
"Damar," lirihnya. Setelah itu ia kembali melanjutkan langkahnya meninggalkannya.
Dengan langkah buru-buru, ia menuruni anak tangga lalu menghampiri meja kerjanya yang ada di lantai satu lalu menyambar tasnya.
"Quin!" panggil Al.
Namun Quin seolah menulikan telinganya dan tetap mempercepat langkahnya menuju parkiran.
Sementara Damar yang masih berada di lantai dua, terlihat mengepalkan kedua tangannya dengan rahang mengetat.
Aku sudah tahu alasannya. Jadi itu alasannya Quin menghilang selama tiga hari kemarin?
Sadar jika Quin, sudah meninggalkannya, Damar ikut menyusul gadis itu.
Sedangkan Angga, pak Pranata dan bu Fitri hanya bisa tertunduk lesu setelah Quin meninggalkan mereka.
Ketiganya cukup tertohok dengan kalimat Quin.
"Aku sudah menduga jika anak itu bakal menghinaku," batin bu Fitri merasa geram.
Pak Pranata menghampiri Angga lalu mencengkeram jas-nya.
"Apa maksud Quin tadi?" geramnya. "Quin tidak mungkin mengeluarkan kata umpatan itu tadi jika kamu nggak melakukan kesalahan? Apa maksud Quin jika pernikahan kalian nggak akan pernah berlangsung?!" lanjut pak Pranata menatap tajam padannya.
Angga hanya bisa tertunduk lesu. Lidahnya keluh tak bisa berucap.
Saking kesalnya, pak Pranata langsung meninggalkan tempat itu tanpa peduli lagi dengan istrinya yang hanya diam terpaku di tempat.
Sesaat setelah berada di lantai satu, pak Pranata mencari keberadaan putrinya namun tak menemukannya.
"Al, ke mana Quin?" tanyanya.
"Quin, sepertinya ada urusan, Tuan. Dia tampak buru-buru," jawab Al menebak.
Pak Pranata hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar merasa frustasi. Kata umpatan dari putrinya tadi membuatnya kembali teringat mendiang istrinya.
Melihat sikap tak biasa dari papa sahabatnya itu, Al menegurnya.
"Tuan, apa Anda baik-baik saja?"
Pak Pranata menggelengkan kepalanya seraya mengusap wajahnya lalu memijat keningnya.
Tak lama berselang bu Fitri menghampirinya.
"Pah," tegurnya.
"Sebaiknya kita kembali ke kantor," usulnya dan langsung meninggalkan butik menuju parkiran.
Sedangkan Angga, masih berada di galery butik menatap seisi ruangan itu. Ucapan dan tatapan benci dari gadis berdarah Jepang itu sukses membuat hatinya mencelos sekaligus tertohok.
"Quin ... apa sudah tidak ada kesempatan terakhir untukku?" lirihnya.
Lagi-lagi ia teringat ucapan sang kakak sebulan yang lalu.
Sementara itu, Quin terus melajukan kendaraannya ke salah satu Dufan ibu kota untuk melepaskan semua uneg-unegnya.
Sesaat setelah tiba di tempat yang ia tuju, seperti biasa, ia mengalihkan ponselnya ke mode pesawat dan hanya membiarkan benda pipih itu di dalam mobilnya.
"Let's play Quin," desisnya lalu masuk ke taman hiburan itu dan mulai menyusuri lalu ingin menguji adrenalinnya dengan menaiki wahana histeria untuk berteriak sepuasnya dengan memaki dan mengumpat karena merasa kesal.
Setelah menunggu beberapa detik, wahana itu mulai meluncur, dan seperti keinginannya ia mulai berteriak, mengumpat dan memaki sepuasnya saat wahana itu mulai naik turun.
Setelah beberapa menit mencoba wahana itu, Quin seakan belum merasa puas. Ia kembali menguji adrenalin dengan menaiki wahana roller coaster.
Lagi-lagi ia sangat menikmati wahana itu sambil berteriak bersama penumpang lainnya. Segala uneg-unegnya ia lampiaskan ketika wahana itu mulai berjalan perlahan dan melaju mengikuti liukkan lintasan.
Setelah merasa puas bermain sendirian ia kembali menyusuri tempat itu sambil mengemil makanan ringan.
Yang ada di benaknya saat ini adalah bersenang-senang menghibur dirinya sendiri. Sedikitpun ia tidak memikirkan hal lain kecuali hanya bersenang-senang.
Beberapa jam telah berlalu, lokasi terakhir yang ia masuki adalah aquarium kota J. Ada sedikit ketenangan yang ia rasakan ketika melihat-lihat ikan dan berbagai biota laut di aquarium raksasa itu.
Sedangkan Damar yang ikut menyusulnya tadi kembali harus menelan kekecewaan saat kehilangan jejak gadis itu.
Bahkan sejak tadi ia terus menghubungi gadis itu namun ponselnya tidak aktif.
"What the hell!!!" kesalnya lalu memukul setir mobilnya. "Kenapa sulit sekali menghubungi dirimu jika dalam keadaan seperti ini?"
"Kemarin juga seperti ini. Sebenarnya di mana dirimu," desisnya. Karena tak berhasil menemukan Quin akhirnya ia ke lokasi garasi khusus mobil dan motor balapnya.
Sesaat setelah tiba di lokasi, ia langsung memarkir mobilnya dan masuk ke garasi itu dan terus ke ruang ganti khusus wearpack-nya.
Ia memilih salah satu mobil balap Audi R8 miliknya yang terparkir lalu ke arena trek khusus terdekat.
Dari kejauhan, teman-temannya sudah tampak melambaikan tangan ke arahnya. Karena masih merasakan kesal ia langsung menjajal trek itu tanpa memperdulikan teman-temannya.
Ia terus memutari lintasan trek itu selama beberapa kali putaran hingga akhirnya ia merasa puas barulah ia berhenti lalu kembali bergabung dengan teman-temannya.
"Hei ... apa kabar, Bro. Long time no see you," kata Ilham sambil menaikkan kepalan tangannya jabat tangan khas mereka.
Damar hanya tersenyum tipis lalu membalas kepalan tangan Ilham dengan kepalan tangannya.
Ia mengeluarkan rokok dan pemantiknya. Setelah membakar rokoknya ia menyesap benda itu dalam-dalam lalu menghembus asap rokoknya dengan kasar.
Beberapa temannya yang lain, kembali ikut bergabung dan tampak mengobrol santai.
.
.
.
Tak terasa hari mulai gelap ...
Quin kembali mengarahkan kendaraannya ke salah satu danau buatan hanya untuk bersantai sejenak sambil melihat-lihat air danau yang terlihat begitu tenang.
Ia duduk mengemper sambil memeluk lututnya dan sesekali menyeruput es boba coklat favoritnya.
"Haaa ... andai saja hidupku bisa setenang air di danau ini, tentu tak akan serumit dan seribet ini," desisnya dengan senyum miris.
"Aku membenci pengkhianatan. Rasanya aku ingin membunuh keduanya saat itu. Tapi ya sudahlah, nyatanya Angga lebih memilih wanita itu karena lebih menggairahkan untuk memuaskan hasratnya. Cih ... menjijikan."
Quin kembali menyeruput minumannya hingga tandas lalu memilih melanjutkan langkahnya ke arah mobilnya.
Tujuan terakhirnya adalah pulang ke kediaman Damar dan ingin beristirahat. Dengan langkah pelan ia terus melangkah menghampiri mobilnya.
Sedetik kemudian ia mulai melajukan kendaraannya ke kediaman Damar. Sempat melalui drama macet beberapa kali, akhirnya ia tiba juga di halaman parkir rumah mewah itu, setelah hampir satu jam di jalan.
"Malam, Bi," ucapnya sesaat setelah melewati bi Yuni yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
Sambil berlari kecil menaiki anak tangga, ia ingin segera sampai di kamarnya. Begitu ia berada di kamar, Quin langsung menuju kamar mandi mengguyur tubuhnya di bawah shower air dingin untuk membuat tubuhnya fresh.
Tiga puluh menit kemudian, ia sudah tampak rapi dan bersih. Karena merasakan lelah akibat mencoba beberapa wahana ekstrim, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk itu lalu memejamkan matanya.
"Selamat tinggal mimpi buruk dan selamat datang mimpi manis," desisnya.
...****************...
Dukung terus karya author ya dengan vote, like, komen dan gift jika berkenan. Dengan like dan vote serta memberi rate, Readers sudah ikut membantu mempromosikan karya ini. Terima kasih πβΊοΈπ