101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 48



QA Boutique ...


Sesaat setelah tiba di butiknya, Quin langsung menapaki tangga menuju ruang kerjanya. Dengan perasaan campur aduk ia memijat keningnya sambil mondar mandir.


Tak lama berselang, Al menyapanya.


"Quin, ada apa? Kamu kok terlihat gelisah begitu?" tanya Al yang kini sudah duduk di depan meja kerjanya.


"Gimana aku nggak gelisah, Al. Ternyata Damar itu putra tuan Alatas. Tuan Muda penerus Alatas Corp," jelas Quin.


"What?!!!" Serius?!" pekik Al dan ia langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Ya, aku baru tahu tadi pagi. I'm shock," kata Quin. "Ternyata CEO Alatas Group itu dia, Al. Selama ini aku nggak tahu dan nggak kenal, ternyata dia cukup dekat denganku bahkan jadi majikanku sekarang. I'm scared if i stuck with him, Al," cemasnya lalu duduk di kursi kerjanya sambil memejamkan matanya.


"Quin, kamu tahu sendiri kan gosip-gosip di luaran sana tentang Damar. Sebelum mengalami kecelakaan dia ...." Al menggantung kalimatnya.


"Ya aku tahu, Al. Lalu aku harus bagaimana? Rasanya aku ingin memutuskan kontrak ku saja. Tapi itu tidak mungkin terjadi karena kami sudah membuat kesepakatan bersama. Aku takut dia akan menahanku lebih lama. I hate to think about this," ucap Quin dengan pesimis.


"Ya sudahlah Quin, jalani saja dan lakukan saja tugasmu," saran Al lalu terkekeh.


"Aku merasa ilfil dengannya," desis Quin. "Tapi mau tidak mau aku harus melakukan tugasku sebagai asisten pribadinya selama tenggang waktu yang ditentukan. Setelah itu aku ingin berlibur ke luar negeri," cetus Quin.


"Good idea," sahut Al.


"Oh ya, Al. Jika dia datang di jam makan siang, katakan saja aku nggak ada."


"Bagaimana caranya, apalagi mobilmu ada di parkiran."


"Katakan saja aku satu mobil dengan klienku," cetusnya. "Aku nggak ingin bertemu dengan siapapun hari ini."


"Ok, baiklah, kalau begitu aku ke bawah dulu," izin Al dan dijawab dengan anggukan kepala Quin.


Sepeninggal Al, Quin memilih ke galery sambil melihat-lihat hingga ia menatap dirinya di kaca besar ruang fitting.


"Lord, miris banget nasibku. Sudah di selingkuhi, mamanya Damar menuduhku sebagai bed partner putranya, dimusuhi oleh ART-nya, lalu apalagi selanjutnya?" gumamnya sambil menatap dirinya di kaca besar itu.


"Rasanya kepalaku mau pecah saja," lirihnya dan kembali memijat kening dan batang hidungnya.


.


.


.


Kediaman Damar ...


Sebelum benar-benar berangkat ke kantor, Damar kembali ke kamarnya. Keningnya langsung bertaut saat mendapati laptop dan beberapa gambar design Quin masih berada di meja sofa kamar.


"Pasti dia lupa," gumam Damar. "Sebaiknya aku langsung antar ke butiknya." Ia pun memasukkan laptop dan gambar design baju itu ke dalam tas.


Setelah selesai, ia segera memakai kaos kaki dan sepatunya.


"Bagaimana aku menjelaskan ini pada Quin nanti. Papa datang di waktu yang nggak tepat. Aku jadi ketahuan," gumamnya lalu meninggalkan kamar menuju lantai bawah sambil menenteng tas kerja Quin.


"Pah, Mah, aku berangkat," pamitnya tanpa menghiraukan ekspresi wajah kesal sang mama.


"Damar!" panggil mama. Seketika Damar menghentikan langkahnya lalu berbalik.


"Apa sih, Mah?! Jika Mama ingin membahas tentang keputusanku, aku rasa sudah cukup. Aku nggak mau Mama mencampuri urusan pribadiku," tegas Damar lalu melanjutkan langkahnya menuju mobilnya.


"Damar!!!"


"Mah, Biarkan saja. Lagian apapun keputusan dan pilihan Damar, itu haknya," kata papa.


"Kalian berdua sama saja. Papa selalu saja membelanya. Makanya dia jadi seperti itu. Di tambah lagi sejak mengenal asisten pribadinya itu, dia semakin bersikap nggak sopan pada mama," geramnya dengan sorot mata tajam menatap suaminya.


Pak Alatas mengulas senyum seraya menggelengkan kepalanya.


"Papa rasa tidak ada yang salah dengan asisten pribadinya. Menurut papa dia gadis yang baik," kata papa lalu meninggalkan istrinya yang semakin tampak kesal. "Sudahlah Mah, biarkan saja. Lagian dia bukan anak kecil lagi."


Nyonya Zahirah semakin bertambah kesal.


"Ayo kita berangkat sekarang," ajak papa lalu menuju ke arah mobilnya.


Mau tidak mau, nyonya Zahirah hanya menurut dan menyusul suaminya.


Sepeninggal nyonya Zahirah dan Tuan Alatas, bi Yuni dan Naira tampak berkemas.


"Mah, gara-gara Quin, kita terpaksa kembali bekerja di rumah utama," geram Naira.


"Setidaknya kamu bisa mengambil hati nyonya Zahirah," kata bi Yuni.


Bi Yuni bergeming bahkan ia juga tidak menyukai gadis itu. Ia bisa melihat jika Damar sangat tertarik dengan gadis itu.


"Naira, jika kamu nggak mau Damar semakin dekat dengan gadis itu, kamu harus berusaha memenangkan hatinya," saran bi Yuni.


"Aku sudah berusaha, Mah. Tapi tetap saja dia acuh padaku," kesalnya lagi. "Tapi aku nggak akan menyerah."


******


Damar yang baru saja tiba di butik Quin, segera mempercepat langkahnya setelah memarkir kendaraannya.


Sedangkan Quin yang saat ini ada di lantai satu tampak sibuk bersama Al di meja kerjanya. Ia tidak menyangka jika Damar akan datang ke butik secepat itu.


Saking seriusnya menatap layar laptopnya, ia tak menyadari jika Damar menghampirinya bahkan memberi kode pada Al supaya meninggalkan sahabatnya itu.


Quin pasti bakal mengomeliku nanti.


Mau tidak mau dengan terpaksa ia beranjak dari kursi tempatnya duduk.


"Al, mau ke mana?" tanya Quin tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.


"Aku mau ke toilet dulu," alasannya.


"Hmm, jangan lama-lama," pesan Quin.


Sepeninggal Al, Damar langsung menghampirinya lalu menyapanya dengan nada bercanda.


"Good morning, apa saya bisa bertemu dengan owner butik ini?"


Quin langsung mengarahkan pandangannya ke depan. "Damar," lirihnya. Mau menghindar pun sudah terlambat. "Ada apa Tuan? Ada yang bisa saya bantu?" balas Quin lalu berdiri.


Bukannya menjawab Damar semakin mendekatinya lalu merangkul pinggang rampingnya.


"Jangan memanggilku tuan," bisiknya lalu menatap bibir pink Quin.


"Bukankah itu benar?" Quin tersenyum lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Damar dan balas menatap matanya.


"Oh ya, kamu melupakan sesuatu," desisnya sekaligus mengalihkan pembicaraan.


"Apa?" tanya Quin lalu melepas lingkaran tangannya.


"Laptop dan gambar design baju," jawabnya lalu meletakkan tas kerja Quin di atas meja.


"Thanks," ucapnya. "Kembalilah ke kantor," usir Quin secara halus.


"No."


"Why?"


"Aku ingin seharian ini menghabiskan waktu bersamamu di suatu tempat?"


"What?! Are you crazy!! Aku nggak punya waktu, soalnya aku bakal sibuk banget hari ini," tolaknya.


"Kamu masih terikat kontrak, Quin. So ... aku tidak menerima penolakan," tegas Damar.


"Jangan memaksaku," keukeuh Quin.


"Kamu harus menurut."


"Jika aku menolak?"


"Aku akan menambah tiga puluh hari lagi sebagai hukuman. Aku nggak bercanda, Quin," tegas Damar lagi.


"Jika itu terjadi, maka aku akan benar-benar meninggalkan mu tanpa kabar," ancam Quin tak kalah tegas dan langsung menyambar tasnya meninggalkan Damar.


Untuk sejenak, Damar terhenyak mendengar ungkapan Quin dan tak menyangka jika gadis itu berani menentangnya.


Ternyata dia tidak seperti gadis lainnya. Dia gadis pemberontak.


Damar membatin dan tersadar saat Al menegur.


"Loh, Quin mana?"


Lagi-lagi ia kecolongan saat menyadari Quin sudah tidak berada di tempat. Dengan langkah panjang ia menuju parkiran dan kembali harus menelan kekecewaan saat mobil Quin sudah tidak ada di parkiran.


"Ahh Sh*it!! Again?!!" umpatnya dengan perasaan kesal.


......................


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™. Bantu like, vote dan komen, setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜