101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 62



Satu bulan kemudian ...


Pasca kejadian itu, baik Quin dan Damar kembali menjalani aktivitas seperti biasa. Pun begitu Angga yang masih berharap Quin kembali padanya.


Namun Quin sudah mengunci rapat-rapat pintu hatinya untuk ex tunangannya itu. Bahkan ia benar-benar sudah tidak memperdulikannya lagi.


Hubungannya dengan sang papa pun tidak mengalami banyak perubahan, masih tetap sama seperti sebelumnya. Quin seolah tidak terlalu memperdulikannya.


Sedangkan hubungannya dan Damar tetap berjalan baik dan ia tetap menjalankan tugasnya sebagai asisten pribadinya.


Walaupun masih sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari nyonya Zahirah, namun Quin seakan tidak ambil pusing.


Pun begitu dengan Naira yang masih terus mempengaruhi nyonya Zahirah untuk membencinya. Namun gadis itu seolah sudah kebal dan tetap cuek.


Karena yang ada di pikiran Quin saat ini adalah tetap fokus bekerja dan menjalankan tugasnya sebaik mungkin sebagai asisten pribadi Damar.


Seiring berjalannya waktu, hari demi hari perasaan Damar kepada Quin semakin mendalam. Meskipun tidak secara terang-terangan menunjukkan jika ia menyukai gadis itu.


Apalagi Quin yang terlihat cuek seolah tak memperdulikan perasaannya. Buntut dari rasa kekecewaannya pada Quin, Damar semakin menggila melampiaskan semuanya dan kembali menjadi Damar yang dulu.


Berpesta, foya-foya, mabuk-mabukkan, menggila di arena balapan dan jangan lupakan julukan sang Casanova yang sejak dulu sudah melekat pada dirinya.


Hanya saja ia tidak melakukan di kediamannya seperti dulu karena sangat menjaga Quin dari tatapan lapar teman-temannya. Gadis-gadis yang seolah cemburu dan bisa saja mencelakai gadis pujaannya itu.


Tak jarang Quin kewalahan mengurusnya ketika pulang dalam keadaan mabuk dan merasa kebingungan dengan sikapnya yang tiba-tiba saja berubah.


Seperti saat ini, Quin yang sejak tadi berada di rooftop rumah, tampak melamun dan sesekali menengadahkan kepalanya menatap ribuan bintang di atas langit sambil mendesah kasar.


"Jika di hitung-hitung, sudah tujuh puluh satu hari aku menjadi asisten si tuan pemaksa sekaligus menyebalkan itu," desisnya. "Calm down, Quin. Hanya tinggal tiga puluh hari saja lagi," sambungnya.


Quin kembali menghampiri kursi kemudian mendaratkan bokongnya lalu meraih ponselnya, menatap jam di layar benda pipihnya itu yang sudah menunjukkan pukul 00,30.


"Ck ... pasti dia sedang bercocok tanam dulu sebelum pulang. Mana pulangnya mabuk lagi," kata Quin lalu terkekeh.


Merasa udara semakin dingin, ia pun akan beranjak dari tempat duduknya namun ia urungkan karena Damar memprotesnya.


"Sayangnya malam ini aku nggak melakukannya."


Mata Quin seketika membulat sempurna lalu berdiri dan berbalik menatapnya.


"Cih! Sejak kapan kamu di situ?" tanya Quin.


"Apa aku harus menjawab, hmm," bisiknya lalu menarik lengan Quin supaya duduk di pangkuannya.


Quin menggelengkan kepalanya lalu merubah posisinya duduk berhadapan di atas pangkuan Damar.


"Sampai kapan kamu akan seperti ini terus?" bisik Quin sambil menangkup rahang tegas Damar. "Pikirkan kesehatanmu. Aku khawatir kamu akan sakit. Dan satu lagi, sudah berapa banyak benihmu yang terbuang sia-sia," lanjut Quin sambil menatapnya lekat.


"Aku akan berhenti jika aku sudah merasa puas," ucapnya dengan santai lalu melingkarkan kedua tangannya ke pinggang gadis itu.


Setelah kamu menerimaku, mencintaiku, dan menjadikanmu milikku.


"Damar ... listen to me ... rasa puas itu nggak akan pernah ada puasnya. Karena sifat manusia tidak pernah merasa puas," balas Quin lalu menyatukan keningnya sambil memejamkan matanya sejenak.


Keduanya bergeming, sedetik kemudian Quin membuka matanya lalu spontan mengecup singkat bibir pria tampan itu.


"Ini sudah larut, besok kamu juga harus ngantor. Sebaiknya bersihkan dulu dirimu lalu tidur," bisiknya lalu beranjak dari pangkuan Damar.


Damar hanya menurut dengan hela nafas lalu menyusulnya tanpa menunggu dirinya.


Sesaat setelah berada di dalam kamar, Quin kembali membantu Damar melepas semua pakaian yang membalut tubuhnya, kecuali kain penutup area pribadinya.


Sedangkan Damar, ia langsung ke kamar mandi mengguyur tubuhnya di bawah shower air hangat sambil terus membayangkan wajah Quin.


"Quin, aku nggak akan berhenti jika kamu belum menerimaku. Apa benar hatimu itu benar-benar sudah membeku hingga nggak ada ruang sedikitpun untukku?" desisnya sambil menyandarkan keningnya di kaca ruangan mandi itu.


Beberapa menit kemudian setelah merasa cukup, ia pun keluar dari kamar mandi lalu ke ruang ganti.


Setelah mengenakan boxer, ia pun menghampiri Quin.


"Sudah?" tanya Quin dengan seulas senyum.


"Hmm."


"Kemarilah, biar aku keringkan dulu rambutmu," pintanya yang terlihat sedang memegang hairdryer di ruangan itu.


Dengan patuh ia menurut, lalu duduk di depan kaca sambil menatap wajah gadis itu dari pantulan cermin. Sangat telaten mengurusnya selama kurang lebih sudah tujuh puluh satu hari.


Setelah merasa cukup, Quin mematikan alat itu lalu mencabut kabelnya.


"Sudah ... Tuan pemaksa sekaligus Tuan menyebalkan," bisiknya seraya memeluknya dari belakang dan menempelkan pipinya ke pipi Damar lalu terkekeh.


Damar hanya mengulas senyum mendengar panggilan itu yang sudah sebulan lebih ini ia dengar. Setelah menjulukinya dengan Mr. Brewok.


"Quin."


"Hmm."


"Temani aku sampai aku tertidur," pintanya sambil menatap dirinya dan Quin dari pantulan kaca.


"Ok ... nggak masalah Tuan," kelakarnya. "Ayo ..." ajaknya.


"Hmm."


Sesaat setelah berada di atas ranjang, Quin ikut berbaring sambil terus mengelus rambut Damar dan sesekali tersenyum menatapnya.


"Tidurlah, besok kamu harus ke kantor," bisik Quin.


"Hmm ..." Damar menjawab singkat dan sesekali memejamkan matanya merasakan elusan lembut dari jemari lentik gadis itu


Namun tak lama berselang, tangan yang sejak tadi mengelus rambutnya perlahan terhenti. Damar membuka matanya lalu menatap wajahnya.


"Dia malah tertidur," desis Damar lalu mengelus tangannya yang masih berada di atas lehernya.


"Quin ..." panggilnya seraya mengelus pipinya.


"Quin," Damar kembali memanggilnya namun hanya dengkuran halus yang terdengar. "Maaf, sudah membuatmu repot karena ulahku. Bisakah kita seperti ini seterusnya," bisiknya lalu membawa Quin masuk ke dalam pelukannya, mengecup lama keningnya sambil mengelus punggungnya dengan sayang.


"Sekalipun mamaku membencimu, tapi aku nggak peduli. Jika kamu menjadi milikku seutuhnya, aku pun tak segan menentang mamaku demi dirimu," lirih Damar. "Apa kamu tahu ... kamu satu-satunya wanita yang telah membuat hatiku takluk."


"Quin, mungkin sekarang hatimu masih membatu, tapi sampai kapanpun aku akan tetap menunggu hingga ia melunak. Aku akan berhenti jika suatu saat kamu sendiri yang mengantar kartu undanganmu," lirihnya lagi dan semakin mendekapnya erat seolah tak ingin melepasnya.


"Aku mencintaimu, Quin. Aku merasa benar-benar tersiksa. Sekalipun aku meniduri banyak wanita, namun yang ada di benakku itu adalah kamu."


"Hanya tinggal tiga puluh hari saja, kontrak kita akan berakhir. Aku merasa waktu tiga puluh hari itu semakin cepat berlalu. Entah seperti apa diriku tanpamu. Aku merasa separuh jiwaku pergi," lirihnya dengan suara bergetar bersamaan dengan lolosnya dua bulir bening dari pelupuk matanya.


Setelah puas mencurahkan isi hatinya yang tak mungkin didengar oleh Quin, perlahan ia ikut memejamkan matanya lalu tertidur sambil memeluk gadis itu.


...****************...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜