Fitri lalu menyeka air matanya.
"Aku sudah memaafkannya, Mah. Sudahlah, jangan diingat-ingat lagi kejadian itu. Lupakanlah lagian aku sudah menikah dan memiliki anak. Aku hanya bisa doakan Kinara. Mudah-mudahan dia akan bertemu dengan jodoh yang baik," ucap Quin dengan tulus.
"Terima kasih, Nak," ucap bu Fitri.
Setelah itu, bu Fitri meninggalkanya dan menuju ke lantai satu kemudian menyusul suaminya.
Sepeninggal bu Fitri, Quin membawa baby Zen ke kamarnya lalu membaringkan putra mungilnya itu di dalam box bayi.
"Aku sudah melupakan kejadian menyakitkan itu meski butuh waktu. Saat ini, aku justru lebih bahagia dengan suamiku bahkan telah memberikan aku seorang putra," desis Quin.
Beberapa jam kemudian setelah selesai makan malam, suara bel pintu terdengar berbunyi.
"Siapa ya?" tanya Sofia.
"Biar bibi saja yang membukanya kata salah satu pelayan lalu melanjutkan langkahnya menuju pintu.
Sesaat setelah pintu dibuka, Adrian Al, Jihan Gisha, Denis Angga, Fahry dan Tista langsung tersenyum.
"Masuklah," kata bibi mempersilahkan mereka masuk.
Mereka pun menyapa Quin Damar dan Sofia yang sedang duduk di ruang santai.
Sontak saja kehadiran mereka membuat suasana ruangan itu langsung heboh lalu mencari keberadaan baby Zen.
"Quin, baby Zen mana? Kami membawakannya hadiah lho," kata Al.
"Ada di kamarnya. Yuk, kita ke kamar baby Zen saja," ajak Quin.
Keempatnya pun meninggalkan para pria di ruang santai itu. Sepeninggal mereka, Fahry langsung meninju lengan Damar karena gemes.
"Sialan loe! Kamu menikung Angga ya? Mana pas nikah nggak ngundang aku. Bener-bener ya kamu. Tau-taunya malah langsung dengar sudah punya baby," kesal Fahry.
Damar hanya terkekeh lalu menatap temannya satu persatu.
"Maaf," ucapnya. "Kalian kapan menyusul?"
Mereka hanya saling berpandangan dengan wajah bingung.
"Tunggu apa lagi jika sudah ada calon. Jangan lama-lama takutnya calon kalian diambil orang," ledeknya.
Angga langsung melemparnya dengan bantal sofa.
Lagi-lagi ia hanya bisa terkekeh menatap wajah kesal ex tunangan istrinya itu.
"Apapun itu selamat ya, Mar," ucap mereka bergantian.
"Terima kasih ya. Aku ingin secepatnya mendengar kabar bahagia dari kalian. Terutama kamu, Rian," kata Damar.
Adrian hanya mengulas senyum. Tak lama berselang seorang ART membawakan mereka minuman dan cemilan lalu menyajikan di atas meja.
Setelah mempersilakan mereka memcicipi minuman dan cemilan, bibi kembali meninggalkan mereka.
Sementara di kamar baby Zen, Al tampak menggendong bayi mungil itu dengan gemas.
"Al, kamu dan Adrian kapan? Kalian berdua juga," cecar Quin.
"Ck, kalau aku masih mau bebas," sahut Jihan.
"Aku juga," timpal Gisha.
"Nggak lama lagi," aku Al lalu mengecup baby Zen.
"Beneran?!!" pekik Quin, Jihan dan Gisha bersamaan.
"Kalian mengangetkan baby Zen saja," protes Al.
Beberapa jam berlalu ...
Setelah merasa puas mengobrol bersama, akhirnya mereka pun kembali berpamitan dan masing-masing menuju mobil.
"Angga," panggil Damar yang masih berada di ambang pintu bersama Quin.
Keduanya menghampirinya. Damar langsung memeluknya.
"Angga, maafkan aku jika aku menjadi penyebab retaknya hubunganmu dan Quin," bisiknya.
Angga menepuk punggung suami Quin itu lalu menggelengkan kepalanya.
"Nggak ada yang perlu dimaafkan. Semuanya salahku. Aku yang sudah mengkhianati Quin. Jangan merasa bersalah begitu," balasnya lalu melepas pelukannya.
Ia menatap Quin lalu sedikit mendekat lalu memeluk ex tunangannya itu.
"Angga," lirih Quin. "Maaf jika kita berakhir begini. Kembalilah pada Kinara. Kalian sudah terlanjur jauh. Kinara masih mencintaimu dan masih berharap padamu," bisik Quin lalu mengelus punggungnya dengan sayang.
Angga hanya bergeming sekaligus membenarkan ucapan Quin. Jauh dalam sudut hatinya ia juga merasa bersalah pada Kinara. Ia kemudian mengurai dekapan Quin lalu mengulas senyum.
"Aku pamit ya," ucapnya lalu meninggalkan keduanya.
.
.
.
Dua bulan berlalu ...
Setelah pertemuan mereka malam itu, keesokan harinya Quin langsung menemui Kinara di rumah papanya lalu mengajaknya bertemu dengan Angga.
Terkejut ....
Itulah yang dirasakan Kinara bahkan saudara tirinya itu sudah memaafkan dirinya. Kinara sangat terharu sekaligus merasa bersalah.
Begitu keduanya dipertemukan, Quin hanya meminta keduanya untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius.
Sedangkan kelanjutan kasus Naira, Quin juga sudah memaafkan gadis itu dan meminta supaya ia dibebaskan. Walaupun damar sempat protes namun mau tak mau ia tetap menuruti istrinya.
Setelah semua masalah selesai dan sudah saling memaafkan hubungan mereka kembali terjalin baik.
Bertepatan dengan hari ini, Quin tampak sibuk sedang merias dan mempoles wajah sahabatnya. Karena hari ini adalah hari spesial bagi Al dan Adrian.
"Perfect," ucap Quin lalu mengulas senyum sesaat setelah selesai merias wajah Al. Ia memeluk sahabatnya itu sejenak lalu mengucapkan selamat.
Tak lama berselang Kinara, Jihan dan Gisha membuka pintu.
"Apa sudah selesai?" tanya mereka.
"Ya," jawab Quin lalu membantu Al berdiri.
Sedangkan Adrian yang kini berada di ballroom hotel, sedang duduk menunggu calon mempelainya di depan pak penghulu di dampingi oleh kedua orang tuanya, dan teman-temannya yang duduk di belakangnya.
"Rian, santai saja. Jangan gugup begitu," bisik Damar lalu terkekeh.
"Iya Tuan."
Selang beberapa menit kemudian Al didampingi Jihan dan Gisha disusul Quin dan Kinara di belakang tampak melangkah pelan menghampirinya.
Ia tertegun menatap wajah cantik sang calon istri yang kini sudah duduk di sampingnya lalu tersenyum padanya.
Tak lama kemudian acara akad pun segera dimulai. Dengan penuh semangat pak penghulu mulai menjabat tangannya lalu membimbingnya untuk mengucap janji suci pernikahan.
Dengan lantang ia mengucap ijab qobul dengan lancar dan hanya sekali tarikan nafas. Hingga akhirnya suara sahutan Sah dari teman-temannya langsung terdengar.
"Sah."
"Sah."
"Sah."
Setelah memakaikan cincin di jari manis Al ia kemudian mengecupnya.
"Selamat ya, Al, Rian," ucap Quin dan Damar. Disusul oleh, teman-temannya dan teman Al.
Tiga puluh menit kemudian acara puncak pun terus berlanjut. Senyum bahagia Al dan Rian terus terukir di wajah keduanya menyambut tamu undangan yang memberikan ucapan selamat.
Quin dan Damar yang berada di salah satu meja ikut merasakan kebahagiaan keduanya. Keduanya tersenyum.
"Honey, rasanya aku ikut bahagia melihat keduanya," kata Damar seraya merangkul bahu istrinya yang sedang menggendong baby Zen.
"Aku juga. Semoga pernikahan mereka langgeng," balas Quin lalu mengulas senyum kemudian mengecup putranya.
"Aku akan menghadiahkan mereka tiket honeymoon ke manapun yang mereka inginkan," cetus Damar dan di jawab dengan anggukan istrinya.
Setelah acara itu selesai, Damar memilih mengajak teman-temannya itu berkumpul sekaligus merayakan pernikahan Al dan Adrian.
"Teman-teman, semoga hubungan pertemanan kita akan terus terjalin seperti ini hingga menurun ke anak-anak kita nantinya," kata Damar.
Mereka hanya mengangguk lalu mengulas senyum sekaligus menyetujui ucapan Damar. Malam itu mereka habiskan waktu bersama dengan saling melempar godaan dan candaan.
Sungguh, hubungan yang tadinya sempat memanas kini terjalin baik. Dendam dan amarah yang sempat menyelubungi diri akhirnya sirna dengan saling memaafkan.
Seperti itulah yang terjadi saat ini. Semua ego, amarah dan dendam kini berganti dengan jalinan hubungan yang baik di antara mereka.
TAMAT
Assalamu'alaikum readers terkasih, terima kasih sudah mengikuti cerita ini hingga selesai. Terima kasih juga karena sudah memberi dukungan dengan memberi like, vote dan gift secara sukarela. 🥰🥰😘😘
Jangan lupa mampir di novelku yang masih on going ya🙏🙏🙏 Sampai jumpa di sana ya. Salam hangat penuh cinta dari kota KALTARA 😘
Retaknya sebuah kaca
Qirani Swastika (Novel baru)