101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 2



Damar kembali tersenyum menatap cup es boba coklat pemberian dari Quin. Ia pun menyedot minuman itu.


"Ternyata enak juga," gumamnya lalu tersenyum tipis.


"Tuan ... apa sekarang kita bisa pulang?"


"Sebentar lagi." Matanya kembali terarah ke arah Quin yang masih betah berada di bangku itu dan tampak sedang menyeka air matanya.


Damar menautkan alisnya. "Ada apa dengannya? Perasaan ... tadi dia baik-baik saja" gumamnya lagi


"Tuan... " Adrian kembali memanggilnya sekaligus membuyarkan lamunan pria tampan berdarah indo dan timur tengah itu.


"Ya, Adrian," sahutnya.


"Apa Anda ingin kembali ke sana?"


"Nggak usah. Sebaiknya kita pulang sekarang," perintahnya.


"Baik, Tuan."


Sementara Quin, ia masih betah duduk di bangku itu dan memikirkan nasibnya.


"Masih ada waktu untuk memikirkan cara. Ya Tuhan ... ini sangat menyakitkan. Kuatkan lah aku," lirihnya.


Tak lama berselang, ponselnya bergetar. Ia meraih benda pipih itu dari dalam tasnya. Saat tahu siapa yang memanggil, Quin menghela nafasnya kasar.


"Ya hallo, Sayang," jawabnya namun ia merasa jijik menyebut kata sayang.


"Sayang, kamu lagi di mana?" tanya Angga tanpa dosa.


"Maaf, aku ada urusan mendadak, aku lagi di luar kota," jelasnya dengan berbohong.


Seketika raut wajah Angga berubah dan tampak jelas menyiratkan kekecewaan.


"Sayang, apa kamu lupa jika hari ini ulang tahunku?" tanyanya dengan perasaan kecewa. Tidak seperti biasanya Quin lupa hari istimewanya itu.


"Astaga!!!" pekik Quin berpura-pura kaget. "Ini tanggal berapa sih?" tanyanya seraya mengatupkan bibirnya.


"Jadi kamu benar-benar lupa jika hari ini ulang tahunku, Sayang?" tanya Angga lagi.


"Maaf ya, Sayang. Aku benar-benar lupa apalagi tadi ada klien mendadak memintaku menemuinya di luar kota," bohongnya lagi.


"Bukan lupa Angga, aku nggak pernah lupa tapi kejadian hari ini yang membuat aku sengaja melupakan hari spesialmu itu." Quin meremas tasnya


"Tadinya ... aku ingin memberi kejutan tapi justru kamu yang memberiku kejutan yang begitu luar biasa menyakitkan bahkan akan membekas di ingatan ku. Kalian menjijikkan," gumam Quin dalam hatinya.


"Sayang, ada apa denganmu? Tidak biasanya kamu lupa seperti ini?" tanya Angga dengan kesal.


"Maaf, mungkin karena seharian ini aku terlalu sibuk, mana ada klien dari luar yang memintaku langsung menemui nya," bohongnya lagi. "Sayang ... maaf ya ... aku gak bisa datang di pesta ulang tahunmu nanti malam soalnya aku berada jauh di luar kota," imbuhnya dengan memutar bola matanya dengan malas.


"Nggak, aku akan menjemputmu," tegas Angga. "Katakan ... kamu di mana sekarang? Aku nggak mau melewatkan pestaku tanpamu," tegasnya lagi


Quin bungkam, sedetik kemudian ia sengaja membuat panggilannya seperti terganggu.


"Hallo ... Sayang ... apa kamu mendengar ku? Hallo ... hallo Sayang?" begitu seterusnya hingga pada akhirnya ia mematikan ponselnya lalu mengalihkan ke mode pesawat.


Sedangkan Angga, ia merasa sangat kesal saat sambungan telfonya terputus. Saat ia kembali menghubungi nomor Quin ponselnya malah sudah tak aktif.


Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Untuk pertama kalinya ia akan merayakan ulang tahunnya tanpa Quin. Gadis yang sudah di pacarinya selama tiga tahun terakhir dan memutuskan akan menikahinya tahun ini.


Saat ia merasa kalut dengan perasaanya, suara lembut dan pelukan seorang wanita menyadarkannya. Namun secepat kilat ia melepas kedua tangan yang melingkar di perutnya.


"Kinara, sebaiknya kamu pulang saja. Aku ada urusan mendadak," tegasnya.


Kinara mengerutkan keningnya. "Urusan mendadak?! Tapi ini sudah hampir malam. Apa karena Quin!" kesalnya.


"Please ..."


"Apa kamu nggak takut jika Quin tahu kita selingkuh?" ucapnya dan terdengar mengancam.


"Quin nggak akan percaya, lagian bukan aku yang ingin, melainkan dirimu yang selalu saja menggodaku," tegasnya seolah menyindir.


"Sama saja kan, jika kamu laki-laki yang setia, kamu gak bakalan tergoda," sahutnya lalu mendekati Angga.


"Ada istilah mengatakan, kucing manapun gak akan tahan jika ia terus-terusan di suguhkan ikan segar, apalagi di hadapannya," jelas Angga dengan senyum sinis. "Lagian kamu juga bukan perawan," lanjut Angga menyindirnya. "Aku rasa, kamu biasa melakukanya dengan pria lain dan bukan denganku saja," pungkas Angga lalu meninggalkan Kinara.


Kinara langsung mengepalkan kedua tangannya seolah tak terima.


"Tapi aku mencintaimu Angga."


"Quin!! Lagi-lagi dia yang selalu menjadi penghalang. Sial!! bahkan Angga hanya menginginkan tubuhku hanya untuk melampiaskan hasratnya," Ia berujar sendiri dengan perasaan dongkol. "Sebaiknya aku pulang dan bersiap. Aku akan tampil secantik dan seseksi mungkin untuk mendapat perhatian Angga. Quin? Aku nggak peduli. Siapa dia? Hanya saudara tiri," ucapnya dengan kesal.


Setelah itu, ia pun meninggalkan apartement mewah Angga dengan berbalut perasaan mendongkol.


Sementara Angga yang masih berada di dalam kamar mandi merasakan hal aneh dengan perubahan sikap Quin yang mendadak lupa hari istimewanya itu.


Ia merasa bersalah pada Quin. "Apa yang sudah aku lakukan? Jika Quin benar-benar tahu aku ada affair dengan Kinara, aku nggak bisa bayangkan jika Quin akan membatalkan pernikahan ini. Sayang ... maafkan aku takut kehilangan mu. Aku janji nggak akan mengulanginya lagi," sesal Angga.


"Apa kata kolega bisnisku jika Quin nggak hadir di pestaku sebentar? Sayang ... maafkan aku," ucapnya frustasi.


Setelah membersihkan dirinya, Angga segera mengenakan setelan jas yang telah di design sendiri oleh Quin dan ia bergegas meninggalkan apartemennya menuju apartement Quin.


Sesaat setelah tiba di apartemen Quin, ia langsung menekan password lalu membuka pintu. Namun ia benar benar merasa kecewa karena ruangan itu tampak gelap yang menandakan jika quin memang tidak ada di tempat itu.


Ia kembali menutup pintu lalu kembali ke lift. Tujuan selanjutnya adalah ke butik milik Quin. Sesampainya ia di butik, lagi dan lagi ia benar-benar kecewa dan merasa frustasi karena sang calon istri tidak berada di butik itu.


Ia kembali menghubungi nomor ponsel Quin namun lagi-lagi ia semakin frustasi karena ponselnya juga di luar jangkauan.


"Sayang ... tidak seperti biasanya kamu seperti ini, kenapa bisa kamu sampai lupa?"


Sementara Quin, ia memilih pergi ke Villa peninggalan ibunya untuk menenangkan pikirannya.


Quin menatap langit-langit kamarnya. Air matanya kembali menetes. Dadanya kembali sesak membayangkan kejadian yang ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri.


Ia benar-benar tidak menyangka jika pria yang sudah tiga tahun terakhir menjadi kekasihnya tega mengkhianati kesetiaannya.


"Ya Tuhan... apakah ini mimpi? Ataukah kenyataan? Aku merasa seperti bermimpi," lirihnya diiringi dengan air matanya yang semakin mengalir deras.


Mungkin karena sudah lelah menumpahkan air matanya, akhirnya Quin tertidur dengan berbalut luka hatinya.


Jauh dari villa tempat Quin berada, Damar tampak termenung di teras balkon kamarnya.


Ia kembali terbayang wajah Quin. Suaranya kembali terngiang di telinganya. Ucapan bernada lembut penuh ketulusan itu, sukses membuat sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan.


"Tuan ... jam delapan malam, Tuan ada undangan dari Tuan Haidar Anggara Wibowo di Hotel xxx," jelas Adrian.


"Baik lah, apa jas ku sudah di antar tadi siang?" tanyanya.


"Sudah, Tuan."


"Ok ..."


Beberapa menit kemudian Damar sudah terlihat rapi. Ia pun mulai menggerakkan tuas kursi roda listriknya untuk memudahkannya bergerak masuk ke dalam lift khusus rumah mewahnya itu.


Sesaat setelah berada di lantai bawah, Damar mengarahkan kursi rodanya ke arah mobilnya berada. Dengan di bantu oleh Adrian ia masuk ke dalam mobilnya.


Setelah memastikan sang big boss sudah nyaman, ia pun melipat kursi roda itu lalu memasukan benda itu ke dalam bagasi mobil.


Di sepanjang perjalanan, Damar hanya diam dan merasa miris dengan keadaan dirinya sekarang. Jika sebelumnya ia bebas bergerak ke mana pun yang ia inginkan tanpa bantuan, tapi sekarang malah berbanding terbalik. Semua aktifitasnya memerlukan bantuan dari asistennya. Bahkan sang kekasih pun tega meninggalkan dirinya hanya karena dirinya sudah tidak bisa berjalan.


Damar tersenyum miris, terkadang ia merasa hidupnya sudah tak berarti lagi. Namun dorongan dan nasehat serta kasih sayang dari mama, papa dan adiknya lah yang membuatnya kuat hingga saat ini.


Lamunannya membuyar ketika Adrian menegurnya.


"Tuan, kita sudah sampai."


"Hmm ..."


Dengan sigap Adrian kembali menyiapkan kursi rodanya. Tak lama berselang Sofia sang adik menghampiri keduanya.


"Kak, Adrian kalian lama banget sih?!" kesal Sofia. "Ini lagi ... kok brewoknya nggak dicukur? Mana kacamatanya gak di lepas, padahal mata kakak nggak mines," omel Sofia lagi.


Damar dan Adrian hanya terkekeh mendengar omelan gadis cantik itu.


"Sudah ngomelnya? Kalau sudah ... ayo kita masuk sekarang," ajak Damar.


Sofia berdecak kesal dan mengikuti sang kakak yang terlihat sudah menjauh dengan kursi rodanya. Ia pun berlari kecil menghampirinya dan Adrian.


.


.


.


...----------------...