101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 24



Nyonya Zahirah tampak begitu kesal dengan putra sulungnya itu.


"Damar, Mama nggak suka jika kamu dekat-dekat dengan asisten pribadimu itu. Sepertinya dia bukan gadis baik-baik, apalagi dia sudah memiliki tunangan."


Damar tersenyum sinis lalu menatap wajah mamanya dengan intens.


"Lalu ... menurut Mama, wanita baik-baik yang Mama maksud itu seperti apa? Seperti Naira? Kimberly? Atau wanita pilihan Mama gitu?" sindirnya dengan sinis.


"Damar!!" bentak mama.


"Sudahlah Mah, jangan mengatur hidupku. Lagian aku berhak menentukan hidup dan wanita pilihanku sendiri," tegas Damar dan tak menghiraukan wajah kesal sang mama.


Lagi-lagi Nyonya Zahirah mendengus kesal bukan kepalang mendengar kata-kata putranya. Merasa percuma berdebat dengan Damar, akhirnya Nyonya Zahirah meninggalkan ruangan itu dengan perasaan dongkol.


Tak lama sepeninggal sang mama, Adrian masuk ke ruangan itu lalu menyapa Damar.


"Tuan ..."


"Adrian," sahutnya lalu mengisyaratkan Adrian duduk di sofa.


"Ada apa, Tuan?"


"Rian, besok kita akan berangkat ke Osaka."


"What!!'' Apa nggak terlalu mendadak Tuan?" kaget Adrian.


"Nggak. Kita ambil penerbangan paling pagi besok. So, aku harap malam ini kamu siapkan segala keperluan kita," perintah Damar dengan senyum tipis.


"Baik, Tuan," sahut Adrian. "Apa masih ada yang Anda butuhkan Tuan?"


"Nggak. Hanya saja aku ingin kamu mengantarku ke gedung koleksi mobil dan motor balap ku. Sudah lama aku nggak melihat mereka," perintahnya.


Mengingat mobil dan motornya, seketika jiwa balapnya bergejolak liar. Ingin rasa ia mengendarai dan memacu dua kendaraan itu di waktu yang bersamaan secara bergantian.


"Baik Tuan." Adrian pun membantu Damar mendorong kursi rodanya meninggalkan ruangan itu.


********


Kantor Angga ...


"Tumben Quin nggak mengabariku," gumam Angga sambil memainkan pulpen di tangannya.


"Aaakhhh ... sial!!! Jika saja kamu menurut, aku nggak mungkin affair dengan Kinara. Kenapa sih kamu sering menolakku?!!" kesal Angga.


Ia pun beranjak dari kursi kerjanya lalu menghadap jendela kaca.


"Sayang, seminggu bagiku itu bagaikan setahun tanpa dirimu. Kenapa kamu nggak mengabariku jika kamu sekalian ingin berlibur di KL," desisnya lalu membakar rokoknya.


Angga kembali termenung sambil menyesap rokoknya. Bayangan kedekatan Quin dan Damar kembali membuatnya gundah.


Tak lama berselang, pundaknya di tepuk seseorang. Ia pun menoleh.


"Kakak," lirihnya lalu menghembus asap rokoknya.


"Ada apa? Kelihatanya kamu lagi memikirkan sesuatu. Apa itu tentang Quin?" selidik Altaf.


"Hmm," ia mengangguk.


Ruangan itu hening sejenak dan Altaf menatap intens wajah sang adik.


"Apa kamu nggak menyembunyikan sesuatu?" selidik Altaf lagi.


Angga melirik. "Ma-maksud kakak apa?" tanyanya dengan terbata.


"Aku perhatikan setahun terakhir, hubungan kalian sepertinya tidak baik-baik saja. Apalagi pernikahan kalian yang harusnya berlangsung bulan ini harus ditunda tahun depan," papar Altaf.


Angga bergeming dan kembali menyesap rokoknya dalam-dalam.


"Kenapa kamu diam? Ingat Angga, Quin itu gadis yang setia, sopan dan lembut. Jangan pernah sakiti hatinya apalagi mengkhianatinya. Karena wanita seperti Quin sekali tersakiti maka tidak akan ada kesempatan kedua," peringat Altaf dengan senyum sinis.


Angga kembali melirik kakaknya yang berdiri tepat di sampingnya.


Angga membatin dan terlihat gugup mendengar kata-kata sang kakak yang secara tidak langsung menyindirnya secara halus.


"Aku dan Quin baik-baik saja, Kak. Quin menunda pernikahan kami, karena dia belum siap saja," jelas Angga sedikit gugup.


"Lalu ... semalam kenapa dia pulang tanpa pamit padamu? Apa kamu melakukan sesuatu padanya?" tanya Altaf penuh selidik tanpa menoleh sedikitpun pada sang adik.


"A-a-aku ..." ucapannya terputus.


"Aku sudah menduganya," potong Altaf dengan cepat lalu tersenyum sinis kemudian menatap adiknya lalu menepuk bahunya.


"Angga, jangan samakan Quin seperti protagonis wanita di cerita novel. Dia nggak bodoh," sindir Altaf dengan sinis.


Bersamaan dengan berakhirnya kalimat sang kakak pintu ruang kerjanya dibuka tanpa diketuk.


Lagi-lagi Altaf tersenyum sinis menatap Angga dan wanita itu bergantian, yang tak lain adalah Kinara dengan pakaian yang seperti kekurangan bahan.


"Jika Quin tahu ini. Aku yakin hubungan kalian akan berakhir detik ini juga," bisik Altaf kemudian berlalu meninggalkan ruangan itu dan berhenti sejenak tepat di hadapan Kinara.


"Silakan tinggalkan ruangan ini. Ada urusan apa kamu dengan adikku? Apa kamu ingin menjajahkan tubuhmu padanya?" ejek Altaf dengan sinis lalu melanjutkan langkahnya.


Ucapan bernada mengejek Altaf, membuat Kinara terhenyak sekaligus malu. Ia mengepalkan kedua tangannya dan ikut meninggalkan ruangan itu dengan perasaan dongkol.


Sepeninggal Altaf dan Kinara, Angga tertunduk lesu. Menelaah ucapan sang kakak.


********


QA Boutique ...


Nyonya Zahirah tampak sedang berada di butik itu.


"Selamat sore, Nyonya," sapa Al dengan ramah lalu mengulas senyum.


"Sore juga. Apa pakaian saya sudah selesai?" tanya Nyonya Zahirah.


"Iya Nyonya," jawab Al lalu mengambil paper bag yang sudah ia siapkan. "Ini pakaian Anda dan Tuan, Nyonya," sambung Al lalu menyerahkan paper bag itu pada Nyonya Zahirah.


"Terima kasih ya. Oh ya, saya ingin bertemu langsung dengan owner butik ini. Apa dia ada di sini?"


"Maaf Nyonya. Tapi owner butik ini sedang berada di KL," bohong Al.


"Oh gitu ya," ucap Nyonya Zahirah sedikit kecewa. Entah bagaimana reaksinya jika tahu owner butik itu adalah Quin.


"Tapi jika Anda ingin bertemu dengannya, minggu depan saja, Nyonya," saran Al.


Nyonya Zahirah hanya mengangguk. Setelah itu ia pun membayar baju pesanan kemudian meninggalkan butik itu.


"Sudah lama aku percayakan design baju di butik ini, tapi aku belum pernah bertemu langsung dengan owner sekaligus designer-nya," gumam Nyonya Zahirah lalu meminta supirnya melanjutkan perjalanan.


Meninggalkan Nyonya Zahirah yang masih penasaran dengan sosok owner di butik langganannya, beda halnya dengan sang putra.


Saat ini Damar dan Adrian sedang berada di area parkir mobil dan motor milik Damar.


"Guys ... aku kangen banget ingin menunggangi kalian. Tunggu aku benar-benar pulih kita akan menjelajah lagi dan menjadi penantang," gumamnya sambil mengelus salah satu motor cross-nya lalu ke mobilnya.


"Quin ... aku akan mengajakmu mencoba sesuatu hal yang baru," desisnya sambil membayangkan wajah gadis berdarah indo Jepang itu.


Sedangkan Adrian hanya bisa geleng-geleng kepala memperhatikan sang CEO yang tampak terus tersenyum sambil mengelus koleksi kendaraan balapnya itu.


Tak lama berselang ponsel damar kembali bergetar. Ia pun merogoh saku jas-nya mengeluarkan ponselnya.


Lagi-lagi senyumnya semakin mengembang sempurna. Bagaimana tidak, Quin kembali mengiriminya pesan beserta foto sedang berada di antara pohon-pohon bunga sakura bersama ponakannya.


βœ‰οΈ : Mr. Brewok, indah dan cantik bukan? Secantik diriku 😝🀭. Maaf aku menggodamu πŸ˜…πŸ€­πŸ™.


Lagi-lagi Damar tersenyum merasa gemas. "Awas saja kamu. Aku nggak akan melepasmu, meski kamu adalah tunangan Angga," desisnya dengan senyum sembari mengelus


...****************...


Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author pemula seperti saya. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜