
Seolah tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Angga tetap menahan pintu itu.
"Quin, please ... biarkan aku masuk," pintanya sambil menahan pintu. "Jika tidak aku akan membuat kekacauan di sini," ancamnya.
Mau tak mau akhirnya Quin mengalah lalu membiarkannya masuk sambil menenteng paper bag makanan khas Jepang favorit Quin.
"Apa kamu sedang memasak? Bau masakan mu membuatku langsung lapar," bisiknya.
Quin hanya memutar bola matanya dengan malas dan enggan menjawab. Sementara Angga langsung ke arah ruang tamu lalu mendaratkan bokongnya di sofa, kemudian meletakkan paper bag makanan yang di bawanya.
Alisnya mengernyit ketika meneliti seluruh ruangan itu dan tampak sangat kecewa ketika mendapati tak ada satupun lagi fotonya di ruangan itu.
"Ada apa? Bagaimana kamu bisa tahu jika aku sedang di apartemen?" tanya Quin dengan nada ketus.
Angga mengulas senyum lalu berdiri lalu menghampiri Quin kemudian duduk di sampingnya.
"Anything about you, i would know, Quin," bisik Angga tepat di telinganya. "Selama ponselmu dalam mode aktif."
Ia menggenggam jemari ex tunangannya itu lalu menatapnya. Ada kerinduan mendalam yang ia rasakan pada Quin. Saat ia ingin memeluknya Quin langsung menahan dadanya.
"Quin ... please berikan aku kesempatan terakhir," mohon Angga.
"Nggak ada kesempatan terakhir untukmu Angga. Perbuatan kalian sudah cukup membuatku benar-benar terluka. Andai kamu menjadi aku sebentar saja, kamu pasti akan merasakan apa yang aku rasakan. Sudahlah ... it's over. Jangan berharap apapun lagi padaku," kata Quin.
Sementara Damar yang sudah bangun, tak sengaja mendengar percakapan keduanya. Seketika otaknya langsung memunculkan ide.
"Aku ingin melihat ekspresi wajah si pria Tionghoa itu," desisnya lalu melepas semua pakaiannya dan hanya menyisakan boxernya.
Ia terkekeh dan sengaja menghambur pakaiannya di atas lantai kamar, lalu sedikit mengacak rambutnya biar ia terkesan seperti baru saja menggagahi Quin.π βοΈ
Setelah itu, ia pun melangkah ke arah ambang pintu lalu memanggil Quin.
"Honey ... apa kamu sudah selesai?"
Mendengar suara Damar, Quin dan Angga sama-sama mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara.
Quin langsung menyipitkan matanya menatap menyelidik ke arahnya. Pun begitu dengan Angga wajahnya langsung memerah menahan emosi, darahnya seolah mendidih menatap Damar yang hanya mengenakan boxer. Dan jangan lupakan rambutnya yang acak-acakan.
"Sudah bangun? Apa kamu kelelahan?" tanya Quin secara ambigu dan otomatis membuat pikiran Angga berspekulasi yang tidak-tidak.
Quin kemudian beranjak dari sofa tanpa memperdulikan tatapan Angga. Dengan santainya ia menghampiri Damar lalu memeluknya kemudian mengecup bibirnya.
"What are doing?" bisik Quin lalu terkekeh dan merasa gemas. Karena tidak bisa menahan, ia menggigit dada Damar hingga membuatnya meringis.
"Ssssttt ... Quin sakit," ia balik berbisik.
"Apa kamu akan seperti ini saja, hmm? Setidaknya kenakan handuk," protes Quin lalu melepas pelukannya.
Sedangkan Angga ia terlihat begitu kesal, marah sekaligus cemburu menatap keduanya yang terlihat begitu intim.
"Oh ya, kebetulan aku sudah selesai masak, sebaiknya kita makan bareng saja," cetus Quin.
Setelah itu, Quin menuju pantry. Kemudian di susul Angga, sedangkan Damar, ia memilih ke kamar mandi sekalian ingin mendinginkan otaknya.
"Akh ... Quin?!" desahnya lalu segera mengguyur tubuhnya di bawah shower sambil memainkan benda pusaka yang sejak tadi menegang.
Padahal dia hanya memeluk dan mengecup bibirku dengan singkat, kamu langsung bereaksi.
Damar bergumam dalam hati sambil terus memainkan benda pusakanya untuk menuntaskan hasratnya.
Sementara di pantry, Quin tampak menata piring di atas meja.
"Quin, aku membawakan makanan favoritmu," kata Angga.
"Sayangnya aku sudah memasak untuk makan siang. Taruh saja di meja pantry, nanti sore aku akan memakannya," sahut Quin.
Untuk sesaat Quin hanya bergeming dalam dekapan ex tunangannya itu. Pria yang sudah mengisi hatinya selama tiga tahun.
Awalnya Quin begitu menyayangi dan mencintainya namun pengkhianatan yang telah ia lakukan di belakangnya, membuat gadis blasteran Jepang itu benar-benar sudah menutup pintu hatinya untuk Angga.
"Aku sudah memaafkanmu Angga, tapi untuk kembali merajut kasih seperti dulu, aku rasa itu impossible," lirih Quin dengan dua bulir bening yang kini mulai menetes dari pelupuk matanya.
"Quin," desis Angga dengan penuh penyesalan.
"Please ... jangan memaksaku. Saat ini yang aku butuhkan adalah ketenangan. Kamu benar-benar meninggalkan goresan luka yang begitu dalam di hatiku," lirih Quin sambil menangis dalam dekapan ex tunangannya itu.
Mendengar ungkapan Quin ditambah lagi ia menangis, seketika membuat Angga semakin merasa bersalah dan begitu menyesali perbuatannya.
Sadar jika ia merasa sudah lama dalam dekapan Angga, Quin melepasnya lalu menyeka air matanya.
"Duduklah sebentar, kita tunggu Damar, setelah itu kita makan bareng," cetus Quin lalu duduk di kursi yang kosong
Dengan perasaan hampa, Angga hanya menurut lalu menatap hidangan masakan Quin yang tertata rapi di atas meja.
Lagi-lagi ia terkenang momen-momen saat ia masih menjalin kasih dengan Quin. Setiap kali gadis itu memiliki waktu luang, ia pasti akan memasak untuknya.
Kini semua momen itu hanya tinggal kenangan karena ulahnya sendiri. Tak berselang lama Damar menghampiri keduanya. Tanpa rasa malu dan percaya diri, ia hanya mengenakan handuk lalu mendekati Quin kemudian mendaratkan satu kecupan di pipinya tanpa permisi.
Sontak saja ulahnya itu membuat Quin terlihat protes. Sedangkan Angga lagi-lagi merasa geram dan cemburu.
Damar!! Bisa-bisanya dia mengambil kesempatan. Ngeselin banget sih. Pasti Angga sudah berpikir yang tidak-tidak.
"Ya sudah ... ayo kita makan," tawar Quin sesaat setelah Damar duduk di samping Angga.
Ketiganya pun menyantap makanan itu tanpa ada yang membuka suara hingga selesai. Setelah selesai menyantap makan siang, Quin kembali menawari kedua pria tampan itu kopi.
Namun dengan berat hati, Angga menolak karena mendapat panggilan telepon dari Bram jika ia harus bertemu dengan klien sekarang.
"Ayo aku antar sampai depan pintu," tawar Quin dan dijawab hanya dengan anggukan.
Sesaat setelah berada diambang pintu, Angga menatapnya lekat.
"Quin ... apakah kita akan benar-benar berakhir seperti ini? Please ... i beg you. Satu kesempatan terakhir untukku, aku janji akan memperbaiki semuanya," mohon Angga seraya menggenggam kedua tangannya.
"Sebaiknya kamu berangkat sekarang. Bram pasti sudah menunggumu," sahut Quin sekaligus mengalihkan pembicaraan.
Angga hanya menghela nafasnya merasakan kecewa. Karena merasa Quin enggan membahasnya, akhirnya ia mengalah lalu meninggalkan tempat itu.
Sambil melangkah, Angga tetap bertekad akan meluluhkan hati ex tunangannya itu lagi dan akan mengembalikan kepercayaannya lagi padanya.
Sepeninggal Angga, Quin kembali ke dalam ruangan lalu ke arah kaca jendela. Termenung dengan mata yang kini berkaca-kaca.
"Quin ... are you Okay?" bisik Damar sambil memeluknya dari belakang. Sedetik kemudian ia membalikkan tubuh gadis itu berhadapan dengannya.
Quin hanya mengangguk lalu menyeka air matanya. Sekelumit ingatannya kembali berputar membayangkan pengkhianatan cinta dari ex tunangannya itu dan saudara tirinya.
"Quin ... aku ingin mengajakmu kencan malam ini," cetus Damar. "Please ... for the last night," pinta Damar dengan penuh harap.
"Baiklah," kata Quin.
Damar langsung membawanya masuk ke dalam pelukannya. Senang sekaligus merasa sedih karena besok ia dan Quin harus berpisah sekaligus kontrak perjanjian mereka berakhir.
Kapan kamu akan mempercayaiku jika aku benar-benar mencintaimu dan menyayangimu. Percayalah Quin ... hanya kamu satu-satunya wanita yang bisa membuat dada ini berdebar.
...****************...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ