101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 90



Kantor Arjuna ...


Setelah check up kandungan, Quin dan Damar memutuskan menyambangi kantor Arjuna. Sesaat setelah tiba di kantor itu, Quin mengajak sang suami menuju ruangan sang kakak.


Begitu keduanya berada di depan pintu, Quin mengetuk lalu memutar handle.


Sontak saja Juna langsung menatap kedepan.


"Quin, Damar," sapanya lalu beranjak dari kursi kerjanya. "Come on more close," pinta Juna seraya merentangkan kedua tangannya ingin memeluk adiknya.


"Kak Juna," lirihnya sesaat setelah berada dalam rengkuhan sang kakak.


"Bagaimana dengan calon ponakan ku?" bisiknya lalu mengelus perut buncit Quin.


"Sehat, Kak. Aku dan Damar barusan dari rumah sakit," kata Quin lalu melonggarkan pelukannya.


Mereka menuju sofa lalu duduk bersama. Juna tersenyum menatap Damar lalu menggelengkan kepalanya.


"Damar Khalid Alatas," sebut Juna. "Aku benar-benar nggak menyangka jika kamu yang menjadi iparku," kata Juna lalu terkekeh.


Pria berkulit eksotis itu hanya mengulas senyum sembari menggenggam jemari istrinya.


"Karena adikmu wanita spesial," kata Damar.


Obrolan ketiganya terus berlanjut sekaligus membahas kerjasama yang akan mereka sepakati.


Setelah berada di ruangan itu selama kurang lebih satu jam lamanya, akhirnya Quin dan Damar berpamitan dan melanjutkan perjalanan pulang ke kediaman mereka.


.


.


.


Sesaat setelah tiba di kediamannya, Quin melanjutkan langkahnya sambil memegang lengan suaminya hingga ke kamarnya.


"Istirahatlah," kata Damar sambil membantu Quin duduk di ranjang.


"Aku ingin membaringkan kepalaku di pahamu," pinta Quin.


Damar mengulas senyum lalu naik ke ranjang.


"Kemarilah," pintanya sembari menepuk pahanya. Dengan patuh Quin langsung membaringkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di paha suaminya.


Dengan lembut Damar terus mengelus kepalanya hingga membuat istrinya itu perlahan memejamkan matanya.


Selang beberapa menit kemudian, ia pun memindahkan kepala Quin ke bantal. Setelah itu ia menuju ruang ganti dan melepas semua pakaiannya dan hanya mengenakan celana pendek rumahan.


Baru saja ia akan melangkah keluar, ponselnya bergetar.


"Siapa ya?" gumamnya lalu menghampiri meja nakas lalu duduk di sisi ranjang. "Adrian?" lirihnya.


Ia pun menjawab panggilan dari sang asisten.


"Ya, Rian ... ada apa? Apa ada masalah di sana?" cecarnya.


"Nggak, Tuan," jawab Adrian.


"Lalu?" tanyanya lagi sembari mengelus wajah Quin dan menatapnya.


"Tuan, jika Anda mengizinkan, besok saya dan Al akan berangkat ke Jepang. Apa boleh?" tanyanya sekaligus meminta izin.


Damar langsung mengulas senyum.


"Tentu saja boleh. Apalagi kamu berdua dengan Al, Quin pasti senang bertemu sahabatnya itu," jawab Damar. "Ya sudah, tiketnya biar aku saja yang bayarin," tawar Damar.


"Baik, Tuan. Terima kasih," ucap Adrian.


"Ya sudah, besok kabari aku jika kalian akan berangkat. Satu lagi, langsung ke kediamanku yang tak jauh dari kantor, soalnya aku dan Quin menetap di sini sekarang," jelas Damar.


"Baik, Tuan," kata Adrian.


Setelah itu Damar memutuskan panggilan telfon lalu ikut berbaring di samping istrinya. Niatnya ingin ke ruang kerjanya, terpaksa ia batalkan dan memilih tidur bersama istrinya.


"Honey ... besok kamu akan kedatangan sahabatmu," bisiknya lalu mengelus perutnya.


.


.


.


QA Boutique, pukul 15:40 sore ...


Tampak nyonya Zahirah sedang memasuki butik milik Quin itu. Saat tahu jika nyonya Zahirah sedang menghampiri Al, Gisha dan Jihan ketiga-nya langsung berdiri.


"Selamat sore Nyonya, ada yang bisa kami bantu?" tanya Al.


Setelah tahu QA Boutique adalah milik Quin, nyonya Zahirah sering memantau butik itu lewat orang suruhannya hanya untuk mengetahui jika Quin sudah ada di kota J ataupun tidak.


Namun ia harus menelan pil pahit karena setelah menikah, Quin sama sekali tidak pernah menginjakkan kakinya di butik itu.


Nyonya Zahirah menatap ketiganya satu persatu lalu meneliti seluruh isi ruangan itu.


Al tersenyum sinis mendengar pertanyaan dari nyonya Zahirah.


"Bukan rahasia lagi Nyonya, sejak Quin dan Damar meninggalkan kota ini, Quin sudah nggak pernah ke sini lagi," sinis Al. "Lagian ngapain juga Nyonya bertanya tentang Quin. Bukankah Nyonya nggak menyukainya?" sindir Al dengan perasaan geram.


Nyonya Zahirah terpekur sekaligus jengkel mendengar ucapan sahabat dari Quin itu.


"Jika Nyonya ke sini hanya untuk mencarinya, Nyonya salah alamat," tegas Al.


Mendengar ucapan tak bersahabat dari Al, Nyonya Zahirah langsung angkat kaki dari butik itu dengan perasaan dongkol.


Sesaat setelah berada di dalam mobil ia menggerutu kesal.


"Bisa-bisanya gadis itu berbicara nggak sopan padaku!" gerutunya sambil mengepalkan tangannya.


"Nyonya ... apa Anda baik-baik saja?" tanya supirnya.


"Ya ... sebaiknya antar aku pulang," perintahnya.


Dengan patuh sang supir mengikuti perintahnya lalu mulai meninggalkan tempat itu.


Sedangkan di dalam butik, Jihan, Al dan Gisha langsung tersenyum seolah puas setelah melihat raut wajah marah nyonya Zahirah barusan.


"Al, kamu benar-benar ya. Apa kamu nggak takut jika ia bakal menjatuhkan butik ini?" kata Jihan.


"Dia nggak akan berani. Coba saja ... jika dia ingin Damar semakin menjauhinya," sahut Al sambil terkekeh sekaligus kesal.


"Bener juga ya," balas Jihan. "Biarkan saja, toh Quin dan Damar malah seolah tak mempermasalahkan jika nyonya Zahirah masih nggak merestui pernikahan mereka," pungkas Jihan dengan hela nafas.


"Oh ya, Jihan, Gisha besok aku dan Rian akan ke Jepang. Butik aku titip dulu sama kalian berdua," kata Al.


"Jangan lupa sampaikan salam sayang dan kangen kami pada Quin ya, Al," pesan Gisha.


"Pastinya," balas Al.


Setelah itu mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda gara-gara kehadiran nyonya Zahirah.


.


.


.


Malam harinya waktu Osaka ...


Quin dan Damar kini berada di kediaman Arjuna.


Tampak Quin sedang membantu Yura menyiapkan makan malam ditemani oleh sang ponakan.


Sedangkan Damar dan Juna berada di ruang tamu. Keduanya tampak mengobrol santai dan sesekali terdengar suara keduanya tertawa.


"Mereka ngomongin apa sih?" desis Quin.


"Entahlah, palingan juga urusan pria," sahut Yura lalu terkekeh.


"Sayang, apa kamu pengen aunty buatkan sesuatu?" tawar Quin sambil mengelus kepala Ayumi.


Ayumi hanya menggelengkan kepalanya kemudian menempelkan kepalanya di perut Quin. Sedetik kemudian gadis cilik itu cekikikan karena merasakan tendangan kecil dari calon sepupunya.


"Kenapa? Adek nakal ya?" tanya Quin sambil terkekeh.


"Hmm," jawab Ayumi lalu mengelus perut Quin.


"Hanya dua bulan lagi, Sayang," bisik Quin. "Kita akan bertemu dengannya," lanjut Quin.


"Aku sudah nggak sabar ingin bertemu dengannya, aunty," sahut Ayumi dengan antusias.


Tak lama berselang Damar dan Arjuna menghampiri mereka lalu duduk kursi meja makan.


"Waah ... sepertinya enak," kata Damar saat menatap makanan yang sudah terhidang.


"Ya sudah. Tunggu apalagi, ayo kita santap mumpung masih hangat," cetus Juna.


Suasana hangat tercipta di antara mereka sepanjang malam itu. Sesekali Quin menggoda sang kakak supaya menambah momongan lagi.


Tawa dan canda kembali menghiasi rumah itu dengan kehadiran Quin. Suatu yang sangat Juna rindukan setelah sekian lama.


Setelah selesai menyantap makan malam kini mereka sedang duduk bersantai di ruang tamu sambil mengobrol.


"Quin, Damar, malam ini kalian menginaplah di sini," tawar Juna.


"Baiklah," sahut Damar seraya merangkul bahu istrinya.


Tak ada hal yang membuat Damar bahagia melainkan bisa melihat Quin bahagia dan selalu merasa aman dan nyaman ketika bersamanya.


Honey aku ingin senyum itu terus terukir manis di wajahmu. Apapun itu aku akan selalu membuatmu bahagia.


...----------------...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜