
Pagi harinya, setelah selesai berpakaian dengan rapi dan berdandan alakadarnya, Quin menuju kamar damar.
Ia pun mengetuk pintu lalu membukanya kemudian menghampiri Damar.
"Good morning, Sir," ucap quin dengan seulas senyum.
"Morning too Quin," sahut Damar menatap kagum pada Quin.
"Ayo, aku papah sampai ke kamar mandi," tawar Quin. "Berpeganglah seperti biasa dan jangan ragu, anggap saja sekaligus terapi untuk menguatkan otot dan syaraf kakimu. Kamu akan terbiasa seperti ini selama aku masih menjadi asistenmu," bisik Quin.
Damar hanya mengangguk lalu berpegang di pundak Quin. Aroma parfum yang menguar dari tubuh Quin seketika membuatnya memejamkan matanya.
Quin terus memundurkan langkahnya menuju kamar mandi sambil memegang pinggang Damar demi menyeimbangi tubuh besar pria itu.
Ketika berada di bawah shower, Quin memintanya terus berpegangan di dinding kaca.
"Kamu bisa tahan kan, berdiri selama 5 menit?" tanya Quin.
"I will try it," jawabnya merasa terharu dengan ketulusan Quin.
"Aku yakin kamu pasti bisa," ucap quin. "Semangat aku akan terus mendukung mu," tambah Quin.
"Thanks, Quin."
Setelah itu, Quin keluar dari kamar mandi lalu menuju ke walk in closet menyiapkan pakaian kantor Damar, memilih jam tangan dan dasinya.
Lord ... semuanya branded.
Mata Quin terarah ke miniatur otomotif motor dan mobil sport yang berjejer rapi di satu etalase khusus.
Ini pasti mahal. Sepertinya dia menyukai dunia balap.
Tak lama berselang Damar memanggilnya.
"Quin!" panggil Damar.
Dengan langkah cepat, Quin kembali ke kamar mandi.
"Sudah? Apa kamu berhasil bertahan berdiri selama 5 menit?" tanya Quin.
"Ya ... itu semua berkatmu," jujurnya.
Quin kembali membantu Damar menghampiri ranjang dan mendudukkannya di sisi ranjang. Setelah itu ia meminta Damar mengenakan boxernya dan meninggalkannya sejenak.
Ketika Damar kembali memanggilnya, Quin kembali lagi. Ia pun duduk di lantai lalu memegang telapak kaki Damar lalu memijatnya dengan lembut dan telaten.
Lagi-lagi perlakuan lembut dan perhatian Quin padanya membuat hatinya menghangat bahkan dadanya tiba-tiba berdebar.
Rasanya aku tidak ingin melepasmu.
Setelah itu, Quin kembali membantunya mengenakan pakaian sambil bercanda.
Suara tawa keduanya menggema di kamar itu hingga mengusik bi Yuni yang sedang menyiapkan sarapan.
Karena penasaran ia pun menapaki anak tangga lalu menghampiri kamar sang majikan. Lagi-lagi ia merasa geram saat mendapati Quin sedang membantu Damar mengancingkan kemejanya.
Baik Damar dan Quin keduanya tidak menyadari sedang diperhatikan oleh bi Yuni.
"Sudah. Rapikan dulu kemejanya. Mau aku bantu memakaikan dasinya," tanya Quin.
"Nggak usah, aku lebih nyaman tanpa dasi," jawab Damar.
"Ya sudah," Quin kembali membantunya mengenakan jasnya. "Perfect," ucap Quin.
Setelah itu, Quin mendudukkan Damar di kursi rodanya.
"Thanks ya, Quin. Ayo kita sarapan, mungkin sebentar lagi Adrian akan menjemput kita," ajaknya.
Quin hanya mengangguk. Keduanya pun sama-sama akan keluar dari kamar namun kaget saat memergoki bi Yuni masih berdiri di depan pintu.
"Bi ..." tegur Damar.
"Ah, saya hanya ingin memanggil kalian untuk sarapan," katanya sedikit gugup.
"Terima kasih, Bi. Aku dan Quin baru saja akan turun," sahut Damar lalu kembali menggerakkan tuas kursi rodanya.
"Damar, kamu duluan, ya. Aku ke kamar dulu soalnya alat tempurku masih di sana," izin Quin.
Damar tertawa mendengar kalimat Quin lalu mengangguk.
Beberapa menit kemudian ...
Keduanya tampak sedang menyantap sarapan.
Saat sedang sarapan, bi Yuni pun mengutarakan niatnya.
"Nak Damar."
"Iya, Bi. Ada apa?" tanya Damar.
"Bagaimana jika saya sarankan Naira ke sini dan menjadi terapis Nak Damar," usul bi Yuni.
"Tidak masalah Bi. Tapi bicarakan dulu sama mama," kata Damar lalu mengusap bibirnya dengan tisu.
"Menurut ku, usulan dari Bi Yuni bagus juga," sambung Quin.
Bi Yuni tersenyum sinis mendengar ucapan Quin.
"Bicarakan saja sama mama, Bi," tegas Damar.
"Baik lah," jawab bi Yuni.
.
.
.
Kediaman Pak Pranata ...
"Mah, Pah ... aku duluan ya," ucapnya sambil terburu-buru.
"Loh, nggak sarapan dulu?" tanya bu Fitri.
"Nggak, nanti di kantor saja. Aku buru-buru soalnya hari ini aku ada pemotretan," jelasnya lalu meninggalkan kedua orang tuanya.
Pak Pranata hanya menghela nafas. Rumah itu sudah jauh dari kata hangat. Ia kembali teringat saat keluarganya masih utuh.
Juna, Quin ... papa kangen kalian tinggal bersama papa lagi. Maafkan papa karena sudah membuat kalian kecewa.
Sedangkan bu Fitri, tampak heran menatap suaminya.
"Ada apa, Pah?"
"Nggak apa-apa, Mah. Papa hanya kangen Quin dan Juna tinggal bersama kita," akunya.
"Mau bagaimana lagi, mereka yang nggak mau. Papa tahu kan, baik Quin dan Juna keduanya belum bisa menerima diriku sebagai ibu sambungnya," pungkas bu Fitri sedikit kesal.
Pak Pranata hanya bergeming. Sedetik kemudian ia pun beranjak lalu berpamitan pada istrinya.
.
.
.
Saat akan melangkah ke arah pintu kantor, Kinara langsung menyapanya dengan percaya diri.
Namun sapaanya hanya di jawab dengan anggukan.
Tak ingin ketinggalan jejak, ia pun melangkah cepat mensejajarkan langkahnya dengan sang CEO menuju lift.
"Kamu apa-apaan sih Kinar?! Aku kan sudah bilang, tolong jaga sikapmu selama kita berada di kantor!" tegas Angga merasa kesal setelah berada di dalam lift.
"Aku kan, hanya menyapa," ucapnya lalu memeluk Angga dengan gerakan sensual.
Angga hanya bergeming namun sedikit merasa risih saat Kinara semakin menempelkan gunung kembarnya ke tubuhnya.
"Kinar ... stop it," kata Angga. "You addicted."
"Yes, i'm addicted because of you," bisiknya lalu mencium bibir Angga.
"Damn!!!" umpatnya dalam hati.
Seketika bayangan Quin langsung muncul di benaknya. Ia langsung melepas pagutan bibirnya dari Kinara lalu mengusap bibirnya.
Tak lama kemudian pintu lift terbuka tepat di lantai Kinara bekerja.
"Aku duluan, kita bisa lanjutkan nanti setelah aku selesai pemotretan," bisiknya dengan senyum menggoda.
Angga hanya bergeming seolah tak peduli hingga pintu lift itu kembali tertutup dan lanjut bergerak hingga berhenti tepat di lantai ruangannya.
Sesaat setelah berada di ruangannya, ia langsung menghubungi Quin.
Quin yang kebetulan baru saja tiba di butiknya langsung meraih ponsel.
"Angga," lirihnya lalu menggeser tombol hijau.
"Hallo, Sayang ada apa? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Quin.
"Ya, aku baik-baik saja. Sayang ... sebentar siang aku akan mampir ke butik," jelas Angga.
"Baik lah, jangan lupa belikan minuman favoritku ya," pesan Quin.
"Siap, Sayang. Apapun yang kamu inginkan," kata Angga.
"Ya sudah, selamat bekerja," ucap Quin lalu memutuskan panggilan telfonnya.
Tak lama berselang, Al menghampirinya.
"Quin!" sapa Almira.
"Hmm ..."
"Kamu ke mana saja kemarin? Bahkan sampai sore nggak kembali?" tanya Almira.
"Aku ke rumah majikanku," jawab Quin dengan santai.
"Yang benar saja ... Majikan? Apa penghasilan mu kurang?" selidik Almira.
"Ck ... nggak. Aku punya rencana untuk lepas dari Angga. Makanya aku terima tawaran dari pria itu untuk menjadi partnernya selama 101 hari," jelas Quin.
"Sulit di percaya," desis Al lalu geleng-geleng kepala. "Oh ya, ini kunci mobilmu."
"Thanks ya." Al hanya mengangguk.
Setelah itu, mereka kembali bekerja seperti biasanya.
Menjelang siang, Quin masih tampak sibuk memilih baju yang akan segera di antar ke pemiliknya.
Setelah selesai memisahkan pakaian kliennya, ia pun merapikan lalu menempelkan nama dimasing-masing paper bag berlogo inisial namanya.
"Finally ... kelar juga," gumam Quin. Ia pun kembali ke ruang kerjanya.
Tak lama berselang ponselnya bergetar, ia pun meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja.
Senyumnya langsung mengembang menatap nama kontak yang memanggil.
"Hallo Mr. Brewok," celetuknya lalu terkekeh.
"So ... nama kontak di ponselmu, Mr. Brewok?" tanya Damar.
"Benar, tuan" jawab Quin. "Ada apa?" lanjutnya bertanya.
"Aku ingin mengajakmu makan siang di kantor," ujar Damar.
"Maaf ... mungkin besok saja. Hari ini aku sudah janji dengan Angga," aku Quin.
Mendengar jawaban dari Quin, Damar sedikit kecewa.
"Baik lah," ucapnya singkat. Setelah itu ia pun memutuskan panggilan.
Bersamaan dengan berakhirnya obrolan Quin dan Damar, Angga muncul di depan pintu lalu menyapanya.
"Sayang ..." sapa Angga lalu menghampirinya.
"Sayang, kamu sudah datang?" tanya Quin dengan seulas senyum lalu memeluk Angga.
Angga langsung tersenyum mendapat pelukan dari sang tunangan. Tidak seperti kemarin, Quin terkesan dingin dan sedikit emosian.
"Aku bawa makan siang dan minuman kesukaan mu," bisik Angga lalu mengecup kening dan bibir Quin.
"Thank you, Darling," ucap Quin lalu melonggarkan pelukannya.
Kini keduanya tampak duduk di sofa dengan makanan yang telah Quin tata di atas meja.
"Ayo kita makan, kebetulan aku sudah lapar," aku Quin dan di jawab dengan anggukan kepala Angga.
Syukurlah Quinku sudah kembali. Aku merasa seperti ingin gila saja jika sikapnya seperti kemarin.
"Sayang, kenapa password pintu apartemen kamu diganti?" selidik Angga.
"Nggak apa-apa, Sayang," jawab Quin lalu menyuapinya kembali. "Aku nggak suka saja, jika si Fitrot sering mendatangiku," bohong Quin.
Angga hanya mengangguk lalu mengulas senyum.
Setelah itu mereka pun kembali melanjutkan makan siangnya hingga tuntas lalu beristirahat sejenak.
Beberapa menit kemudian, Quin membenamkan wajahnya di ceruk leher Angga sembari mengusap dada liatnya.
"Sayaaang ..." desis Angga lalu mengecup bibir Quin.
"Biarkan seperti ini, sebentar saja," bisik Quin dan terus mengusap dada liat Angga.
"Oh sh*it ... Damn it," umpat Angga. Usapan lembut Quin seketika membangkitkan hasratnya
Ia menahan tangan Quin yang masih menempel di dadanya.
"Sayang ...." Angga mengusap bibir yang sudah menjadi candu baginya itu. Perlahan-lahan ia mendaratkan ciumannya namun semakin menuntut.
Sadar jika Angga semakin menuntut, Quin menahan dadanya lalu menyatukan keningnya dengan nafas yang sama-sama memburu.
"Aaaakhh ... Sayang ... i can't control myself," bisik Angga lalu mengusap bibir Quin kemudian memeluknya.
...****************...