
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, tujuh jam lebih ditambah perjalanan menuju ke villa.
Tepat jam lima sore akhirnya Quin dan Damar kini sudah berada di villa itu. Keduanya tampak berbaring di atas ranjang empuk di kamarnya.
"Ssssttt .... Honey ... perutku kram," keluhnya di sertai suara ringisannya.
Damar langsung mendudukkan dirinya lalu mengelus perutnya sambil terkekeh dengan gemas.
"Sayang ... kasian momy. Kamu ngapain sih di dalam sana? Sampai-sampai membuat perut momy kram? Kamu ngambek ya?" Sambil mengelus perut istrinya, Damar mengajak sang calon bayi berbicara.
"Honey ..." panggil Quin.
Damar langsung menatapnya lalu mengecup keningnya dengan sayang.
"Apa masih kram?" bisiknya namun tangannya terus mengelus perut buncit Quin yang memang terasa tegang.
Quin hanya mengangguk dan sesekali memejamkan matanya hingga ia merasa perutnya agak mendingan barulah ia merasa tenang.
"Thanks Honey ..." ucapnya sambil memegang tangan sang suami yang terus saja mengelus perutnya.
Damar mengulas senyum sambil mengangguk.
Setelah itu ia ikut berbaring di samping Quin dan tak melepas tangannya dari perut buncit sang istri.
Mungkin karena kelelahan selama perjalanan udara ditambah lagi ia harus mengendari sendiri menuju villa, akhirnya keduanya pun tertidur.
.
.
.
.
Kediaman Damar di kota Osaka ...
Setibanya di rumah sang putra, baik tuan Alatas maupun Sofia, keduanya sama-sama harus kecewa karena sang empunya rumah malah tak ada di kediamannya.
"Ini semua salah, Papa," omel Sofia sekaligus kesal. "Coba Papa hubungi kakak dulu, pasti mereka nggak jadi berangkat ke kota J. Jadinya selisih kan kita," omel Sofia lagi.
Pak Alatas hanya terkekeh mendengar Omelan sang putri. Ia lalu menatap asisten sang putra yang menjemputnya.
"Hendra, nggak apa-apa. Meski Damar dan Quin saat ini lagi di kota J, aku dan Sofia sekalian saja berlibur," kata tuan Alatas seraya menepuk pundak asisten putranya itu.
"Baik, Tuan."
"Sepertinya Damar dan Quin akan sedikit lama di kota J. Jadi kemungkinan aku dan Sofia hanya tiga hari saja di sini," sambung tuan Alatas.
Setelah itu ia pun meminta Hendra pulang. Sepeninggal Hendra, tuan Alatas menekan password pintu lalu mengajak sang putri masuk ke dalam rumah.
"Pah, bagaimana jika mama curiga jika kita ke Jepang secara bersamaan meski dengan alasan bisnis," cecar Sofia sesaat setelah mendaratkan bokongnya di sofa ruang santai.
"Biarkan saja, Nak," jawab sang ayah dengan santai.
Kembali ke kota J ...
Tanpa terasa waktu kini telah menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit malam. Saat membuka mata, Quin langsung menoleh ke arah jendela.
"Sudah malam? Jam berapa ini?" desisnya ketika mendapati kamarnya gelap. "Honey," panggil Quin sambil menggoyang tubuh Damar.
"Hmmmm."
"Ayo bangun sudah malam?" pintanya.
Damar perlahan membuka matanya. Bukannya bangkit ia malah semakin membawa Quin masuk ke dalam pelukannya.
"Biarkan seperti ini dulu," bisik Damar. "Aku masih lelah," sambungnya.
"Ya sudah istirahatlah. Aku nyalakan lampu dulu," balas Quin.
Takut jika Quin sampai tersandung, akhirnya Damar melepas pelukannya lalu memintanya tetap di tempat. Ia pun menyalakan lampu tidur di samping meja nakas.
Setelah itu, ia beranjak dari tempat tidur lalu menghampiri saklar lampu. Turun hingga ke lantai satu lalu menyalakan semua lampu di villa itu.
Sedangkan Quin, ia ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya menggunakan air hangat. Setelah merasa cukup, ia pun kembali ke kamar lalu mengenakan dress santai.
Tak lama berselang Damar menghampirinya yang terlihat sedang berada di teras balkon kamar.
Quin terkekeh lalu berbalik menghadapnya. Melingkarkan kedua tangannya di punggung leher suaminya lalu menyatukan keningnya.
"Mandilah, setelah itu kita cari makan di di luar," usulnya.
"Aku ingin memakanmu saja," goda Damar lalu mengecup bibir istrinya.
Quin terkekeh sesaat setelah melepaskan pagutan bibirnya dari suaminya. Ia kemudian menangkup rahangnya lalu berbisik,
"Not now but later."
Damar menghela nafas, setelah itu ia pun berpamitan lalu ke kamar mandi menuruti perintah istrinya.
Sepeninggal Damar, Quin turun ke lantai satu lalu ke pantry kemudian membuat kopi di mesin otomatis pembuat kopi.
Sambil menunggu ia meneliti setiap sudut ruangan villanya.
.
.
.
.
Mansion Tuan Alatas ....
Dengan wajah datar, kini nyonya Zahirah menatap bi Yuni dan Naira dengan tatapan yang sulit di artikan.
Tentu saja tatapan tak biasa dari sang nyonya besar membuat ibu dan anak itu gugup bukan kepalang.
"Tolong jelaskan apa alasan kalian berdua memfitnah Quin dan menjelek-jelekkan gadis itu padaku?" Pertanyaan yang tiba-tiba saja keluar dengan nada dingin dari bibir nyonya Zahirah seketika membuat keduanya gugup.
"Nyonya ... sa-saya," ucap bi Yuni terbata.
"Ayo jelaskan!!!" bentak nyonya Zahirah dengan begitu dongkolnya.
Mendengar suara bentakan nyonya Zahirah, bi Yuni dan Naira terlonjak kaget dengan kepala tertunduk. Keduanya tak berani menatapnya.
"Segera kemasi barang-barang kalian dan besok pagi segera tinggalkan mansion ini," tegas nyonya Zahirah. "Aku sama sekali nggak menyangka jika kalian bisa sepicik itu memfitnah Quin. Bukan Quin yang gila harta melainkan kalian berdua," sinis nyonya Zahirah.
Keduanya hanya bisa diam seribu bahasa, ingin menyangkal dan mengelak pun mereka tak punya cela. Apalagi saat ini Nadine ada bersama mereka di ruang tamu itu.
Hening sejenak ....
"Aku benar-benar kecewa pada kalian berdua. Salahku karena terlalu terhasut dengan ucapan sampah kalian berdua," geram nyonya Zahirah.
Setelah itu ia pun meninggalkan ruang tamu lalu menuju kamarnya.
Sepeninggal nyonya Zahirah, gantian Nadine yang menatap Keduanya.
"Tunggu apa lagi? Kemasi barang-barang kalian. Kalian memang layak di usir dari mansion ini. Benar-benar nggak tahu diri!" sindir Nadine. "Karena ambisi ingin menjadi bagian dari keluarga ini kalian menghalalkan segala cara termasuk ingin menjebak Damar saat dia masih duduk di kursi roda. Cih!!! Menjijikkan," decih Nadine sambil menatap Naira dengan tatapan jijik.
Lagi-lagi ibu dan anak itu hanya bisa bungkam.
Malu ...
Merasa di kuliti ...
Terhina ...
Semuanya menjadi satu. Karena sudah tak bisa menahan, akhirnya bi Yuni mengajak Naira ke kamar untuk segera mengemasi barang-barang mereka.
Sesaat setelah berada di kamarnya keduanya malah saling menyalahkan. Karena tak ada yang ingin mengalah mereka malah bertengkar. 😆✌️
"Awas saja kamu Quin!!!" geram Naira saat mengingat sosok gadis blasteran itu. "Gara-gara kamu kami malah di depak dari mansion ini setelah puluhan tahun tinggal di sini."
"Jangan salahkan Quin, kamunya yang nggak becus memenangkan hati Damar bahkan gagal menjebaknya," kata bi Yuni. "Yang ada sekarang malah kita dipermalukan."
Naira semakin merasa kesal mendengar ucapan sang mama. Setelah selesai mengemasi barang-barang keduanya, Naira segera memesan taksi online.
Karena terlanjur malu, keduanya tak menunggu hingga hari esok untuk meninggalkan mansion melainkan malam ini juga.
...----------------...