101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 29



Jauh dari kota Osaka Jepang, Nyonya Zahirah dan Tuan Alatas tampak sedang mengunjungi perusahaan sang putra.


Ketika tiba di ruangan, keduanya tampak kecewa mendapati ruangan itu kosong.


"Damar! Anak itu benar-benar ya," geram Nyonya Zahirah.


Sedangkan Tuan Alatas hanya menggelengkan kepalanya melihat sang istri yang tampak begitu kesal.


"Mah, sudah lah, biarin saja. Lagian Damar ke Jepang kan, karena urusan pekerjaan," kata Tuan Alatas. Pikirnya Damar ke Jepang memang karena urusan bisnis. Padahal sebaliknya.


"Papa selalu saja membelanya. Bahkan membiarkannya melakukan apapun yang ia inginkan, termasuk hobinya yang mengakibatkan ia sekarang berakhir di kursi roda!" sentak Nyonya Zahirah dengan begitu kesalnya.


Tuan Alatas hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar.


Tak lama berselang, assisten kepercayaan Damar memasuki ruangan itu setelah tahu sang Nyonya dan Tuan besar sedang berkunjung.


"Selamat pagi, Tuan, Nyonya," sapa Nadif seraya menunduk takjim.


"Pagi juga Nadif," jawab keduanya.


"Oh ya, Nadif. Kapan Damar akan kembali?" tanya Tuan Alatas.


"Minggu depan, Tuan. Tuan muda mengatakan jika beliau sekalian akan mengikuti terapi di sana," jelas Nadif dan terpaksa sedikit berbohong.


"Apa?!! Seminggu!" Nyonya Zahirah semakin terlihat emosi. "Dia itu, ada urusan bisnis apa mau berlibur?" geramnya sambil menggelengkan kepala dan mendengus kesal.


"Mah, apa Mama nggak dengar? Urusan bisnis dan sekalian terapi. Bukankah itu bagus? Itu artinya kemauannya untuk sembuh lebih besar," bela Tuan Alatas dengan senyum. "Tapi ... apa yang membuatnya begitu semangat hingga mau mengikuti terapi di sana? Apalagi selama dua tahun terakhir, Damar lebih banyak termenung dan merasa pesimis," lanjut Tuan Alatas sambil mengelus dagunya.


Mendengar sederet pertanyaan yang tercetus dari sang suami, Nyonya Zahirah hanya memutar bola matanya dengan malas.


"Apa ini ada sangkut-pautnya dengan asisten pribadinya itu ya? Haaah ... aku rasa putraku sudah tidak waras. Apalagi itu tunangannya Angga."


Nyonya Zahirah hanya bisa membatin kesal. Padahal ia sangat berharap putranya itu hadir dan berkumpul bersama malam nanti. Mengingat watak putranya yang keras kepala dan tidak suka di atur, ia hanya bisa pasrah.


"Damar ... kapan anak itu akan berubah," gumam Nyonya Zahirah.


.


.


.


QA Boutique ...


Jihan dan Gisha tampak sibuk sedang merapikan pakaian pelanggan yang akan di ambil sebentar lagi, dan beberapa yang sudah mereka masukkan ke dalam paper bag.


Ketika keduanya tampak fokus, suara seorang pria dan wanita menghentikan aktifitas keduanya lalu menoleh ke arah sumber suara.


"Tuan, Nyonya."


"Apa Quin ada di atas?" tanya Pak Pranata.


"Maaf Tuan, Quin sedang berada di KL bersama Al," jawab Jihan dengan berbohong.


"Sejak kapan," sambung Bu Fitri.


"Sudah dua hari, Nyonya. Ada urusan pekerjaan dan dia sekalian berlibur di sana."


"Sekalian berlibur?" sahut Pak Pranata.


"Iya Tuan. Quin akan berada di KL selama seminggu," jawab Jihan lagi. Oh ya, ini pakaian yang sudah Quin siapkan untuk Tuan dan Nyonya." Jihan memberikan paper bag itu kepada Bu Fitri.


"Ya, terima kasih," ucap Bu Fitri lalu meraih paper bag itu.


Keinginannya untuk bertemu putri bungsunya itu harus pupus dan berakhir kecewa karena lagi-lagi Quin ke luar negeri tanpa mengabarinya.


"Sayang, apa segitu sibuknya kamu? Bahkan meluangkan waktu sebentar saja bersama papa, kamu nggak ada waktu. Ingin bertemu denganmu saja sulit."


Pak Pranata hanya bisa mengatakan itu dalam hatinya saja. Perlahan langkahnya menuju tangga dan memilih naik ke lantai dua.


Sesaat ketika berada di ruang kerja putrinya, matanya menyapu seluruh isi ruangan itu tanpa ada yang ia lewatkan hingga matanya tertuju ke arah frame foto.


"Bahkan fotoku tidak ada di sini," lirihnya sambil mengelus foto kebersamaan Quin, mama dan kakaknya. "Apa kamu benar-benar membenci papa?" lirihnya lagi lalu kembali meletakkan frame itu di atas meja Quin.


Dengan hela nafas, Pak Pranata kembali ke lantai bawah dan mengajak Bu Fitri kembali ke kantor.


Sesaat setelah berada di dalam mobil, Bu Fitri melirik suaminya.


"Nggak apa-apa, Papa hanya memikirkan Quin saja," jawabnya pelan.


Sambil menghela nafas, Bu Fitri berkata, "Biarin saja lah, toh Quin ke KL ada urusan. Lagian ini bukan yang pertama kali tapi sudah sering kan, dia ke luar negeri," pungkasnya.


Pak Pranata hanya mengangguk. Namun tetap saja ia sangat merindukan putri bungsunya itu walau hanya sekedar makan bersama. Namun hal itu sudah tidak pernah terjadi lagi, sejak ia menikah lagi dengan Bu Fitri secara diam-diam.


Itu lah mengapa hubungan Quin dan sang papa mulai memburuk, di tambah lagi setelah ibunya memilih berpisah, jatuh sakit dan akhirnya meninggal.


Buntut dari meninggalnya sang mama, Quin dan Arjuna menyalahkan Pak Pranata. Lebih-lebih lagi Bu Fitri, mereka menganggap semua itu adalah penyebabnya. Makanya tak hentinya mereka menjuluki sang ibu tiri sebagai pelakor tak tahu diri.


Baik Quin dan Arjuna, mereka lebih memilih mengambil jalan masing-masing. Arjuna lebih memilih mengurus perusahaan sang mama yang ada di Jepang. Sedangkan Quin melanjutkan bisnis di bidang fashion dan tinggal di apartemen.


Lamunan Pak Pranata seketika membuyar ketika sang supir menegurnya.


"Pak, kita sudah sampai."


"Hmm ..." ia melirik istrinya. "Aku masuk dulu ya," pamitnya lalu membuka pintu mobil.


Bu Fitri hanya mengangguk dan meminta supirnya mengantarnya ke kantor Angga.


"Emon, tolong antar aku ke kantor Angga ya," pintanya.


"Baik Nyonya."


********


Kembali ke Osaka Jepang ....


Quin, Damar, Adrian dan Al tampak sedang menyusuri taman sambil menikmati bunga-bunga sakura yang bermekaran. Tak lupa mereka mengabadikan foto-foto mereka di antara pohon-pohon sakura yang tampak indah.


Tergambar jelas di wajah Quin, jika ia sangat menikmati moment kebersamaan mereka. Senyumnya terus mengembang di wajah cantiknya dan sesekali melempar candaan.


Kini Damar dan Quin, sedang duduk di salah satu bangku yang terdapat di taman itu bahkan langsung berhadapan dengan sungai besar.


Sedangkan Al dan Adrian sedang mencari makan dan minum.


Damar tersenyum lalu melirik Quin. "Quin aku jadi teringat beberapa hari yang lalu saat kamu menyapaku di taman kota," kata Damar membuka suara.


"Kenapa?"


"Aku nggak menyangka saja, jika ada seorang gadis tiba-tiba menyapaku lalu memberiku minuman bahkan tak canggung mengajakku berbicara," akunya.


Quin terkekeh lalu menghirup udara segar dalam-dalam. Sedetik kemudian ia menoleh dan mengajak Damar berdiri mendekati besi pembatas yang terpasang di sepanjang pinggir sungai.


"Ayo aku bantu, kita berdiri sejenak di sana," ajak Quin seraya memegang kedua tangan Damar.


Damar hanya menurut. Entah mengapa ia seolah tak bisa menolak permintaan gadis manis itu.


"Damar ..."


"Hmm ..."


"Aku rasa jika setiap pagi kamu berlatih berjalan di sini, itu sedikit membantu. Apalagi pagar besi yang ada di sepanjang jalan ini bisa menopang tubuhmu sambil memegang sebelah tanganku atau tongkat tangan nantinya," usul Quin.


Lagi-lagi Damar mengulas senyum. Ia tak habis pikir dengan Quin, ide yang tercetus darinya selalu masuk di akalnya.


"Selain good attitude, sepertinya Quin gadis yang smart."


"Aku nggak masalah sih, dengan senang hati," kata Damar lalu mengacak rambut Quin. "Sebentar ... aku ingin mengabadikan foto kita di sini. View-nya keren banget," cetus Damar.


Tanpa pikir panjang, ia mengambil beberapa kali foto mereka berdua di taman itu. Dari kejauhan Al dan Adrian tampak tersenyum melihat keduanya.


"Rian ..."


"Hmm ..."


"Mereka tampak serasi ya," celetuk Al sambil menyedot minumannya.


"Sayangnya, dia milik Pak Angga," timpal Adrian lalu melirik Al.


...****************...


Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author pemula seperti saya. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜