101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 53



Setibanya di kantor, Damar langsung menjadi pusat perhatian para karyawannya. Bagaimana tidak, penampilannya tiba-tiba berubah drastis.


Ditambah lagi dengan setelan jas yang terlihat begitu pas ditubuhnya semakin menambah kesan macho dan manly.


Sambil melangkah, Damar menebar senyum sambil menggelengkan kepalanya merasa lucu.


"Quin ... kamu menjadikanku pusat perhatian," gumamnya lalu segera masuk ke dalam lift.


Baru saja pintu kotak besi itu tertutup, ponselnya bergetar. Dengan cepat ia merogoh saku celana lalu menatap layar benda pipih itu


"Ya, Adrian ada apa?"


"Tuan, Anda ada di mana?"


"Aku sudah di kantor, masih di dalam lift. Sebentar lagi sampai," jelasnya lalu memutuskan panggilan.


Sesaat setelah pintu lift terbuka, Damar langsung melangkah keluar lalu menuju ke ruang kerjanya.


Begitu ia membuka pintu, Adrian yang sejak tadi sudah menunggunya langsung mengarahkan pandangannya ke arahnya.


"Tuan," sapa Adrian sambil berdiri.


"Rian ... sudah lama?" tanya Damar.


"Nggak juga, Tuan. Saya hanya ingin menyampaikan undangan ini pada Anda," jawab Adrian seraya meletakkan kartu undangan itu di atas meja kerja Damar.


"Kartu undangan?" Damar meraih kartu itu lalu membacanya. "Peluncuran produk baru? Ini kan dari perusahaan kakaknya Angga?" ucapnya.


"Benar, Tuan. Lebih tepatnya Tuan Altaf," timpal Adrian.


"Hmm ... apa masih ada yang ingin kamu sampaikan?"


"Tidak, Tuan," jawab Adrian.


"Baiklah, kembalilah ke ruanganmu," perintah Damar.


Sepeninggal Adrian, Damar menggoyang-goyangkan kursi kerjanya sambil senyum-senyum sendiri.


Benaknya kembali dipenuhi dengan bayangan wajah Quin.


"Damar, sepertinya kamu harus berusaha keras memenangkan hati gadis itu," gumamnya


.


.


Sore harinya ...


"Quin, aku kembali ke butik ya," pamit Al.


"Hmm ... hati-hati di jalan," kata Quin sambil menatap punggung sahabatnya itu yang terlihat sudah membuka pintu.


"Siap," sahut Al sebelum akhirnya ia menghilang di balik pintu meninggalkannya sendirian.


"Sebelum pulang ke rumah Damar, sebaiknya aku ke taman kota dulu sambil menikmati es boba favoritku," gumamnya lalu kembali ke kamar untuk mengganti pakaiannya.


Setelah mengganti pakaiannya dan memastikan sudah tidak ada yang kurang atau dilupa, Quin pun meninggalkan unit apartemennya.


Sesaat setelah mendaratkan bokongnya di kursi kemudi, Quin mulai menyalakan mesin mobil dan perlahan mulai melajukan kendaraannya menuju taman kota.


Begitu tiba di taman kota, seperti biasa ia memesan dua cup es boba favoritnya. Sambil menunggu, ia memperhatikan beberapa orang yang sedang duduk di bangku taman dengan pasangannya.


Quin tersenyum lalu bergumam dalam hati. "Semoga hubungan kalian akan terus langgeng."


Beberapa menit berlalu, es boba pesanannya pun sudah jadi. Setelah membayar, Quin meraih dua cup es boba itu lalu berjalan ke arah taman lalu mendaratkan bokongnya di salah satu bangku taman yang kosong.


Senyumnya kembali mengembang saat mengingat pertama kali ia bertemu dengan Damar di taman itu.


"Saat pertama kali bertemu denganmu di sini, aku sama sekali nggak menyangka jika kamu adalah putra Tuan Alatas," gumamnya lalu menyedot minumannya.


Quin mendesah ketika mengingat di hari itu jugalah ia memergoki Angga dan Kinar kedapatan sedang bermain kuda-kudaan.


"Pria brengsek dan wanita ja*lang murahan! Kalian memang cocok menjadi pasangan," maki Quin.


"Oh Lord ... aku benar-benar nggak pernah menyangka jika aku akan dikhianati oleh mereka berdua," lirihnya.


Quin kembali memejamkan matanya sambil menarik nafasnya dalam-dalam untuk menetralkan perasaannya.


"Yang aku inginkan saat ini adalah, waktu secepatnya segera berlalu supaya kontrakku dan Damar akan segera berakhir. Rasanya aku sudah nggak sabar ingin meninggalkan kota ini untuk berlibur ke beberapa negara."


Quin kembali menyedot minumannya dan tampak termenung.


Tak lama berselang, seseorang menutup matanya dari belakang. Dan sontak saja membuatnya kaget lalu memegang kedua tangan yang menutupi matanya itu.


"Damar ... jangan bercanda kamu," ucapnya dengan kesal. Namun orang itu tak menjawab tapi merasa geram.


"Damar!!!" kesal Quin lalu melepas paksa tangan itu lalu berbalik ke belakang.


"Kamu!!!" kesalnya dengan tatapan menghunus tajam menatap pria itu yang tak lain adalah Angga.


"Ada hubungan apa kamu dan Damar?" tanya Angga tak kalah kesalnya.


"Bukan urusanmu!! Urus saja wanita ja*langmu itu sekaligus pemuas hasratmu," kata Quin dengan nada ketus tanpa menoleh sedikitpun pada ex tunangannya itu.


"Sayang ... please ... beri aku satu kesempatan," bujuknya.


Quin tersenyum sinis mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Angga.


"Jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi," protesnya. "Chance?!! Enough ... nggak ada kesempatan lagi untukmu," tegas Quin dengan perasaan dongkol.


Bahkan enggan menatapnya. Pria yang sudah mengisi hatinya selama tiga tahun dan berakhir dengan sebuah pengkhianatan yang begitu menyakitkan hati Quin.


"Pergilah bersama wanita jala*ng mu itu," sindir Quin. "Oh ya, jangan lupa undang aku jika kalian akan menikah. Kalian memang pasangan yang sangat serasi, yang satunya brengsek dan yang satunya lagi jala*ng murahan," tutur Quin dengan senyum mengejek.


"Quin!!!" sentak Angga merasa tak terima dengan ucapan ex tunangannya itu.


"Apa?!! Bukankah apa yang aku katakan tadi benar adanya? Lalu kenapa kamu emosi?" sindir Quin dengan tatapan mengejek.


Angga mengetatkan rahangnya menatap Quin.


"Lihat saja nanti malam, aku nggak akan melepaskanmu. Kamu pasti mendapat undangan dari kak Altaf. Dengan begitu kamu nggak mungkin menolak ku," ucapnya dalam hati dengan seringai penuh arti.


Quin yang belum tahu tentang undangan itu malah terlihat cuek dan tak menghiraukan Angga.


Tak lama berselang, ponselnya bergetar. Tanpa memperdulikan Angga yang masih terus menatapnya, Quin menjawab panggilan itu dengan santai.


"Ya hallo, Al. Ada apa?" tanyanya.


"Quin, kamu dapat undangan dari kak Altaf."


"Dalam rangka apa?" cecarnya lalu melirik Angga sejenak.


"Peluncuran produk cosmetics," jelas Al.


"Hmm ... kita perginya berdua nanti malam," kata Quin.


"Ok ... baiklah. By the way, apa sebaiknya kamu bareng Damar saja, Quin," cetus Al.


"Kita lihat saja nanti," jawab Quin. "Ya sudah, aku tutup dulu ya."


"Ok."


Quin mengakhiri pembicaraannya lewat benda pipih itu. Ia kembali melirik Angga yang masih betah duduk di sampingnya.


"Sampai kapan kamu mau duduk di situ? Sebaiknya kamu pulang saja. Lagian sekeras apapun kamu ingin membujukku, aku nggak bakal tersentuh. Hatiku sudah terlanjur hancur, sakit dan air mataku terlalu mahal untuk menangisi sebuah pengkhianatan yang entah sejak kapan kalian memulainya," tutur Quin.


"Tapi sukurlah, untung saja kita nggak jadi menikah," sindir Quin dengan sinis. "Orang yang sekali menjadi pengkhianat dalam satu hubungan seterusnya akan seperti itu, dan kebiasaan itu akan sulit ditinggalkan karena sudah terbiasa," sindir Quin lagi.


Angga hanya bisa terpekur mendengar ucapan bernada sindiran yang menohok hatinya. Ia bahkan tak mampu membalas ucapan Quin.


...****************...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜